Sabtu, 24 Maret 2012

SMCH - Maafkanlah Dirimu

 Maafkanlah Dirimu
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai


 
Terima kasih bahwa kita memiliki kesempatan untuk saling bertemu dan juga untuk melakukan kebaktian kepada Tuhan, dalam bentuk dan nama apa pun yang dapat kita panggil untuk Tuhan Yang Agung ini. Saya harus berterima kasih kepada Anda sekalian yang telah melakukan segala usaha untuk mendorong saya ke sini; karena jika tidak, maka saya tidak akan melakukan apa pun. (Guru tertawa.) Jadi, setiap kali saya memiliki kesempatan untuk menyampaikan suatu ceramah atau berada dalam suatu pertemuan, saya akan senantiasa berterima kasih sepenuhnya, karena dengan demikian saya merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Jika tiada seorang pun yang meminta atau memohon atau mendorong saya ke dalam pekerjaan ini, maka saya tidak akan melakukan apa pun. Ya. Dan saya juga tidak merasakan apa pun tentang hal tersebut. Maksud saya, saya tidak merasa sesal atau saya tidak merasa kecewa bahwa saya tidak melakukan pekerjaan tersebut.
Saya tidak mengerti kenapa saya tidak ingin melakukan pekerjaan yang demikian indah. Tetapi, setiap waktu setelah saya melakukannya, saya merasa bahwa hal itu baik adanya, mengertikah Anda? Adalah baik jika saya melakukan hal tersebut, tetapi kemudian saya tidak pernah berkeinginan untuk melakukannya lagi. Lalu seseorang akan mendorong saya ke luar untuk memberikan ceramah, sehingga saya berterima kasih kembali karena saya dapat melakukannya lagi. Tahukah kalian apa itu sebenarnya? Mungkin saja malas, saya pikir. (Tertawa) Saya benar-benar tidak mengerti. Orang mengatakan bahwa, "Apabila Anda tercerahkan; Anda adalah Guru, Anda seharusnya memahami diri sendiri." Tetapi, saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu! (Guru tertawa.) Saya tidak tahu. Saya dapat dengan bahagia tinggal di rumah dan tidur. (Guru tertawa.) Jadi, saya benar-benar tidak tahu. Tetapi, ketika saya berada di sini, saya sangat bahagia dan bersyukur bahwa saya berada di sini. Ketika saya berada di tempat tidur dan tidur, saya bahagia dan bersyukur bahwa saya tidur. Tetapi, saya benar-benar bersyukur bahwa kalian telah mendorong saya untuk datang ke sini dan begitulah, saya merasa baik, sangat baik, bahwa kemungkinannya saya menjadi sedikit bermanfaat.
Suatu kuil juga memiliki manfaat, di mana kita dapat berkumpul bersama dan melakukan kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Agung. Atau apakah kalian datang hanya untuk makan siang? (Tertawa) Bukan? Saya tidak melakukan suatu kesalahan, bukan? Kalian datang untuk Tuhan, benar? (Ya) Baik, berarti kalian berhak untuk makan siang kemudian. (Tertawa) Tentu saja jika kita tidak memiliki makanan rohani, tidak peduli apa yang kita makan; tidaklah akan pernah memuaskan kita secara rohani dan jasmani. Maka, kita terus menderita lapar dan lapar, lagi dan lagi, dan bahkan meskipun kita memakan begitu banyak makanan enak dan vitamin, tetapi kita masih dapat sakit dan adakalanya menderita karena tidak dapat mencerna makanannya. Di dalam Bhagavad Gita, disebutkan bahwa makanan yang disiapkan sebaiknya dipersembahkan kepada Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian kita memakannya. Dengan demikian, makanan itu menjadi bergizi dan penuh dengan berkah bagi kita. Seandainya kita menyiapkan makanan hanya untuk kepuasan pribadi saja, maka kita benar-benar melakukan kesalahan. Dan itu akan menyebabkan ketidakpuasan, dan adakalanya masalah, tidak dapat mencerna makanan dan segalanya. Sebenarnya di dalam Bhagavad Gita menyebutkan hal ini dengan lebih jelas, sangat jelas, seperti: "Anda makan dalam dosa jika Anda tidak mempersembahkannya kepada Tuhan." Jadi, bukanlah saya yang mengatakannya seperti itu; Krishna yang mengatakannya (Guru tertawa.)
Sang Pematah Hati
Nah, segalanya adalah sama; tidak hanya makanan. Kalian semuanya mengetahui Bhagavad Gita atau tidak? Itu adalah buku kebijaksanaan dari India kuno. Buku itu telah ada sekitar lima ribu tahun lamanya. Ya, buku itu merupakan ajaran Guru Agung pada saat itu, Krishna, si hitam manis yang terkasih. (Guru tertawa.) Warna kulitnya gelap, Anda tahu, seperti kebanyakan orang India, tetapi beliau begitu manis dan tampan sehingga orang memanggilnya "sang pematah hati". Hal ini juga karena beliau mematahkan hati setiap orang ketika beliau pergi. (Guru tertawa.) Dan di manapun beliau pergi, orang-orang mencintainya, memujanya dan memberikan persembahan kepadanya; hanya mengikutinya secara penuh. Saya dengar beliau memiliki sekitar tujuh puluh ribu istri, bukan, enam belas ribu istri. Begitulah, orang-orang India, adakalanya mereka melebih-lebihkan sesuatu, (Guru tertawa.) tetapi beliau pasti memiliki banyak pengikut. Bukanlah benar-benar istri, melainkan murid-murid. Kemungkinan besar lebih banyak wanitanya, karena beliau sangatlah tampan, saya dengar! Saya tidak berada di sana. Kemungkinan saya berada di sana, tetapi saya telah lupa. (Guru tertawa.)
Jadi, kitab Bhagavad Gita merupakan suatu catatan ajaran-ajaran dari sang Guru, Krishna. Anda dapat menemukan banyak kebijaksanaan dan bimbingan dalam kitab ini. Saya masih membacanya dari waktu ke waktu. Saya masih melakukannya, ya, karena kitab tersebut sangat indah, mengandung inti dan kebijaksanaan. Adakalanya Anda terhibur dan merasakan ketenangan dengan membaca kitab itu. Jika Anda benar-benar mengerti dan menghayatinya, kitab tersebut merupakan suatu karya kebijaksanaan yang indah sekali. Banyak sekali guru-guru terdahulu memiliki keterkaitan dengan ajaran India, sehingga kita tidak dapat menyebutkan India dan kitab Bhagavad Gita. Bahkan Milarepa, tahukah Anda? Yogi agung dari Tibet. Bahkan yogi agung dari Tibet itu, harta miliknya hanyalah terdiri dari satu kendi dan kitab Bhagavad Gita. Nah, dalam kitab itu disebutkan bahwa bukan saja makanan yang kita harus siapkan terlebih dahulu dalam semangat persembahan kepada Tuhan sebelum kita memakannya, tetapi juga segala sesuatu yang kita kerjakan dalam kehidupan haruslah merupakan suatu persembahan, haruslah merupakan suatu pengorbanan, kepada Roh Agung. Dengan demikian kita tidak akan pernah menuai hasil yang tidak baik ataupun yang baik, karena hasil yang tidak baik ataupun yang baik mengikat kita kepada hal-hal duniawi. Bahkan jika adakalanya kita tidak dapat menolong diri kita sendiri, kita kehilangan watak kita, kita marah, dan kita mengetahui bahwa tidak seharusnya demikian. Dan, kemudian adakalanya kita merasa sungguh sangat menyesal untuk suatu jangka waktu yang lama, setelah kemarahan kita telah mengendap.
Maafkanlah Dirimu
Tetapi, saya memberitahukan Anda, maafkanlah diri Anda. Maafkanlah diri Anda setiap saat. Apa pun yang Anda lakukan, lakukanlah hanya untuk memuja Tuhan dan biarkanlah, apa pun hasilnya, karena kita bukanlah hanya berupa tubuh saja. Kita bukanlah merupakan perbuatan. Kita bukanlah pelaku dari segala sesuatu di dunia ini. Walaupun kita melakukannya; misalnya kita sebagai pelakunya, kita tetap harus memaafkan diri kita. Maafkanlah diri kita ketika kita melakukan kesalahan atau ketika kita tidak dapat menahan kebiasaan-kebiasaan kita, seperti marah atau adakalanya serakah dan adakalanya berpikir dengan keinginan memiliki yang kuat, karena semua itu berasal dari keadaan. Hal tersebut bukanlah Jati Diri, bukanlah jiwa sejati yang menginginkan segala sesuatu. Jadi, kita harus selalu mencoba berulang-ulang, dan memaafkan diri kita setelah semua itu, maksud saya, di atas segalanya. Karena dalam lubuk diri kita terdapat Tuhan, Kebijaksanaan Agung, kita tidak dapat menyalahkan-Nya; kita tidak dapat menyiksa-Nya; kita tidak dapat bertindak kasar kepada-Nya. Mengertikah kalian akan apa yang saya maksudkan? Jadi, jika kita marah terhadap diri kita, kita harus marah hanya kepada kebiasaan-kebiasaan kita, akumulasi kebiasaan-kebiasaan kita. Atau kita harus menyalahkan situasinya juga, bukanlah menyalahkan Kebijaksanaan Agung sang Jati Diri karena sang Jati Diri tidak pernah bersalah, tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.

Seandainya kita adalah sang pelaku dan kita berada dalam masyarakat seperti ini, adakalanya kita menjadi marah. Hal tersebut bukanlah selalu kesalahan kita. Kebanyakan bukanlah kesalahan kita. Adakalanya segala kejadian dapat membuat kita marah. Sebagai contoh, Anda bekerja di suatu perusahaan dan Anda bekerja dengan karyawan yang salah, ya? Apa pun yang Anda beritahukan kepadanya, ia benar-benar tidak mengerti. Atau ia mengerti, tetapi melakukan hal yang sebaliknya. Ia hanya membuat Anda marah dan marah. Bahkan Anda memaafkannya berkali-kali, ia tetap saja melakukannya berulang kali. Suatu hal yang sangat kecil, bahkan suatu hal yang kecil mengganggu pikiran kita dan membuat kita merasa sengsara. Jadi, baik adanya jika kita mengetahui bahwa ada sesuatu lainnya yang berada di atas pikiran dan tubuh kita. Tubuh kita hanya terkandung dari unsur-unsur material, seperti tanah, air, besi. Sungguh, besi di dalam tubuh kita lebih dari cukup untuk membuat beberapa paku. Tahukah kalian? (Guru tertawa.) Dan air, tanah dan kemungkinan api; api sangat vital sehingga badan kita menjadi hangat dan juga lainnya.
Meditasi Merupakan Suatu Jalan Untuk Memprogram Ulang Pikiran Kita
Terdiri dari apa saja pikiran tersebut? Pikiran itu hanyalah merupakan serangkaian kumpulan dari berbagai informasi yang buruk dan baik. Pikiran itu seperti suatu komputer, apa pun yang Anda programkan, dan ketika Anda menekannya, hasilnya adalah sama, mengertikah? Salah satu rekan sepelatihan kami memiliki orgen elektrik, dan ia memprogramnya dengan berbagai nada irama yang berbeda, dan ia dapat memainkannya kembali dari kaset. Jadi, sama halnya dengan otak kita. Otak itu akan kosong; benar-benar hampa, seperti suatu komputer yang baru, sampai kita mulai merekam segala jenis informasi yang adakalanya baik, adakalanya buruk. Jika kebetulan kita merekam informasi yang baik dan ketika kita ingin menggunakannya, maka informasi yang baik akan keluar. Jika kebetulan kita merekam informasi yang buruk, dan tentulah informasi yang buruk akan keluar.

Demikian pula dengan meditasi, berdoa kepada Tuhan atau mempelajari kitab-kitab suci hanyalah merupakan suatu jalan untuk memprogram kembali pikiran kita, suatu jalan kehidupan. Karena kita memprogram ulang pikiran kita dengan suatu jalan yang baik, maka hasil yang keluar akan selalu baik, atau tidaklah seburuk yang sebelumnya, atau tidaklah semuanya buruk. Walaupun kita tidak dapat menahan untuk merekam sesuatu informasi yang lebih buruk setiap harinya, jumlahnya akan semakin berkurang dari yang sebelumnya, benarkah? Hal tersebut karena kita terus-menerus merekam hal-hal yang baik, seperti bermeditasi; kita bermeditasi atas Nama Tuhan, kita bermeditasi atas kuasa Tuhan dan kita memperoleh kuasa Tuhan melalui diri kita, mengisi kita dengan kebahagiaan, kebajikan, dan kebaikan. Maka, apabila terdapat informasi buruk yang muncul, sudah tidak terdapat ruangan untuknya, dan juga kemungkinan dapat diperkecil. Oleh karena kebaikan dan juga daya kuasa dari Tuhan, melalui meditasi setiap hari, kita dapat saja memperlemah atau kemungkinan menghancurkan secara keseluruhan segala informasi yang merusak pikiran dan jiwa kita. Itulah sebabnya kita mau tidak mau harus bermeditasi! Kita mau tidak mau harus mempelajari kitab-kitab suci.
Memahami Kitab-Kitab Suci Setelah Pencerahan
Terdapat banyak orang yang tidak suka mempelajari kitab-kitab suci, kenapa? Karena mereka tidak memahaminya. Saya dengar bahwa banyak biarawan dari gereja, atau dari biara mengeluh bahwa anak-anak muda atau orang zaman sekarang tidak suka mempelajari kitab suci; tidak suka mempelajari buku-buku suci. Hal ini karena kebanyakan kitab suci terlalu menyeluruh, terlalu sulit untuk dialami, terlalu mendalam, adakalanya terlalu susah untuk manusia sekarang, untuk umat biasa supaya dapat memahaminya. Tetapi, kita memiliki satu jalan keluar, pertama, kita harus membuka daya pemahaman, barulah kita dapat memahami Alkitab atau kitab suci. Apa pun yang Anda pegang, buku apa pun, Anda akan dapat memahaminya. Saya juga tidak dapat banyak memahami apa yang dikatakan dalam Alkitab atau dalam Bhagavad Gita atau dalam kitab-kitab Buddhis atau dalam buku-buku Lau Tzu dan buku-buku lainnya. Saya dulu membaca buku Khung Zi dan Lau Tzu. Bagaimanapun saya dapat memahaminya, namun tidak menyeluruh, tidak mendalam sebagaimana yang saya pahami sekarang. Setelah daya pemahaman kita terbuka, kebijaksanaan kita dimanfaatkan lagi, maka barulah kita dapat memahami segala sesuatu.
Jadi, jika kita tidak memahami kitab suci, maka yang pertama-tama kita lakukan dan yang terbaik adalah memperoleh pencerahan. Tercerahkan berarti Anda membuka daya pemahaman, sehingga Cahaya Surgawi, Cahaya Ketuhanan, akan melingkupi segala pemahaman terhadap objek apa pun yang ingin kita pelajari. Itulah sebabnya kenapa hingga sekarang dalam kuliah, orang-orang mengajarkan meditasi, jenis meditasi yang baik, yang bahkan dapat membuka pintu kebijaksanaan, daya pemahaman, sehingga lebih baik bagi mereka. Oleh karena itu, banyak sekali mahasiswa yang kuliah, tetapi pada waktu yang sama mereka juga melakukan meditasi. Hal ini karena mereka merasa lebih mudah untuk menguasai mata kuliah apa pun yang ingin mereka pelajari. Dan mereka selalu mendapat hasil yang bagus di sekolah. Ini merupakan suatu kenyataan yang diketahui semua orang.
Air dalam Cangkir Adalah Satu dengan Lautan
Kenapa terdapat kelahiran kembali? Hal ini karena kita tidak mengenali Jati Diri kita sehingga kita mengejar dari satu ke satu lainnya. Sebagai contoh, air di laut semuanya adalah satu. Jika kita menempatkan air di dalam cangkir, atau kita menempatkan cangkir di dalam laut seperti ini lalu kita menutupinya secara rapat, maka air di dalam cangkir tentu terpisah dari air lautan. Tetapi, begitu cangkir itu pecah, air itu menjadi satu lagi dengan lautan. Dan jika air di dalam cangkir melekat pada wadah dan kemudian setelah cangkir itu pecah, air itu mencari cangkir yang lainnya maka air itu akan selamanya terpisah dari lautan. Sama halnya dengan Jati Diri kita tersebut, Ia bukanlah tubuh ini, tidak pernah! Hal ini karena terjadi perembesan, dan tubuh ini hanyalah merupakan suatu stasiun saja, suatu bentuk dari banyak keberadaan, yang kita tempati. Jadi, apabila kita memecahkan keterbatasan ini, kita akan menyatu lagi dengan keseluruhannya. Kita tidaklah harus memecahkan tubuh kita untuk keluar, (Guru tertawa) terdapat suatu jalan untuk keluar. Sebagai contoh, kita tidaklah harus memecahkan cangkir untuk membebaskan air yang berada di dalam cangkir; cukup dengan, Anda tahu, di mana terdapat kebocoran atau di mana terdapat suatu lubang, dan bahkan cangkir tersebut masih ada di sana dan juga airnya masih ada di dalam, tetapi pada saat yang sama air tersebut masuk dan keluar sepanjang waktu dan berhubungan dengan keseluruhan lautan.
Demikian pula, cangkir kita ada di sini, sang tubuh, memiliki suatu lubang, dan lubang itu tertutup. Lubang itu dibuat tertutup supaya dapat menampung sang Jiwa, sang air kehidupan di dalam diri kita, tetapi kita dapat membukanya. Sama juga halnya dengan beberapa cangkir yang kesemuanya dibuat seperti ini (Guru mengangkat cangkir.) tetapi terdapat suatu lubang di dasarnya lalu mereka menggunakan suatu penutup plastik untuk menutupinya, benarkah? Atau adakalanya botol obat juga. Kita hanya mengambil sedikit penutup, penutup plastik atau sesuatu, dan kemudian kita dapat berhubungan dengan isi di dalamnya. Jadi, terdapat suatu tempat di mana kita dapat dihubungkan dengan seluruh Alam Semesta dan masih tetap dapat menggunakan peralatan ini, sang tubuh. Itulah pusat mata ketiga, kedudukan dari kebijaksanaan, kedudukan dari Jiwa.
Jika mata ketiga ini dibuka, dengan cara apa pun juga, dengan ketekunan kita sendiri, kekuatan dari keinginan untuk pembebasan atau melalui seorang Guru, maka kita akan dihubungkan secepatnya juga dengan seluruh Alam Semesta, dengan Yang Maha Tinggi, yang berada di seluruh tempat. Kuasa dari Yang Maha Tinggi tidak saja hanya tinggal di dalam tubuh ini, tetapi juga berada di udara saat ini. Ia berada di mana-mana. Ia berada dalam setiap helai rumput dan setiap helai daun di pohon, dalam setiap Penciptaan. Akan lebih mudah membukanya jika kita mempunyai seorang pemandu yang berpengalaman, Anda tahu, yang telah dihubungkan dengan seluruh Alam Semesta. Sesungguhnya ia penuh dengan kuasa, karena ia tidak menggunakan kuasa tersendiri lagi.
Ia menggunakan seluruh Kuasa Alam Semesta, karena ia telah dihubungkan. Seperti air di dalam cangkir; walaupun air tersebut masih berada dalam cangkir, tetapi air itu selalu dihubungkan dengan air lautan melalui lubang; dan selalu terdapat air baru yang masuk ke dalam dan keluar, walaupun air itu masih berada di dalam cangkir tersebut. Demikian pula dengan seorang Guru, atau seseorang yang tercerahkan yang persis seperti itu. Orang-orang yang telah diinisiasi merupakan seseorang yang telah memiliki hubungan ini, telah memiliki keterbukaan, dan sang Guru adalah seseorang yang merealisasikan Kuasa Alam Semesta.
Jadilah Guru Atas Nasib Anda Sendiri
Walaupun kita semua memilikinya tetapi sang Guru merupakan orang yang merealisasikannya. Sama seperti halnya jika terdapat dua orang yang memiliki sejumlah uang warisan dari sang ayah, yang satu mengetahui letaknya dan dapat mempergunakannya. Yang satunya lagi, walaupun ia memilikinya, tetapi ia meletakkannya di suatu tempat atau ia tidak pernah mengetahui berada di mana uang tersebut, dapatkah ia menggunakannya? Ia tidak dapat menggunakannya! Demikian juga diri kita, semuanya sama. Jika kita mengetahui di mana letak Kuasa Alam Semesta kita, maka kita akan menjadi Guru atas diri kita sendiri, Guru atas nasib kita sendiri, dan kita dapat juga membimbing yang lainnya menjadi Guru atas nasib mereka sendiri. Kalau tidak, walaupun kita sama-sama agung, kita tidak mengetahui keagungan kita sendiri dan itu merupakan suatu pemborosan waktu. Maka, kita pun harus kembali lagi, lagi dan lagi untuk mencari harta benda ini, sampai kita menemukannya; dengan begitu, barulah penjelajahan kita berakhir. Sangat mudah!
Kita berada di sini untuk mencari harta benda yang terlupakan ini dan kita tidak akan pernah menyerah sampai kita menemukannya. Itulah sebabnya kenapa hidup kita tidak pernah puas karena kita senantiasa mengetahui ada sesuatu lainnya, sesuatu yang lebih agung daripada apa yang kita miliki saat ini. Kita bagaimanapun juga sering mengetahui bahwa kita bukanlah wadah ini, tubuh daging ini, karena setelah apa yang kita namakan kematian; tubuh kita akan tetap di sana, tetapi kita tidak dapat bergerak; kita tidak dapat melakukan apa pun; kita tidak dapat mengasihi satu orang pun; kita tidak dapat membuka mulut kita; kita tidak dapat melakukan apa pun juga! Itulah artinya kita bukan merupakan sang tubuh. Ada sesuatu yang bersemayam di dalam tubuh ini sehingga ia dapat bergerak dan bekerja pada waktu kita masih hidup. Sesuatu di dalam tubuh itu akan pergi jika kita mati, jadi kita tidak dapat menggerakkan peralatan tubuh kita. Maka, bagaimanapun juga, kita mengetahuinya; dalam lubuk hati kita yang dalam kita mengetahuinya. Ya, saya tahu! Saya tidak tahu jika kalian tahu. (Guru tertawa.) Tahukah kalian? Kalian pasti tahu.
Itulah sebabnya adakalanya ketika Anda memiliki waktu, khususnya ketika Anda berada dalam kesulitan, Anda duduk dan tidak ingin bersama dengan siapa pun; hanya ingin sendirian. Lalu Anda berpikir, dan kemudian Anda merasa lebih baik dan lebih baik, karena Anda pikir terdapat sesuatu di sana, sesuatu yang adakalanya menghibur kita dalam kesunyian. Saya sering seperti itu sebelum saya mengetahui Metode Quan Yin. Saya sering berdoa. Saya berdoa kepada Buddha dan saya berdoa kepada Yesus. Saya khawatir bahwa salah satunya tidak mendengarkan. (Guru tertawa) Maka, saya berdoa kepada setiap makhluk agung yang saya ketahui. Adakalanya saya berdoa kepada Krishna, Tuhan Hindu. (Guru tertawa) Tidak ada Tuhan Hindu; sebenarnya hanyalah ada Tuhan saja. Namun, adakalanya Tuhan mengambil wujud seorang India atau wujud seorang China, sehingga kita memanggilnya Tuhan Hindu atau Tuhan China, sebenarnya tidak terdapat hal demikian.
Jadi, adakalanya ketika saya berada dalam kesedihan yang mendalam, sebelum saya mengetahui Metode Quan Yin, saya berdoa secara mendalam, hanya sendirian saja; tidak berdoa dengan nyaring, tetapi benar-benar meratap di batin. Lalu saya merasa seperti ada sesuatu yang mengangkat saya ke atas, dan saya merasa begitu ringan dan begitu lega dan saya merasa tiada apa pun yang perlu dirisaukan. Itulah saatnya kita menyadari bahwa terdapat sesuatu yang lebih agung daripada hidup; sesuatu yang senantiasa berada di sana mendengarkan kita.
Kebanyakan orang berdoa, dan mereka berkata bahwa mereka tidak memperoleh jawaban. Hal tersebut karena mereka tidak berdoa secara cukup mendalam. Itulah sebabnya kita memiliki lebih banyak jawaban ketika kita berada dalam kesedihan yang mendalam karena kita menjadi benar-benar tulus pada saat itu. Kita menembusi semua lapisan kemunafikan yang kita ciptakan dan kita menembusi kepalsuan diri kita dan dengan seketika kita bersentuhan dengan Jati Diri. Itulah saatnya kita memperoleh jawaban. Tetapi, saya sarankan bahwa kita tidak perlu harus menunggu sampai kita berada dalam kesedihan yang mendalam untuk melakukan ini. Itu akan menjadi terlalu traumatik. Ya. Kita memiliki cara yang lebih baik untuk melakukannya. Kita melatihnya bahkan pada saat kita tidak berada dalam kesedihan; itu akan lebih baik.
 
Sumber : http://godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar