Selasa, 19 Juni 2012

Kisah Awal Masuknya 7-Eleven ke Indonesia


Jakarta - 'Nongkrong' di 7-Eleven saat ini menjadi tren gaya hidup baru sebagian warga Jakarta khususnya kalangan remaja. Pernahkah ada terpikir bagaimana sang pemilik 7-Eleven di Indonesia membawa ritel tersebut masuk ke Tanah Air?

Ternyata bukan lah perkara mudah, berbagai perjuangan dilakukan hingga 7-Eleven memberikan lisensi. Hal ini dikisahkan oleh Presiden Direktur PT Modern Putra Indonesia, Henri Honoris selaku pemegang lisensi 7-Eleven di Indonesia.

Ia mengatakan tidak mudah membuat pemilik 7-Eleven memberikan lisensi ke dirinya untuk membuka cabang di Indonesia.

"Mereka bilang kalau mau membuka, kenapa harus di Indonesia? karena pada 2005-2006 Indonesia belum dilirik sama sekali," kata Henri dalam seminar Inspiration Young CEO Multimedia Marketer Crativentrepreneur E-Commerce Marketing Genius, di Gedung UOB, Selasa (19/6/2012).

Menurut Henri, kalaupun 7-eleven buka di luar negeri lebih baik di Jerman, Prancis, Vietnam dan India. "Pasalnya saat itu sudah 17 tahun 7-Eleven belum membuka lisensi. Terakhir mereka buka lisensi adalah pada tahun 1993 untuk China dan Makau," ungkapnya.

Kenapa Henri ngebet dengan 7-Eleven? dikatakannya saat itu 7-Eleven belum ada di Indonesia apalagi usaha yang dipegangnya sedang lesu.

"Teknologi digital telah mengubah bisnis Moderen Grup. Pada saat peak di Tahun 2000 Pendapatan kami mencapai Rp 3 triliun namun turun drastis hanya menjadi Rp 200 miliar," tuturnya.

Henri pun kembali ke Indonesia, untuk merestrukturisasi bisnis, menutup toko dan mengurangi karyawan, itu rasanya sakit sekali. "Pada 2006 saya memutuskan untuk mencari bisnis baru dan ketemu 7-Eleven yang belum ada di Indonesia," ujarnya.

Namun berulangkali pihak 7-Eleven menolak. "Saya kirim email, kirim lay out, 2 tahun kirim email tidak ada jawaban, kita hampir menyerah tetapi Orang tua saya bilang terus tetap kirim email. Namun akhirnya mereka menjawab dan kami diundang untuk di interview," katanya.

Diungkapkan Henri, mereka akhirnya interview dan pertanyaan mereka kenapa tertarik 7-Eleven harus ada di Indonesia. "Kita jelaskan, kalau kita punya dasar ritel, kalau diberi kepercayaan pasti sukses," ucapnya.

Selama 6 bulan Hendri menunggu jawaban dari 7-Eleven, dan November 2009 akhirnya ia terpilih sebagai master franchisee ke-18.

"Alasannya kenapa kita dipilih? mereka bilang ternyata 7-Eleven percaya sekali dengan konsep entrepreneurship, karena 39.000 outletnya yang lain dikelola oleh UKM," ujarnya.

Apalagi 7-Eleven di Indonesia dibuat berbeda, diluar negeri 7-Eleven isinya barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sementara di Indonesia isinya makanan dan minuman siap saji.

"Namun mereka memberikan syarat, mereka ingin 7-Eleven dikelola oleh owner, karena ketika kita menemani mereka survei pasar, kita sebagai pemilik menemani langsung, mereka terkesan, sementara 2 pesaing mereka hanya mengirim direktur," jelasnya.

7-Eleven saat ini telah melayani 75.000 custumer per hari, setelah 2 tahun 7-Eleven telah memiliki 73 outlet sebagian besar di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.


Sumber : http://finance.detik.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar