Rabu, 25 Juli 2012

Kisah Hidup RABI'AH AL-ADAWIYAH (SUFI WANITA)


 RABI'AH AL-ADAWIYAH (SUFI WANITA)


http://4.bp.blogspot.com/-qF8kSp5NIt0/T60AXPQONDI/AAAAAAAAAFw/nt8XwcnPM88/s1600/muslimah-759468.jpg
A.     Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah
  1. Masa Kelahiran Rabi’ah al-Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu al-Khair bin Isma’il al-Adawiyah al-Qisysyiyah. Lahir di Basrah Iraq diperkirakan pada tahun 95 H. Rabi’ah termasuk dalam suku Atiq yang silsilahnya kembali pada nabi Nuh. Ia diberi nama Rabi’ah yang berarti putri keempat karena orang tuanya telah memiliki tiga orang putri sebelumnya.
Pada malam kelahirannya, sang ayah merasa sangat sedih karena tidak mempunyai suatu apapun untuk menghormati kehadiran putrinya yang baru itu. Bahkan minyak untuk menyalakan lampu pun tidak ada. Malam itu sang ayah bermimpi kedatangan Nabi Muhammad SAW dan mengatakan kepadanya agar jangan bersedih karena putrinya kelak akan menjadi seorang yang agung dan mulia.


Masa Kecil Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan orang saleh yang penuh zuhud. Seperti anak-anak sebayanya Rabi’ah tumbuh dan dewasa secara wajar. Yang menonjol darinya ialah ia kelihatan cerdik dan lincah daripada kawan-kawannya. Tampak juga dalam dirinya pancaraan sinar ketakwaan dan ketaatan yang tiada dimiliki oleh teman-temannya. Ia juga juga memiliki keistimewaan lain yaitu kekuatan daya ingatnya yang telah dibuktikan dengan kemampuannyamenghafal al-Quran saat usianya 10 tahun.
Pendidikan yang didapatkan Rabi’ah adalah pendidikan informal yang diberikan oleh ayahnya secara langsung. Biasanya ia dibawa ke sebuah mushalla yang jauh dari hiruk pikuk keramaian di pinggiran kotaBasrah. Di sinilah ayah Rabi’ah sering melakukan ibadah dan munajat, berdialog dengan Sang Khalik. Di tempat yang tenang dan tenteram tersebut akan mudah mencapai kekhusyukan dalam beribadah dan bisa mengkonsentrasikan pemikiran pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kondisi kehidupan keluarga Rabi’ah yang saleh dan zuhud besar pengaruhnya bagi pendidikan putri kecil tersebut.


Masa Remaja Rabi’ah al-Adawiyah

Masa remaja Rabi’ah dilalui tanpa kedua orang tuanya, karena mereka telah meninggal dunia pada saat ia beranjak dewasa. Hal itu menyebabkan kehidupan Rabi’ah dan kakak-kakaknya semakin parah kondisinya sehingga memaksa mereka untuk meninggalkan gubuknya. Rabi’ah dan semua saudaranya terpencar satu sama lain. Mereka berkelana ke berbagai daerah untuk mencari penghidupan. Dalam pengembaraan ini, Rabi’ah jatuh ke tangan perampok dan dijual sebagai hamba sahaya dengan harga yang murah, yaitu sebesar 6 dirham.
Kehidupan dalam belenggu perbudakan telah mengisi lembar hidup Rabi’ah. Tuannya memperlakukannya dengan sangat bengis dan tanpa perikemanusiaan. Tetapi Rabi’ah menjalaninya dengan sabar dan tabah. Shalat malam tetap dilakukannya dengan rutin, lisannya tidak pernah berhenti berdzikir, istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkannya.
Dan pada suatu malam, tuannya mendengar rintihannya dan doanya. Hal ini sangat menyentuh hatinya hingga akhirnya ia pun memerdekakannya. Setelah merdeka, kehidupan Rabi’ah tetap lurus dalam jalan dan petunjuk AllahSWT. Dengan kebebasan yang diperolehnya, ia curahkan hidupnya di masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian agama. Ia kemudian menjalani kehidupan sufi dengan beribadah dan merenungi hakikat hidup. Tidak ada sesuatupun yang memalingkan hidupnya dari mengingat Allah.


Masa Dewasa Rabi’ah al-Adawiyah

Dalam perjalanan selanjutnya, kehidupan sufi telah menjadi pilihannya. Rabi’ah menepati janjinya pada Allah untuk selalu beribadah kepadaNya sampai menemui ajalnya. Ia selalu malakukan shalat tahajjud sepanjang malam hingga fajar tiba. Rabi’ah tidak tergoda kehidupan duniawi, hatinya hanya tertuju pada Allah, ia tenggelam dalam kecintannya pada Allah SWT dan beramal demi keridlaanNya.
Rabi’ah telah menempuh jalan kehidupannya sendiri dengan memilih hidup zuhud dan hanya beribadah kepada Allah. Selama hidupnya ia tidak pernah menikah, walaupun ia seorang yang cantik dan menarik. Rabi’ah selalu menolak lamaran lelaki yang meminangnya. Pangkat, derajat, dan kekayaan tidak mampu memalingkan cinta pada kekasihnya Allah SWT.


Akhir Hayat Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah mencapai usia kurang lebih 90 tahun, bukan semata-mata usia yang panjang, tapi merupakan waktu yang penuh berkah hidup yang menyebar di sekelilingnya, suatu kehidupan yang menyebarkan bau wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya, bahkan sampai sekarang hikmah dari ajaran-ajarannya masih dapat dirasakan.
Terdapat silang pendapat di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Rabi’ah, baik mengenai tahun maupun tempat penguburannya. Mayoritas ahli sejarahnya meyakini tahun 185 H sebagai tahun wafatnya, sedangkan tempat penguburannya, mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa kotakelahirannya sebagai tempat menguburkannya.
  1. B.     Pemahaman Tasawuf yang Digunakan Rabi’ah al-Adawiyah
Pada masa itu, yang berkuasa di Basrah adalah Bani Umayyah. Hidup mewah mulai meracuni masyarakat terutama di kalangan istana. Melihat kondisi demikian, kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban untuk menyerukan pada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam kemewahan. Sejak saat itu, kehidupan zuhud mulai menyebar luas di kalangan masyarakat.
Menurut at-Taftazani, karakteristik asketisme (zuhud) islam pada abad pertama dan kedua hijriah adalah sebagai berikut:
  1. Asketisisme ini didasarkan ide menjauhi hal-hal dunia demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari azab neraka.
  2. Asketisisme ini bercorak praktis dan para pendirinya tidak menaruh pendirian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya itu.
  3. Motivasi asketisisme ini adalah rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan yang sungguh-sungguh.
Demikianlah perkembangan tasawuf pada masa Rabi’ah al-Adawiyah yang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan sufi Rabi’ah al-Adawiyah.
Rabi’ah al-Adawiyah semula adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan oleh tuannya. Dalam kehidupan selanjutnya ia bisa memusatkan perhatiannya dalam beribadah, bertaubat, dan menjauhi kehidupan duniawi. Dia menyenangi hidup dalam kemiskinan, dan menolak bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya, dia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan. Rabi’ah al-Adawiyah betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan mendambakan berada sedekat mungkin dengan Tuhan.
Rabi’ah dikenal sebagai sufi yang mengembangkan paham tentang mahabbah (cinta). Baginya Tuhan adalah zat yang dicintai dan rasa cintanya yang mendalam hanya kepada Tuhan. Karena itu, dia mengabdi dan melakukan amal saleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya pada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah dan cinta itu pulalah yang membuat dia bersedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang sangat dicintainya, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Menurut beberapa orientalis yang mengkaji tasawuf, misalnya R.A. Nicholson bahwa pentingnya kedudukan Rabi’ah al-Adawiyah di dalam konsep tasawuf adalah dikarenakan dia menandai konsep zuhud dengan corak lain dari konsep zuhud Hasan al-Basri yang ditandai dengan corak rasa takut dan harapan. Rabi’ah al-Adawiyah melengkapinya dengan corak baru, yaitu cinta yang menjadi sarana manusia dalam merenungkan keindahan Allah yang abadi. Cinta yang suci murni itu lebih tinggi daripada takut dan pengharapan. Cinta yang suci murni, tidaklah mengharapkan apa-apa dan cinta murni kepada Tuhan itulah puncak Tasawuf Rabi’ah. Di antara ucapan-ucapannya yang melukiskan tentang konsep zuhud yang dimotivasi cinta adalah:

“Wahai Tuhan! Apapun bagiku dunia yang Engkau karuniakan kepadaku. Berikanlah semuanya kepada musuh-musuhMu. Dan apapun yang Engkau akan berikan kepadaku kelak di akhirat, berikan saja pada teman-temanMu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup.”

Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan diri karena hadir bersama Allah, seperti terungkap dalam lirik syairnya:

“Kujadikan Engkau teman dalam berbincang dalam kalbu.
Tubuhkupun biar berbincang dengan temanku.
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu.
Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.”

Cinta dibaginya atas dua tingkat. Pertama cinta karena kerinduan. Dirindui sebab Dia memang puncak segala keindahan, sehingga tidak ada lagi yang lain yang jadi buah kenangannya dan buah tuturnya, melainkan Tuhan, Allah, Rabbi!. Yang kedua yaitu keinginan dibukakan baginya hijab, selubung, yang membatas di antara dirinya dengan Dia. Itulah tujuannya, yaitu melihat Dia (musyahadah). Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci orang lain.
Sebuah contoh menceritakan tentang cahaya dengan kerinduan hati yang terbakar semata-mata ditempati oleh ketakutan kehilangan Allah, tampak dalam dialog sebagai berikut. Ia ditanya:
“Apakah Anda cinta setan, wahai Rabi’ah, ataukah membencinya?”
Dijawab Rabi’ah, “Cintaku yang begitu besar kepada Allah, sepenuhnya melarangku untuk membenci setan”
Parapenanya masih memaksanya, dan terus mengajukan pertanyaan:
“Apakah Anda cinta Nabi dan kedamaian atas beliau?”
Dan Rabi’ah menjawab, “Demi Allah, aku sangat mencintainya. Tetapi cintaku kepada Sang Pencipta telah terisi penuh dan mencegahku dari cinta terhadap makhluk.”
Kata-kata ini tidak pernah dimaksudkan sebagai ketidakimanan terhadap Nabi. Jawaban itu dimaksudkan bahwa tidak ada ruang yang tersisa dalam hatinya untuk mencintai sesuatu dengan tulus kecuali Allah. Dalam bukunya The Rainks Of The Saints, al-Manawi berkata:
“Dalam doa-doanya, Rabi’ah menyerahkan dirinya seribu kali siang dan malam dan ketika ditanya, “Apakah yang Anda cari dengan semua ini?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mencari pengajaran. Aku mengerjakan semuanya barangkali Allah dan Nabi berkenan, dan menyampaikan kabar kepada Nabi-nabi lainnya, ‘Lihat, ada seorang perempuan dari ummatku dan inilah karyanya’.”
Oleh karena itu, Rabi’ah ingin mencintai Nabi, damai bersamanya, ia berharap semua perempuan merasa dimuliakan dengan apa yang dilakukannya. Ia mencintai Nabi dan berharap berjumpa dengan beliau pada Hari Pembalasan
.
Riwayat lain menyebutkan bahwa ia selalu menolak lamaran pria-pria salih, dengan mengatakan: “Akad nikah adalah bagi pemilik kemaujudan luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milikNya. Aku hidup dalam naungan firmanNya. Akad nikah mesti diminta darinya, bukan dariku”
  1. C.     Ekspresi Beragama Dalam Kehidupan Sufi Rabi’ah al-Adawiyah
Ekspresi beragama ini dibagi menjadi 3:
  1. Ekspresi Verbal, yaitu pernyataan keadaan jiwa melalui kata-kata.
  2. Ekspresi Grafis, yaitu melalui tulisan, lukisan, maupun coretan.
  3. Ekspresi Motoris, yaitu pernyataan melalui tindakan, perbuatan, tingkah laku, gerakan, dan sebagainya.
Dari ketiga macam ekspresi yang disebutkan di atas, agaknya hanya ekspresi verbal dan motoris saja yang dilakukan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Mengingat tidak ditemukannya tulisan, lukisan, maupun coretan Rabi’ah yang dapat dianggap sebagai ekspresi keagamaan Rabi’ah. Bahkan ide tasawuf yang dikembangkannya, mahabbah, yang dikenal hingga sekarang baru ditulis beberapa muridnya beberapa saat setelah ia wafat.meski demikian, dua macam ekspresi tadi telah cukup melukiskan ekspresi keagamannya.


Ekspresi Verbal yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah

Sebagaimana disebut di atas, ekspresi verbal yang dilakukan Rabi’ah antara lain berupa perkataan yang berwujud doa-doa, syair-syair, nasehat, maupun jawaban dari pertanyaan.
Mengapa Rabi’ah menciptakan begitu banyak doa yang berupa syair-syair? Hal ini boleh jadi karena perasaan cinta dan rasa rindu pada “Kekasihnya”. Secara alamiah orang yang perasaannya dipenuhi oleh perasaan cinta dan rindu maka akan menciptakan puisi-puisi sebagai ungkapan perasaannya tersebut pada kekasihnya. Begitu juga yang terjadi pada Rabi’ah.


Ekspresi Motoris yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah

Ekspresi keberagamaan Rabi’ah dalam bentuk motoris teraktualisasi dalam bentuk-bentuk ibadah antara lain seperti shalat, puasa, haji, serta aktivitas-aktivitas lainnya.
Rabi’ah selalu melakukan shalat malam hingga fajar menjelang, dan ketika ia sakit, ia ridak bisa melakukan shalat malam dan akhirnya menggantinya dengan membaca Al-Quran di siang hari. Sementara tetesan air mata selalu mengiringi doa-doa yang dilantunkannya. Ia menangis bukan karena kemiskinannya atau karena ia tidak dihormati, melainkan ia menangis karena rindu akan “Kekasihnya” Allah SWT.
Ekspresi lain yang dilakukannya yaitu, menggali kuburnya sendiri di rumah. Dan diceritakan, ia biasa berdiri di samping lubang kubur tersebut, pagi dan sore hari sambil berkata “besok engkau pasti berada di sini” kemudian ia banyak melakukan ibadah. Selama 40 tahun ia memelihara kebiasannya ini hingga wafatnya.
Perilaku demikian menunjukkan bahwa Rabi’ah ingin segera bertemu dengan ‘kekasihnya’, dan itu akan dijumpainya pada saat rohnya terlepas dari jasadnya. Di samping itu, perilaku demikian juga menyadarkan dirinya bahwa kehidupan di dunia harus diisi dengan aktivitas sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

BAB III

PENUTUP
  1. A.     Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad ke II Hijrah telah merintis konsep zuhud dalam tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi ia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, dan sebagainya.


Dan kehidupannya adalah tafsir dari ayat Al-Quran yang jelas-jelas melukiskan hubungan cinta antara Tuhan dengan hambaNya:

“Wahai orang-orang yang percaya, barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka kelak akan didatangkan Tuhan Tuhan suatu kaum atas gantinya, yang Tuhan cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada Tuhan, yang merendahkan diri kepada sesama mu’min dan bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjuang di jalan Allahdan tidak merasa takut atas cercanya orang-orang yang durjana. Itulah anugerah Allah yang dilimpahkan karuniaNya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mengetahui”  

Demikianlah, jejak langkah Rabi’ah yang barangkali perlu kita tapak tilasi. Terlebih lagi di era yang semakin mementingkan materi dan dipenuhi dengan kebohongan-kebohongan ini. Semoga saja kehidupan yang digelimangi cinta sebagaimana dicontohkan Rabi’ah itu bisa kita renungkan, teladani, dan jabarkan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Sumber : http://dhenibaladewa.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar