Minggu, 18 Maret 2012

SMCH - Puisi Kabir






Puisi Kabir
Disampaikan oleh Maha Guru Ching HaiCenter Laiyi, Formosa, 13 Januari 1993

Ini adalah suatu buku puisi India Timur yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kabir adalah seorang pengarang ternama di India. Ia seorang Guru tercerahkan yang hidup kira-kira lima hingga enam ratus tahun lalu. Ia tidak kaya dan hidup sebagai tukang sepatu. Walaupun uangnya amat sedikit, ia sangat baik hati. Sering kali jika ada tamu, ia minta istrinya untuk meminjam uang atau berutang makanan untuk menjamu mereka.
Sekarang saya akan membacakan satu atau dua puisinya pada kalian. Puisi atau karangan tentang latihan rohani, khususnya yang berhubungan dengan Metode Quan Yin yang lebih mudah dimengerti; baik pada masa kini maupun pada zaman kuno. Mereka sama saja.
Puisi Kabir sangat populer di kalangan masyarakat, dan ia tetap merupakan nama yang terkenal hingga kini. Setiap orang India Timur mengenal namanya. Puisi-puisinya ditandai dengan sindiran dan bait-bait rohaninya ditulis dengan amat indah. Saya ingat satu puisi pendeknya, yang sungguh sinis. Pada puisi itu, ia menertawakan para rahib palsu yang merupakan praktisi rohani yang jelek dan yang malu mendengar kata-katanya. Mungkin ia punya "paruh" yang tajam seperti ini. (Tertawa) Ia meninggalkan sejumlah besar ceramah, puisi, dan makalah, tapi tidak satu foto pun, maka orang tak bisa membayangkan bagaimana rupanya. Tapi, saya tidak meragukan, bahwa ia punya lidah yang tajam! (Guru tertawa)
Salah satu catatannya adalah tentang para praktisi rohani yang hanya mewarnai jubahnya dan bukannya hati mereka. Praktisi rohani di India memakai jubah merah atau kuning, yang merupakan suatu simbol belas kasih dan cinta yang bersifat universal. Kabir menyebut bahwa mereka hanyalah mewarnai pakaian mereka, tapi hati mereka tidak dicat dengan warna kasih. Mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah batu-batuan. Di India orang suka menyembah batu karena mereka terlalu malas untuk mengukirnya! (Guru dan semuanya tertawa). Mereka memanjangkan rambut yang tak dirawat, dan jenggot panjang bagaikan kambing. (Guru dan semuanya tertawa) "Embeek..." (Guru menirukan suara kambing). Mereka mengabaikan orang-orang yang disayang dan sanak keluarga, dan mengubah diri mereka menjadi orang kasim. (Guru dan semuanya tertawa)
Begitulah adatnya. Kabir suka menulis kata-kata yang sinis begitu, dan para praktisi rohani di masa itu takut padanya. Walaupun ia miskin, ia tak menerima pemberian dan orang-orang pun sangat menghormatinya. Bilamana yang disebut praktisi rohani mengunjunginya, pastilah ia menjamu mereka dengan ramah. Ia malah menjual istrinya untuk itu.
Pada kumpulan puisi Kabir, ada banyak puisi yang indah tentang Metode Quan Yin. Saya bacakan salah satu di antaranya yang berjudul "Lihatlah ke Dalam Batin"
Lihatlah ke Dalam Batin
Rusa kasturi meneliti melalui pohon-pohon hutan,
Akan harum yang mempesona dan menyenangkan.
Tapi selama ia mencari, tanpa mengetahui,
Dari dirinya sendiri, kasturi itu sedang bertumbuh.

Begitu pula Tuhan berada dalam setiap makhluk,
Tapi kita mencari-Nya ke luar.
Kita cari Ia dan hidup tanpa melihat.
Yang tak terbatas tidaklah terbatas pada ruang manapun,
Kehadiran-Nya mengisi setiap tempat.
Bagi mereka yang mengenal Tuhan, Ia dekat di tangan,
Dekat pada mereka, Ia kan selalu berdiri.

Bagi mereka yang bersikeras bahwa Tuhan itu jauh adanya,
Tak diragukan amatlah jauh dari mereka adanya,
Tuhan sangat jauh, itu pemikiranku dahulu,
Tapi kini kutahu Tuhan bersemayam pada setiap orang.

Bagi mereka yang tak tahu siapa mereka sebenarnya,
Meskipun Tuhan sangatlah dekat,
bagi mereka Ia amatlah jauh.
Meninggalkan ladang yang sedang mereka bajak,
Manusia berkumpul di kuil untuk upacara penyembahan ritual.

Tapi Tuhan bersemayam dalam lubuk hatimu,
Masuki kuil-Nya dan jangan pernah tinggalkan.
Dalam puisi ini, Kabir bicara mengenai seekor rusa kasturi yang menjelajahi gunung dan rimba mencari sumber bau harum yang menyenangkan itu. Ia terpikat oleh keharuman tersebut, tapi tak sadar bahwa wangi itu berasal dari tubuhnya sendiri. Begitu pula, Tuhan berada di dalam diri kita, dalam setiap makhluk hidup, tapi sebaliknya kita mencari ke luar. Kita pun tak akan bisa menemukan-Nya. Kasih yang tak terbatas ini tak bisa dibatasi dalam suatu ruang yang terbatas; Ia Mahaada. Bagi mereka yang tahu, Tuhan dekat adanya. Kita bisa selalu mengenal-Nya, melihat-Nya, dan merasakan kehadiran-Nya. Bagi mereka yang bersikeras bahwa Tuhan jauh adanya, tinggi dan tak terjangkau, Tuhan tak akan mendekati mereka. Lalu tentu saja mereka jauh dari Tuhan. Karena mereka tak mengerti terlebih dahulu, akan sia-sia bagi Tuhan untuk mendekati mereka.
Sebagaimana Kabir katakan, ia dulunya berpikir bahwa Tuhan amatlah jauh, tapi kemudian ia sadar bahwa Tuhan bersemayam dalam hati setiap orang. Bagi mereka yang tak tahu siapa mereka, mereka jauh dari Tuhan, meskipun Ia sangatlah dekat. Orang meninggalkan kampung mereka, mengabaikan kerja mereka, dan pergi ke kuil untuk menyembah Tuhan dan melakukan upacara ritual. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan bersemayam dalam hati mereka. Kita masing-masing haruslah masuk ke dalam kuil batin kita sendiri dan tinggal di sana. Maksud Kabir, kuil batin tersebut adalah satu-satunya yang serbaguna. Kalian tentunya mengerti (Tepuk tangan)
Cahaya dan Suara
Saya temukan beberapa puisi dalam buku ini mendiskusikan Cahaya dan Suara. Tapi, orang yang tak berlatih Metode Quan Yin tidak akan mengerti maksudnya. Ini adalah puisi lain berjudul "Firman". "Firman" tersebut berarti Suara. Sebagaimana disebut dalam Injil: Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.
Dalam dirimu sendiri musik bernyanyi tanpa henti,
Senar yang bergetar bukanlah penyebabnya,
Musik ini berasal dari Firman, kata Kabir.
Ia menembus dengan gaib untuk didengar semua orang,
Suara yang suci ini membebaskan para pencari,
Lalu tak lagi ia dalam cengkeraman Maya.

Firman itu lebih dari nama sederhana,
Melalui kuasa Firman itu tak ada ikatan yang tertinggal,
Firman itu menenangkan, dan mencairkan segala keinginan,
Ia memadamkan kobaran api duniawi.

Tapi semua perkataan hanyalah memberikan derita,
Tak ada damai atau kebenaran yang dapat mereka bantu untuk kau peroleh.
Nilai Firman itu tak ada harta yang bisa mendekati,
Hanyalah pengikut sesungguhnya yang tahu Kebenaran ini, kata Kabir.

Permata dan manikam dapat dengan mudah dicari,
Tapi Nama Tuhan tak bisa dibeli.
Bagi dunia yang menderita ini kau temukan aku menangis,
Bagi dunia yang patetik ini kau temukan aku mengeluh.

Tapi orang yang tahu Firman itu akan menjadi satu-satunya yang akan menangis bersamaku,
Firman itu begitu penuh kuasa,
Ia bisa mengilhami raja untuk mundur dan pensiun.
Orang yang berhenti dan berpikir dengan hati-hati untuk melihat
Arti dari Firman itu, amat beruntunglah ia.

Gelap gulita muncul tanpa Firman,
Ke mana kau bisa pergi kalau kau tak pernah mendengar.
Hingga seorang menemukan pintu Firman itu,
Ia pun tanpa tujuan mengembara selamanya.
Melingkupi dunia keraguan mengendalikan,
Orang yang berhasil mengatasinya adalah jiwa yang langka.
Ada jalan ke luar dari jejak keraguan,
Mempelajari Firman itu adalah satu-satunya jalan.

Sang Guru telah membangun suatu gedung indah,
Khusus dirancang bagi pengembangan rohani.
Karena sekilas pandang kekasih dalam istana ini begitu tingginya,
Seberkas cahaya-Nya Tuhan sediakan.

Kegaiban yang gelap dari malam pun sirna,
Ketika matahari bersinar untuk memulai harinya.
Pada saat Cahaya memasuki hatimu,
Maka ragu dan khayal semua pun akan lenyap.

Orang di zaman dulu juga menyatakan persetujuan atas Metode Quan Yin. Firman yang disebut Kabir adalah identik dengan Nama pada pernyataan Lao Tze mengenai "Nama Yang Tak Bisa Disebut". Itu juga berarti Firman, sebagaimana disebut dalam Injil. Karena itu, Kabir menegaskan bahwa ini bukannya kata biasa atau suara biasa. Dengan kuasa Suara ini, rantai atau ikatan apa pun yang membelenggu kita pada siklus kelahiran dan kematian akan dipecahkan. Semua keinginan duniawi, segala api dunia berupa ketamakan dan emosi, akan musnah pada saat mereka menjumpai Firman atau Suara itu. Mereka akan mati begitu saja! (Tertawa)
Hal ini tak berlaku bagi suara atau bahasa duniawi, yang hanya bisa memberi kita penderitaan. Oleh karena itu, Kabir ingin agar kita membedakan antara Suara ini dengan suara duniawi biasa. Ia tahu bahwa sulit menerangkan hal tersebut, yang menyebabkannya bicara begitu banyak. (Guru tertawa). Ia prihatin bahwa kita bisa jadi tak mengerti, maka ia memberi penjelasan begitu panjang lebar. (Guru tertawa)
Bagi dunia yang sengsara ini, kalian akan lihat bahwa saya meneteskan air mata simpati. Bagi dunia yang rusak ini, kalian akan lihat bahwa saya merasa kecewa. Tapi, hanya mereka yang telah mengenal Suara atau Firman ini yang akan menangis bersama saya. Seluruh dunia bergembira ria, (Guru tertawa) dan hanya kita sajalah yang menangis! Hanya praktisi Quan Yin tahu dan menangis untuk alasan yang sama.
Firman atau Suara ini begitu berkuasanya hingga bahkan seorang raja akan meninggalkan kerajaannya dan pensiun (Tertawa). Apakah kita mempunyai seorang raja di sini? (Tertawa). Kita adalah raja dalam istana kita sendiri, (Tertawa) dalam rumah kita sendiri. Kalau tak ada lagi selain babi jantan di gunung, maka sayalah "raja gunung". (Tertawa)
Siapa pun yang bisa memperoleh kedamaian pikiran dari Firman atau Suara ini sungguhlah orang yang paling beruntung dan paling diberkahi di dunia ini. Andaikan kalian tak pernah mendengarkan Firman atau Suara ini, ke manapun kalian pergi, dunia ini gelap gulita. Orang yang belum menemukan Gerbang Suara ini - yaitu, Metode Quan Yin - harus tetap berputar dalam transmigrasi tanpa suatu rumah untuk beristirahat.
Keraguan dan ketidak-seimbangan telah menyelubungi dan mengambil kendali atas dunia. Sedikit saja jiwa yang berhasil naik melewati lingkungan dunia yang demikian, yang artinya bahwa sedikit saja yang bisa membebaskan dirinya. Berlatih Metode Quan Yin adalah satu-satunya cara untuk melewati atmosfer dunia yang kacau-balau ini. Apa yang dimaksud Kabir adalah menemukan jalan yang melatih mendengarkan Suara itu; dan ini adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. Dalam puisinya ini, ia menuliskan : "satu-satunya jalan".
Beberapa orang masih tak percaya bahwa Metode Quan Yin adalah satu-satunya jalan. (Guru dan semuanya tertawa). Mereka pastilah titisan dari anak buah Maya (Tertawa). Mereka mengeluarkan kata-kata Maya (Guru Tertawa). Semua kitab suci mendiskusikan hal yang sama. Buddha, Sikh, Hindu, dan Katolik, semua menyebutkan Firman ini, Nama ini, Suara ini. Sekali kita tercerahkan dengan berlatih Metode Quan Yin, semuanya akan menjadi sangat jelas bagi kita!
Kita juga bisa dengan mudah mengerti kisah-kisah Zen. Seorang rahib sedang membajak di ladang. Tiba-tiba ia mendengar lonceng berdentang. Ia begitu terpenuhi dengan kebahagiaan hingga berhenti membajak (Guru dan semuanya tertawa).
Cerita lainnya mengatakan: jiwa-jiwa di neraka akan terbebaskan jikalau mereka mendengar dentang lonceng. Ketika orang mati itu mendengar dentang atau gemerincing lonceng, mereka pastilah akan terbebaskan. Itu sebabnya para rahib terus saja membunyikan lonceng (Tertawa) di atas kepala orang mati - untuk membebaskan mereka (Guru tertawa). Malangnya, mereka mengikatkan suatu "simpul penyeret" (bunyinya seperti pembebasan dalam bahasa China). Mereka mengikat suatu simpul dan menyeretnya. (Guru dan semuanya tertawa). Terlalu berat untuk bergerak, mereka haruslah menyeret diri mereka sendiri dari satu tempat ke tempat lainnya, dari bumi ke neraka, dan dari neraka ke siklus transmigrasi. Ini adalah suatu "simpul penyeret" dan bukannya pembebasan!
Kabir juga berkata dalam puisinya bahwa Guru yang tercerahkan telah membangun suatu surga - suatu gedung-khusus bagi para praktisi rohani. Kalau kita ingin meliat-lihat pada dimensi rohaniah ini, Tuhan telah memberi kita Cahaya di dalam, yang bisa menyinari jalan bagi kita. Ya! Di sini kita punya Cahaya! Tadi baru saja kita punya Suara, sekarang ada Cahaya! Tuhan telah memberi kita Cahaya seperti lampu senter, kata Kabir, jadi kita bisa melihat ke atas. (Guru tertawa). Karena jauh sekali, kita perlu satu lampu senter yang besar untuk menyinari dari sini ke sana, bagaikan matahari terbit yang menghapus kegelapan malam.
Sama juga, ketika Cahaya itu memasuki jiwa kita, segala keraguan dan khayalan akan lenyap! Inilah yang dimaksud Kabir (Tepuk tangan). Ia layak memperoleh tepuk tangan kita. Kata-katanya sungguh indah.



Sumber : http://godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar