Jumat, 06 Juli 2012

Lihainya 6 Perempuan Mata-mata Terkenal


Jakarta Di balik kelemahlembutan perempuan, tersimpan kekuatan 'berbahaya' seperti yang dimiliki keenam femme fatale ini. Dengan kecantikan, kecerdasan berpadu keberanian, mereka menjadi mata-mata. Dan pastinya tidak memiliki kelemahan akan godaan lawan jenis. 

Berikut mata-mata perempuan yang terkenal di dunia spionase versi stylist.co.uk, Jumat (6/7/2012):




1. Violetta Szabo
Violette Szabo merupakan agen intelijen Inggris yang terkenal karena tembakannya yang jitu dalam Operasi Khusus. Rekannya sesama intelijen, Odette Churchil, mengatakan bahwa Violette adalah 'yang paling berani di antara kami semua'.

Sempat mengalami putus asa karena kematian suaminya tak lama setelah putri mereka lahir, tahun 1942, Violette kemudian sukarela menawarkan diri untuk ditugaskan ke Prancis. Di masa Perang Dunia II, dengan berparasut Violette menyelinap di luar daerah Limoges, Prancis, pada Juni 1944. Dia segara bergabung dengan jaringan perlawanan lokal untuk menyabotase jalur komunikasi Jerman.

Violette dan kelompoknya sedang dalam perjalanan dengan mobil dan melewati jalan yang diblokir tentara Jerman. Letusan bersenjata pun tak terelakkan. Violette melindungi kelompoknya, dengan melakukan perlawanan menggunakan senjata Sten sampai amunisinya habis. Dia lalu ditangkap, dibawa ke markas pusat Gestapo, polisi rahasia Jerman. Violette disiksa, namun itu tak membuatnya membocorkan informasi sepatah kata pun.

Violette kemudian dipindahkan ke kamp konsentrasi Ravebsbruck, dan dieksekusi tahun 1945, saat berusia 23 tahun. Setelah perang dunia berakhir, putri Violette, Tania, menerima penghargaan anumerta George Cross untuk ibunya yang diserahkan Kerajaan Inggris. Kiprahnya diabadikan dalam buku dan film berjudul 'Carve Her Name with Pride'.

2. Anna Chapman
Bermata hijau, berambut ikal merah menyala, berparas jelita dan berbodi seksi, Anna Vasilyevna Kushchyenko alias Anna Chapman menjadi headline media internasional pada Juli 2010 lalu. Berita tentang penyamaran dan identitas aslinya yang terungkap menyita perhatian dunia.

Perempuan kelahiran Volgograd-Rusia, 23 Februari 1982 itu beroperasi di Inggris mulai 2001, dengan bekerja di NetJets dan Bank Barclays. Dia kemudian bertemu dengan Alex Chapman pada suatu rave party di London, tak lama kemudian mereka menikah di Moskow. Pernikahan ini membuat Anna mendapatkan status kewarganegaraan Inggris.

Pada 2010, Anna pindah ke Manhattan, New York. Memanfaatkan koneksi dan penampilan, dia masuk ke dalam jaringan sosialita New York yang berkaitan dengan jaringan politik dan ekonomi. Kefasihannya berbahasa Inggris dengan IQ 162, membuatnya berhasil mengirimkan informasi-informasi ke Kremlin.

Anna dicurigai terlibat spionase ketika seorang agen FBI berperan sebagai petugas konsuler Rusia bernama 'Roman' yang memanggil Anna melakukan pertemuan pada 26 Juni di New York. 'Roman' memberinya paspor palsu dan menyuruhnya untuk menyampaikannya kepada mata-mata yang lain.

Rupanya Anna tidak yakin dengan aksi penyamaran agen FBI itu, sehingga setelah pertemuan, dia pergi ke toko ponsel Verizon dan membeli ponsel Motorola. Pengacaranya, Robert Baum, mengungkapkan, Anna kemudian menelepon ayahnya, seorang pejabat intelijen di Moskow.

Ayahnya menyarankan Anna agar menyerahkan paspornya ke polisi, saran yang dituruti Anna. Tak lama setelah menyerahkan paspornya ke pos polisi, FBI menangkap perempuan 28 tahun itu bersama 9 mata-mata lainnya. Anna akhirnya dipulangkan ke Rusia dalam program pertukaran mata-mata dengan AS. Anna juga bercerai dengan suaminya dan Inggris mencabut kewarganegaraannya.

3. Nancy Wake
Nancy Wake menjadi mata-mata setelah menikah dengan Henri Edmond Fiocca, seorang industrialis kaya asal Prancis pada 30 November 1939 dan tinggal di Marseilles, Prancis, yang diinvasi Jerman pada 1940-an. Nancy kemudian menjadi kurir Pertahanan Prancis, pasukan perlawanan terhadap pendudukan tentara Nazi.

Kiprah ini membuat Gestapo, polisi rahasia Nazi, menyadap telepon dan menyabotase surat-suratnya. Nancy menjadi orang yang paling diburu Gestapo, yang diberi julukan The White Mouse alias tikus putih. Kepala Nancy dihargai 5 juta France saat itu. Saat jaringan Pertahanan Prancis mengkhianati Nancy, dia harus meninggalkan Marseilles, sementara suaminya, Henri Fiocca, tetap tinggal.

Belakangan, Fiocca ditangkap, disiksa dan dieksekusi Gestapo pada 16 Oktober 1943. Ironisnya, Nancy mengetahui hal ini saat PD II berakhir. Nancy sempat ditahan di Toulouse selama 4 hari, dibebaskan dan berusaha melarikan diri dari Prancis melalui pegunungan Pyrenees ke Spanyol.

Setelah mencapai Inggris, dia bergabung di Special Operations Executive (SOE) Inggris sebagai mata-mata. Dan pada 29-30 April 1944, dia kembali ke Prancis, dengan terjun payung pada malam hari dan turun di Auvergne. Nancy menjadi penghubung antara London dan kelompok gerilya Pertahanan Prancis, Marquis, yang dikepalai Kapten Henri Tardivat.

Nancy kemudian mengkoordinasi kegiatan Pertahanan Prancis dan merekrut pasukan untuk Invasi Normandia, yang dilakukan pasukan Sekutu. Nancy juga yang memimpin penyerangan pada instalasi Jerman dan perwakilan lokal Gestapo di Montlucon. Dia memimpin 7.000 orang gerilyawan Prancis melawan 22 ribu pasukan SS Nazi. Peperangan itu menyebabkan 1.400 orang tewas, dan 100 dari jumlah itu adalah korban di pihak Prancis.

Teman seperjuangannya, Henri Tardivat, memuji semangat juangnya. Tardivat mencontohkan, Nancy bisa membunuh dengan senjata minimal ketika menghadapi tentara Nazi. Belakangan, saat diwawancara di TV pada pertengahan 1990-an, apa yang dilakukan Nancy saat itu, dengan enteng Nancy menyilangkan telunjuk ke tenggorokannya.

Karena perjuangannya dalam PD II itu, Nancy dianugerahi penghargaan tertinggi militer Prancis, Legion d'Honneur, 3 Croix de Guerre dan medali Pertahanan Prancis. Inggris juga memberinya medali George, sementara AS memberinya medali Kebebasan.

Nancy tinggal di London sejak 2001, tepatnya di panti jompo khusus veteran dan didiagnosa menderita serangan jantung pada 2003. Kesehatannya memburuk akhir-akhir ini dengan infeksi yang terjadi di dadanya. Srikandi itu harus menyerah pada pemilik hidupnya pada 7 Agustus 2011.

4. Ethel Rosenberg
Ethel Greenglass Rosenberg dengan suaminya Julius Rosenberg merupakan salah satu kisah mata-mata paling sensasional dalam sejarah Amerika Serikat. Keduanya kelahiran New York, AS, dan merupakan anggota Partai Komunis AS.

Julius tergabung dalam pasukan pemecah sandi di laboratorium rekayasa militer di Fort Monmouth, New Jersey, tahun 1940 sampai menjabat pengawas insinyur di tahun 45. Julius dipecat karena afiliasi politiknya pada komunis.

Pasca PD II, AS mengembangkan proyek bom atom secara rahasia. Namun AS kaget karena Uni Soviet bisa mengembangkan hal serupa tahun 1949. Nah, kebocoran informasi ini kemudian diselidiki. Ethel dan Julius tetap diam seribu bahasa. Namun sayangnya, saudara ipar mereka, David dan Ruth Greenglas, mengatakan Ethel mengetik dokumen tentang bom atom yang datanya didapatkan David.

"Ini deskripsi dari bom atom, disengaja untuk dikirimkan ke Uni Soviet, diketik oleh Ethel Rosenberg sore hari di apartemennya di Jalan Monroe 10. Dengan tak terhitung dia mengetik, meniupkan kabar melawan negaranya sendiri untuk kepentingan Uni Soviet," jelas ketua jaksa penuntut umum Irving Saypol.

Ethel dan suaminya kemudian dihukum mati, 26 bulan setelah mereka ditahan. Mereka tewas di kursi listrik pada Juni 1953."

5. Virginia Hall
Virginia Hall merupakan agen berbahaya AS yang paling diinginkan oleh Gestapo, polisi rahasia Nazi. Bekerja untuk operasi khusus Churchil di Prancis yang saat itu dikuasai NAZI pada Perang Dunia II, Virginia kehilangan sepasang betis kakinya dalam kecelakaan saat dia diburu pada 1933. Saat itu, dia mulai menggunakan kaki palsu dari kayu.

Virginia kemudian menyusup ke gerakan Vichy France, yang beraliansi dengan gerakan fasisme Jerman, Italia dan Jepang, dengan menyamar sebagai reporter AS, pada 1941. Virginia membantu mengorganisasi gerakan perlawanan dengan menyebarkan selebaran, menyiapkan suplai informasi untuk publikasi oposisi serta berpura-pura menjadi kurir untuk agen lain di Vichy France.

Saat Jerman menguasai penuh Prancis pada akhir 1942, Virginia diminta untuk meninggalkan Prancis. Satu-satunya jalan untuk kabur hanya dengan jalan hiking melalui pegunungan Pyrenees menuju Spanyol dan Virginia menempuhnya dengan kaki buatan itu.

Virginia kemudian kembali lagi ke Prancis untuk melatih kelompok tentara gerilya di bawah pengawasan CIA, berpindah-pindah karena dikejar Nazi, karena fotonya terpampang dalam poster 'Wanted'. Virginia yang dijuluki 'perempuan pincang' ini lantas menyamar menjadi peternak kambing sambil mengumpulkan informasi sebelum Pertempuran Normandia, saat tentara Sekutu berencana untuk membebaskan Eropa dari kekuasaan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Setelah PD II berakhir, Virginia mendapatkan penghargaan Distinghuished Service Cross untuk 'heroisme luar biasa dalam operasi militer melawan musuh'.

6. Mata Hari
Nama aslinya adalah Margaretha Zelle, kelahiran 7 Agustus 1876 di Leeuwarden, Belanda. Sebelumnya pernah menikah dengan tentara Belanda berpangkat Kapten, Rudolf MacLeod yang bertugas di Indonesia. Menikah di Amsterdam, Belanda, Margaretha kemudian diboyong ke Malang, Jawa Timur.

Pernikahan yang membuahkan 2 anak ini bermasalah, karena suaminya pecandu alkohol dan berpoligami. Margaretha yang kecewa kemudian memiliki hubungan dengan tentara Belanda lainnya, menenggelamkan diri untuk mempelajari tarian tradisional Indonesia selama berbulan-bulan, dan bergabung dengan kelompok tari tradisional lokal. Pada tahun 1897, Margaretha mengungkapkan nama panggungnya, Mata Hari, dalam suatu korespondensi dengan kerabatnya di Belanda.

Mata Hari lantas berprofesi sebagai penari eksotis di Paris pada tahun 1905. Dengan kostum sensual dan seksi, nyaris telanjang, Mata Hari, cepat menarik ribuan penonton dari Berlin, Wina dan Madrid. Dari situ kemudian Mata Hari berkenalan dengan para tokoh politik dan militer.

Saat pecah Perang Dunia I, koneksi internasional Mata Hari mencuri perhatian pemerintah Prancis. Pada PD II pihak yang berperang adalah Sekutu melawan Blok Sentral (Jerman, Austria-Hongaria, Kekhalifahan Turki Ustmani, dan Bulgaria).

Namun alasan kegiatan mata-matanya tidak jelas. Mata Hari pernah mengklaim dibayar Prancis untuk menjadi mata-mata di Belgia. Namun ada informasi sebenarnya dia adalag agen ganda karena memberikan informasi ke pihak Jerman.

Agen Inggrislah yang menguak bukti dari kegiatan mata-matanya saat Mata Hari kembali ke Paris pada awal 1917. Mata Hari kemudian ditahan dengan tuduhan menjadi mata-mata Jerman.

Saat hari eksekusinya pada Oktober 1917, Mata Hari yang saat itu berusia 41 tahun menolak ditutup matanya dan menatap tabah pada regu tembak yang menjemput ajalnya.


Sumber : http://news.detik.com/





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar