Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2012

Rabi’ah Al Adawiyah : Sang Pencinta Tuhan



1334916301255362156 Bagi kaum sufi, mensucikan hati dan pikiran adalah sebuah jalan yang tak boleh dilanggar agar mata bathinnya senantiasa ada dalam pencerahan. Setiap saat ada dalam keadaan Tuhan mencintainya dan ia pun mencintai Tuhan dengan sepenuh jiwanya, sepenuh hatinya. Tak ada yang lebih dicintai kecuali Tuhan itu sendiri. Tuhan sebagai tujuan dan Tuhan adalah sesuatu yang final dalam kehidupannya. Cinta dan kasih sayang Illahi itu kemudian ia refleksikan dalam mencintai dan mengasihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya, berdzikir dan beribadat siang dan malam.

Warna aliran sufi cinta Illahi ini dibawa oleh Rabi’ah al Adawiyah. Ia dianggap sebagai pendiri sufi yang mengembangkan totalitas kecintaan pada Allah. Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya memiliki keunikan tersendiri. Ia memiliki komunikasi transendental yang sangat halus dan peka. Bahasa cintanya bukan hanya menghujam dan menggetarkan siapa pun yang membacanya, namun juga membawa pada pengembaraan spriritual yang jauh melebihi batas langit.

Rabi’ah al Adawiyah lahir di Basrah pada tahun 95 H (714 M) dan meninggal di Jerussalem pada tahun 185 H (796 M). Ia terlahir dari keluarga yang saleh dan zuhud. Kematian ayahnya dan bencana kemarau panjang membuatnya hidup terlunta-lunta dan terpisah dari saudara-saudaranya. Inilah yang menyebabkan Rabi’ah kemudian Rabi’ah dijual oleh perampok dan dijadikan budak.
Kesengsaraan, kepedihan dan buruknya kehidupan yang dialaminya tidak membuat ia menjadi kufur. Ia menjadikan semuanya sebagai jalan mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Ia membersihkan seluruh jiwanya dan ridha terhadap apa yang ia alami dengan segala suka dukanya akhirnya membuat antara kepedihan dan kebahagiaan dimata Rabi’ah tak ada beda. Yang terpenting baginya adalah cinta dan ridha dari Tuhan itu sendiri.
Yaa.. Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala yang menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya Allah….Ya Allah…
O’ Tuhan..inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku.
Rabi’ah al Adawiyah senantiasa menetralisir seluruh luka-luka dunia dan kepedihan dirinya dengan berdzikir. Dengan lembut ia berkata pada Tuhannya :
Tuhanku,
Tenggelamkan diriku ke dalam lautan keikhlasan mencintai-Mu
Hingga tak ada sesuatu yang menyibukanku
Selain berdzikir kepada-Mu
Di malam hari, ketika hampir semua manusia terlelap tidur, maka Rabi’ah al Adawiyah terjaga. Bagi Rabi’ah inilah saat-saat yang terindah berasyik masyuk dengan sang Maha Raya.
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun telah berlalu
Dan siang datang menjelang
Aku menjadi resah dan gelisah
Apakah persembahan malamku Engkau terima ?
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu kau tolak, hingga aku dihimpit duka
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu
Inilah yang selalu kulakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi Kemanusiaan-Mu
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu
Sesungguhnya, banyak sekali lantunan-lantunan syahdu dari Rabi’ah Al Adawiyah kepada Tuhannya yang mungkin melampaui batas perasaan, sensitivitas ruhani kebanyakan orang yang hatinya terikat pada gravitasi bumi, sangat duniawi. Sedangkan bagi Rabi’ah, lapar dan dahaga itu adalah kepada Tuhan itu sendiri. Jalaluddin Rumi berkata, “..sungguh sangat kasihan seseorang yang ingin mencapai laut hanya terpuaskan oleh secangkir air..” Bagi Rabi’ah maupun Rumi, cinta hakiki adalah Allah itu sendiri. Sedangkan cinta sesama, diantara manusia dianggap sebagai sesuatu yang dipinjamkan Tuhan itu sendiri, seperti yang dikatakan oleh Rumi, “Seseorang harus mencari kepuasan Tuhan, bukan kepuasan manusia. Karena kepuasan, cinta, simpati, dipinjamkan kepada manusia dan ditempatkan disana oleh Tuhan.”
Mungkin inilah syair yang paling popular dan syair puncak perasaan Rabi’ah al Adawiyah yang sangat menghujam kerasnya seluruh dinding-dinding hati dan mengguncangkan seluruh perasaan :
Yaa..Allah..
Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka,
bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga,
campakkan aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata
Janganlah Engkau tutup keindahan wajah-Mu
yang abadi untukku
Entahlah, setiap membaca syair-syair Rabi’ah al Adawiyah maupun Jalaluddin Rumi, jiwa saya seakan menjadi kerdil. Saya selalu merasa terlempar kesebuah lembah yang asing, dimana saya tak pernah mengerti lagi tentang peta diri ada dimana. Begitu jauh untuk berjalan berpeluk dan bergandeng dengan mereka. Antara saya dan Rabi’ah serta Rumi, seperti dalam posisi : Saya ada di dasar jurang yang maha dalam dan mereka ada di atas langit tak berbatas. Alangkah bedanya. Alangkah jauhnya. Tetapi saya melihat seberkas cahaya dari keduanya.


Sumber : http://filsafat.kompasiana.com/

DOA Rabiah Al-Adawiyah



wahai Tuhanku, sesudah daku mati
masukkanlah daku keneraka
dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka
sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan kesana.

http://chenius.files.wordpress.com/2007/05/perfectservant1a.jpg
wahai Tuhanku, bilamana daku menyembah_MU

karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku
dan bilamana daku menyembah_MU
karena gairah nikmat surga
maka tutupkan pintu surga selamanya bagiku


tetapi bilamana daku menyembah_MU
demi dikau semata, maka jangan larang daku
menatap KEINDAHAN_MU YANG ABADI


Sumber : http://chenius.wordpress.com/

Kisah Hidup RABI'AH AL-ADAWIYAH (SUFI WANITA)


 RABI'AH AL-ADAWIYAH (SUFI WANITA)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1YftPk8_Jwo4ARPF0wiy7Qb658rdKnzJ_U89j24ZVVnR8Ge-Vwuc-KMa_IzVGo3dUNFClwlhdqolYeouHGwAmWwuT7dP-Q1V8V7xXfUMSFWdfMvOkxEICd0Y6k8cC_BOxiBv0lRwo5JLG/s1600/muslimah-759468.jpg
A.     Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah
  1. Masa Kelahiran Rabi’ah al-Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khair bin Isma’il al-Adawiyah al-Qisysyiyah. Lahir di Basrah Iraq diperkirakan pada tahun 95 H. Rabi’ah termasuk dalam suku Atiq yang silsilahnya kembali pada nabi Nuh. Ia diberi nama Rabi’ah yang berarti putri keempat karena orang tuanya telah memiliki tiga orang putri sebelumnya.
Pada malam kelahirannya, sang ayah merasa sangat sedih karena tidak mempunyai suatu apapun untuk menghormati kehadiran putrinya yang baru itu. Bahkan minyak untuk menyalakan lampu pun tidak ada. Malam itu sang ayah bermimpi kedatangan Nabi Muhammad SAW dan mengatakan kepadanya agar jangan bersedih karena putrinya kelak akan menjadi seorang yang agung dan mulia.


Masa Kecil Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan orang saleh yang penuh zuhud. Seperti anak-anak sebayanya Rabi’ah tumbuh dan dewasa secara wajar. Yang menonjol darinya ialah ia kelihatan cerdik dan lincah daripada kawan-kawannya. Tampak juga dalam dirinya pancaraan sinar ketakwaan dan ketaatan yang tiada dimiliki oleh teman-temannya. Ia juga juga memiliki keistimewaan lain yaitu kekuatan daya ingatnya yang telah dibuktikan dengan kemampuannyamenghafal al-Quran saat usianya 10 tahun.
Pendidikan yang didapatkan Rabi’ah adalah pendidikan informal yang diberikan oleh ayahnya secara langsung. Biasanya ia dibawa ke sebuah mushalla yang jauh dari hiruk pikuk keramaian di pinggiran kotaBasrah. Di sinilah ayah Rabi’ah sering melakukan ibadah dan munajat, berdialog dengan Sang Khalik. Di tempat yang tenang dan tenteram tersebut akan mudah mencapai kekhusyukan dalam beribadah dan bisa mengkonsentrasikan pemikiran pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kondisi kehidupan keluarga Rabi’ah yang saleh dan zuhud besar pengaruhnya bagi pendidikan putri kecil tersebut.


Masa Remaja Rabi’ah al-Adawiyah

Masa remaja Rabi’ah dilalui tanpa kedua orang tuanya, karena mereka telah meninggal dunia pada saat ia beranjak dewasa. Hal itu menyebabkan kehidupan Rabi’ah dan kakak-kakaknya semakin parah kondisinya sehingga memaksa mereka untuk meninggalkan gubuknya. Rabi’ah dan semua saudaranya terpencar satu sama lain. Mereka berkelana ke berbagai daerah untuk mencari penghidupan. Dalam pengembaraan ini, Rabi’ah jatuh ke tangan perampok dan dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang murah, yaitu sebesar 6 dirham.
Kehidupan dalam belenggu perbudakan telah mengisi lembar hidup Rabi’ah. Tuannya memperlakukannya dengan sangat bengis dan tanpa perikemanusiaan. Tetapi Rabi’ah menjalaninya dengan sabar dan tabah. Shalat malam tetap dilakukannya dengan rutin, lisannya tidak pernah berhenti berdzikir, istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkannya.
Dan pada suatu malam, tuannya mendengar rintihannya dan doanya. Hal ini sangat menyentuh hatinya hingga akhirnya ia pun memerdekakannya. Setelah merdeka, kehidupan Rabi’ah tetap lurus dalam jalan dan petunjuk AllahSWT. Dengan kebebasan yang diperolehnya, ia curahkan hidupnya di masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian agama. Ia kemudian menjalani kehidupan sufi dengan beribadah dan merenungi hakikat hidup. Tidak ada sesuatupun yang memalingkan hidupnya dari mengingat Allah.


Masa Dewasa Rabi’ah al-Adawiyah

Dalam perjalanan selanjutnya, kehidupan sufi telah menjadi pilihannya. Rabi’ah menepati janjinya pada Allah untuk selalu beribadah kepadaNya sampai menemui ajalnya. Ia selalu malakukan shalat tahajjud sepanjang malam hingga fajar tiba. Rabi’ah tidak tergoda kehidupan duniawi, hatinya hanya tertuju pada Allah, ia tenggelam dalam kecintannya pada Allah SWT dan beramal demi keridlaanNya.
Rabi’ah telah menempuh jalan kehidupannya sendiri dengan memilih hidup zuhud dan hanya beribadah kepada Allah. Selama hidupnya ia tidak pernah menikah, walaupun ia seorang yang cantik dan menarik. Rabi’ah selalu menolak lamaran lelaki yang meminangnya. Pangkat, derajat, dan kekayaan tidak mampu memalingkan cinta pada kekasihnya Allah SWT.


Akhir Hayat Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah mencapai usia kurang lebih 90 tahun, bukan semata-mata usia yang panjang, tapi merupakan waktu yang penuh berkah hidup yang menyebar di sekelilingnya, suatu kehidupan yang menyebarkan bau wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya, bahkan sampai sekarang hikmah dari ajaran-ajarannya masih dapat dirasakan.
Terdapat silang pendapat di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Rabi’ah, baik mengenai tahun maupun tempat penguburannya. Mayoritas ahli sejarahnya meyakini tahun 185 H sebagai tahun wafatnya, sedangkan tempat penguburannya, mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa kotakelahirannya sebagai tempat menguburkannya.
  1. B.     Pemahaman Tasawuf yang Digunakan Rabi’ah al-Adawiyah
Pada masa itu, yang berkuasa di Basrah adalah Bani Umayyah. Hidup mewah mulai meracuni masyarakat terutama di kalangan istana. Melihat kondisi demikian, kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban untuk menyerukan pada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam kemewahan. Sejak saat itu, kehidupan zuhud mulai menyebar luas di kalangan masyarakat.
Menurut at-Taftazani, karakteristik asketisme (zuhud) islam pada abad pertama dan kedua hijriah adalah sebagai berikut:
  1. Asketisisme ini didasarkan ide menjauhi hal-hal dunia demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari azab neraka.
  2. Asketisisme ini bercorak praktis dan para pendirinya tidak menaruh pendirian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya itu.
  3. Motivasi asketisisme ini adalah rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan yang sungguh-sungguh.
Demikianlah perkembangan tasawuf pada masa Rabi’ah al-Adawiyah yang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan sufi Rabi’ah al-Adawiyah.
Rabi’ah al-Adawiyah semula adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan oleh tuannya. Dalam kehidupan selanjutnya ia bisa memusatkan perhatiannya dalam beribadah, bertaubat, dan menjauhi kehidupan duniawi. Dia menyenangi hidup dalam kemiskinan, dan menolak bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya, dia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan. Rabi’ah al-Adawiyah betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan mendambakan berada sedekat mungkin dengan Tuhan.
Rabi’ah dikenal sebagai sufi yang mengembangkan paham tentang mahabbah (cinta). Baginya Tuhan adalah zat yang dicintai dan rasa cintanya yang mendalam hanya kepada Tuhan. Karena itu, dia mengabdi dan melakukan amal saleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya pada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah dan cinta itu pulalah yang membuat dia bersedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang sangat dicintainya, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Menurut beberapa orientalis yang mengkaji tasawuf, misalnya R.A. Nicholson bahwa pentingnya kedudukan Rabi’ah al-Adawiyah di dalam konsep tasawuf adalah dikarenakan dia menandai konsep zuhud dengan corak lain dari konsep zuhud Hasan al-Basri yang ditandai dengan corak rasa takut dan harapan. Rabi’ah al-Adawiyah melengkapinya dengan corak baru, yaitu cinta yang menjadi sarana manusia dalam merenungkan keindahan Allah yang abadi. Cinta yang suci murni itu lebih tinggi daripada takut dan pengharapan. Cinta yang suci murni, tidaklah mengharapkan apa-apa dan cinta murni kepada Tuhan itulah puncak Tasawuf Rabi’ah. Di antara ucapan-ucapannya yang melukiskan tentang konsep zuhud yang dimotivasi cinta adalah:

“Wahai Tuhan! Apapun bagiku dunia yang Engkau karuniakan kepadaku. Berikanlah semuanya kepada musuh-musuhMu. Dan apapun yang Engkau akan berikan kepadaku kelak di akhirat, berikan saja pada teman-temanMu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup.”

Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan diri karena hadir bersama Allah, seperti terungkap dalam lirik syairnya:

“Kujadikan Engkau teman dalam berbincang dalam kalbu.
Tubuhkupun biar berbincang dengan temanku.
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu.
Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.”

Cinta dibaginya atas dua tingkat. Pertama cinta karena kerinduan. Dirindui sebab Dia memang puncak segala keindahan, sehingga tidak ada lagi yang lain yang jadi buah kenangannya dan buah tuturnya, melainkan Tuhan, Allah, Rabbi!. Yang kedua yaitu keinginan dibukakan baginya hijab, selubung, yang membatas di antara dirinya dengan Dia. Itulah tujuannya, yaitu melihat Dia (musyahadah). Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci orang lain.
Sebuah contoh menceritakan tentang cahaya dengan kerinduan hati yang terbakar semata-mata ditempati oleh ketakutan kehilangan Allah, tampak dalam dialog sebagai berikut. Ia ditanya:
“Apakah Anda cinta setan, wahai Rabi’ah, ataukah membencinya?”
Dijawab Rabi’ah, “Cintaku yang begitu besar kepada Allah, sepenuhnya melarangku untuk membenci setan”
Parapenanya masih memaksanya, dan terus mengajukan pertanyaan:
“Apakah Anda cinta Nabi dan kedamaian atas beliau?”
Dan Rabi’ah menjawab, “Demi Allah, aku sangat mencintainya. Tetapi cintaku kepada Sang Pencipta telah terisi penuh dan mencegahku dari cinta terhadap makhluk.”
Kata-kata ini tidak pernah dimaksudkan sebagai ketidakimanan terhadap Nabi. Jawaban itu dimaksudkan bahwa tidak ada ruang yang tersisa dalam hatinya untuk mencintai sesuatu dengan tulus kecuali Allah. Dalam bukunya The Rainks Of The Saints, al-Manawi berkata:
“Dalam doa-doanya, Rabi’ah menyerahkan dirinya seribu kali siang dan malam dan ketika ditanya, “Apakah yang Anda cari dengan semua ini?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mencari pengajaran. Aku mengerjakan semuanya barangkali Allah dan Nabi berkenan, dan menyampaikan kabar kepada Nabi-nabi lainnya, ‘Lihat, ada seorang perempuan dari ummatku dan inilah karyanya’.”
Oleh karena itu, Rabi’ah ingin mencintai Nabi, damai bersamanya, ia berharap semua perempuan merasa dimuliakan dengan apa yang dilakukannya. Ia mencintai Nabi dan berharap berjumpa dengan beliau pada Hari Pembalasan
.
Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu menolak lamaran pria-pria salih, dengan mengatakan: “Akad nikah adalah bagi pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta darinya, bukan dariku”
  1. C.     Ekspresi Beragama Dalam Kehidupan Sufi Rabi’ah al-Adawiyah
Ekspresi beragama ini dibagi menjadi 3:
  1. Ekspresi Verbal, yaitu pernyataan keadaan jiwa melalui kata-kata.
  2. Ekspresi Grafis, yaitu melalui tulisan, lukisan, maupun coretan.
  3. Ekspresi Motoris, yaitu pernyataan melalui tindakan, perbuatan, tingkah laku, gerakan, dan sebagainya.
Dari ketiga macam ekspresi yang disebutkan di atas, agaknya hanya ekspresi verbal dan motoris saja yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Mengingat tidak ditemukannya tulisan, lukisan, maupun coretan Rabi’ah yang dapat dianggap sebagai ekspresi keagamaan Rabi’ah. Bahkan ide tasawuf yang dikembangkannya, mahabbah, yang dikenal hingga sekarang baru ditulis beberapa muridnya beberapa saat setelah ia wafat.meski demikian, dua macam ekspresi tadi telah cukup melukiskan ekspresi keagamannya.


Ekspresi Verbal yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah

Sebagaimana disebut di atas, ekspresi verbal yang dilakukan Rabi’ah antara lain berupa perkataan yang berwujud doa-doa, syair-syair, nasehat, maupun jawaban dari pertanyaan.
Mengapa Rabi’ah menciptakan begitu banyak doa yang berupa syair-syair? Hal ini boleh jadi karena perasaan cinta dan rasa rindu pada “Kekasihnya”. Secara alamiah orang yang perasaannya dipenuhi oleh perasaan cinta dan rindu maka akan menciptakan puisi-puisi sebagai ungkapan perasaannya tersebut pada kekasihnya. Begitu juga yang terjadi pada Rabi’ah.


Ekspresi Motoris yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah

Ekspresi keberagamaan Rabi’ah dalam bentuk motoris teraktualisasi dalam bentuk-bentuk ibadah antara lain seperti shalat, puasa, haji, serta aktivitas-aktivitas lainnya.
Rabi’ah selalu melakukan shalat malam hingga fajar menjelang, dan ketika ia sakit, ia ridak bisa melakukan shalat malam dan akhirnya menggantinya dengan membaca Al-Quran di siang hari. Sementara tetesan air mata selalu mengiringi doa-doa yang dilantunkannya. Ia menangis bukan karena kemiskinannya atau karena ia tidak dihormati, melainkan ia menangis karena rindu akan “Kekasihnya” Allah SWT.
Ekspresi lain yang dilakukannya yaitu, menggali kuburnya sendiri di rumah. Dan diceritakan, ia biasa berdiri di samping lubang kubur tersebut, pagi dan sore hari sambil berkata “besok engkau pasti berada di sini” kemudian ia banyak melakukan ibadah. Selama 40 tahun ia memelihara kebiasannya ini hingga wafatnya.
Perilaku demikian menunjukkan bahwa Rabi’ah ingin segera bertemu dengan ‘kekasihnya’, dan itu akan dijumpainya pada saat rohnya terlepas dari jasadnya. Di samping itu, perilaku demikian juga menyadarkan dirinya bahwa kehidupan di dunia harus diisi dengan aktivitas sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

BAB III

PENUTUP
  1. A.     Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad ke II Hijrah telah merintis konsep zuhud dalam tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi ia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, dan sebagainya.


Dan kehidupannya adalah tafsir dari ayat Al-Quran yang jelas-jelas melukiskan hubungan cinta antara Tuhan dengan hambaNya:

“Wahai orang-orang yang percaya, barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka kelak akan didatangkan Tuhan Tuhan suatu kaum atas gantinya, yang Tuhan cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada Tuhan, yang merendahkan diri kepada sesama mu’min dan bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjuang di jalan Allahdan tidak merasa takut atas cercanya orang-orang yang durjana. Itulah anugerah Allah yang dilimpahkan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mengetahui”  

Demikianlah, jejak langkah Rabi’ah yang barangkali perlu kita tapak tilasi. Terlebih lagi di era yang semakin mementingkan materi dan dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan ini. Semoga saja kehidupan yang digelimangi cinta sebagaimana dicontohkan Rabi’ah itu bisa kita renungkan, teladani, dan jabarkan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Sumber : http://dhenibaladewa.blogspot.com/

CINTA RABIAH AL-ADAWIYAH -- Sufi wanita


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1YftPk8_Jwo4ARPF0wiy7Qb658rdKnzJ_U89j24ZVVnR8Ge-Vwuc-KMa_IzVGo3dUNFClwlhdqolYeouHGwAmWwuT7dP-Q1V8V7xXfUMSFWdfMvOkxEICd0Y6k8cC_BOxiBv0lRwo5JLG/s1600/muslimah-759468.jpgPada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun meleblhl gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara sangar. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya.
Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah dengan tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tldak berkenan menerlma tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti darl dosa, jangan simpan kata “akan atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan . Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan. siapa-siapa . “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu ger- bang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”


Sumber : http://sufimuda.net/

Sabtu, 07 Juli 2012

Perjalanan YESUS ke India


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLI-6ROcCJuhsvDF4W5rQCmHtZxBBASYE5lm8Cn5WsRBRz__j0V1Ia30Bmu76_ylIJIS3r7v2yR1_hgCbzSi2mPHV4EUFuFkGoD5T9pg8Xnak6WMD9xliTBXwlKcRxUdYCNUgOHQK58Xqr/s400/jesus%20meditating.jpgMengabdikan masa mudanya di angkatan darat, Dr. Hairfield mengalami penderitaan karena perang. Sebagai tentara, dia berangkat ke Âu Lạc (Vietnam). Di sana, pencarian untuk kebijaksanaan dan kedamaian batin membawanya ke biara Buddha Zen di Provinsi Quảng Ngãi. Para biarawan di biara Zen ini mengungkapkan bahwa ada kitab suci Buddha yang menerangkan seorang nabi bernama Issa yang datang dari barat untuk tinggal di India. Dr. Hairfield menyadari bahwa Issa ini tentu Yesus Kristus.

Setelah Dr. Hairfield kembali ke Amerika Serikat, dia meraih gelar dalam bidang psikologi, dan kemudian gelar S2 dalam bidang agama dan teologi serta S3 dalam bidang metafisika. Setelah itu, dengan mengikuti dorongan batinnya, Dr. Hairfield mengembara ke India, Nepal, dan Tibet dimana dia dibimbing oleh lama (rahib) Buddha dalam perjalanan spiritualnya – dan pencarian untuk mengerti tentang Guru Yesus yang sejati.


Dr. Hairfield: Waktu saya menemukan diri saya di India utara dan berjumpa dengan mungkin dua dari orang terbaik yang pernah saya temui sampai saat ini, guru-guru saya, mereka mengatakan saya di India untuk dua alasan: Satu untuk belajar filsafat dan pemikiran Tibet dan berbagi apa yang saya dapat dengan belahan dunia saya. Dan alasan kedua saya berada di sana adalah mereka menginginkan saya untuk tahu tentang Issa.

Tentu saja, pada saat itu, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi, yang paling menarik adalah, mereka adalah orang yang sama. Issa adalah Yesus dalam bahasa Hindi, di belahan dunia timur jauh. Ironisnya, nama itu berasal dari daerah India, tapi ada juga, sebuah Danau Issa di Nepal, nama itu dikenal di Tibet. Juga dikenal di wilayah yang hari ini kita sebut sebagai Iran, saat itu disebut Persia. Dan juga dikenal di beberapa tempat di Asia Timur.

Enam tahun dari hidup saya, saya habiskan untuk belajar dengan orang-orang Tibet. Mereka pemelihara catatan yang cermat. Mereka memiliki catatan yang rinci dari semua Guru yang pernah datang di belahan dunia tersebut. Secara harfiah mereka memiliki ahli menulis, sekretaris, yang menulis semua yang mereka katakan. Tidak seorang pun yang duduk dan berkata Buddha menulis sutra-sutra. Buddha tidak menuliskannya, orang lain yang menulisnya. Dan ini sama seperti Kristus.

Sekarang bila Anda pergi ke salah satu biara, saya dapat katakan kepada Anda tanpa ragu-ragu bahwa tempat saya melihat pertama kali dokumen-dokumen itu adalah Biara Hemis di Ladakh, yang merupakan salah satu negara bagian di utara India.


Bila Anda datang ke sana dan berkata, “Saya ingin melihat gulungan perkamen tentang Issa,” mereka akan melihat Anda dan berkata bahwa dokumen itu tidak ada. Tapi, bila Anda ke sana, dan mereka mempercayai Anda dan menyukai Anda dan mengerti bahwa Anda takkan menghilangkannya, mereka akan datangi Anda dan berkata, “Issa Anda pernah di sini.”

Yang dilakukan Kiela, pendeta tinggi, dia berkata kepada pendeta tinggi di biara tersebut mengapa saya berada di sana, bahwa saya ingin belajar tentang Issa dan apa yang dia lakukan di sana; apa yang dia pelajari; apa yang diajarkan. Dan pendeta tinggi biara tersebut berjalan dengan cepat, dia kembali membawa beberapa gulungan perkamen. Dan Kiela memiliki seorang penerjemah, dan penerjemah itu membacakan kata Sanskerta untuk saya.


Supreme Master TV: Tahun 1894, jurnalis Rusia bernama Nicolas Notovich adalah orang pertama yang mempublikasikan terjemahan manuskrip Buddhis yang menjelaskan kehidupan Yesus di India, dalam buku “Kehidupan Yesus yang Tidak Diketahui (The Unkown Life of Jesus)”.
Orang terkenal lainnya yang menulis tentang Yesus hidup di India adalah Swami Abhedananda, yang dahulu merupakan Ketua Masyarakat Vedanta di New York. Dr. Hairfield merupakan orang ke-18 dan orang Amerika kedua yang pernah diizinkan untuk membaca dokumen-dokumen yang sangat berharga ini.


Dr. Hairfield: Dan begitulah saya membuat hubungan tersebut karena saat mereka berkata, “Yesus Anda pernah datang ke sini, ini adalah namanya.” Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik, saya terperanjat. Reaksi pertama saya adalah, “Tidak mungkin!”


Supreme Master TV: Dr. Hairfield menemukan bahwa Yesus belajar di India dengan guru-guru dari kepercayaan Jain dan juga para pendeta Hindu Brahma, dan kemudian dengan guru-guru Buddhis di India Utara dan Nepal. Doktor Hairfield, adakah pernyataan yang tercatat dalam Injil yang juga ada dalam ajaran Buddha?

Dr. Hairfield: Oh secara keseluruhan, ada lebih dari seribu. “Anda menuai apa yang Anda tabur” adalah sesuatu yang diajarkan oleh Kristus dan juga diajarkan oleh Buddha. Jadi, ada hubungan langsung di sana. Tapi, bila Anda melihat tujuh pokok dari Khotbah di Bukit, seluruhnya menggaungkan dengan tepat apa yang dikatakan oleh sang Buddha sendiri. Ada begitu banyak yang waktunya sebelum Kristus yang bagi saya membuktikan bahwa dia berada dalam lingkungan Buddha, dapat dikatakan, bahkan mempelajarinya, tanpa keraguan, tanpa banyak tanya.

Supreme Master TV: Bagaimana Anda tahu Yesus pernah tinggal di India, tempat gajah-gajah dan macan-macan berada?

Dr. Hairfield: Sangat kelihatan, satu kali, guru saya mulai memperlihatkan dokumen-dokumen itu, dan yang sedang dia pelajari, dan sungguh menarik bahwa dia tidak seorang diri di sana. Mereka adalah Yesus, Maria Magdalena, Yohanes Pembaptis, dan Thomas. Kristianitas di Pantai Timur India, sebenarnya mereka mengikuti Thomas. Mereka adalah pengikut Thomas, bukan pengikut Kristus.

Supreme Master TV: Mereka berempat berada di sana, belajar informasi yang sama. Menurut Dr. Hairfield, tiga orang bijak dari Timur yang disebutkan dalam Kitab Injil, dalam Alkitab mengenai Yesus, mereka sebenarnya orang bijaksana yang datang mencari jiwa tercerahkan yang baru lahir di Palestina. Ini sama seperti para biarawan Buddha zaman sekarang yang mencari inkarnasi para lama (rahib) sebelumnya.

Dr. Hairfield: Alasan mereka muncul – dengan mengikuti bintang yang bergerak. Apakah ini bintang yang menantang hukum fisika? Tidak, apa yang mereka ikuti adalah sebuah ramalan astrologi; ramalan astrologi Veda. Ramalan astrologi Veda berasal dari India. Mereka datang dari Timur. Kenapa? Untuk mengonfirmasi bahwa ini adalah jiwa besar yang akan mereka didik. Tiga hadiah adalah kebijakan, welas asih, dan cinta kasih.

Supreme Master TV: Jadi, hadiah simbolis?

Dr. Hairfield: Ya. Begitu mereka mengonfirmasi bahwa Kristus adalah yang mereka cari, mereka meninggalkan instruksi kepada Yosef dan Maria bahwa ada beberapa hal yang harus mereka lakukan saat membesarkannya. Satu adalah pergi ke sekolah misteri di Heliopolis di Mesir, sehingga waktu dia keluar dari Mesir sesuai dengan nubuat bahwa orang ini akan keluar dari Mesir; dia melakukannya sesuai dengan nubuat.  Waktu Kristus berusia 13, mereka harus mengikuti kriteria ketiga dari instruksi yang ditinggalkan, bahwa Kristus harus pergi ke India.


Supreme Master TV: Jadi, ada hubungan langsung memenuhi nubuat ini dan ... (Ya.) Benarkah Anda mengikuti jejak Issa, perjalanannya?
Dr. Hairfield: Sebagian, tentu saja. Saya duduk di sebuah gua di Nepal, di tepi Danau Issa, dimana Kristus seharusnya pernah berada di sana tanpa melakukan apa-apa kecuali meditasi.

Supreme Master TV: Kalau begitu, apa tujuan Yesus? Apa misi dia di sini?

Dr. Hairfield: Di dunia? Benar-benar berbeda dari apa yang telah diajarkan kepada kita. Dia adalah Guru yang besar, sangat cakap. Namun, tingkat pengetahuan seperti itu hanya dapat ditemukan di belahan dunia tersebut. Bila Anda pikirkan, masyarakat Tibet masih mengikuti tradisi yang sama sampai sekarang. Mereka mencari reinkarnasi Dalai Lama, dan saat mereka menemukannya, mereka melakukan ujian. Bila lulus, mereka mulai mendidiknya untuk menjadi Dalai Lama yang berikutnya. Dalai Lama ke-14 adalah yang kita kenal sekarang; dan beliau harus melalui semua ujian tersebut. Mereka melakukan hal yang sama dengan Kristus. Jadi, dia diajarkan apa yang dia tahu.

Supreme Master TV: Saat tinggal di biara-biara di India, Tibet, dan Nepal, Dr. Hairfield mendapat kesempatan untuk mempelajari kitab-kitab India yang sama yang pernah dipelajari Yesus 2.000 tahun sebelumnya, dan membandingkan pesan itu dengan ajaran Yesus seperti yang disampaikan dalam Kitab Injil.

Dr. Hairfield: Bila Anda mempelajari prinsip-prinsip Karma, 12 prinsip, sebenarnya dia mengatakan hal yang sama dalam empat Kitab Perjanjian Baru. Dia hanya mengubah kata-katanya, seperti dia mengatakannya dengan cara ini: Apa yang engkau “tanamkan” akan kembali 10 kalinya. “Tanamkan” berarti apa yang Anda tabung, dan sesuatu yang memperkuat sepenuhnya, karena pernyataan ini juga ditulis dalam Kitab Veda, dan dia mengutipnya dengan tepat: ”Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai.” Ini adalah yang utama, dari hukum karma, ini adalah hukum yang paling pertama.

Dan kemudian dia mulai menerangkan yang lainnya dan mengutip kata-kata perumpamaan lainnya yang dinyatakannya, tapi sebenarnya dia membawakan 12 prinsip tersebut dalam Perjanjian Baru. Anda akan temukan teks Veda dalam keempat Injil, Anda temukan teks Jain, Anda temukan teks Brahma, dan Anda temukan teks Buddhis. Saya sebenarnya duduk dengan semua teks itu, saling bersebelahan, dan mulai mencampur, memasangkan dan menemukan pemikiran yang sama, sehingga saya tahu dari mana dia dapatkan. Saya tahu dari mana datangnya. Sungguh-sungguh. Itu terbuka bagi semua orang dengan pikiran terbuka. Kita diajarkan bahwa kita tidak boleh berbuat ini; kita diajarkan bahwa kita tidak pantas berbuat ini. Tapi, kita tak pernah dengar Kristus berkata demikian. Tidak pernah, juga di dalam Alkitab, Tuhan tidak berkata demikian.

Kunci utama dari semua itu adalah menerima diri Anda sendiri apa adanya dan kemudian, seperti yang dikatakan dalam naskah Nag Hammadi, bila Anda membuat dua menjadi satu, Anda dapat berkata, “Memindahkan Gunung dari sini ke sana,” akan diberikan kepada Anda. Pertanyaannya adalah, apakah artinya? Itu sebenarnya berarti beberapa hal. “Dua” berarti dualitas, tidak ada dualitas di dunia ini, tidak ada dualitas dalam hidup, tidak ada dualitas dalam kesadaran, hanya ada satu kesadaran, dan kita adalah titik kehidupan di dalamnya, jadi ada “satu”.

Yang kedua adalah dengan membiarkan jiwa kita berperan dalam hidup kita. Dengan kata lain, kita hidup dengan jiwa kita bukan hanya tubuh kita. Jadi sekarang, menghilangkan dualitas dan memiliki jiwa dan tubuh sebagai satu prinsip operasi. Kemudian, Anda dapat melakukan apa yang dia lakukan, katanya sendiri.

Satu-satunya alasan mereka membawa saya ke Biara Hemis di Ladakh (di India) adalah untuk tujuan itu, untuk menemukan siapakah Issa (Yesus), dan kemudian membaca apa yang dia pelajari, dan selanjutnya guru-guru saya memastikan saya belajar setiap hal yang dia pelajari.

Saya beritahu bagaimana guru saya menyelundupkan saya ke Tibet, yaitu melalui biara lain yang dinamakan Salib Suci,  yang berada di kedalaman Himalaya dan sesungguhnya dibangun di dalam gunung. Dan di situlah saya membaca lagi seri kedua gulungan perkamen tentang Issa. Jadi, di sana hanya ada dua biara yang saya ketahui memiliki dokumen itu, dan saya bahkan tidak yakin apakah masih ada di sana karena mereka memindahkannya. (Memindahkan untuk melindunginya?) Benar.

Supreme Master TV: Melalui akses khusus pada dokumen-dokumen rahasia di India tentang Yesus, Dr. Hairfield menemukan banyak rincian tentang siapakah Yesus, dan apa yang dia ajarkan.

Dr. Hairfield: Yesus seorang Essene. Salah satu hobi saya adalah mengoleksi Alkitab. Alkitab tertua milik saya dari tahun 1805 dan dalam kondisi mengagumkan. Tapi, jika kita membaca Alkitab yang lebih tua dan Alkitab yang lebih baru, maka ada perbedaan besar yang mencolok. Dalam Alkitab yang lebih tua, dikatakan bahwa Yesus menyingkir ke Gunung Karmel; Alkitab yang lebih baru mengatakan bahwa dia naik ke gunung. Di mana Gunung Karmel? Itulah tempat ditemukan Gulungan Laut Mati, itu adalah rumah kaum Essene. Maria, ibu Yesus, adalah seorang guru Essene, dan dia seorang pemimpin.

Hal kedua adalah: Alkitab yang lebih tua tidak menyebutkan bahwa Yosef adalah tukang kayu. Yang disebutkan, Yosef mempunyai keahlian itu. Dia seorang Essene, dia seorang ahli alkimia. Jadi, siapakah Yesus? Seorang Essene. Jadi, dia telah bersinggungan dengan ajaran rahasia Essene – sejak lahir. Dan kemudian saat pergi ke Mesir, mereka pergi ke Heliopolis, yang merupakan tempat ajaran rahasia di Mesir. Lalu saat dia pergi dari sana, kembali ke Israel saat berusia 13 tahun, Yosef dari Arimatea membawanya ke India untuk “Master dan PhD”-nya, boleh dikatakan begitu. Jadi, dia akan menjadi seseorang dengan pencapaian besar, mengetahui bahwa dia adalah seorang jiwa agung.

Kristus belajar dari para Yyogi Nath. Yogi Nath adalah orang yang sangat misterius. Suatu saat, saya di luar di ladang. Saya sedang membungkuk, menanam padi. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul di depan saya, dan saya melihat di sana ada pria tua kecil yang kotor dan kasar, dan dia menatap saya dan berkata, “Kamu orang Amerika.” Dan saya jawab, “Ya.” Dia meludah ke tanah dan berkata, “Kamu tidak layak,” lalu dia berjalan menjauh.

Beberapa hari kemudian, dia kembali, dan hal serupa terjadi. Dia menatap saya dan berkata, “Saya diberitahu bahwa kamu ingin belajar sutra Nath.” Dan saya iyakan. Dia melanjutkan, “Kamu orang Amerika. Kamu tidak layak. Kamu tidak memiliki kesabaran.” Itu terjadi empat atau lima kali, dan pada terakhir kalinya, dia muncul dan menatap saya dan tersenyum, lalu berkata, “Kamu layak.” Karena saya tidak pernah tersinggung akan hal itu. Saya terima saja apa yang dia lakukan dan katakan. Maka, selama dua bulan saya bersama orang ini. Dan di situlah saya belajar tentang sutra-sutra ini.

Supreme Master TV: Dalam Kitab Injil, Yesus dikatakan melewatkan 40 hari di gurun atau alam liar, di mana dia dicobai oleh Setan. Dr. Hairfield menjelaskan bahwa Yesus bermeditasi pada saat itu untuk menyempurnakan penguasaan dirinya.

Dr. Hairfield: Dia harus beradu dengan pikirannya melalui gagasan godaan. Bayangkan saya berkata kepada Anda, “Oke, saya akan menganugerahimu kekuatan yang tak terkalahkan ini. Kamu berkuasa penuh atas segalanya.” Apa yang akan dilakukan ego Anda? (Wah!) Persis! Jadi, dengan kata lain, itu tentang membersihkan pikirannya sendiri. Ini adalah ujian terakhirnya. Itulah gagasan tentang godaan itu.

Dan omong-omong, kata “Setan” dalam Sanskrit kuno berasal dari Veda adalah “ego”. Ego adalah hal paling kuat yang kita miliki dan kita harus mengekangnya. Tapi, sekali ia dikuasai dan diubah, sang Ilahi dalam batin akan bangkit. Dia sudah punya pengetahuan itu, dan ada satu rintangan terakhir, dan dia mengatasinya.

Supreme Master TV: Dr. Hairfield, banyak orang berpikir Yesus vegetarian, apa pendapat Anda?

Dr. Hairfield: Saya tidak punya keraguan atau pertanyaan tentang itu. Dan jika Anda ingin, saya akan berikan ide ringan menyangkut alasannya. Semakin berat makanan, semakin berat tubuh. Jika kita melihat gigi kita, kita tidak diciptakan untuk menjadi karnivora, kita adalah vegetarian. Kita seharusnya makan sayur-mayur. Tapi, dia secara harfiah vegetarian. Dia tidak menaruh apa pun dalam tubuhnya yang membuat beban atau berat apa pun yang akan menghambat energinya dengan cara apa pun. Dan itu mudah dijelaskan.
Saat kita makan – jika merasa mendapat tenaga, itu yang harus kita makan. Jika kita makan makanan dan kita merasa berat, itu adalah makanan yang tidak seharusnya kita makan. Jadi ya, dia benar-benar vegetarian, tanpa keraguan. Dia ingin memahami semua aspek dari semua sistem kepercayaan. Dan, dari semua ajaran, ada dua yang tidak memiliki dogma. Satu, tentu saja, adalah sutra Buddha. Sesungguhnya ada tiga. Filosofi Krishna dan Veda. Teks Veda adalah teks filosofi yang tertua yang diketahui tentang kehidupan. Dan ajaran Brahma, Jain, dan bahkan sutra Buddha, hingga suatu taraf, bahkan filosofi Krishna, hingga suatu taraf, semua berasal dari yang satu itu. Bahkan teks Alkitabiah sebenarnya dalam sebagian hal atau lainnya, berasal dari teks itu.

Supreme Master TV: Seperti pencari Kebenaran dalam zaman Yesus, Dr. Hairfield sendiri telah pergi ke India untuk mencari Diri Ilahi Sejati-nya.

Dr. Hairfield: Adalah hal-hal sederhana yang selalu paling kuat. Dan itu juga hal yang Kristus sendiri ajarkan. Kristus mengatakan itu di dua tempat. Pertama dia berkata, “Untuk masuk Kerajaan Allah, engkau harus memiliki pikiran seorang anak kecil.” Yang kedua kali dia berkata, “Untuk masuk Kerajaan Allah, engkau harus memiliki kepolosan seorang anak.” Pikiran polos seperti anak kecil mudah melihat hal sederhana. Dan kita dapat munculkan itu bahkan di usia kita.

Supreme Master TV: Dan bisakah Anda uraikan tentang bagaimana kita menemukan Kerajaan Allah dalam diri kita?

Dr. Hairfield: Kristus mengatakan, pertama, dalam Kitab Lukas bahwa “kamu mencari Kerajaan Surga di mana-mana, tapi kamu tidak melihat ke dalam batin.” Baiklah. Kita juga tahu menurut teks Alkitabiah bahwa Tuhan berdiam di Surga. Nah, jika Kerajaan Surga berada dalam diri kita dan Tuhan di dalam Surga – di mana Tuhan berada? (Dalam diri kita.) Jadi, jika orang ingin menemukan Kerajaan itu, kita mulai dengan meditasi: “Jadilah tenang dan tahu.”


Salah satu guru saya suatu hari menatap saya dan berkata, “Anak muda, kamu suka dirimu?” Dan saya jawab, “Tidak.” Dia berkata, “Tunggu di sini,” dan dia berjalan pergi. Dia kembali dan membawa, saya duga, itu seperti cermin dari wadah bedak rias wanita, dan dia berikan kepada saya dan berkata, “Bawa ini bersamamu dan duduklah dan lihat cermin itu lalu katakan pada dirimu bahwa kamu cinta dirimu.” Dan dia berkata, “Saat kamu telah selesai dengan itu, kembalikan cermin saya.”

Saya kembali kepadanya 30, 45 hari kemudian, dan saya memandang dia dan berkata, “Guru, saya tak bisa lakukan ini.” Dan dia berkata, “Ceritakan pengalamanmu.” Dan saya beritahukan dia bahwa setiap kali saya mengatakan kalimat itu, saya dengar dalam pikiran saya semua alasan mengapa saya tak berguna, tidak baik, semua yang negatif tentang saya. Dan dia menatap saya dan berkata, “Tidak, kamu telah berhasil, Steven.” Saya berkata, “Bagaimana?” Dia menjawab, “Kini kamu tahu dua hal yang tidak kamu ketahui sebelumnya.”

Dia berkata, “Pertama, kamu tahu jalanmu. Jalanmu adalah melalui hutan dari setiap orang itu dari hal-hal itu, egomu, yang adalah hal kedua yang kini kamu ketahui.” Karena setiap kali saya mengatakan bahwa, ego sayalah yang memberitahu saya mengapa saya tidak suka saya dan tidak dapat menerima saya. Lalu dia hanya berkata, “Hadapi satu per satu, jangan semuanya. Cukup satu per satu, hingga ia tak ada lagi.” Dan perlu waktu cukup lama. Tapi tidak satu pun hal-hal itu mengganggu pikiran saya lagi. Itulah Surga di dalam batin. Jika kita sungguh ingin menerangi dunia ini, maka bukalah diri kita terhadap kebenaran hakikat kita sendiri, terhadap kebenaran keilahian kita sendiri. Munculkan itu; munculkan dan berikan kepada semua orang karena jika kita dapat lakukan itu, kita telah melanjutkan garis silsilah yang dibentuk ribuan tahun lalu oleh begitu banyak Guru agung.

Bagaimanapun juga, Kristus sendiri berkata, “Carilah dulu Kerajaan Allah maka semua hal lainnya akan diberikan kepadamu.” Dan memikirkan bahwa kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan, apa pun, dengan menemukan tempat itu di dalam diri kita lebih dulu. Maka, kita dapat mengubah dunia.


Sumber : http://suprememastertv.com/

Minggu, 24 Juni 2012

Rasionalisasi, Kisah Syaikh Siti Jenar


Apabila kita membahas mengenai keberadaan, salah seorang wali di tanah Jawa, Syaikh Siti Jenar, seringkali kita menemukan berbagai cerita yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
Di dalam salah satu tulisannya, Ustadz Shohibul Faroji Al-Robbani mencatat, setidaknya ada 5 Kesalahan Sejarah tentang Syaikh Siti Jenar, yaitu :



1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing.
Sepertinya hanya orang-orang berpikiran irrasional, yang mempercayai ada seorang manusia, yang berasal dari seekor cacing. Syaikh Siti Jenar adalah manusia biasa, beliau dilahirkan di Persia pada tahun 1404M, dengan nama Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini.
Ayahnya bernama Sayyid Sholih, yang pernah menjadi Mufti Malaka di masa pemerintahan Sultan Muhammad Iskandar Syah.
Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas :
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.”

[Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….


2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur.
Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
Di dalam perjalanan hidupnya, pada tahun 1424M, terjadi perpindahan kekuasaan dari Sultan Muhammad Iskandar Syah, kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
Maka pada sekitar akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.
Melalui Sayyid Kahfi, Siti Jenar memperlajari Kitab-Kitab seperti Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.
Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

http://kanzunqalam.files.wordpress.com/2010/09/sitijenar.jpg


3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb.
Sejak kecil Syaikh Siti Jenar berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an di usia 12 tahun.
Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 menulis, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.


4. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong.
Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa, di dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.


5. Beberapa penulis telah menulis bahwa setelah kematiannya, mayat Syaikh Siti Jenar, berubah menjadi anjing.
Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, dimana seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih.
Berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.


Dan hal ini, tentu sangat bertentangan dengan teori Biologi Molekuler, dimana seseorang yang lahir dari manusia, maka akan wafat sebagai manusia.




Sumber : http://kanzunqalam.wordpress.com/

Photo Gallery of Ascended Master

Photo Gallery of Ascended Master



Master Saint Germain

Sanat Kumara
Lord Gautama
Beloved Maitreya
Master Jesus
Mother Mary
Master Morya
Master Koot Hoomi
Saint Aeolus
Master Serapis Bey
Paolo Veronese
Djwal Khul
John The Beloved
Lady Rowena
Lord Neptune
Lady Aries
Archangel Michael
Archangel Jophiel
Archangel Chamuel
Archangel Gabriel
Archangel Raphael
Archangel Uriel
Archangel Zadquiel
I AM Presence
Lord Ling
Krishnamurti
Helohim Hércules
Mother Kwan Yin
Guy Ballard
Geraldinne Innocente
Vajradhara
Pallas Athena




Sumber : http://www.metaphysicalteachings.com/