Sabtu, 24 Maret 2012

SMCH - Emosi Seorang Guru Hidup


Emosi Seorang Guru Hidup
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Washington, DC, AS
14 April 1993 (Asal bahasa Inggris)

 

 
Tanya: Apabila seseorang menjadi Guru, apakah dia memiliki rasa takut, ragu, atau marah? Kita memanggil Yesus sebagai Guru. Namun di Alkitab, Yesus merasa takut pada malam sebelum Ia disalib. Dan, sebelum wafat-Nya, Yesus meratap, "Tuhan, kenapakah Engkau membiarkanku? " Mohon dapat dijelaskan, jika Yesus memiliki rasa takut dan ragu, bagaimana mungkin kita bisa tidak memiliki rasa takut dan ragu?
Guru: Yesus bisa saja memiliki rasa takut dan ragu, tapi rasa takut dan ragu tersebut tidak mengakar seperti rasa takut kita. Jika Yesus tidak memiliki rasa takut pada penyaliban, maka pengorbanan-Nya tidak akan sedemikian agung. Ia memiliki rasa takut, tapi Ia terima situasi tersebut. Sedangkan kita memiliki rasa takut dan kita lari dari rasa takut tersebut. Dan kita coba menyalahkan orang lain atau kita coba menghindar, kita coba meletakkan salib itu pada orang lain. Itulah bedanya.
Kita bisa saja memiliki rasa takut, kita bisa saja memiliki emosi, tapi kita dapat menarik rasa takut atau emosi tersebut kapan saja, atau kita dapat menggunakan rasa takut atau emosi tersebut demi manfaat makhluk lain. Setelah pencerahan, seluruh perasaan, seluruh emosi tersebut masih tetap ada di dalam diri kita, karena kita diciptakan untuk memiliki perasaan dan emosi tersebut agar dapat memahami saudara-saudari kita. Jika Anda tidak ada perasaan, tidak ada emosi, bagaimana Anda dapat menolong mereka?
Namun, perasaan takut seorang Guru adalah berbeda. Rasa takut seorang Guru adakalanya juga dipengaruhi oleh rasa takut para murid. Ia mengambil-alih rasa takut para murid sehingga mereka menjadi tanpa rasa takut; Guru akan mengambil bagian tertentu dari rasa takut tersebut. Tapi, itu hanya sebagian kecil saja, dan bukan yang mendalam; hanya bersifat ilusi. Dan Guru, di satu sisi memiliki rasa takut, tapi di sisi lainnya sama sekali tidak memiliki rasa takut; Ia tahu bahwa Ia harus memiliki rasa takut, tapi Ia tidak takut akan rasa takut yang muncul tersebut.

-------------
Tanya:
Apakah jiwa yang telah bebas benar-benar akan terbebaskan dari keserakahan, kemarahan, dan nafsu keinginan?
Guru: Ya, orang yang telah tercerahkan apabila marah tidak akan menunjukkan amarah yang sesungguhnya. Ia tidak benar-benar terpengaruh batinnya. Atau orang yang mendapatkan amarahnya itu tidak akan terseret dalam arus kebencian, dalam atmosfer yang bersifat negatif. Orang Tercerahkan tidak pernah meluapkan amarahnya hanya untuk kepuasan pribadi. Ia tidak pernah marah karena Anda tidak memberinya uang yang cukup, karena Anda kabur darinya, atau istrinya kabur dengan orang lain atau sebaliknya, dan ia tidak akan mengejarnya atau mencoba cari jalan guna menyakiti pesaingnya. Orang yang tercerahkan bisa saja kelihatan marah, tapi untuk suatu tujuan yang lain.
Adakalanya ia harus menggunakan apa yang dinamakan daya pemacu untuk menyelesaikan suatu masalah agar dapat bekerja dan maju terus dalam misinya. Ia tidak marah hanya karena tidak ada orang yang memberinya makan, tidak ada orang yang memberinya uang, tidak ada orang yang cinta padanya, atau hanya karena tidak dapat menghindar dari kemarahan. Anda harus mempergunakannya. Terdapat perbedaan antara amarah yang sesungguhnya (dari orang biasa) dengan seseorang yang tercerahkan dan menggunakan amarah sebagai alat.
Sama halnya dengan pisau di tangan dokter bedah. Tentulah berbeda dengan pisau dari seorang pembunuh. Keduanya sama-sama pisau dan tentunya menyakitkan, bisa membuat seseorang berdarah, tapi juga bisa menyembuhkan. Dokter bedah tahu seberapa dalam yang harus dibedah, di mana dan seberapa panjang, tapi pembunuh hanya membunuh orang secara membabi-buta karena faktor kebencian atau karena semata-mata untuk kepentingan pribadi.
Amarah, keserakahan, nafsu keinginan, dan segala hal yang kita namakan sifat-sifat negatif itu semuanya berasal dari Nirwana, semuanya berasal dari Kerajaan Tuhan. Sifat-sifat itu adalah sifat yang mulia. Kenapa kita serakah terhadap segala materi di dunia ini? Ini karena kita berasal dari kemuliaan Kerajaan Tuhan. Kita sebelumnya adalah mulia, kita sebelumnya adalah berkemakmuran, dan kita sebelumnya dapat memperoleh segala sesuatu tanpa harus bekerja terlebih dahulu. Itulah sebabnya kita lebih sering merasa malas dan tidak begitu senang untuk bekerja. Kita hanya menginginkan uang; kita hanya menginginkan berlian. (Hadirin tertawa). Kita harus dapat mengetahui hal tersebut di dunia ini, dan ini benar-benar sesuatu yang berbeda. Kita mempergunakan keserakahan ini untuk mendorong diri kita melewati dunia ini agar dapat memperoleh Batu Berlian yang berada di dalam diri kita, batu permata yang bisa mengabulkan segala permintaan.
Keserakahan bukanlah tidak baik; kemarahan bukanlah bersifat negatif. Nafsu keinginan itu boleh-boleh saja. Hanya saja kita harus menggunakan sifat-sifat tersebut dengan cara yang benar; sebagai suatu alat untuk menyembuhkan, bukan untuk membunuh. Dengan demikian, segala sesuatu akan berubah menjadi baik. Tidak ada yang bersifat negatif. Hanyalah kesalahan konsepsi kita yang menjadikan segala sesuatu sebagai hal yang negatif. (Hadirin bertepuk tangan).
 
Sumber : http://godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar