Minggu, 24 Juni 2012

7 Kriteria Pemimpin Indonesia Versi Muhammadiyah


Bandung - Muhammadiyah menilai Indonesia saat ini membutuhkan figur pemimpin yang lepas dari kegalauan dalam mengambil keputusan. Ada tujuh kriteria versi Muhammadiyah soal pemimpin diperlukan Indonesia di masa mendatang, terutama yang bakal bertarung di Pilpres 2014.

Kriteria pemimpin itu merupakan salah satu hasil pokok pikiran Tanwir Muhammadiyah 2012 yang digelar di Kota Bandung sejak 21 Juni hingga 24 Juni 2012.

Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen bangsa. Maka itu Muhammadiyah punya tanggung jawab memajukan dan memberikan solusi bagi bangsa.

"Saran dan pikiran Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia memerlukan pemimpin memenuhi kriteria yakni visioner, nasionalis-humanis, solidarity maker, risk taker, decisive, problem solver, dan morally commited," ucap Din usai menutup kegiatan Tanwir Muhammadiyah 2012 di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang 45, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/6/2012).

Din menuturkan, pemimpin visioner artinya memiliki visi sesuai cita-cita nasional para pendiri bangsa, nasionalis-humanis yakni komitmen kebangsaan kuat dan kemanusian yang luhur. Lalu solidarity maker yaitu kemampuan membangun solidaritas bangsa mejemuk, risk taker berarti berani mengambil risiko. Sedangkan decisive yakni kemampuan mengambil keputusan cepat, tepat, dan tegas.

Problem solver ialah memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu menyelesaikan masalah dan menggerakan sumberdaya. Kemudian morally commited yakni integritas moral yang tinggi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan dan tidak korup.

"Siapa orangnya (pemimpin) ya terserah. Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat dan gerakan kebudayaan, tak terlibat politik kekuasaan. Kami (Muhammadiyah) tak ada dalam posisi mencalonkan dan mendukung seseorang seperti presiden," tegas Din.

Din melanjutkan, Muhammadiyah menilai salah satu pangkal permasalahan bangsa ialah kepemimpinan, dan saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Menurut Din, pihaknya melihat kepemimpinan yang ada selama ini sering absen ketika diperlukan, lamban, bimbang, dan galau dalam mengambil keputusan, serta korup.

"Maka itu, Muhammadiyah menawarkan saran dan pikiran solusi kedepan untuk bangsa ini. Muhammadiyah memandang perlu langkah-langkah penyelamatan bangsa melalui penguatan kepemimpinan," tutup Din.


(bbn/avi)


Sumber : http://bandung.detik.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar