Minggu, 11 Maret 2012

Reinkarnasi Perancang Titanic


Oleh : Yonassan Gershom

Saya telah menulis tentang kasus-kasus reinkarnasi selama lebih dari dua puluh tahun, dan percayalah, saya tidak mudah terkesan oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai reinkarnasi orang-orang terkenal. Tapi kasus ini berbeda. Sejak saya mendengarkan suara Thomas Andrews berbicara di rekaman regresi kehidupan lampau, saya benar-benar terpesona. Kasus ini begitu nyata, sehingga saya terasa merinding mendengarkannya.

William Barnes tidak hanya memiliki pengetahuan yang terperinci tentang  teknik pembuat kapal Edwardian(yang berbeda dengan teknik saat ini), ia juga memberikan teori spesifik tentang pembangunan kapal Titanic yang memberi pemahaman baru tentang mengapa ia tenggelam begitu cepat pada malam itu.
Jika kesaksian Barnes/Andrews  adalah benar, faktor utama dalam tenggelamnya kapal raksasa tersebut adalah konstruksi pada lambung tunggal nya, yang bergetar seperti lonceng besar ketika ia menabrak gunung es. Bangunan kapal baja adalah teknologi baru saat itu, dan desain lambung tunggal yang sebelumnya banyak digunakan untuk  kapal kayu belum direvisi untuk memperhitungkan akustik stres pada logam. Ketika menabrak gunung es Titanic tampaknya membuat getaran kuat dari haluan ke buritan. Baja yang rapuh yang digunakan oleh Inggris pada masa itu tidak bisa menahan peningkatan stres dan menjadi retak seperti kaca. Jadi bukanlah karena salah satu lubang  besar di sisi yang yang menyebabkan Titanic tenggelam ke dasar laut. Saat itu ada terjadi banyak retakan dan lubang-lubang kecil di seluruh penjuru kapal, tempat munculnya retakan tersebut dan melemahkan keseluruhan lapisan pelat baja.

Hebatnya, William Barnes mengetahui hal ini ketika dia masih anak anak – dan jauh sebelum dimulainya ekspedisi untuk mengkonfirmasi kecelakaan itu! Thomas Andrews tampaknya juga mengetahui hal itu sebelumnya, dan berusaha untuk memasukkan ide yang lebih baru, desain yang lebih baik untuk kontruksi lambung dari kapal baja yang besar tersebut, tapi saat itu tidak ada yang mendengarkan …


Siapa yang sesungguhnya harus disalahkan?


Berdasarkan rekaman suara di regresi, bukan Thomas Andrews yang bertanggung jawab untuk kelemahan desain pada lambung tunggal dalam desain Titanic. Andrews pada awalnya merancang sebuah kapal dengan lambung ganda, dalam rangka untuk meredam efek bel. Dia juga menghitung bahwa akan membutuhkan 64 sekoci untuk menampung semua penumpang, bukan 20 sekoci yang hanya ada pada saat itu. Apabila rencana ini dan rencana lain yang diusulkan oleh Andrews diikuti, Titanic mungkin selamat dari tabrakan gunung es dan mampu berlayar hingga ke pelabuhan.

Aku mengambil palu godam besar… dan memukul pada pelat dua kali, sekeras aku bisa. Aku turun dari tangga dan berjalan ke tempat paman saya menunggu. Wajah paman sangat kaget! Dia berkata kepadaku: “Ya Tuhan, Tommie! kamu hampir delapan ratus meter jauhnya, dan suara itu terdengar seperti berasal dari dekat tempat aku berdiri!” Saya kemudian mengatakan kepada paman untuk menempelkan kembali kupingnya ke lambung kapal. ‘Anda mungkin akan tetap mendengar suara lempengan itu’, Paman. Itu sebabnya kita perlu lambung ganda pada kapal ini! ‘ “(Bill Barnes berbicara sebagai Andrews dibawah hipnosis.)

Menurut kehidupan lampaunya, Andrews juga menghabiskan banyak waktu untuk mencoba melacak suara dering yang sukar dipahami di dalam lambung, yang ia sebut sebagai “seperti perempuan menangis” atau “setan.”  Apakah ini pertanda psikis tentang bencana yang akan datang? Mungkin. Tetapi ini bisa juga akibat semacam getaran resonansi, yang ditimbulkan oleh ritme konstan dari mesin di dalam lambung logam. (Bahkan sebelum berlayar, mesin nya sudah dinyalakan untuk menghasilkan tenaga untuk para pekerja.)

Adalah Bruce Ismay, yang bertanggung jawab atas perusahaan White Star Line pada waktu itu, yang bersikeras pada konstruksi lambung tunggal dengan lebih sedikit sekoci, untuk memotong biaya dan memungkinkan lebih banyak ruang untuk penumpang dan kargo. Ismay juga yang bersikeras – meskipun dengan protes keras dari Andrews  – bahwa bulkheads seharusnya hanya diperpanjang sampai ke “E” dek, yang hanya sedikit berada di atas permukaan air – itu adalah kesalahan serius yang memungkinkan air pada kapal tenggelam untuk langsung masuk membanjiri kompartemen satu dan berikutnya, dan dengan segera air akan memenuhi seluruh kapal.

Misi kembali : untuk membersihkan nama Andrews


Keluarga Andrews memiliki tradisi kehormatan, integritas, dan keahlian yang dibanggakan cukup lama. Tommie tak terkecuali. Dalam saat-saat terakhir kapal Titanic tenggelam, dia dipenuhi dengan kemarahan ketika ia melihat Ismay yang pengecut menyelamatkan dirinya sendiri dalam sebuah sekoci. Tommie khawatir – dan ternyata memang demikian, Ismay akan menutupi sendiri tentang konstruksi murah kapalnya dan akan menyalahkan Tommie Andrews.  Orang mati tidak akan bercerita … atau apakah mereka akan?


William “Bill” Barnes, sebagai reinkarnasi Thomas Andrews, mengatakan bahwa misinya adalah untuk membersihkan nama Andrews, dan menempatkan kesalahan pada tempatnya – tepat di atas bahu orang-orang yang menempatkan keuntungan diatas keselamatan. Saya telah berbicara dengan Bill Barnes pada berbagai kesempatan, dan saya yakin bahwa dia bukan merekayasa. Ia tidak melakukan ini untuk sensasi atau hal untuk membesarkan diri. Dia hanya ingin meluruskan sejarah.

Barnes menerbitkan ceritanya


Kisah reinkarnasi Andrews sebagai Bill Barnes pertama kali dirilis oleh Edinbooks sebagai audiobook, I built the Titanic, pada Januari 1999. Presentasi empat jam ini menggunakan teknik inovatif interspersing materi dengan latar belakang sejarah dengan kutipan dari sesi regresi yang sebenarnya. Hasilnya adalah sebuah narasi dramatis yang membuat pendengar merasa seolah-olah dia benar ada di sana, mendengarkan secara rinci sebuah sejarah. Plus, materi tentang latar belakang pembuatan kapal yang sangat terampil dijalin ke dalam cerita, yang bahkan orang awam seperti saya dapat dengan mudah mengikuti alasan desain asli Tommie, dan keberatan dia terhadap perubahan struktural yang dibuat oleh Ismay dan White Star Line.
I Built the Titanic diikuti, beberapa bulan kemudian, oleh audiobook kedua yang berjudul A Past-Life Interview with Titanic’s Designer. Bukan hanya membahas ulang dari audiobook pertama, dalam A Past-Life Interview, ia membahas sesi regresi dengan terapis Frank Baranowski yang secara runut disunting menjadi sebuah urutan kronologis. Rasanya seperti mendengarkan sebuah wawancara mendalam dengan Tommie Andrews secara pribadi, lengkap dengan aksen Skotlandia-Irlandia. Yang tidak mungkin dilewatkan oleh pendengar adalah drama dimana Tommie menggambarkan detik detik terakhir tenggelamnya Titanic?

Terutama momen-momen – yang tidak dibahas pada kaset pertama – adalah saat-saat segera setelah ‘kematian Andrews, ketika ia berusaha dengan sia-sia untuk menahan kapal dan menjaganya agar tidak tenggelam. Tapi dia sudah berada di alam roh, dan tidak dapat menggenggam apa-apa  …

“… Jangan biarkan kapal ini tenggelam dengan semua orang-orang ini! Aku akan mencegahnya dari tenggelam’. Aku mendorong sekeras saya bisa … tetapi ada sebuah cahaya, dan cahaya itu terasa hangat. Ada yang memanggil saya ke dalam cahaya … itu adalah Paman John. Paman John sedang memanggil saya. Dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Saya harus mati …tetapi saya tidak ingin pergi, saya ingin menyelamatkan kapal ini … “

Roh Tommie Andrews  melayang di atas kapal Titanic untuk sementara sebelum meninggalkannya menuju dunia lain. Jika apa yang digambarkan benar – dan saya percaya itu – maka ia memiliki pandangan tersendiri terhadap kapal yang tenggelam tesebut dari atas, dan bisa mendapatkan gambaran yang jauh lebih besar dari keseluruhan adegan dari siapa pun yang ada di geladak atau di sekoci di bawahnya. Dia bisa melihat kerusakan yang terjadi, dan mendengar suara gemuruh dari dalam perut kapal ketika Titanic mulai pecah.
“Oh,  kapalku, kapal saya yang indah ! Saya benar – saya bisa menduga bahwa ia akan tenggelam seperti ini …”

Pada akhir dari A Past-Life Interview ada diskusi antara Bill Barnes dan penerbitnya, Linda Nathanson. Gone adalah bahasa aksen Skotlandia-Irlandia yang disuarakan oleh Andrews dalam rekaman (yang, telah diverifikasi sebagai otentik.) Tetapi William Barnes dalam kondisi sadar memiliki kepribadian yang berbeda. Dia sering berbagi anekdot tentang hidupnya, dan perjuangannya untuk mengingat  kenangan-kenangan tersebut, tetapi penyembuhan datang saat menceritakan kisah-kisahnya tersebut, dan pelajaran yang dapat dipelajari dari situ. Kita juga belajar dalam wawancara ini bahwa sesi regresi terjadi sebelum film Titanic yang disutradarai Michael Cameron dirilis – yang masih sangat sulit untuk ditonton oleh Barnes karena masih menimbulkan trauma karena terlihat seperti sangat nyata. Rekaman ini juga mencakup wawancara singkat dengan istrinya, Mary Anne (dari kehidupan ini), dan pernyataan oleh Frank Baranowski, terapis yang melakukan regresi.

Simulasi komputer yang mendukung teori Barnes


Seperti yang diperkirakan ketika seseorang mengaku sebagai reinkarnasi dari seorang tokoh sejarah, Barnes telah mendapatkan sindiran yang cukup banyak. Tapi tidak semua orang adalah orang yang skeptis. Peneliti John Wilcox, Ph.D., seorang ahli matematika dan fisika di University of Pennsylvania’s Johnson Research Foundation, mendengar Barnes menggambarkan efek bel pada lambung tunggal Titanic dan bertanya-tanya apakah teori bisa diuji dengan simulasi komputer. Berdasarkan sifat-sifat fisik baja ( dari sampel yang diperoleh dari sisa kapal yang tenggelam), dimensi kapal yang tepat, dan  ‘kenangan Barnes tentang kecepatan saat menabrak gunung es tersebut, Wilcox menciptakan sebuah model komputer yang secara matematis mereproduksi energi akustik pada lambung Titanic sebelum dan sesudah tabrakan. Temuannya memberikan pembuktian memori kehidupan lampau Barnes terhadap getaran lambung sebagai faktor penyebab utama tenggelamnya Titanic, dan dapat dilihat, lengkap dalam diagram penuh warna, pada  Dr.Wilcox’s website.

Buku terbaru menyediakan lebih banyak bukti


Temuan Dr.Wilcox, bersama dengan banyak verifikasi faktual detail lainnya dalam regresi, dimasukkan dalam buku terbaru Barnes yang berjudul Thomas Andrews: Voyage Into History. Bagian pertama dari buku ini yang sedikit lebih panjang daripada versi audiobook pertama, I built the Titanic.  Bagian kedua dari buku ini terdiri dari berbagai sejarah dan penemuan-penemuan ilmiah – termasuk hasil simulasi komputer dari Wilcox yang telah dijelaskan di atas – yang memperkuat keakuratan kenangan Barnes sebagai Andrews. Dr Wilcox sendiri cukup terkesan, yang menyatakan bahwa Barnes “memiliki pengetahuan tentang pendekatan teknik yang tidak mutakhir pada saat ini,” dan membahas contoh-contoh spesifik.

Saya sangat terkesan dengan kemampuan Barnes untuk mengingat detail kecil, seperti halnya nama seekor kucing di kapal, Jenny. Menurut pernyataan Barnes dari regresi kehidupan lampau, Jenny seperti merasakan bencana yang akan datang dan mencoba menyelamatkan anak-anaknya (yang disebutkan dalam catatan sejarah) dengan menggerakkan mereka dari tempat tinggal para awak di bawah ke dek atas – dan langsung menuju ke kabin Tommie. Kemudian, kucing itu terlihat seperti berusaha mati-matian untuk memindahkan anak-anaknya lagi, ketika kapal mulai rusak dan tenggelam.

Data lain dalam buku ini meliputi verifikasi dari komposisi baja yang rapuh, catatan dari saksi mata, dan hasil sonar scannings kecelakaan Titanic oleh Discovery Communications Expedition, yang semuanya mendukung apa yang William Barnes ingat dari kehidupan lampaunya sebagai Tommie.

Sejak penerbitan buku-bukunya dan publikasi yang dihasilkan, Bill Barnes telah bertemu sejumlah orang lain yang juga memiliki kenangan kematian di kapal Titanic. Dia kini mengelola sebuah grup diskusi email yang disebut titanicmemories di ONElist.com.



Sumber : Sumber : http://henkykuntarto.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar