Minggu, 11 Maret 2012

Apakah “Partikel Tuhan” Bisa Menggantikan Tuhan


Oleh : Deepak Chopra
Higgs Boson
Partikel TUHAN
Jika Anda pergi ke gereja di abad ke-18, Anda akan mendengar Tuhan yang digambarkan seperti sesosok pembuat jam surgawi yang menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya berjalan dengan sendirinya. Saat ini, sang pencipta itu adalah Big Bang dan bagian dari jam tersebut adalah partikel subatom. Tapi masalah dalam apa yang menciptakan materi tersebut dari kekosongan adalah tetap sama.

Bagaimana material bisa dibentuk dari yang bukan material? Apa yang memberikan partikel tersebut massa, dan bagaimana mereka saling menyatu? Para ilmuwan di fasilitas CERN di Eropa saat ini sibuk dengan fasilitas bernilai miliaran dolar untuk membuat Hadron Collider yang besar yang mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang adanya sub partikel yang dinamakan boson Higgs yang sulit dipahami, yang disebut “partikel Tuhan.”

Pencarian berlangsung antara yang terlihat dan tak terlihat. Subpartikel Hipotetis Higgs adalah partikel virtual, yang berarti hanya dapat dideteksi saat memasuki ruang-waktu untuk hanya sekejap sekitar satu milidetik. Higgs ini beroperasi pada skala Planck, yang jutaan kali lebih kecil dari inti atom.

Kegembiraan atas ditemukannya partikel Higgs adalah bahwa ilmu fisika akan menemukan mekanisme bagaimana dunia nyata ini  muncul dari sesuatu yang tidak berwujud. Itu adalah tindakan sedekat mungkin yang ilmu fisika bisa dapatkan tentang penciptaan ilahi. Namun ada ironi dalam mendasarkan alam semesta fisik padat dari sesuatu yang bukan apa-apa. Mungkinkah ini sebenarnya tempat dimana materialisme menghancurkan dirinya sendiri dari dalam? boson Higgs dapat menjadi kunci untuk membuka misteri penciptaan dengan menegaskan hal yang sangat berbeda dari sekedar mimpi materialisme.

Dengan asumsi bahwa partikel itu sendiri memungkinkan untuk ditemukan, langkah kedua adalah eksplorasi dari domain tak terlihat tersebut. Secara harfiah dari yang bukan ada apa-apa/nothingness, namun sesungguhnya semuanya berasal dari itu. Berabad-abad yang lalu tradisi kebijaksanaan kuno dunia telah membandingkan penciptaan dalam skala kecil untuk penciptaan dalam skala besar. Para bijak besar mencatat bahwa pikiran kita adalah bukan apa-apa, juga. Sebelum pikiran muncul, ada kekosongan dan keheningan. Namun sekali pikiran menghasilkan kreasi, mereka menjadi kuat, bermakna, dan koheren.
Penciptaan tidak bergerak dari yang tidak terlihat menjadi terlihat dengan partikel acak seperti buih di permukaan laut. Mereka terlihat acak dalam Large Hadron Collider, tetapi para ilmuwan yang menjalankan mesin, yang juga adalah bagian dari penciptaan, tidak memiliki wadah yang melayang terpisah menjadi partikel awan. Sebaliknya, tubuh kita, seperti halnya otak manusia dan DNA itu sendiri, yang dengan indah memerintahkan kreasi, sangatlah jauh dari sekedar peristiwa acak.

Kekuatan fisika tidak bisa menerangkan susunan yang indah seperti itu, apalagi bahwa kita berasal darinya, itulah sebabnya mengapa Tuhan menjadi ada. Partikel Tuhan membuktikan partikel terkecil dari jam tersebut tetapi bukan pembuatnya. Saya tidak bemaksud berkata bahwa ada orang berada di atas langit yang membuat alam semesta. Dengan menjaga ketat pandangan dunia ilmiah, penciptanya haruslah bersifat impersonal, cerdas, universal, tak terlihat, namun nyata dalam dunia yang kelihatan. Satu-satunya kandidat yang layak adalah ‘kesadaran’.

Partikel Higgs boson merupakan batu loncatan kecil menuju teori penciptaan yang terletak dalam kesadaran sebagai hal utama dari kosmos. Banyak teori yang  sudah sampai disana, bahkan sudah beberapa dekade sebelumnya sejak konsep alam semesta kesadaran diri telah dikembangkan.

Suatu hari nanti akan menjadi hal biasa untuk mengakui bahwa domain yang tidak berwujud, yang bukan berujud material dari fisika kuantum adalah kesadaran. Dalam dunia virtual, hal-hal seperti partikel non-lokalitas, dan ketidakpastian, ada tidak dalam bentuk, padat, atau berwarna. Keberadaan mereka adalah tampilan kecenderungan yang sekilas, dan kemungkinan superposisi. Ini akan menjadi realisasi besar bagi ilmu pengetahuan untuk mengakui bahwa semua kecenderungan dan kualitas tersebut adalah kecenderungan dari kesadaran.

Langkah ketiga untuk pemahaman sepenuhnya terhadap alam semesta akan menghubungkan dengan kesadaran, yang merupakan inti dasar kosmos,  dengan pengalaman pribadi dari kesadaran kita. Dasar eksistensi kita adalah sama dengan keadaan dasar alam semesta. Ini adalah pesan dari Vedanta: Atman adalah Brahman. Kesadaran individu yang terbangun sepenuhnya adalah sama dengan sifat penting dari keseluruhan kosmos. Entah bagaimana kesadaran kita berpartisipasi adalah merupakan bagian integral dari penciptaan alam semesta. Sayangnya, pada saat kita mulai menyadari benar-benar peran kreatif kita, tindakan bodoh kita mungkin sudah menghancurkan rumah planet kita.

Fungsi kreatif kesadaran dalam mekanika kuantum pada awalnya digariskan dalam Interpretasi Kopenhagen yang mengatakan bahwa pengamat diperlukan untuk meruntuhkan fungsi gelombang menjadi kejadian tunggal dan menghasilkan hasil yang bisa diukur. Tanpa pengamat sadar, fungsi gelombang tetap merupakan superposisi dari kondisi tunggal yang tidak nyata.

Banyak Teori dari mekanika kuantum berusaha untuk menghindari pengaruh dari pengamat dan runtuhnya fungsi gelombang dengan memposisikan cukup semesta paralel untuk menampung semua keadaan yang mungkin dari fungsi gelombang. Tapi pada akhirnya, untuk memecahkan masalah pengukuran tanpa pengamat, alat pengukur fisik dibutuhkan namun ketika dianalisis secara kuantum mekanik itu sendiri tidak menjadi fungsi gelombang, atau superposisi dari energi eigenstates. Tidak ada yang bisa menjelaskan dalam bentuk apa materi tersebut mungkin menjadi.

Transaksional Interpretation  menjelaskan interaksi kuantum sebagai gelombang yang berdiri terbentuk oleh mundurnya (maju-secara-waktu) dan majunya (mundur-secara-waktu) gelombang. Disini diasumsikan bahwa interaksi dengan perangkat pengukuran entah bagaimana mengaktifkan emisi gelombang kemungkinan yang mundur dalam waktu. Ini adalah cara untuk menghindari kebutuhan pengamat, tapi seperti banyak teori alam semesta juga menyiratkan alam semesta dualistik yang membawa kita ke luar dari aturan pengukuran kuantum. Sekali lagi, peralatan yang mengukur fungsi gelombang harus terbuat dari materi yang tidak mematuhi fisika kuantum dengan kemungkinan adanya superposisi .

Sebuah teori yang lebih menjanjikan dari mekanika kuantum adalah paradigma David Bohm tentang aturan yang melibatkan dan menjelaskan keutamaan mana yang diberikan kepada keutuhan atas bagian-bagian yang meliputi ruang, waktu, partikel, dan keadaan kuantum. Dalam pandangan ini, bagian-bagian terungkap dari keseluruhan.

 Sir Roger Penrose dan Hameroff Stuart, PhD. telah mengembangkan model pengurangan objektif  yang diatur (Orch OR) dan ini saya anggap menjadi teori paling progresif untuk menjembatani kesadaran universal dan kesadaran individu. Penrose memulai dengan posisi bahwa kesadaran pada dasarnya non-algoritmik dan karenanya tidak bisa digandakan oleh sebuah komputer atau mesin. Dia mengusulkan bahwa kesadaran dapat dijelaskan melalui teori kuantum dengan tipe baru fungsi gelombang yang runtuh dalam otak. Keahlian Hameroff  di bidang neurofisiologi sepertinya menyediakan link kuantum dalam mikrotubulus di dalam neuron otak. Daripada pandangan konvensional bahwa kesadaran muncul dari perhitungan yang kompleks diantara neuron otak, mereka mengusulkan bahwa kesadaran melibatkan urutan perhitungan kuantum dalam mikrotubulus di dalam sel saraf otak, bukan sekedar hubungan di antara mereka sekedar dalam proyeksi dan penyebaran. Perhitungan kuantum di dalam otak juga bergelombang dalam dasar geometri ruang-waktu, tingkat paling dasar dari alam semesta.

Penrose menunjukkan bahwa keruntuhan fungsi gelombang kuantum terjadi dengan sendirinya di atas skala Planck. Dia mendalilkan bahwa setiap superposisi kuantum memiliki lengkungan ruang-waktu sendiri dan bit-bit berbentuk lengkung ruang-waktu semacam gelembung dalam mempertahankan superposisi ruang-waktu . Tapi ketika itu menjadi lebih besar, di luar skala Planck, pengaruh gravitasi membuatnya tidak stabil dan menjadi runtuh. Itulah tujuan peluruhan atau runtuhnya fungsi gelombang menjadi partikel yang terukur.

Teori ini mendekati perspektif Vedanta, di mana Brahman sang kesadaran semua-adalah dinamika yang berinteraksi dari diri pengamat, mengamati dan proses dari observasi. Proses interaksi diri ini menimbulkan semua keragaman dan fenomena sementara ia sendiri tetap tidak terpengaruh olehnya.Ketika ilmu pengetahuan terus mencoba menggapai pencapaian eksotis dan ekstrim dari fisika kita dapat mengambil beberapa kenyamanan yang kita benar-benar datang lebih dekat untuk memahami apa yang paling akrab dengan kita, kesadaran kita sendiri, diri kita. Yang nyata dari sumber yang tidak berwujud, dan kita berasal dari yang tidak berwujud itulah yang kita sebut Tuhan.



Sumber : http://henkykuntarto.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar