Tampilkan postingan dengan label Agama Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Buddha. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

Gigi Sang Buddha Disimpan di Vihara Ini

img

Ribuan orang silih berganti ke Dalida Maligawa (Fitraya/detikTravel)

img

Buddha emas di Dalida Maligawa (Fitraya/detikTravel)

 
img

Rumah kayu tempat gigi Sang Buddha (Fitraya/detikTravel)

img

Bocah imut membawa teratai untuk Buddha (Fitraya/detikTravel)

img

Pohon Bodhi, tempat Buddha bertapa (Fitraya/detikTravel)

Kandy - Di Kandy, Sri Lanka, ada vihara Buddha paling suci. Di sana, tersimpan relik suci berupa gigi asli dari Siddhartha Gautama. Penasaran dengan gigi Sang Buddha?

Kandy adalah bekas ibukota Sri Lanka, sebelum dijajah Inggris. Kota yang berjarak 116 km dari Colombo ini menjadi kota suci untuk umat Buddha di Sri Lanka, karena menjadi tempat persemayaman relik suci gigi Sang Buddha.

Sri Dalada Maligawa atau Vihara Gigi adalah tempat yang paling banyak dikunjungi traveler di Kandy, Sri Lanka. detikTravel berkunjung ke kota yang sejuk ini beberapa waktu lalu.

Sri Dalada Maligawa ini terletak di tepi Danau Kandy yang luas dan cantik. Di pelatarannya banyak terdapat stupa, namun yang paling menarik adalah Pohon Bodhi, pohon suci umat Buddha sebagai tempat Buddha bertapa.

Wisatawan asing membayar 1.000 Rupee dan tambahan 300 Rupee untuk kamera (total Rp 91.000). Karena ini tempat suci, banyak tata krama yang harus ditaati, seperti melepas alas kaki sebelum masuk ke kompleks istana Kandy ini.

Sri Dalada Maligawa adalah sebuah bangunan besar dua lantai dengan taman di bagian tengah. Di tengah taman itu ada sebuah rumah kayu dua lantai yang diukir indah. Itulah tempat persemayaman gigi Sang Buddha. Langit-langitnya dipenuhi ornamen-ornamen teratai yang terbuat dari emas!

Pengunjung tidak bisa melihat langsung gigi Sang Buddha, melainkan hanya dari luar rumah kayu ini. Sayang memang, tapi begitulah aturannya. Gigi Sang Buddha hanya dikeluarkan sekali dalam 5 tahun dalam festival tahunan Esala Perahera.

Aturan berfoto di sini pun sangat keras! Pengunjung tidak boleh berfoto dengan posisi memunggungi rumah tempat gigi Buddha berada, karena dianggap menghina. Jika ingin ada wajah Anda bersama rumah persemayaman gigi Buddha, Anda harus berdiri menyamping atau berdiri sejajar di samping rumah kayu ini.

Orang-orang naik ke lantai dua Sri Dalada Maligawa untuk berdoa kepada Buddha di sini sambil menyerahkan bunga teratai kepada penjaga. Di lantai ini, Anda harus sangat tenang dan tidak mengganggu aktivitas peribadatan.

Setelah melihat rumah persemayaman gigi Buddha, kita diajak melihat aula dengan patung Buddha emas. Di situ ada relief perjalanan sejarah hidup Buddha, sampai bagaimana akhirnya gigi Buddha bisa berada di tempat ini.

Sri Dalada Maligawa menawarkan pesona lain. Cobalah bercengkerama dengan masyarakat lokal yang berkunjung ke Sri Dalada Maligawa. Anda akan terpesona dengan keramahan mereka terutama anak-anak sekolah.


Sumber : http://travel.detik.com/

Sabtu, 07 Juli 2012

Perjalanan YESUS ke India


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLI-6ROcCJuhsvDF4W5rQCmHtZxBBASYE5lm8Cn5WsRBRz__j0V1Ia30Bmu76_ylIJIS3r7v2yR1_hgCbzSi2mPHV4EUFuFkGoD5T9pg8Xnak6WMD9xliTBXwlKcRxUdYCNUgOHQK58Xqr/s400/jesus%20meditating.jpgMengabdikan masa mudanya di angkatan darat, Dr. Hairfield mengalami penderitaan karena perang. Sebagai tentara, dia berangkat ke Âu Lạc (Vietnam). Di sana, pencarian untuk kebijaksanaan dan kedamaian batin membawanya ke biara Buddha Zen di Provinsi Quảng Ngãi. Para biarawan di biara Zen ini mengungkapkan bahwa ada kitab suci Buddha yang menerangkan seorang nabi bernama Issa yang datang dari barat untuk tinggal di India. Dr. Hairfield menyadari bahwa Issa ini tentu Yesus Kristus.

Setelah Dr. Hairfield kembali ke Amerika Serikat, dia meraih gelar dalam bidang psikologi, dan kemudian gelar S2 dalam bidang agama dan teologi serta S3 dalam bidang metafisika. Setelah itu, dengan mengikuti dorongan batinnya, Dr. Hairfield mengembara ke India, Nepal, dan Tibet dimana dia dibimbing oleh lama (rahib) Buddha dalam perjalanan spiritualnya – dan pencarian untuk mengerti tentang Guru Yesus yang sejati.


Dr. Hairfield: Waktu saya menemukan diri saya di India utara dan berjumpa dengan mungkin dua dari orang terbaik yang pernah saya temui sampai saat ini, guru-guru saya, mereka mengatakan saya di India untuk dua alasan: Satu untuk belajar filsafat dan pemikiran Tibet dan berbagi apa yang saya dapat dengan belahan dunia saya. Dan alasan kedua saya berada di sana adalah mereka menginginkan saya untuk tahu tentang Issa.

Tentu saja, pada saat itu, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, yang paling menarik adalah, mereka adalah orang yang sama. Issa adalah Yesus dalam bahasa Hindi, di belahan dunia timur jauh. Ironisnya, nama itu berasal dari daerah India, tapi ada juga, sebuah Danau Issa di Nepal, nama itu dikenal di Tibet. Juga dikenal di wilayah yang hari ini kita sebut sebagai Iran, saat itu disebut Persia. Dan juga dikenal di beberapa tempat di Asia Timur.

Enam tahun dari hidup saya, saya habiskan untuk belajar dengan orang-orang Tibet. Mereka pemelihara catatan yang cermat. Mereka memiliki catatan yang rinci dari semua Guru yang pernah datang di belahan dunia tersebut. Secara harfiah mereka memiliki ahli menulis, sekretaris, yang menulis semua yang mereka katakan. Tidak seorang pun yang duduk dan berkata Buddha menulis sutra-sutra. Buddha tidak menuliskannya, orang lain yang menulisnya. Dan ini sama seperti Kristus.

Sekarang bila Anda pergi ke salah satu biara, saya dapat katakan kepada Anda tanpa ragu-ragu bahwa tempat saya melihat pertama kali dokumen-dokumen itu adalah Biara Hemis di Ladakh, yang merupakan salah satu negara bagian di utara India.


Bila Anda datang ke sana dan berkata, “Saya ingin melihat gulungan perkamen tentang Issa,” mereka akan melihat Anda dan berkata bahwa dokumen itu tidak ada. Tapi, bila Anda ke sana, dan mereka mempercayai Anda dan menyukai Anda dan mengerti bahwa Anda takkan menghilangkannya, mereka akan datangi Anda dan berkata, “Issa Anda pernah di sini.”

Yang dilakukan Kiela, pendeta tinggi, dia berkata kepada pendeta tinggi di biara tersebut mengapa saya berada di sana, bahwa saya ingin belajar tentang Issa dan apa yang dia lakukan di sana; apa yang dia pelajari; apa yang diajarkan. Dan pendeta tinggi biara tersebut berjalan dengan cepat, dia kembali membawa beberapa gulungan perkamen. Dan Kiela memiliki seorang penerjemah, dan penerjemah itu membacakan kata Sanskerta untuk saya.


Supreme Master TV: Tahun 1894, jurnalis Rusia bernama Nicolas Notovich adalah orang pertama yang mempublikasikan terjemahan manuskrip Buddhis yang menjelaskan kehidupan Yesus di India, dalam buku “Kehidupan Yesus yang Tidak Diketahui (The Unkown Life of Jesus)”.
Orang terkenal lainnya yang menulis tentang Yesus hidup di India adalah Swami Abhedananda, yang dahulu merupakan Ketua Masyarakat Vedanta di New York. Dr. Hairfield merupakan orang ke-18 dan orang Amerika kedua yang pernah diizinkan untuk membaca dokumen-dokumen yang sangat berharga ini.


Dr. Hairfield: Dan begitulah saya membuat hubungan tersebut karena saat mereka berkata, “Yesus Anda pernah datang ke sini, ini adalah namanya.” Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, saya terperanjat. Reaksi pertama saya adalah, “Tidak mungkin!”


Supreme Master TV: Dr. Hairfield menemukan bahwa Yesus belajar di India dengan guru-guru dari kepercayaan Jain dan juga para pendeta Hindu Brahma, dan kemudian dengan guru-guru Buddhis di India Utara dan Nepal. Doktor Hairfield, adakah pernyataan yang tercatat dalam Injil yang juga ada dalam ajaran Buddha?

Dr. Hairfield: Oh secara keseluruhan, ada lebih dari seribu. “Anda menuai apa yang Anda tabur” adalah sesuatu yang diajarkan oleh Kristus dan juga diajarkan oleh Buddha. Jadi, ada hubungan langsung di sana. Tapi, bila Anda melihat tujuh pokok dari Khotbah di Bukit, seluruhnya menggaungkan dengan tepat apa yang dikatakan oleh sang Buddha sendiri. Ada begitu banyak yang waktunya sebelum Kristus yang bagi saya membuktikan bahwa dia berada dalam lingkungan Buddha, dapat dikatakan, bahkan mempelajarinya, tanpa keraguan, tanpa banyak tanya.

Supreme Master TV: Bagaimana Anda tahu Yesus pernah tinggal di India, tempat gajah-gajah dan macan-macan berada?

Dr. Hairfield: Sangat kelihatan, satu kali, guru saya mulai memperlihatkan dokumen-dokumen itu, dan yang sedang dia pelajari, dan sungguh menarik bahwa dia tidak seorang diri di sana. Mereka adalah Yesus, Maria Magdalena, Yohanes Pembaptis, dan Thomas. Kristianitas di Pantai Timur India, sebenarnya mereka mengikuti Thomas. Mereka adalah pengikut Thomas, bukan pengikut Kristus.

Supreme Master TV: Mereka berempat berada di sana, belajar informasi yang sama. Menurut Dr. Hairfield, tiga orang bijak dari Timur yang disebutkan dalam Kitab Injil, dalam Alkitab mengenai Yesus, mereka sebenarnya orang bijaksana yang datang mencari jiwa tercerahkan yang baru lahir di Palestina. Ini sama seperti para biarawan Buddha zaman sekarang yang mencari inkarnasi para lama (rahib) sebelumnya.

Dr. Hairfield: Alasan mereka muncul – dengan mengikuti bintang yang bergerak. Apakah ini bintang yang menantang hukum fisika? Tidak, apa yang mereka ikuti adalah sebuah ramalan astrologi; ramalan astrologi Veda. Ramalan astrologi Veda berasal dari India. Mereka datang dari Timur. Kenapa? Untuk mengonfirmasi bahwa ini adalah jiwa besar yang akan mereka didik. Tiga hadiah adalah kebijakan, welas asih, dan cinta kasih.

Supreme Master TV: Jadi, hadiah simbolis?

Dr. Hairfield: Ya. Begitu mereka mengonfirmasi bahwa Kristus adalah yang mereka cari, mereka meninggalkan instruksi kepada Yosef dan Maria bahwa ada beberapa hal yang harus mereka lakukan saat membesarkannya. Satu adalah pergi ke sekolah misteri di Heliopolis di Mesir, sehingga waktu dia keluar dari Mesir sesuai dengan nubuat bahwa orang ini akan keluar dari Mesir; dia melakukannya sesuai dengan nubuat.  Waktu Kristus berusia 13, mereka harus mengikuti kriteria ketiga dari instruksi yang ditinggalkan, bahwa Kristus harus pergi ke India.


Supreme Master TV: Jadi, ada hubungan langsung memenuhi nubuat ini dan ... (Ya.) Benarkah Anda mengikuti jejak Issa, perjalanannya?
Dr. Hairfield: Sebagian, tentu saja. Saya duduk di sebuah gua di Nepal, di tepi Danau Issa, dimana Kristus seharusnya pernah berada di sana tanpa melakukan apa-apa kecuali meditasi.

Supreme Master TV: Kalau begitu, apa tujuan Yesus? Apa misi dia di sini?

Dr. Hairfield: Di dunia? Benar-benar berbeda dari apa yang telah diajarkan kepada kita. Dia adalah Guru yang besar, sangat cakap. Namun, tingkat pengetahuan seperti itu hanya dapat ditemukan di belahan dunia tersebut. Bila Anda pikirkan, masyarakat Tibet masih mengikuti tradisi yang sama sampai sekarang. Mereka mencari reinkarnasi Dalai Lama, dan saat mereka menemukannya, mereka melakukan ujian. Bila lulus, mereka mulai mendidiknya untuk menjadi Dalai Lama yang berikutnya. Dalai Lama ke-14 adalah yang kita kenal sekarang; dan beliau harus melalui semua ujian tersebut. Mereka melakukan hal yang sama dengan Kristus. Jadi, dia diajarkan apa yang dia tahu.

Supreme Master TV: Saat tinggal di biara-biara di India, Tibet, dan Nepal, Dr. Hairfield mendapat kesempatan untuk mempelajari kitab-kitab India yang sama yang pernah dipelajari Yesus 2.000 tahun sebelumnya, dan membandingkan pesan itu dengan ajaran Yesus seperti yang disampaikan dalam Kitab Injil.

Dr. Hairfield: Bila Anda mempelajari prinsip-prinsip Karma, 12 prinsip, sebenarnya dia mengatakan hal yang sama dalam empat Kitab Perjanjian Baru. Dia hanya mengubah kata-katanya, seperti dia mengatakannya dengan cara ini: Apa yang engkau “tanamkan” akan kembali 10 kalinya. “Tanamkan” berarti apa yang Anda tabung, dan sesuatu yang memperkuat sepenuhnya, karena pernyataan ini juga ditulis dalam Kitab Veda, dan dia mengutipnya dengan tepat: ”Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai.” Ini adalah yang utama, dari hukum karma, ini adalah hukum yang paling pertama.

Dan kemudian dia mulai menerangkan yang lainnya dan mengutip kata-kata perumpamaan lainnya yang dinyatakannya, tapi sebenarnya dia membawakan 12 prinsip tersebut dalam Perjanjian Baru. Anda akan temukan teks Veda dalam keempat Injil, Anda temukan teks Jain, Anda temukan teks Brahma, dan Anda temukan teks Buddhis. Saya sebenarnya duduk dengan semua teks itu, saling bersebelahan, dan mulai mencampur, memasangkan dan menemukan pemikiran yang sama, sehingga saya tahu dari mana dia dapatkan. Saya tahu dari mana datangnya. Sungguh-sungguh. Itu terbuka bagi semua orang dengan pikiran terbuka. Kita diajarkan bahwa kita tidak boleh berbuat ini; kita diajarkan bahwa kita tidak pantas berbuat ini. Tapi, kita tak pernah dengar Kristus berkata demikian. Tidak pernah, juga di dalam Alkitab, Tuhan tidak berkata demikian.

Kunci utama dari semua itu adalah menerima diri Anda sendiri apa adanya dan kemudian, seperti yang dikatakan dalam naskah Nag Hammadi, bila Anda membuat dua menjadi satu, Anda dapat berkata, “Memindahkan Gunung dari sini ke sana,” akan diberikan kepada Anda. Pertanyaannya adalah, apakah artinya? Itu sebenarnya berarti beberapa hal. “Dua” berarti dualitas, tidak ada dualitas di dunia ini, tidak ada dualitas dalam hidup, tidak ada dualitas dalam kesadaran, hanya ada satu kesadaran, dan kita adalah titik kehidupan di dalamnya, jadi ada “satu”.

Yang kedua adalah dengan membiarkan jiwa kita berperan dalam hidup kita. Dengan kata lain, kita hidup dengan jiwa kita bukan hanya tubuh kita. Jadi sekarang, menghilangkan dualitas dan memiliki jiwa dan tubuh sebagai satu prinsip operasi. Kemudian, Anda dapat melakukan apa yang dia lakukan, katanya sendiri.

Satu-satunya alasan mereka membawa saya ke Biara Hemis di Ladakh (di India) adalah untuk tujuan itu, untuk menemukan siapakah Issa (Yesus), dan kemudian membaca apa yang dia pelajari, dan selanjutnya guru-guru saya memastikan saya belajar setiap hal yang dia pelajari.

Saya beritahu bagaimana guru saya menyelundupkan saya ke Tibet, yaitu melalui biara lain yang dinamakan Salib Suci,  yang berada di kedalaman Himalaya dan sesungguhnya dibangun di dalam gunung. Dan di situlah saya membaca lagi seri kedua gulungan perkamen tentang Issa. Jadi, di sana hanya ada dua biara yang saya ketahui memiliki dokumen itu, dan saya bahkan tidak yakin apakah masih ada di sana karena mereka memindahkannya. (Memindahkan untuk melindunginya?) Benar.

Supreme Master TV: Melalui akses khusus pada dokumen-dokumen rahasia di India tentang Yesus, Dr. Hairfield menemukan banyak rincian tentang siapakah Yesus, dan apa yang dia ajarkan.

Dr. Hairfield: Yesus seorang Essene. Salah satu hobi saya adalah mengoleksi Alkitab. Alkitab tertua milik saya dari tahun 1805 dan dalam kondisi mengagumkan. Tapi, jika kita membaca Alkitab yang lebih tua dan Alkitab yang lebih baru, maka ada perbedaan besar yang mencolok. Dalam Alkitab yang lebih tua, dikatakan bahwa Yesus menyingkir ke Gunung Karmel; Alkitab yang lebih baru mengatakan bahwa dia naik ke gunung. Di mana Gunung Karmel? Itulah tempat ditemukan Gulungan Laut Mati, itu adalah rumah kaum Essene. Maria, ibu Yesus, adalah seorang guru Essene, dan dia seorang pemimpin.

Hal kedua adalah: Alkitab yang lebih tua tidak menyebutkan bahwa Yosef adalah tukang kayu. Yang disebutkan, Yosef mempunyai keahlian itu. Dia seorang Essene, dia seorang ahli alkimia. Jadi, siapakah Yesus? Seorang Essene. Jadi, dia telah bersinggungan dengan ajaran rahasia Essene – sejak lahir. Dan kemudian saat pergi ke Mesir, mereka pergi ke Heliopolis, yang merupakan tempat ajaran rahasia di Mesir. Lalu saat dia pergi dari sana, kembali ke Israel saat berusia 13 tahun, Yosef dari Arimatea membawanya ke India untuk “Master dan PhD”-nya, boleh dikatakan begitu. Jadi, dia akan menjadi seseorang dengan pencapaian besar, mengetahui bahwa dia adalah seorang jiwa agung.

Kristus belajar dari para Yyogi Nath. Yogi Nath adalah orang yang sangat misterius. Suatu saat, saya di luar di ladang. Saya sedang membungkuk, menanam padi. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul di depan saya, dan saya melihat di sana ada pria tua kecil yang kotor dan kasar, dan dia menatap saya dan berkata, “Kamu orang Amerika.” Dan saya jawab, “Ya.” Dia meludah ke tanah dan berkata, “Kamu tidak layak,” lalu dia berjalan menjauh.

Beberapa hari kemudian, dia kembali, dan hal serupa terjadi. Dia menatap saya dan berkata, “Saya diberitahu bahwa kamu ingin belajar sutra Nath.” Dan saya iyakan. Dia melanjutkan, “Kamu orang Amerika. Kamu tidak layak. Kamu tidak memiliki kesabaran.” Itu terjadi empat atau lima kali, dan pada terakhir kalinya, dia muncul dan menatap saya dan tersenyum, lalu berkata, “Kamu layak.” Karena saya tidak pernah tersinggung akan hal itu. Saya terima saja apa yang dia lakukan dan katakan. Maka, selama dua bulan saya bersama orang ini. Dan di situlah saya belajar tentang sutra-sutra ini.

Supreme Master TV: Dalam Kitab Injil, Yesus dikatakan melewatkan 40 hari di gurun atau alam liar, di mana dia dicobai oleh Setan. Dr. Hairfield menjelaskan bahwa Yesus bermeditasi pada saat itu untuk menyempurnakan penguasaan dirinya.

Dr. Hairfield: Dia harus beradu dengan pikirannya melalui gagasan godaan. Bayangkan saya berkata kepada Anda, “Oke, saya akan menganugerahimu kekuatan yang tak terkalahkan ini. Kamu berkuasa penuh atas segalanya.” Apa yang akan dilakukan ego Anda? (Wah!) Persis! Jadi, dengan kata lain, itu tentang membersihkan pikirannya sendiri. Ini adalah ujian terakhirnya. Itulah gagasan tentang godaan itu.

Dan omong-omong, kata “Setan” dalam Sanskrit kuno berasal dari Veda adalah “ego”. Ego adalah hal paling kuat yang kita miliki dan kita harus mengekangnya. Tapi, sekali ia dikuasai dan diubah, sang Ilahi dalam batin akan bangkit. Dia sudah punya pengetahuan itu, dan ada satu rintangan terakhir, dan dia mengatasinya.

Supreme Master TV: Dr. Hairfield, banyak orang berpikir Yesus vegetarian, apa pendapat Anda?

Dr. Hairfield: Saya tidak punya keraguan atau pertanyaan tentang itu. Dan jika Anda ingin, saya akan berikan ide ringan menyangkut alasannya. Semakin berat makanan, semakin berat tubuh. Jika kita melihat gigi kita, kita tidak diciptakan untuk menjadi karnivora, kita adalah vegetarian. Kita seharusnya makan sayur-mayur. Tapi, dia secara harfiah vegetarian. Dia tidak menaruh apa pun dalam tubuhnya yang membuat beban atau berat apa pun yang akan menghambat energinya dengan cara apa pun. Dan itu mudah dijelaskan.
Saat kita makan – jika merasa mendapat tenaga, itu yang harus kita makan. Jika kita makan makanan dan kita merasa berat, itu adalah makanan yang tidak seharusnya kita makan. Jadi ya, dia benar-benar vegetarian, tanpa keraguan. Dia ingin memahami semua aspek dari semua sistem kepercayaan. Dan, dari semua ajaran, ada dua yang tidak memiliki dogma. Satu, tentu saja, adalah sutra Buddha. Sesungguhnya ada tiga. Filosofi Krishna dan Veda. Teks Veda adalah teks filosofi yang tertua yang diketahui tentang kehidupan. Dan ajaran Brahma, Jain, dan bahkan sutra Buddha, hingga suatu taraf, bahkan filosofi Krishna, hingga suatu taraf, semua berasal dari yang satu itu. Bahkan teks Alkitabiah sebenarnya dalam sebagian hal atau lainnya, berasal dari teks itu.

Supreme Master TV: Seperti pencari Kebenaran dalam zaman Yesus, Dr. Hairfield sendiri telah pergi ke India untuk mencari Diri Ilahi Sejati-nya.

Dr. Hairfield: Adalah hal-hal sederhana yang selalu paling kuat. Dan itu juga hal yang Kristus sendiri ajarkan. Kristus mengatakan itu di dua tempat. Pertama dia berkata, “Untuk masuk Kerajaan Allah, engkau harus memiliki pikiran seorang anak kecil.” Yang kedua kali dia berkata, “Untuk masuk Kerajaan Allah, engkau harus memiliki kepolosan seorang anak.” Pikiran polos seperti anak kecil mudah melihat hal sederhana. Dan kita dapat munculkan itu bahkan di usia kita.

Supreme Master TV: Dan bisakah Anda uraikan tentang bagaimana kita menemukan Kerajaan Allah dalam diri kita?

Dr. Hairfield: Kristus mengatakan, pertama, dalam Kitab Lukas bahwa “kamu mencari Kerajaan Surga di mana-mana, tapi kamu tidak melihat ke dalam batin.” Baiklah. Kita juga tahu menurut teks Alkitabiah bahwa Tuhan berdiam di Surga. Nah, jika Kerajaan Surga berada dalam diri kita dan Tuhan di dalam Surga – di mana Tuhan berada? (Dalam diri kita.) Jadi, jika orang ingin menemukan Kerajaan itu, kita mulai dengan meditasi: “Jadilah tenang dan tahu.”


Salah satu guru saya suatu hari menatap saya dan berkata, “Anak muda, kamu suka dirimu?” Dan saya jawab, “Tidak.” Dia berkata, “Tunggu di sini,” dan dia berjalan pergi. Dia kembali dan membawa, saya duga, itu seperti cermin dari wadah bedak rias wanita, dan dia berikan kepada saya dan berkata, “Bawa ini bersamamu dan duduklah dan lihat cermin itu lalu katakan pada dirimu bahwa kamu cinta dirimu.” Dan dia berkata, “Saat kamu telah selesai dengan itu, kembalikan cermin saya.”

Saya kembali kepadanya 30, 45 hari kemudian, dan saya memandang dia dan berkata, “Guru, saya tak bisa lakukan ini.” Dan dia berkata, “Ceritakan pengalamanmu.” Dan saya beritahukan dia bahwa setiap kali saya mengatakan kalimat itu, saya dengar dalam pikiran saya semua alasan mengapa saya tak berguna, tidak baik, semua yang negatif tentang saya. Dan dia menatap saya dan berkata, “Tidak, kamu telah berhasil, Steven.” Saya berkata, “Bagaimana?” Dia menjawab, “Kini kamu tahu dua hal yang tidak kamu ketahui sebelumnya.”

Dia berkata, “Pertama, kamu tahu jalanmu. Jalanmu adalah melalui hutan dari setiap orang itu dari hal-hal itu, egomu, yang adalah hal kedua yang kini kamu ketahui.” Karena setiap kali saya mengatakan bahwa, ego sayalah yang memberitahu saya mengapa saya tidak suka saya dan tidak dapat menerima saya. Lalu dia hanya berkata, “Hadapi satu per satu, jangan semuanya. Cukup satu per satu, hingga ia tak ada lagi.” Dan perlu waktu cukup lama. Tapi tidak satu pun hal-hal itu mengganggu pikiran saya lagi. Itulah Surga di dalam batin. Jika kita sungguh ingin menerangi dunia ini, maka bukalah diri kita terhadap kebenaran hakikat kita sendiri, terhadap kebenaran keilahian kita sendiri. Munculkan itu; munculkan dan berikan kepada semua orang karena jika kita dapat lakukan itu, kita telah melanjutkan garis silsilah yang dibentuk ribuan tahun lalu oleh begitu banyak Guru agung.

Bagaimanapun juga, Kristus sendiri berkata, “Carilah dulu Kerajaan Allah maka semua hal lainnya akan diberikan kepadamu.” Dan memikirkan bahwa kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan, apa pun, dengan menemukan tempat itu di dalam diri kita lebih dulu. Maka, kita dapat mengubah dunia.


Sumber : http://suprememastertv.com/

Jumat, 15 Juni 2012

Jelajah Penuh Kisah di Sekitar Gereja Zebaoth, Kebon Raya Bogor, Kelenteng dan Stasiun Bogor


 BOGOR-KITA.com - Bagi sebagian orang, tak perlu menyelusup jauh ke dalam. Menelusuri beberapa tempat yang saling berdekatan di Kota Bogor saja sudah cukup mengesankan. Inilah yang dialami Veronika. Rute perjalannyanya hanya di sekitar Gereja Zebaoth, Kebon Raya Bogor, Kelenteng dan Stasiun Bogor. Tetapi apa yang dilihat dan dirasakannya seolah tak pernah habis untuk dikisahkan. -Redaksi
Hari semakin siang, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah gereja protestan dari Bakorwil. Kami menyeberangi Jalan Juanda lalu berjalan kaki di sepanjang trotoar sambil melihat keindahan Istana Bogor dengan halamannya yang luas serta rusa-rusa tutulnya. Ada rusa yang menempel pada pagar pembatas. Lucu sekali rusanya, kulit warnanya coklat berbintik putih dan jinak. Setelah berpanas-panasan di jalan, sampailah di Gereja Ayam atau Gereja Zebaoth. Kami diterima oleh salah satu penatua Gereja Zebaoth yakni Bapak Feri. Kayaknya sih saya lebih pantas menyebutnya Opa hehe.. logatnya seperti orang Timur. Beliau menjamu kami dengan makan dan minum serta sedikit menjelaskan tentang Gereja Zebaoth.
Sebelum adanya Gereja Zebaoth dan Katedral, awal mulanya umat Kristen Protestan dan Katolik di Kota Buitenzorg atau Bogor mengadakan ibadat oekumene di sebuah tempat yang sekarang menjadi Kantor Pos. Lokasinya persis di sebelah pintu masuk kedua Kebun Raya Bogor. Gereja Zebaoth sendiri didirikan pada tahun 1950. Zebaoth sendiri mempunyai arti “bala tentara”. Bangunan gerejanya didominasi warna coklat tua dan serupa dengan Gereja Pniel atau Gereja Ayam yang ada di Pasar Baru.
Kenapa dinamakan ayam? Karena selain di puncak menara gereja ada symbol ayam jago ternyata juga dimaksudkan agar setiap umat diharapkan tetap sadar dan tetap setia kepada Tuhan. Dahulunya gereja ini memakai bahasa belanda di dalam kebaktiannya. Oleh sebab itu gereja ayam ini juga disebut gereja belanda. Kemudian pada tahun 1963 tidak lagi memakai bahasa belanda sesuai keputusan dari pimpinan pusat GPIB (Gereja Protestan Indonesi bagian Barat ). Dan menurut Bapak Feri setelah kemerdekaan, seluruh bangunan gereja protestan diserahkan dan di bawah pengawasan GPIB pusat. Sementara umat Katholik membangun Kathedral di seberangnya.
Interior di dalam gereja juga serupa dengan Gereja Pniel. Atap gereja yang tinggi terbuat dari kayu dan melengkung, ada balkon yang digunakan sebagai tempat paduan suara, bangku-bangku umat yang tebuat dari kayu, podium dengan salib besar di atasnya. Namun tidak ada gambar ayam seperti yang ada pada Gereja Pniel Jakarta. Kalau di Gereja Zebaoth jendela kacanya dari nako dan memanjang. Menurut Bapak Feri lagi, bagian luar bangunan telah direnovasi atas prakarsa dari Bapak Radius Prawiro mantan menteri. Umatnya mencapai 1.500 kepala keluarga dan mempunyai jadwal kebaktian setiap hari Minggu Pukul 06.00 WIB -  09.00 WIB dan  Pukul 16.30 WIB - 19.00 WIB.
Akhirnya perjalanan memasuki Kebon Raya Bogor. Tiket masuknya Rp 9.500 per orang, namun peserta tidak usah membayar lagi hanya tinggal menunjukkan ID peserta kepada panitia dan penjaga karcis pintu II yang jalan masuknya hanya cukup dilewati satu orang. Setelah pintu masuk ada sebuah peta yang membantu pengujung di Kebon Raya. Dari pintu masuk atau peta yang dipajang di pinggir jalan itu, kami belok ke kiri melewati hutan bambu. Ada sebuah informasi mengenai batang bambu yang dipasang di pinggir jalan. Kemudian melewati jalan setapak yang ada pohon besarnya, baru sampailah di sebuah lokasi pemakaman Belanda.
Masih tampak beberapa batu nisan besar-besar, ada beberapa tulisan nama dan relief, namun sudah banyak yang berlumut juga terkesan menyeramkan. Dari sebuah informasi yang di pasang di depan makam, disebutkan bahwa pemakaman ini sudah ada sebelum Kebon Raya didirikan tahun 1817. Di dalamnya terdapat 42 makam, 38 di antaranya dikenal, sisanya tidak dikenal. Kebanyakan yang dimakamkan adalah masih kerabat dekat dari Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Dari pemakaman perjalanan dilanjutkan melewati sebuah jalan kecil dikelilingi hutan bambu sampai menemukan jalan yang membawa kami ke tepi danau untuk melihat kemegahan Istana Bogor dari kejauhan. Karena hanya pada hari Senin - Jum’at saja diperkenankan masuk ke dalam, kami hanya menikmatinya dari seberang danau saja. Istana Bogor bentuknya seperti Istana Negara yang ada di Jakarta Ciri khasnya tiang-tiang besar seperti yang ada di kantor Balaikota. Namun di atap Istana Bogor terlihat ada sebuah kubah seperti yang ada di museum sejarah Fatahillah. Kompleks Istana bogor pun dikelilingi halaman yang luas berwarna hijau. Tak jauh dari tempat kami, terdapat sebuah prasasti dari gubernur jendral yang mendirikan Kebon Raya Bogor. Pengujung Kebon Raya kebanyakan adalah keluarga yang sedang menghabiskan waktu dengan berpiknik.
Setelah berfoto berdasarkan kelompoknya, perjalanan dilanjutkan menuju museum zoology. Museum zoology letaknya sebelah kiri dari pintu gerbang utama kebon raya. Begitu kaki melangkah memasuki jalan menuju museum, di sebelah kiri ada sebuah bangunan kaca yang menjual bibit - bibit tanaman, ada juga pohon yang rindang dan halaman yang sangat luas. Kami berjalan terus sampai menemukan sebuah bangunan tua yang bernama Treub Laboratorium, lalu belok kiri mengikuti arah tanda jalan yang ada di pertigaan menuju museum. Beberapa meter dari penunjuk arah jalan, sudah terlihat museum zoology.
Hari sudah siang ketika saya dan teman-teman peserta jelajah kota tua sampai di museum zoology. Waktunya untuk makan siang. Ternyata makan siang sudah tersedia di halaman gedung bidang mikrobiologi yang menghadap jalan raya. Dua tempat hidangan yang disediakan oleh panitia untuk makan siang kami dengan menu yang sama. Menu makan siang kami adalah nasi, sayur asem, ikan mujair, tempe goreng, urap, lalapan dan sambel serta beberapa tandan pisang yang digantung pada sebuah kayu. Hmm menu yang menyegarkan buat saya dan menarik seperti suasana pedesaan walaupun hanya beralaskan terpal di atas rumput..
Perjalanan dilanjutkan. Saya masuk ke dalam museum zoology. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat denah dari beberapa ruangan yang terdapat dalam museum. Begitu di dalam yang terlihat pertama adalah sebuah kerangka hewan yang dipajang menghadap pintu masuk. Ke sebalah kiri memasuki ruangan aneka satwa unggas dan burung. Kalau ke sebelah kanan adalah ruangan aneka satwa primata, hewan pengerat, serta ada seekor badak di dalam kaca. Upps saya kaget begitu melihat melihat ke atas dari pintu ruangan ini, banyak sekali kepala hewan yang di pajang di dinding, ada kepala rusa, gajah, badak entah hewan apalagi. Keluar dari ruangan mamalia, ke ruangan di sebelah kanannya, saya memasuki sebuah ruangan yang memajang berbagai jenis ular, ikan-ikan, penyu, dan ada juga kepiting raksasa. Ada juga ruangan yang isinya memajang kupu-kupu, kerang, dan aneka hewan moluska dan ikan-ikan laut yang ada di Indonesia. Lengkap sekali.
Keluar dari museum pun akan melihat sebuah kerangka dari ikan paus biru yang pernah terdampar di Priangan Selatan pada tahun 1916 yang panjangnya mencapai 27,25 meter dengan berat sekitar 119,000 kg dan bobot kerangka 64,000 kg.. Woow luar biasa! Di kerangka ekor ikan paus biru terdapat informasi dan penjelasan tentang ikan mamalia yang lain seperti lumba-lumba, pesut, dsbnya. Museum zoology buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB - 17.00 WIB sedangkan Jumat tutup dari jam 11.00 WIB - 13.00 WIB
Dari museum perjalanan jelajah kota tua di Kota Bogor berakhir di sebuah kelenteng tertua di Kota Bogor. Namun ada beberapa peserta yang tidak melanjutkan perjalanan. Mereka memilih pulang lebih awal. Saya dan beberapa teman melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang utama atau pintu masuk satu  Kebon Raya Bogor. Kami keluar dari pintu satu. Pintu gerbangnya masih terlihat sama seperti pada waktu pertama kali didirikan seperti slide foto yang ditampilkan Bapak Natshar sewaktu menjelaskan Kebun Raya Bogor di Hotel Salak The Heritage. Gerbangnya berwarna putih, di tengahnya ada patung manusia namun berwajah gajah dan bertangan empat seperti dewa wisnu. Di atas masing-masing gerbangnya yang seperti nisan belanda, ada benda bentuknya seperti piala. Di tengah-tengah gerbang tertulis "Pintu Kebun Raya Bogor - Pintu 1."
Dari Kebon Raya Bogor, kami menyeberangi Jalan Suryakencana lewat pasar yang ramai. Persis di sebelah Gedung Robinson ada sebuah kelenteng yang dari pintu gerbangnya tertulis Vihara Dhanagun. Pukul setengah tiga sore kami tiba di sini. Begitu masuk di sebelah kiri ada lukisan atau relief pada tembok tentang seorang guru dan ketiga muridnya yang mencari kitab suci yang lebih dikenal dalam cerita Kera Sakti. Jika diperhatikan, pada atap pintu masuk ke kelenteng bahkan di setiap keleteng yang pernah saya datangi pasti ada sepasang naga yang saling berhadapan dan di tengah-tengah naga itu ada sebuah benda yang kecil dan dilingkari seperti gambaran cahaya matahari.
Di sini saya baru mengetahui bahwa itu maksudnya adalah dua naga itu menjaga mustika supaya terciptanya suatu kedamaian, karena diharapkan adanya damai di muka bumi ini. Replika atau ukiran symbol dua naga yang menjaga mustika ini juga terdapat pada altar persembahan yang berada di pintu masuk kelenteng yang berwarna coklat.
Perjalanan berakhir dengan belanja. Setelah itu kembali menuju Stasiun Bogor. Pedagang cinderamata memang banyak di sepanjang jalan. Namun saya dan lainnya memilih ke Stasiun Bogor saja dengan berjalan kaki. Sore hari yang cerah juga terik membuat pemandangan Gunung Salak terlihat jelas dan sangat cantik. Namun sayang battery camera saya sudah habis jadinya tidak bisa mengabadikannya. Terus terang pegel banget jalan kaki mengelilingi Kota Bogor. Kami melewati Gereja Kathedral juga Taman Kopi. Kami sempatkan diri berfoto di depan katedral yang sudah sepi dari parkiran mobil. Sayang sekali tidak bisa masuk ke dalam. Sampai di Stasiun Bogor, kami dibagikan tiket kereta AC Ekonomi untuk perjalanan pulang.
Berakhirlah perjalanan jelajah kota tua di stasiun kota walaupun beberapa teman sudah turun di beberapa stasiun sebelum stasiun kota. Lelah sekaligus menyenangkan ke Bogor, setidaknya dari perjalanan sejarah ini, saya sedikit banyak mengetahui ternyata jika kita memahami sedikit saja sejarahnya, maka setiap tempat menjadi tempat menarik di Kota Bogor.



Sumber : http://www.bogor-kita.com/

Kamis, 14 Juni 2012

Ascended Masters




THE SPIRITUAL HIERARCHY
PLANETARY LOGOS
Lord Gautama
THE EARTH BUDDHA
Lord Maitreya (The Divine Lord)
Department of the MANU
Vaivaswatta
Master El Morya
Department of the
PLANETARY CHRIST
Lord Koot Hoomi
Lord Lanto
Lord Djwal Kool
Department of the
MAHA CHOHAN
Paul the Venetian
RAY
DIRECTOR
PREVIOUS
HIERARCHS
ARCHANGELS
ELOHIM
OTHER BEINGS
1st
BLUE
Lord Siryan
El Morya
Lady Miriam
Michael
and
Faith
Hercules
and
Amazons
Shiva
Lord Principa
Lord Jupiter
Commander Conrad
Mother Isis
Shri Magra
Godfree Ray King
2nd
GOLD
Lady Soo Shee
Koot Hoomi
Confucio
Lanto
Jofiel
and
Constanza
Cassiopeia
and
Minerva
Vishnu
Lord Gautama
Djwal Kool
The Meru Gods
Lord Himalaya
Kenich Ahan
3rd
ROSE
Lady Rowena
Paul the Venetian
Chamuel
and
Charity
Orion
and
Angelica
Brahma
The Holy Aeolus
4th
WHITE
Serapis Bey
-
Gabriel
and
Hope
Clarity
and
Astrea
Lord Ptah
Amen Bey
Tutan Bey
5th
GREEN
Hilarion
Vesta
Pallas Athena
Raphael
and
Regine
(Mother Mary)
Vista
and
Crystal
Sonata
Armony
Asclepio
Higia
Lord Ling
Quiron
6th
GOLD-RUBI
John
the Beloved
Jesus
Lady Nada
Uriel
and
Grace
Tranquility
and
Pacific
Ramakrishna
Saint Teresa of Avila
7th
VIOLET
Lady
Mercedes
Kwan Yin
Saint Germain
Zadquiel
and
Amethyst
Arthur
and
Diane
Mother Alexa
Lord Kamakura
Sengen Sama
Lady Portia
Zarathustra
Oromasis



 SANAT KUMARA
Former Earth's Planetary Logos
 
By Ruben Cedeño
Source:  Metaphysical Encyclopedic Dictionary

Sanat Kumara founded the Spiritual Hierarchy 18 million years ago, and since then He has been the Planetary Logos of the Earth until Lord Gautama Buddha was ready to take His place. On the 21st of January 1956 He was released from His service earthbound.

He is one of the seven Kumaras that came from Venus in the Lemurian age, and their names are: Sanat Kumara, Sanaka Kumara, Sananda Kumara, Sanátana Kumara, Sana Kumara, Kapila Kumara y Sujata Kumara.
Kumara means “The Eternal Youth”, a young boy no more than 16 years old. His Keynote can be found in “Beautiful Dreamer”, by Stephen Foster. Another Keynote for Sanat Kumara is found in the famous “Caprice Vennois Op. 2” of composer and fiddler Fritz Kreisler, who was born in Vienna, Austria, on the 2nd of February 1875, and passed away in New York in 1962.
The Divine Complement of Sanat Kumara is Lady Venus, and Her Keynote is found in the Third Movement of the “Second Symphony” by Rachmaninoff. Her veiled name is SHUKRA.
Sanat Kumara brought the honey from his home Venus, the Planet of Love, and this is a sweet nectar exuded by plants and recollected by bees. It is a chemical product that heals bronchial infections, is cicatrizing, anti inflammatory, disinfects burns, heals bruises and regenerates scalp. It is also an extraordinary poly vitamin recommended for consumption.





LORD GAUTAMA
 
By C.W.Leadbeater
Source: Masters and the Path

Lord Gautama took His last birth in India in the year 623 B.C., and in that incarnation He finished His series of lives as Bodhisattva, and succeeded the previous Buddha Kasyapa as Head of the Second Ray in the Occult Hierarchy of our globe. He was the first of our humanity to attain that stupendous height, the previous Buddhas having been the product of other evolutions, and a very special effort was needed on His part to prepare Himself for this lofty post, an effort so stupendous that it is spoken of constantly by the Buddhists as the Mahabhinishkramana, the Great Sacrifice.
 

That great sacrifice of the Buddha is spoken of in all the sacred books of the Buddhists; but they have not understood the nature of the sacrifice, for many believe it to have been the descent of the Lord Buddha from Nirvanic levels after His Illumination to teach His Law. It is true that He did so descend, but that would not be anything in the nature of a sacrifice; it would only be an ordinary, but not very pleasant piece of work. The great sacrifice that He made was this spending of thousands of years in order to qualify Himself to be the first of mankind who should help His brother-men by teaching to them the Wisdom which is life eternal.
 
That work was done, and nobly done. We know something of the various incarnations that He took after that, as Bodhisattva of His time, though there may be many more of which we know nothing. He appeared as Vyasa; He came to ancient Egypt as Hermes, the Thrice-Greatest, who was called the Father of All Wisdom; He was the first of the twenty-nine Zoroasters, the Teachers of the Religion of the Fire; still later He walked amongst the Greeks as Orpheus, and taught them by means of music and of song; and finally He took His last birth in the north of India, and wandered up and down the Ganges valley for five and forty years, preaching His Law, and drawing round Himself all those who in previous lives had been His pupils.
 
THE WESAK FESTIVAL
The occasion selected for this wonderful outpouring is the full moon day of the Indian month of Vaisakh (called in Ceylon Wesak, and usually corresponding to the English May), the anniversary of all the momentous occurrences of His last earthly life-- His birth, His attainment of Buddhahood, and His departure from the physical body.

In connection with this visit of His, and quite apart from its tremendous esoteric significance, an exoteric ceremony is performed on the physical plane at which the Lord actually shows Himself in the presence of a crowd of ordinary pilgrims. Whether He shows Himself to pilgrims I am not certain; they all prostrate themselves at the moment when He appears, but that may be only in imitation of the prostration of the Adepts and Their pupils, who do see the Lord Gautama. It seems probable that some at least of the pilgrims have seen Him for themselves, for the existence of the ceremony is widely known among the Buddhists of central Asia, and it is spoken of as the appearance of the Shadow or Reflection of the Buddha, the description given of it in such traditional accounts being as a rule fairly accurate. So far as we can see there appears to be no reason why any person whatever who happens to be in the neighbourhood at the time may not be present at the ceremony; no apparent effort is made to restrict the number of spectators; though it is true that one hears stories of parties of pilgrims who have wandered for years without being able to find the spot.
 


MAITREYA
By Rubén Cedeño
  Source: The Metaphysical Encyclopedia Dictionary


Also known as “Lord Divine”. He holds the office of the Planetary Buddha, and is also one of the members of Triumvirate of Shamballa. He was the Being who worked with the Ascended Master Jesus during his ministry in Palestine.

He was previously the Cosmic Christ or the Boddhisattwa. He is the Christ reincarnated. His name means “Infinite Compassion”.

His Key Note can be found in the “Sweet Ministry of Life” of the Opera “Naughty Marietta” by Victor Herbert. He is the incarnation of the Dhyanni Buddha Amoghasiddhi.




THE BELOVED HOLY AEOLUS
THE COSMIC HOLY SPIRIT
The Enfolding Spirit for the year 2003
By Ruben Cedeño

He previously served as the Maha Chohan (The Great Divine Director). Paul the Venetian now serves in that capacity. Beloved Aeolus was called to occupy the position of the Cosmic Holy Spirit.

Aeolus, as Cosmic Holy Spirit, is the Breath of Life within the human being and within all form in the universe. He is the prana, the Breath (the Energy) of God.
Aeolus is known in the Greek Golden Age as the King of the Winds who lived in the Island of Aeolia and whose inhabitants lived in a constant vital activity (State of Perfection). All this is symbolic in order to infuse the vital activity (Spiritual Energy) within matter, which is the natural activity of the Third Ray.
Aeolus was the Spirit that manifested as 'Tongues of Fire' on the heads of Mother Mary and the Apostles of the Master Jesus. This is known as Pentecost.
He is the Great Comforter. His Seven Gifts are manifested in the Virtues of The Seven Rays. They are: Strength, Understanding, Love, Purity, Science, Mysticism and Mercy.
His Etheric Retreat is in Ceylon, at the moment Sri Lanka, and it is now camouflaged under a tea plantation. It was opened for first time with public knowledge from May 15th to June 14th 1952.
He is the Guru of Geraldine Innocente, today the beloved Ascended Master Lady Miriam, founder of 'the Bridge to Freedom' in the United States. She is the Divine Complement of the Beloved Master El Morya. Through this activity The Holy Aeolus gave several discourses and dictations.
His Keynote is found in "At Dawning", from "American Indian Song", by Charles W. Cadman, in the "Adagio of the 2nd movement in E minor" of the Second Symphony, by Sergei Rachmaninoff, and in "Homing", by Teresa del Riego.
His Electronic Pattern is a descending White Dove.
He was the Enfolding Spirit for the year 2003.



SAINT GERMAIN

By Rubén Cedeño

Former Chohan of the Seventh Ray. At present he is responsible for being the King of the Golden Age during the first two thousand years, period which corresponds to the radiation of the Violet Ray. Also known as the God of Liberty and Avatar Aquarius. As a Being of Infinite Compassion, He has earned the merit of being the depositary of the Radiation of Amida Buddha, Being of Infinite Light and Splendor without Limits.

He is known in the occult levels as the Master R or simply as THE COUNT. His name Count of Saint Germain means: “The Saint Brother of the Community.” By simply saying the name “Saint Germain” the surroundings are filled with the Violet Ray, because his name alone is a mantram.
Some of the Master’s past lives include:
Saint Joseph: 1st Century – Israel. Consort of Mother Mary, having the task of helping her in the delicate mission of bringing into the world the body that would be used by Lord Maitreya to initiate the Pisces Age and Christianity.
Saint Alban: IV Century, First Christian martyr of England. Lived in the year 303 A.D. He was involved with the Freemasonry movement, an organization that has always benefited from Master Saint Germain’s protection. He introduced numerous rituals and esoteric teachings in England.
Proclus: V Century – Greece. Philosopher, considered to have been the best of the Neo-Platonic scholars. He was a disciple of Olympiodorus of Alexandria, and Syrianus of Athens.
Christian Rosenkreutz: XIII Century – Germany. Founder of the Rosicrucian Order, with the purpose of restoring the true teachings of esoteric Christianity from ignorance. His name means: The Christian of the Rose in the Cross. Such a rose is the symbolic representation of the Christ awakening on the Cross, which is the physical body.
Hunyadi Janos: XV Century – Hungary. He was a hero in the Hungarian resistance against the Turks.
Robert The Monk: XVI Century.
Prince Rakoczi: Son of the liberator of Hungary, Ferencz Rakoczi. This family is still widely known and loved in Hungary today, and still preserve the castles and palaces along with all their family portraits. The castle where Saint Germain lived as a member of this family is still intact and well preserved in the town of Sarospatak, in the Carpathian Mountains. The Room of the Throne is presided by an immense shield depicting a dragon devouring its own tale, which is an esoteric symbol of Infinity and of the serpent of Creation. This symbol can also be found thousands of miles away in the Brown Palace Hotel of Denver, Colorado, USA, where one of the most recognizable disciples of Saint Germain would often lodge, the beloved Guy Ballard.
Saint Germain: It was with this name that the mysterious adept became known in the European courts in the XVIII century. He bought this title in San Germano, Italy, by the Italian Tyrol, a town that is just a few hours away from Milan, and which has a beautiful church. By 1997 only a few habitants remained. Saint Germain was known for being related to the Sha of Persia in 1731, the Stuart in 1741, Louis XV in 1748 and of Catalina of Russia in 1762.



ARCHANGEL MICHAEL
 
By Ruben Cedeño
Source:  The Seven Rays

He is the First Angel of the Heavens, who sustains and defends the Manifesting Universe within His “Ring Pass Not”, so that the shadows of inmanifestation do not intrude.

Archangel Michael energizes his Defensive Powers of the First Ray in a Sword of Flame, of Blue Light, which he sustains at all levels of the atomic constitution, since his Sword is his electronic pattern.
 
Upon His arrival on earth, he established His light by the Rocky Mountain, which is now Lake Louise, located near a town called Banff, in the State of Alberta, Canada; just a few hours away from the city of Calgary.

His temple had a beautiful cover of Light which appeared to be made of diamonds and in his zenith would shine a figure of Archangel Michael himself with his Sword of Flame. The temple still stands today in the same location in an ascended state.

A replica of the Sword of Blue Flame is carried by the Legion of Angels that Archangel Michael leads through his Commander Conrad.

The Sword of Blue Flame can be invoked by all human beings to defend themselves against the forces of darkness and any other condition that is not equal to the truth.

RECOGNISED IN MANY RELIGIONS

Archangel Michael is the only Archangel recognized in many religions, which include the following:
a.- Christianity: Roman Catholic, Protestant, Orthodox and Copt.
b.- Judaism.
c.- Islam.

Archangel Michael as the defender of the  Manifested Universe or the Heavens is revealed by John the Beloved in the Apocalypses where he explains: “Michael and his Legions of Angels were fighting against the Dragon, and the Dragon and his legions were fighting, but they did not prevail, and there was no place left for them in the heavens”.

The Metaphysical Dictionary of the Bible defines Michael as: “The Divine Inspiration and the Realization of all the requirements of the Power of God”.

Michael is known inside the 1st Kabala as METATRON which means: “The Prince of Phases”, the Archangel of a Bright world, which in Kabala terms means world of Creation, that is also the Cosmic Astral, the plane that is beyond the MAHÂ-PARA-NIRVANA. Its correspondence is the World of Desire, where the Archangel Michael is the defender of the Light within darkness.

Max Heindel describes one of the most beautiful revelations with respect to Archangel Michael: “The Archangel of the Sword of Flame and Powerful Genius of the Light, leader of the celestial militias and ambassador of the Sun on Earth, Defender of the nation of Judea and later of Christianity. Working from within the Solar Spheres he became the propeller of such qualities as fraternity, justice and courage in mankind”.
KEY NOTES

The Key Note of Archangel Michael can be found in the Opera “FAUST” by the French musician CHARLES GOUNOD. The theme of the Opera is precisely about the battles between the Forces of the Light against darkness, where Mephistopheles desires to take possession of Faust’s soul, but the purity of his girlfriend Daisy saves his soul. The script of the Opera is an adaptation of the first act of the homonymous play of the German initiate  Goethe. The Key Note of Archangel Michael can be found in the “The Soldier’s Chorus” in the second act of the opera, where Mephistopheles appears casting out spells and the soldiers are pledging an oath.   The occult meaning that is in tune with the march is the battle against evil. The Key Note of Archangel Michael’s Legions can be found in the masterpiece of the beloved Italian musician OTTORINO RESPIGHI in a composition known as “THE STAINED-GLASS WINDOWS OF THE CHURCH”, where one of the four fragments of this symphonic poem is about the Archangel Michael in a battle against the demon. It is a completely descriptive masterpiece and in the first act the forces of darkness are presented by the orchestra, and further in the play the appearance of the Victorious Archangel Michael can be perceived in the final act.



ARCHANGEL JOPHIEL
 
By Ruben Cedeño
Source:  The Seven Rays

The Archangel Jophiel and his Divine Shakti, Lady Constanza, are the Directors of the angelic legions that work in all the intelligent functions of our beloved Earth, the 7 Realms, within the 5 kingdoms and the elementals.
 
They assist humanity in the achievement of Intelligence and Divine Wisdom.

Archangel Jophiel is responsible for sustaining in the consciousness of humanity that the achievement of illumination is everything that mankind requires for his evolution.

Beloved Constanza offers humanity the gift of consistency to persist in the Path of Illumination until the Victorious Achievement of the Ascension is reached in every part of Life.

His Key Note can be found in the “FANTASY ON A THEME OF THOMAS TALLIS” by VAUGHAM WILLIAMS.




ARCHANGEL CHAMUEL
 
By Ruben Cedeño
Source:  The Seven Rays

Archangels Chamuel and Charity are the Angelic Directors of all the Pink Angels of Divine Love that work in this Universe. Beloved Chamuel compels humankind to become aware that the greatest Love that one must have in life is that of the Inner Self, and when this is achieved, it eliminates all suffering and depression caused by the afflictions of humanity.
The Beloved Archangel Chamuel and Lady Charity sustain their radiation of Love in one of the most beautiful musical passages ever to be written in the history of the Opera, as is the “REGINA COELI” of “CAVALLERÍA RUSTICANA”, by the Italian composer PIETRO MASCAGNI. It is a choral with orchestra that has a lyric with an exalted spiritual content lead by the melody. Listening to this masterpiece draws you near, whether consciously or unconsciously, to the highest spheres of Love Divine.
The Lyric reads:


Regina coeli Caetare
Alleluia
Inneggiamo, il Signor non e morto
Ei fulgente ha dischiuso I'avel
Inneggiamo al Signore risorto
Oggi asceso alla gloria del ciel
Inneggiamo
Rejoice oh Queen of the heavens
Alleluia
Let us praise, the Lord is not dead,
he has resurrected and shines brightly in glory
Let us praise the Lord who has
resurrected
Today he has ascended in the Glory of the Heavens.
Let us praise




ARCHANGEL GABRIEL
 
By Ruben Cedeño
Source: The Seven Rays
 
Archangel Gabriel was known as the Angel who protected Jesus, Mary and Joseph during their escape to Egypt, by enfolding them in “the Mantle of Invisibility” against the persecution of Herod.
 

The Mantle of the Invisibility of Archangel Gabriel can be invoked at any time we are in need of protection against evil, lies, treachery or any other sinister forces, by decreeing:
 
“I AM the Invisible Mantle of Archangel Gabriel that makes me invisible and invincible against all sinister forces that are less than the Perfection of God”.

The keynote of the Retreat of Archangel Gabriel and His divine complement, Lady Hope, is in the Prelude of the 1st Act of the mystic Opera “Parsifal” by Wagner, name that expresses the purity of the Forth Ray. The author began this composition during the period of the Holy Week, in which the Fourth Ray is most active, producing the radiation of Ascension for all life on our beloved Planet Earth.

The Intermezzo of the Opera “Cavalleria Rusticana,” by Pietro Mascagni, is the personal Keynote of Archangel Gabriel. In the Opera, this Intermezzo takes place on a Sunday of Resurrection, day in which the Ascension Ray irradiates with all its power.

The Retreat of Archangel Gabriel and Lady Hope is located in Hope Valley, in El Dorado National Forest, South from Lake Tahoe, in California, USA.

Hope conforms, together with Lady Faith and Lady Charity, the Three Theological Virtues of the Christian Dispensation.

Hope offers to mankind the virtue of the recovery of the Kingdom of Heaven by means of joyful expectation and enthusiasm.

Lady Hope's keynote can be found in “Notturno, Op.70, N.o.1” of Giuseppe Martucci.




ARCHANGEL RAPHAEL

THE DOCTOR OF THE HEAVENS
By Rubén Cedeño
Source: The Seven Rays
 
The beloved Archangels Raphael and Lady Regina, are responsible for the sustenance of all the activities of the Fifth Ray, brought down to Earth by the Beloved Elohims Vista and Crystal.

The Archangel Raphael is the Doctor of the Heavens and he is present in all acts of healings where His Presence is required. He presented himself before Tobias in tangible and visible form. The story can be found in the Old Testament of the Bible.

The Key Note of the Beloved Archangel Raphael can be found in the masterpiece  “WHISPERING HOPE” by HAWTHORNE.

Beloved Regina is the Divine Shakti of Archangel Raphael, and was the Inner Being that worked within Mother Mary in her incarnation as the Mother of the Master Jesus. Her Key Note can be found in “AVE MARIA” by SCHUBERT, sang and recognised as the highest expression of love and adoration to the inner self of Mother Mary.


ARCHANGEL URIEL

By Rubén Cedeño
Source: The Seven Rays
 
Archangel Uriel and Lady Grace are the sustainers of the Sixth Ray within the planetary environment.
 
 
Beloved Grace is the donor of the gift of Grace to those who are in need or demand it. Her key Note is found in the Andante, Impromtu N°3 in G Flat Mayor by FRANZ SCHUBERT.

The Beloved Archangel Uriel is the supplier of all the required material, vital, emotional and mental needs for all streams of life, whether incarnated or disincarnated within the planet earth. He also commands the activity of all the Angels of Ministration, chained by love to every stream of life as Guardian Angels.

The Key Note of the Beloved Uriel can be found in the well known “Lullaby” by the romantic German composer BRAHMS. He can also be invoked for the supply of money.
 

ARCHANGEL ZADKIEL

By Rubén Cedeño
Source: The Seven Rays
 
Along with Beloved Amethyst, Archangel Zadkiel is the sustainer of all the Activity of the Violet Flame for Earth and commander and Leader of all the Legions of Angels of the Violet Flame. He sustains within the Etheric Kingdom “The TEMPLE OF PURIFICATION" over the Island of Cuba, which conforms, along with the "Temple of Mother Mercedes" in Santo Domingo and the "Palace of the Purpose of Man" in Caracas, "The Violet Triangle of the Caribbean". This Temple was once visible at a time when Cuba formed part of the Atlantis. The Temple is purely made of amethyst. 
 
The amethyst is a solidified version of the Violet Ray and a tangible manifestation of the Beloved Amethyst. The use of the Amethyst will increase in the New Era, especially in the Priesthood of the Sacred Fire. The Beloved Zadkiel and Amethyst are the hierarchs in the Order of Zadkiel, in which the Beloved Ascended Master Saint Germain himself once served as a Priest.
Surrounding the Temple of Transmutation, are seven minor temples with golden domes, in which the Violet Flame blazes through a visible light bulb.
Our Beloved Archangels of the Seventh Ray manifest in their Key Notes, featured in the mystical masterpiece by WAGNER: "Music of the Magic Fire" of the Opera "The Walkiries". All of "THE WALKIRIAS" Opera is of the Violet Flame. 
The Key Note of the Archangel Zadkiel can be found in the “Polonaise” in A Flat Mayor Opus 53 by Frederic Chopin.
María Luisa Rodríguez explains that a Light with a radiation of the Beloved Zadkiel exists in South America on the Summit of Cerro Montserrat, in the city of Bogotá, Colombia.
Zadkiel is known as the Archangel of Invocation. He encourages us to free ourselves from all negative energies with love and forgiveness.
Beloved Archangel Zadkiel
Cut and free me
with your Sword of Violet Light
against all negativity
that is delaying
my evolution
and that of humanity.


NEPTUNE

By Rubén Cedeño

NEPTUNE is known in Greece as the God Poseidon and is also the Director of the water element along with his divine complement Lady Lunara. His key note can be found in “Hornpipe” of the Aquatic Music by Häendel. He is one of the Gods of the so called Olympia, older brother of Lord Zeus. He has dominion over the water element, sea, rivers, lakes, lagoons and fountains. He represents control over the waters, the emotional body, the astral plane and the sense of taste. Neptune had six sons and one daughter named Rodhos to which the islands of Rhodes took on her name and where one of the wonders of the world once stood, the Colossus of Rhodes. Lord Neptune was the one that made salty water spring up in the Erecteion, which is a temple made in the Jonic style of the Acropolis in Athens, while competing to be the patron saint of the city of Athens, but Pallas Athena beat him with the Olive.

The radiation of Lord Neptune enters on earth on the 20th of February with the Pisces sign and with the Cosmic virtue of the Purification Powers and the training of the water elementals, the undines.

The enclave of Lord Neptune and his beloved complement Lady Lunara can be found in the Corinth’s Channel that unites the Jonic sea with the Adriatic sea. We all have an emotional body, with which most of the time we simply do what it feels like and generally speaking it normally ends up being something that is not in our best interest and makes us commit mistakes, lose friendships, ruin marriages, destroy fortunes and turn all those people that help us into enemies. As you can see the emotional body is not the best advisor.

Some people like to say, believing they are clear and earnest: “I do what I feel like doing”, “I did it because it was what I was feeling at the time”, “I don’t want to do it because I’m not feeling it”. They live by the “I feel” and the “I’m not feeling it”. But what one feels like doing or not generally does not turn out to be the most recommendable course of action. Some people feel like strangling others because of something they did to them, and it’s really not the best choice, because then they go straight to jail. Therefore, the message here is not to live in the “I feel” or “I don’t feel”, but in the “I ought to”, “it’s best” or “I must”. Because if we let ourselves to be carried away by the emotional body our lives become a total disaster. When I say carried away by the emotional body, I don’t mean having certain tantrums here and there, having sudden passions, or expressing sensuality in a given moment; this is all the same, as long as it does not alter your primary purpose in your life.

When one speaks about control of the emotional body it is about having dominion over the things that could jeopardize our lives in the future. Many times one feels like making a scandal to a husband or a friend or have a certain attitude, but this is not for the better because there are also many wonderful things that one could loose. Therefore, you cannot just simply do as you feel. Do what you must, what you should, what is best, what you can. That is the great message of being here. Act with the mind and not with your emotional body. 

More than just merely invoking Lord Neptune, in a place like this, the best thing we can do is to try and understand the importance of controlling the emotional body and to clearly see the serene waters of the Corinth’s Channel. Outside of the channel, in the Jonic sea, there are many waves and sometimes even storms, which is the emotional body that is out of control. 

Here, within the channel, there will never be lack of control. Serene waters are the emotional body under control.

Ocassionally Lord Neptune likes to come out from underneath the waters of the channel and allows himself to be seen. There will be a time when all the Greek Gods will come out from the bottom of the sea bed, from the most profound earth or they will just simply let themselves be seen from the etheric realm and the entire humanity will assume the virtues which They represent. Few of us have already seen them but this shall not be a privilege for the few.

Controlling the emotions is not about not having emotions at all. There are some people who engage in esoteric practices and say for example: “No sex”. Then they feel a tremendous potency, and with more pressure than before they continue to have desires. What they now have is an accumulation of energy, but they do not become any more spiritual, intelligent, nor are they doing anything that is of great benefit to others, this is of course completely useless. This is not having control over the emotions. Controlling the emotions is to act with intelligence and with discernment. In other words, we are simply talking about developing Wisdom.

It is possible that you do not like to talk to a King because you don’t like him, he is tyrant, despot, but sometimes, in an attempt to save a country or to bring forth a progress project you must go and talk to that king to prevent war. If that is the case, then you are only doing it because it’s convenient for you, and not because you happen to like or hate that King. This is living with intelligence. What I am simply doing is making a call to the intelligence, because the emotional body without any control clouds the intelligence, the mental body and produces nothing of the sort. Observe the serene waters, so pleasant and with the most beautiful colors. This is just one of the most beautiful places of Greece, where the sea can be seen with an enhanced beauty.

During the days between the 19th of February and the 19th of March we have the opportunity, under Neptune’s radiation, to come and go like the currents of water that make us move, change and see the world differently at any time we wish; have our sense of taste well developed, trying different flavors; conquer the control over the emotional body and control all tears; be soft like water and in fury not to create disasters, this is when we must exercise control over the water element. The keynote is Sacrifice and Abnegation. You have the power of purification of water. Make friends with the mermaids and the undines.


Sumber : http://www.metaphysicalteachings.com/