Rabu, 01 Agustus 2012

Rubiana Soeboer, si Penulis Mati Suri yang Telah Tidur Abadi



img
Rubiana Soeboer (Dok. Pribadi)
Jakarta, Pengalaman mati suri merupakan pengalaman mistis yang sulit dijelaskan secara ilmiah.

Ada yang bilang fenomena tersebut disebabkan karena si calon almarhum belum saatnya melepas raga. Ada juga yang mengatakan kejadian tersebut sebenarnya hanyalah halusinasi belaka.

Hingga akhirnya seorang psikolog menulis mengenai mati suri, beberapa tabir gelap mulai tersingkap.

Rubiana Soeboer, psikolog yang meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia ini memang sangat tertarik dengan berbagai permasalahan yang tak biasa dan diluar nalar. Lewat buku yang berjudul 'Mati Suri', Rubiana membuka pemahaman umum mengenai fenomena yang di masyarakat masih dianggap mistis ini.

Tak hanya meneliti tentang mati suri, Rubiana juga banyak mempelajari psikologi tarot, psikologi aura, serta fenomena kehidupan antar dimensi di alam semesta. Sayangnya, psikolog yang sempat menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta ini telah meninggal dunia pada tahun 2009 lalu karena soft stroke.

"Ibu memang suka meneliti hal-hal yang outside the box dan hal-hal yang sulit dipahami oleh nalar. Selain tertarik dengan mati suri, ia juga mendalami psikologi tarot, psikologi aura, fengshui, juga mengenai fenomena UFO," kenang Prof. Dr. M. Yuwana Marjuka, suami Almarhumah ketika berbincang dengan detikHealth, Rabu (1/8/2012).

Ketertarikan Rubiana mengenai mati suri bermula dari pengalamannya setelah melahirkan anak pertama di tahun 1994 lewat prosedur caesar dan mendapat pembiusan total.

Pasca melahirkan, ia mengalami kesedihan yang luar biasa tanpa sebab yang jelas atau lazim disebut baby blue. Tak hanya itu, ia juga merasakan ketakutan luar biasa jika melihat huruf-huruf Jawa dan hal-hal yang berkaitan dengan budaya Jawa.

Enam bulan kemudian, ia mulai mengingat kembali pengalaman yang dialami ketika mendapat pembiusan total. Dalam kondisi tak sadarkan diri, Rubiana bertemu seorang ibu tua tak dikenal yang memaksanya untuk naik perahu. Meskipun ingin menolak permintaan ibu tersebut, entah bagaimana ia akhirnya naik juga ke atas perahu hingga dibawa ke suatu tempat yang suram.

Sampai di suatu tempat, ia melihat seperangkat alat pertunjukan wayang beserta sang dalang yang sedang memegang gunungan. Sang dalang mengatakan bahwa apa yang diperagakannya menggambarkan perjalanan hidup Rubiana. Di saat bersamaan, ia melihat huruf-huruf Jawa Hanacaraka yang artinya 'Semua itu berakhir dengan kematian'.

Tak lama kemudian, tiba-tiba setumpuk kartu berada di genggaman tangan Rubiana. Kartu-kartu tersebut kemudian melompat dan jatuh satu persatu secara berurutan. Saat kartu terakhir jatuh, ia memperoleh pemahaman bahwa saat itu kehidupannya berakhir dan ia menyaksikan dunia kiamat. Ia baru tersadar dari bius panjangnya setelah suami memegang tangannya dan mengabarkan bahwa si jabang bayi baik-baik saja.

Setelah mengalami kejadian aneh tersebut, Rubiana selalu merasakan takut ketika melihat hal-hal yang berbau kebudayaan Jawa. Bahkan suatu ketika, saat tiba-tiba melihat huruf Jawa waktu sedang naik mobil bersama suami di jalan tol, ia langsung berteriak histeris dan mengalami depresi selama berbulan-bulan.

Sang dokter yang membantu persalinan menjelaskan bahwa apa yang dialami Rubiana merupakan pengaruh obat anastesi yang bernama Katalar. Sensasi dari obat ini dapat memicu pengalaman yang bermacam-macam, mulai dari pengalaman sedih hingga menakutkan. Penjelasan dokter ini cukup melegakan hatinya, namun juga membuatnya makin penasaran.

"Pengalaman itu memacunya untuk memahami fenomena yang dialami. Semua yang terkait dengan spiritual life dipelajari, mulai dari pemahaman mengenai kematian, kejawen sampai psikologi kontemporer mengenai kematian dan mati suri," kata Yuwana.

Tiga tahun kemudian, Rubiana menemukan buku mengenai mati suri tulisan Betty J. Eadie yang berjudul 'Embraced by Light'. Buku ini sedikit banyak menjawab rasa ingin tahunya mengena fenomena yang pernah ia alami. Rasa ingin tahunya ini kembali terobati setelah membaca buku karya Dannion Brinkley yang berjudul 'At Peace in the Light'.

Pada tahun 1999, Rubiana menemukan situs asosiasi internasional yang membahas mengenai pengalaman mendekati kematian, The International Association for Near Death Studies. Lewat situs ini, ia memperoleh banyak informasi mengenai orang-orang yang mengalami mati suri dengan latar belakang yang beragam.

Setelah membaca berbagai buku dan penelitian tentang mati suri, Rubiana kemudian mengambil kesimpulan bahwa apa yang pernah ia alami bukanlah mati suri karena bukti klinis yang ada kurang kuat. Ia lebih memahami pengalamannya sebagai halusinasi akibat pembiusan. Namun hasil pencariannya ini berhasil membuahkan sebuah buku yang diberi judul olehnya 'Mati Suri'.

"Ibu sebenarnya ingin mengangkat mengenai tema mati suri untuk program doktoralnya di UI, tapi literatur yang ada belum begitu banyak dan temanya sendiri sangat luas. Akhirnya ia menulis disertasi mengenai keadilan. Meskipun demikian, semangat untuk menulis mengenai mati suri tetap besar sehingga kemudian menghasilkan buku 'Mati Suri' ini," kata Yuwana.

Dalam bukunya ini, Rubiana ingin berbagi pengalaman dengan siapa pun yang tertarik pada fenomena mati suri. Buatnya, mati suri adalah pengalaman yang dapat menyenangkan, menyedihkan, atau menakutkan.

Rubiana memaparkan bahwa proses pencarian ini telah memberikan 'penyembuhan' bagi dirinya sendiri serta menguak berbagai potensi yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kini sang penulis 'Mati Suri' itu telah tertidur abadi sejak Agustus 2009. Saat menemani anaknya di rumah sakit, tiba-tiba ia terkena stroke ringan dan tidak tertolong.




Sumber : http://health.detik.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar