Sabtu, 24 Maret 2012

SMCH - Mengembangkan Jiwa yang Jujur

Mengembangkan Jiwa yang Jujur
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Seminar Khusus Thailand,
26 November 2006 (Asal bahasa China)


 
Bukannya saya tidak berperasaan dan menolak hadiah yang Anda berikan dengan tulus, namun sudah menjadi kebiasaan saya untuk menolak hadiah apa pun. Akan saya jelaskan mengapa demikian. Pada saat kita menerima hadiah terus dan terus, maka itu akan berkembang menjadi sebuah kebiasaan dan kita akan menjadi korup. Oleh karena itu, saya berketetapan hati untuk tidak menerima hadiah! Para inisiat kita juga tidak menerima hadiah atau persembahan. Para biarawan dan biarawati kita juga tidak menerima persembahan, saya juga tidak - tidak sesen pun. Oleh karena itu, pahamilah hal ini dengan jelas. Janganlah memberi saya hadiah apa pun. Karena orang ini telah membawa sebuah karya seni kemari, maka kita akan meninggalkan hadiah tersebut di Center Thailand sebagai cendera mata.
Biasanya, saya tidak menerima apa pun karena saya ingin memberikan contoh. (Tepuk tangan) Bukannya bahwa beberapa dolar atau satu-dua barang akan memberi dampak buruk. Akan tetapi, jika kita menerima sesuatu hari ini, maka besok kita terpaksa menerima barang yang lain. Sesudah menerima barang dari orang ini, besok kita terpaksa harus menerima barang dari orang lain. Jika hari ini kita menerima sepicis, besok kita akan menerima satu dolar, dan hari berikutnya sepuluh ribu. Di hari lainnya kita akan menerima dua juta. Bola salju akan terus bergulir karena akan sulit untuk menolak setelah satu kali menerima. Anda harus jujur dan juga lurus, karena kita seharusnya berperilaku demikian. (Tepuk tangan)
Setelah menerima sesuatu dari orang, maka kita menjadi wajib untuk memberikan perlakuan khusus kepada mereka, lalu pemihakan akan timbul. Saya memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, baik yang kaya maupun yang miskin. Saya tidak tahu dan tidak perduli siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Itulah mengapa saya dapat memperlakukan setiap orang dengan adil dan dengan kasih yang sama. Tak seorang pun dapat membeli saya dengan uang; tak seorang pun dapat membeli saya dengan apa pun. Saya adalah milik kalian, sama bagi setiap orang. (Tepuk tangan)
Itulah sebabnya saya memberitahu siswa biarawan dan biarawati untuk tidak menerima hadiah. Setelah memakan makanan yang diberikan oleh orang lain, maka kita harus melayani mereka. Ketika orang lain datang kepada kita, meskipun mereka mungkin memiliki alasan dan pahala yang lebih baik, dan kita kemudian tidak memberikan prioritas setelah mereka memberikan persembahan kepada kita. Hal ini juga tidak benar! Jika kita menolak untuk melayani mereka, maka mereka mungkin akan mengira bahwa kita meremehkan mereka. Mereka mungkin akan berpikir, “Saya telah memberikan Anda banyak uang, akan tetapi Anda memperlakukan saya sama seperti orang lainnya!” Kemudian mereka marah, dan dari kemarahan akan berkembang menjadi permusuhan. Uang ini, keuntungan, dan kemasyhuran ini, tidaklah baik bagi kita dan bagi dunia. Oleh karena itu, kita harus jujur dan lurus dalam segala hal. Kalian membelanjakan penghasilan kalian sendiri, dan berpantang untuk mengambil milik orang lain. Paham? (Hadirin: Ya!) (Tepuk tangan).
Saya tahu bahwa Anda sangat tulus. Sebagai contoh, saudara inisat itu secara pribadi telah melukis sendiri sebuah jambangan dan mempersembahkannya kepada saya. Saya memahami ketulusan hati Anda. Sungguh saya mengerti. Akan tetapi, saya sibuk ke sana kemari melakukan banyak pekerjaan, dan saya harus tetap jujur dan lurus. Saya telah bersikap seperti ini sejak masih muda dan saya telah beberapa kali mengatakan hal ini kepada kalian. Ketika masih menjadi seorang siswa, suatu ketika orangtua saya terlambat mengirimkan uang kepada saya. Saya telah kelaparan selama beberapa hari, namun demikian saya tidak meminta apa pun dari siapa pun. Seseorang meninggalkan makanan untuk saya, tetapi saya tidak mengetahuinya karena dia tidak mengatakannya. Bahkan ketika saya tidak makan selama 3 atau 4 hari, saya tidak pernah menyentuh milik orang lain. Seseorang memberikan uang dan meminta saya untuk tinggal bersamanya, tetapi saya tidak menerimanya. Saya menghardiknya dengan keras dan mengancamnya, “Pergi! Atau saya akan memanggil polisi!”
Sejak muda saya sudah seperti ini, bukannya baru sekarang saja. Jika kita tidak jujur maka kita akan korup secara alami. Jadi, kita harus berlatih untuk menjadi orang yang lurus. Kita semestinya tidak menjual jiwa kita untuk ditukarkan dengan sesuatu yang tak langgeng di dunia ini.


 
Sumber : http://godsdirectcontact.or.id/
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar