Minggu, 18 Maret 2012

SMCH - Alam Sejati dan Alam Ilusi




Alam Sejati dan Alam Ilusi
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Seoul, Korea, 8 Mei 2000
Alasan mengapa kita lupa akan tempat asal kita adalah karena kita terlalu tertarik kepada semua keindahan di sekeliling kita di dunia ini. Meskipun mereka itu ilusi, tetapi mereka sangat indah, sangat mempesona. Dapatkah anda bayangkan betapa lebih indah, betapa lebih mempesonanya dunia yang nyata? Semua yang ada di sini adalah tiruan! Dunia ini hanya tiruan, hanya refleksi atau bayangan dari dunia yang nyata. Seperti halnya cermin, bayangan diri anda di cermin -- merupakan refleksi dari diri anda yang sebenarnya; dan walaupun itu bayangan, tetapi tetap terlihat cantik.
Kita semua tahu bahwa alam semesta memiliki dua sisi -- satu positif dan satu negatif. Kita juga tahu bahwa di alam semseta terdapat dua dunia -- satu adalah dunia yang nyata, dan yang lainnya adalah dunia ilusi. Kita semua pernah mendengar hal ini. Kita telah mendengar dari Budha bahwa Tanah Budha ada di sini, anda dapat menemukannya di dalam diri kalian sendiri. Kita semua mendengar dalam Alkitab: "Kerajaan Allah berada di dekat anda! Lihatlah! Kerajaan Allah ada di dalam dirimu."
Tetapi kita hanya mendengarnya saja! Kita bahkan tidak mempunyai waktu untuk berpikir: bagaimana cara kita menemukannya. Jika itu ada, kita harus dapat menemukannya. Ya, kita dapat. Hanya ada dua dunia: satu di luar, satu di dalam. Satu nyata dan satunya lagi merupakan refleksi dari yang nyata.
Kita sudah mengetahui refleksi dari yang nyata, yaitu dunia fisik dini dimana kita hidup. Jadi hanya ada satu dunia lagi untuk dicari, yaitu dunia yang nyata atau dunia yang berada di dalam yang merupakan kabalikan dari dunia ini. Kedua dunia itu ada secara serentak. Jika kita melihat sisi itu, kita akan melihat refleksinya. Jika kita melihat sisi ini (Guru menunjuk mata kebijaksanaanNya), kita akan melihat dunia yang nyata. Itu sangat sederhana. Anda hanya perlu tahu ke mana anda harus mencarinya.
Seperti halnya saya mempunyai sebuah cermin di sini (Guru mengambil sebuah cermin). Ketika saya melihat ke cermin ini, saya melihat refleksi dari diri saya. Cantik juga (Guru tertawa dan semua tepuk tangan). Ya, Tuhan membuat banyak hal indah, termasuk diri saya (Guru tertawa). Baik. Andaikan saya cantik, dan saat saya melihat ke cermin, saya berpikir bahwa saya cantik. Tetapi kemudian, bayangan cantik ini hanyalah refleksi dari diri saya. Jika saya terus melihat, melihat, dan melihat cermin sepanjang waktu dan merasa "Ya Tuhan, siapa yang berada di dalam cermin itu, cantik sekali", maka saya tidak akan pernah mengingat diri saya yang nyata ini. Itulah maksudnya.
Saya boleh saja menikmati bayangan dalam cermin, tetapi saya juga harus tahu bahwa diri saya sendiri diluar, nyata, bahkan lebih cantik, lebih hidup, dan segala sesuatunya lebih berguna daripada yang ada di dalam cermin.
Sama halnya, ada dua dunia. Satu di luar yang kita lihat di sini, dan yang satunya lagi di dalam. Sekali kita memejamkan mata kita dan tahu ke mana kita harus melihat atau mencari, maka kita bisa melihat dunia lain secara serentak yang lebih nyata, indah, bagus, bahagia dan abadi. Dunia yang nyata ini akan membuat kita sangat puas dan bahagia hingga kita tidak peduli lagi akan pengaruh apapun yang berasal dari dunia luar. Kita tidak merasakan efeknya. Kita akan selalu merasa gembira karena kita tahu sesuatu yang sejati.
Cermin ini keadaannya sekarang sedang baik, anda lihat? Ya, ini dalam keadaan baik. Tapi, kadang kala sesuatu terjadi! Cermin itu pecah.....ya, cermin itu jadi pecah. Ketika saya melihat pada cermin yang pecah ini, saya melihat semua wajah saya hancur! Apakah saya harus menangis? Apakah saya harus berpikir, "Oh Tuhan, saya tampak jelek".
Karena saya terlalu berkonsentrasi pada cermin ini. Tetapi, sekali saya melupakan cermin itu dan melihat kembali diri saya, maka kita akan berkata, "Oh, saya baik-baik saja, wajah saya tidak hancur, saya tidak terluka dimanapun, dan saya masih kelihatan cantik".
Itulah cara yang harus kita lakukan dengan dunia ini, dengan diri kita sendiri. Lihat kembali pada kenyataan, temukan segalanya di dalam kesempurnaan sejak dahulu... dan akan berlanjut selamanya dalam kesempurnaan. Lalu, kita tidak akan peduli bagaimana hancurnya dunia luar ini, itu hanyalah cermin -- kita tidak akan pernah kuatir. Itulah sebabnya mengapa Para Suci yang tercerahkan selalu bahagia dan mereka selalu puas dalam situasi apapun. Apakah mereka memiliki banyak kekayaan atau tidak, mereka akan selalu merasa bahagia. Ini karena mereka mengetahui Jati Diri mereka. Mereka mengetahui dunia yang sejati yang penuh dengan kemuliaan, kegemilangan, berkat dan kebahagiaan.
Terangnya dunia di dalam batin itu bagaikan sepuluh ribu kali cahaya matahari. Intan dan bebatuan serta permata mulia di dunia dalam, jika dibandingkan dengan intan di sini (Guru mengambil cincin yang dipakainya), yang ini tampak seperti debu, seperti pasir. Tidak berguna, tidak ada kekuatan, tidak memiliki pancaran, tidak mempunyai tanggapan kasih sayang. Benda-benda di dunia sejati, mereka mempunyai jiwa. Mereka dapat berhubungan dengan anda. Meja bahkan dapat berbicara dengan anda, pohon akan bernyanyi untuk anda, burung memahami bahasa anda, dan anda memahami mereka. Dan segala permata dan segalanya, bahkan awan memahami anda. Awan mengantar anda ke setiap tempat tanpa diperintah satu kata pun! Di sini, di Korea, saya menggunakan taksi. Ia tidak memahami apa yang saya bicarakan. Ia membawa saya berkeliling memakan waktu yang sangat lama. Itulah sebabnya saya sedikit terlambat. Saya minta maaf!
Jadi inilah sebabnya ketika kita telah menemukan dunia sejati di dalam diri kita, yang kita sebut Kerajaan Tuhan, atau Tanah Budha, Hakekat kebudhaan, atau apapun, maka kita akan merasa puas, merasa terhibur dan tidak lagi merasa kesepian atau merasa tidak aman. Kita tidak lagi takut pada kematian atau bencana jenis apapun, karena kita tahu bahwa kita tidak akan pernah mati. Kita tahu ada suatu dunia yang miliaran kali lebih indah daripada dunia kita di sini, sehingga kita tidak takut kehilangan apapun. Kita bahkan tidak takut kehilangan seluruh dunia atau harta benda apapun yang disebut sangat berharga bagi kita sebelum pencerahan.

Cermin dari Segala Cermin
Disampaikan oleh Maha Guru Ching HaiFlorida, Amerika Serikat, 11 Mei 2002 (Asal dalam bahasa Inggris) 
T: Baru-baru ini saya menyampaikan kepada Guru di dalam meditasi saya bahwa saat saya meninggalkan dunia ini, saya ingin pergi langsung ke tingkat lima. (Gelak tawa) Saya benar-benar tidak ingin kembali ke dunia ini. 
G: Anda tidak memohon berlebihan. (Gelak tertawa) Baiklah, itu akan terlaksana. 
T: Saya tidak peduli apapun syaratnya. 
G: Itu akan terjadi; jangan kuatir. 
T: Kali ini, saya telah cukup jenuh. 
G: Jangan kuatir, Anda akan berubah. 
T: Jadi, menurut Anda itu mungkin? 
G: Ya, mungkin saja. Jika itu saja yang Anda inginkan, maka Anda akan mendapatkannya. Tidak masalah. Jika Anda menjaga pemikiran itu dalam pikiran Anda sepanjang waktu, sampai saat Anda meninggal dunia, maka Anda akan berada di sana. 
T: Jika saya berusaha mencapai tingkat kelima bahkan sebelum saya meninggal, maka saya akan membantu Guru dengan lebih baik di sini. 
G: Oh, tentu, tentu. 
T: Jika itu mungkin. 
G: Itu mungkin saja. Tetapi saya tidak tahu apakah mungkin bagi Anda. Tergantung kepada Anda. 
T: Saya akan melakukan apa saja. 
G: Tak ada seorangpun yang meminta Anda untuk melakukan apapun. Anda harus mengendalikan pikiran Anda. Bukannya Anda harus melakukan apa saja. Bukanlah seperti meninggal seratus kali dan kemudian Anda menjadi seorang Buddha, atau Anda menawarkan apa saja dan menjadi Buddha. Bukan begitu. Perlu keteguhan jiwa, apakah kita menginginkannya pada masa kehidupan ini atau tidak. 
T: Apakah dia perlu mempersiapkannya sebelum dia datang? Seberapa spiritual yang ia inginkan......? 
G: Tergantung. Setiap orang ingin mempersiapkannya. Tetapi saat mereka turun, ternyata mereka menyimpang sedikit. Lalu, karena Maya atau raja ilusi ada di sana dan menanti Anda, ia kemudian berkata, “Ah, hah! Selamat datang, sayang. Marilah kita lihat seberapa kuatnya Anda. Ini gadis cantik, ini posisi presiden, dan ini perusahaan besar dengan uang yang banyak.” Lalu Anda bekerja keras, melayani gadisnya, dan demikian lelah sehingga sekalipun Anda ingin mencari Guru, Anda tidak tahu harus mencari ke mana. Anda kehabisan tenaga, jatuh sakit, dan kemudian meninggal dunia. Dan kemudian Anda berkata, “Oke, sekarang waktu saya untuk pergi. Di masa mendatang saya akan berusaha lagi.” 
T: Sutradaranya kemudian berkata, “Berhenti!” 
G: Ya, “Berhenti,” Tetapi bukan masalah. Bagaimanapun juga Anda bertekad untuk menemukan Tuhan. Sebelum kita turun ke sini, itulah yang ingin kita lakukan. Kita ingin mengenali diri kita sendiri sebagai Tuhan dengan menjadi “Bukan Tuhan.” Anda harus menggunakan sebuah cermin agar dapat melihat wajah Anda. Meskipun cermin itu merupakan sebuah ilusi, tetapi Anda membutuhkannya. Yang berada di dalam cermin itu bukanlah Anda, tetapi Anda membutuhkannya untuk melihat diri Anda sendiri. Anda melihat ke dalam cermin itu dan mengenali diri Anda. Dengan cara apa lagi Anda bisa melihat diri Anda sendiri? Cermin itu adalah ilusi. Yang melihat ke dalam cermin itulah Anda, tetapi bayangan dalam cermin itu bukan Anda. Karena itu dunia ini penuh akan Tuhan, tetapi bukan Tuhan. Tuhan di dalam batin sedang memandang kepada Tuhan di dunia jasmani ini. 
T: Ini merupakan pantulan yang buruk dari yang sejati, bukan? 
G: Ya, pantulan yang baik. Hanya saja kita melihat ke dalam cermin dan menjadi bingung, karena cermin Maya ini berbeda. Cermin gaib, “sebuah cermin di dinding.” Bukan cerminnya, tetapi cermin dari cermin. Karena itu kita menjadi bingung di sini dan kita melihat semuanya terpantul di dalam cermin. Kemudian kita berkata, “Oh, apakah itu di sana? Apakah itu di sebelah sana? Dan apakah itu?” 
Setelah itu Anda pun lupa terhadap diri Anda sendiri, cerminnya begitu besar dan segalanya memantul di dalamnya, dan Anda menjadi tersesat di dalam ilusi tersebut. Anda mengejar pantulannya satu demi satu. “Oh astaga, ini tampak bagus. Itu tampak indah,” dan Anda menjadi tersesat dalam cermin Anda. Anda lupa. Waktu yang Anda butuhkan untuk menyadari bahwa itu hanyalah sebuah cermin mungkin hanya seperberapa detik saja. Tetapi waktu yang kita butuhkan untuk menyadari Kebuddhaan juga seperberapa detik dari waktu alam semesta. 
            * “Cermin, cermin di dinding” adalah sebaris ucapan dari cerita dongeng “Putih Salju” dimana ibu tiri yakin bahwa pantulan dari cermin di dinding itu nyata.



Sumber : http://godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar