Minggu, 11 Maret 2012

WAFATNYA SANG NABI


Tetapi setelah Rasulullah SAW wafat, Fatimah menuturkan bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa beliau akan meninggal karena sakitnya ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian beliau membisikkan lagi bahwa putrinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya Fatimah tertawa.
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disamping Rasulullah. Sekali-sekali beliau meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkan ke wajahnya. Saking tingginya suhu tubuh Nabi SAW, kadang beliau sampai tak sadarkan diri. Kemudian sadar kembali dalam keadaan yang sudah sangat payah.
Karena perasaan sedih yang menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai penderitaan ayahnya itu, “Alangkah beratnya penderitaan ayah.”
“Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini,” jawab Rasulullah.
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usamah dan pasukannya yang ada di Jurf pulang ke Madinah. Ketika Usamah masuk menemui Nabi di rumah Aisyah RA, beliau sudah tidak dapat berbicara. Namun setelah melihat Usamah, beliau mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya pada Usamah sebagai tanda mendoakan.
Rasulullah SAW memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai terasa berat. Khawatir bila meninggal harta masih itu masih di tangan beliau, maka dimintanya supaya uang itu disedekahkan. Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus Nabi selama sakitnya, mereka lupa melaksanakan perintah itu.
Sehari sebelum wafatnya, Rasulullah sadar kembali dari pingsannya. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?”
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Rasulullah memintanya kembali. Setelah menerima uang itu, Nabi bersabda, “Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia menghadap Allah, sedang ini (dinar) masih di tangannya?”
Kemudian semua uang tersebut disedekahkan kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.
Malam itu, Rasulullah dalam keadaan tenang. Demamnya sudah mulai turun. Keesokan harinya, beliau sempat keluar rumah, pergi ke masjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali bin Abi Thalib dan Fadl bin Abbas. Saat itu, Abu Bakar sedang mengimami orang-orang shalat.
Rasulullah kemudian duduk di samping Abu Bakar dan shalat sambil duduk di sebelah kanannya. Usai shalat, beliau menghadap kepada orang banyak, dan berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai ke luar masjid.
“Saudara-saudara, api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang dihalalkan oleh Qur’an. Juga aku tidak akan mengharamkan sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur’an. Laknat Allah kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai masjid.”
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang nampak membaik, bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usamah bin Zaid datang menghadap beliau dan minta izin akan membawa pasukan ke Syam. Kaum Muslimin mulai gembira lagi melihat keadaan beliau.
Rasulullah pun kembali ke rumahnya. Aisyah menyambutnya dengan ceria. Setelah memasuki rumah, kesehatan Rasulullah kembali memburuk. Beliau merasa maut sudah makin dekat. Dalam hal ini, keterangan beberapa sumber sangat berbeda.
Sebagian besar menyebutkan bahwa pada hari musim panas itu—8 Juni 632—beliau minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu, beliau mengusapkan air ke wajahnya. Dan ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakar datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya.
Oleh Aisyah, benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi SAW. Rasulullah kemudian menggosok dan membersihkan giginya dengan siwak itu. Saat menghadapi sakratulmaut, beliau menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”
Aisyah—yang pada waktu itu memangku kepala Nabi—berkata, “Terasa olehku Rasulullah SAW sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, ‘Ya Ar-Rafiq’ A’la dari surga.’ Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.”
Aisyah menuturkan, Rasulullah berpulang sambil bersandar antara dada dan lehernya dan saat gilirannya. “Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah SAW berpulang ketika beliau di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama-sama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”

Sumber : http://kakbimo.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar