Kamis, 14 Juni 2012

THE SILVA METHOD INDONESIA

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.


Metode Silva atau Psychorientology diperkenalkan didunia sejak tahun 1966, setelah melalui masa penyelidikan selama 22 tahun oleh penemunya : DR. JOSE SILVA mulai tahun 1944. Beliau adalah seseorang, yang oleh kebanyakan dari rekan-rekan sepenyelidik, disebut mempunyai inteligensia yang sangat tinggi, yang melebihi mereka yang disebut dengan ''super'' intelektual. Beliau mempunyai suatu penglihatan yang demikian luasnya, yang menyangkut banyak peristiwa yang bersangkutan dengan masa depan. Di kalangan para penyelidik dalam bidang ''subyektif'', beliau memang tak dapat ditandingi. Dan itu menyangkut hal bagaimana manusia dapat mengembangkan ''pengendalian diri'', yang sebelumnya masih merupakan hal yang keabsahannya masih dilanda banyak sekali pertanyaan-pertanyaan.

Profesor DR.Wilfred Hahn, merupakan seorang cendekiawan yang banyak mendukung serta mengumpulkan para cendekiawan didalam menjaga unsur-unsur ilmiahnya, karena apa yang sedang diselidiki itu bukan sembarang bidang. Mereka telah berkecimpung didalam psychologie dan parapsychologie, yang pada saat itu telah menemukan ''jalan buntu'' disebabkan keterbatasan dari sumber yang digunakan sebagai suatu ''pembuktian imperis'' yang selalu diinginkan oleh para penyelidik pada bidang-bidang yang sifatnya ''obyektif''.

Definisi obyektif tadi, menurut Jose Silva, merupakan semua informasi berupa peristiwa apapun yang dapat ditangkap oleh panca indra fisik. Hal itu bagi manusia mutlak diperlukan untuk melaksanakan keaktifan didalam suatu kondisi ''bangun sadar'', untuk mengantisipasi lingkungan yang ''nyata''. Tetapi, menurut beliau, manusia juga telah diperlengkapi dengan panca indra ''nirsadar'', yang mana tidak pernah dikembangkan untuk dapat berfungsi didalam kondisi yang sama seperti pada indra-indra fisik. Kenyataannya juga, menurut penyelidikan-penyelidikan didalam bidang parapsychologie, hal itu merupakan suatu ''fenomena'' yang berfungsi pada orang-orang yang disebut mempunyai pelengkap yang mendukung kondisi normal, biasa dikenal juga dengan sebutan ''para-normal''. Dan memang semua manusia mempunyai bakat ke-para-normalan itu tanpa kecuali, hanya tingkatannya berbeda satu sama lainnya.

Hal seperti itu didalam kehidupan manusia adalah wajar-wajar saja, karena Yang Maha Pencipta menciptakan sesuatu didalam keadaan sempurna, boleh dikatakan ''maha sempurna''. Beliau tidak pernah dapat disebut tidak sempurna didalam menciptakan sesuatu. Manusia diperlengkapi selengkap-lengkapnya, karena harus memenuhi suatu tugas suci pada planit yang dinamakan bumi. Tugas, yang menurut pengertian dan penemuan DR.Jose Silva harus memelihara kondisi dunia, mengikuti ''phase-phase'' evolusi yang diperuntukkan manusia dalam ''konteks'' penyempurnaan dari kemajuan-kemajuan, untuk dapat dinikmati oleh semua ciptaannya. Arti itu dipertegas oleh Jose Silva dengan menyatakan, bahwa kita harus memperhatikan sesama kita, yang beruntung ''wajib'' mendukung yang kurang beruntung.

Dengan demikian, menurut beliau, maka kita tidak akan dihadapkan pada masalah. Penyelidikannya juga menyinggung adanya suatu ketentuan Alam, yang mana manusia tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan itu. Kita selalu akan bertanggung jawab terhadap semua kelakuan kita, apakah itu baik atau buruk. Menurut penyelidikan ilmiah statistis, ternyata bahwa hanya 10 % dari adanya manusia yang diciptakan dibumi ini mempunyai kriteria yang mampu memperbaiki masalah-masalah yang dibuat oleh jumlah yang 90 %. Apakah kriteria itu ? Mereka yang masuk ''kategori'' itu, secara alamiah mempunyai bakat kepekaan untuk merasakan ''jalur penyentuhan'' pada ''Otak bagian Kanan'' dimana terdapat dan diCiptakan sifat ''Spiritual'' yang tidak terdapat pada ''Otak bagian Kiri''. Menurut riset dari ahli-ahli kesehatan ''organis'', hal seperti itu tidak dimungkinkan, karena otak kanan tidak dapat dengan nyata ''difungsikan'' pada saat kita berada didalam kondisi bangun sadar. Ini merupakan pendapat yang sudah ''kuno'' dari penyelidikan masa lampau.

Pada saat kita membutuhkan istirahat yang tuntas ''alias'' diarahkan kepada ''pra-tidur'' disusul dengan tidur dan tidur nyenyak, bilangan otak bagian kiri terkena ''enzym-enzym'' pembiusan yang menyebabkan kita tidak lagi dapat merasakan dan menggunakan bagian otak itu dengan akibat akan ''buta lingkungan''. Justru pada saat itu, otak kanan melaksanakan fungsinya untuk melestarikan serta memperbaiki kembali sel-sel tubuh termasuk otak, sehingga kondisi yang melelahkan, keausan dan kerusakan yang diakibatkan oleh pekerjaan dan desakan-desakan pikiran dengan akibat ''Stres'', pada kondisi kesadaran, akan pulih kembali. Pada saat kita bangun lagi, seharusnya perasaan segar dan nyaman dapat menyertai rasa tubuh dan pikiran untuk dapat memberikan ''energi'' baru. Tetapi, berapa banyak diantara manusia yang pada saat ia bangun masih merasa kurang segar dan nyaman ?

Mengapakah bisa demikian ? Hal itu disebabkan kekurangan adanya kondisi ''gelombang'', yang dinamakan ALPHA, THETA dan DELTA. Kondisi-kondisi seperti itu diperoleh, bila kita istirahat dan tidur melalui suatu ''pengendalian'' dari nirsadar. Hal ini dapat dikembangkan melalui ''sistim pelatihan Silva''. Banyak sudah yang kini mahir menggunakan sistim itu. Tetapi didalam banyak sistim yang timbul dimana-mana dan dilatih oleh kita, kurang dapat difahami, bahwa suatu ''pemeliharaan'' merupakan ''keharusan mutlak'' yang tak dapat ditawar-tawar. Tanpa pemeliharaan yang ulet dan tuntas, kita mustahil akan selalu SIAP menghadapi kemungkinan-kemungkinan dari provokasi masalah yang melanda kita didalam perjalanan hidup setiap hari.

Selain keadaan yang diperlukan bagi manusia menyangkut ''kesehatan'', berpikiran jernih, berkelakuan baik, jujur dan berpola pikir murni, keleluasan yang ditimbulkan oleh metode Silva ini melampaui batas-batas dugaan dan harapan. Kondisi bawah sadar atau nirsadar demikian dominannya, sehingga kepekaan mengenai apapun yang terjadi di lingkungan kita dapat diantisipasi yang menghindarkan diri kita dari timbulnya masalah-masalah dan bila hal-hal seperti itu memang kita hadapi, maka menyelesaikannya akan jauh lebih mudah dan akan� selalu tuntas tanpa embel-embel.

Sistim Silva memberikan kita banyak kemungkinan dalam semua bidang, seperti karier, mengelola orang-orang, keharmonisan antar sesama, terutama dalam keluarga, mendukung dan menolong yang kurang beruntung, selalu mempunyai pandangan atau ''visi'' jauh kedepan didalam ''kodrat'' dan ketentuan ''takdir'', beribadah lebih sempurna tanpa terganggu oleh adanya pikiran-pikiran negatif. Akan timbul rasa Percaya Diri yang positif dan sempurna.

Semua itu dapat diraih melalui suatu pengendalian kondisi nirsadar, yang dengan lain kata, dapat ''disadarkan'', sehingga kita akan mempunyai suatu keadaan yang ''seimbang'' didalam mencetuskan pola pikir. Pada hakekatnya, apa yang berada didalam nirsadar, sudah dijamin ''baku positif'' oleh Penciptaan Yang Maha Esa dan tak dapat digunakan untuk tujuan yang negatif. Bila tujuan kita negatif, maka tak dapat digunakan kekuatan nirsadar itu, seakan-akan ada suatu ''switch'' atau ''kontak'' yang menutup kemungkinan penggunaan kekuatan itu untuk tujuan negatif. Apa yang kita tangkap dari kejadian-kejadian negatif yang dilaksanakan oleh mereka yang ''menyalah gunakan'' kemampuan nirsadar, bukanlah kekuatan nirsadar itu sendiri. Banyak yang lalu ''meminjam'' kekuatan halus diluar nirsadar.

Hal itu tidak wajar, dan seringkali akan merugikan, baik yang diserang, maupun yang menyerang karena melanggar ketentuna-ketentuan dari Hukum Timbal Balik Alam. Dan kejadian itu sudah pasti akan terkena ''benturan dengan ''Universal Law'' itu. Karena kita belum mempunyai laboratorium penyeledikan ''parapsychologie'', maka hal itu masih belum dapat diteliti dan diawasi atau dikontrol secara umum dan luas melalui riset. Dengan berkembangnya penggunaan metode Silva ditanah air, penulis melihat banyak harapan untuk menanggulangi kemelut yang terutama disebabkan tidak adanya ''pengendalian'' diri sendiri yang mencakup kekuatan emosi, yang merupakan kekuatan utama dan dahsyat untuk harus diteliti, diawasi dan dikembangkan kearah positif atas dasar pengembangan tabiat dengan moral tinggi dan rasa etis yang menyeluruh.

Mengisi diri kita dengan tabiat seperti tersebut diatas itu, pada waktu lalu sangat tergantung dari pendidikan ''induktif'' melalui lingkungan keluarga yang dasar pola pikirnya harus selalu ''positif''. Hal itu akan sangat mempengaruhi seorang anak yang mulai berkembang membentuk ''pola pikirnya'' melalui banyak contoh dan saran-saran yang baik dan kokoh. Masa induksi itu berjalan mulai perkembangan anak dari umur satu sampai dengan tujuh tahun. Hal ini merupakan ''phase'' pertama dari pengembangan kehidupannya secara ''psikologis''. Setelah phase pertama itu, anak akan memasuki phase kedua, yaitu antara tujuh dan empat belas tahun, biasa disebut juga ''phase puber''.

Disini akan terjadi ''deduksi'' dari induksi tadi, karena banyak peristiwa yang dialaminya diluar lingkungan dekat keluarga. Bila lingkungan diluar keluarga itu memberinya contoh-contoh yang sesuai dengan perkembangan pertama, maka ia akan berkembang positif. Bila tidak demikian, maka terjadi banyak ''bentrokan'' dalam pola pikirnya yang memerlukan jawaban-jawaban yang jitu dan positif pula. Disinilah akan terjadi ''evolusi'' perkembangan pengaruh yang keseimbangannya ditentukan oleh kebergaulan antar anak seumur. Setelah masa itu, mulai dari empat belas sampai dengan dua puluh satu tahun, akan terbentuk pola pikir menuju kepada pra-kedewasaan. Masa seperti itu biasanya mengkokohkan kedewasaannya itu, bila lingkungannya sangat menunjang. Apakah kita sendiri tidak merasakan pengalaman-pengalaman, dimana kita sangat memerlukan saran-saran didalam memutuskan suatu kemajuan mengenai bidang yang ingin kita raih serta cita-citakan?

Banyak sekali variabel-variabel yang� mempengaruhi perjalanan hidup seorang manusia, yang justru selalu akan melihat terus kepada contoh-contoh yang diberikan oleh lingkungan yang dibatasi oleh ''ruang'' dan ''waktu''. Suatu penekanan kekuasaan yang dibebankan kepada masyarakat yang dasarnya tidak baik dan tidak manusiawi, pada kenyataannya akan menimbulkan ''frustrasi'' dan ''stres'' pada jiwa, sehingga kita harus memilih dan memutuskan ikut didalam sesuatu yang ''membangun'' (konstruktif), atau ''merusak'' (destruktif). Oleh karena itu, pendidikan akhlak dan keperluan perlengkapan ''intelektual'', sudah saatnya harus kita ''tinjau kembali'', untuk menjadikan ''generasi penerus'' sebagai orang-orang yang mempunyai martabat keakhlakan dengan moral tinggi dan selalu ''elegan'' dan ''etis'' didalam menyelesaikan masalah-masalah yang bisa saja timbul pada masanya.

Inilah mutu yang diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan bangsa lain kepada bangsa kita, Indonesia, yang kini sedang dilanda dengan banyak masalah yang diperbuat oleh kita sendiri, terutama mereka yang berkuasa, dimana mengenai sifat moral dan etika sudah terlanjur dinodai oleh ''sistim'' penguasaan yang salah bentuk dan arah. Membangun kembali dengan hanya didasarkan atas penggunaan kemampuan ''obyektif'' saja, akan memakan waktu paling tidak tiga sampai empat generasi. Sisitim yang telah diketemukan oleh DR.Silva, merupakan penemuan yang dapat diandalkan keorisinilannya, melalui penyelidikan cukup lama dengan hasil penetrapan yang banyak memberikan harapan suatu perobahan tuntas didalam membentuk sifat kejiwaan yang akan sangat seimbang.

Karena sudah dapat mengendalikan secara sadar bagian otak kanan, maka nyatanya kita akan mempunyai fungsi yang selalu positif dan akan sangat sulit dipengaruhi oleh provokasi negatif apapun, karena telah ''diaktifkan'' dalam mengimbangi pikiran dengan menggunakan otak bagian kiri. Mengendalikan hal itu melalui otak bagian kanan akan menjadi usaha yang harus mutlak didukung oleh kita semua, bila menginginkan merobah ''nasib'' bangsa Indonesia yang kini berada pada suatu persimpangan jalan, dimana generasi penerus mengharapkan diberikan jalan keluar dari musibah kemelut yang melanda masyarakat kita.

Demikian uraian secukupnya, menambah apa yang telah diungkapkan dan dibeberkan dalam makalah-makalah, yang didukung oleh beberapa wawancara oleh media cetak dan elektronik. Pada masa permulaan, didalam berusaha memperkenalkan sistim ini kepada masyarakat ditanah air, penulis harapkan dapat diilhami untuk menjadi dukungan nyata secara ilmiah disamping soko guru berupa agama apapun. Penganutan oleh siapapun, tidak akan merobah keyakinan masing-masing yang menyangkut bagaimana menjalani kehidupan secara positif yang pada hakekatnya sangat pendek ini.

Sistim Silva telah mengalami banyak kritik tetapi lebih banyak mendapatkan pujian serta pengakuan dari kini lebih dari 25 juta ''graduates'', termasuk yang kurang lebih 6 ribu dibilangan tanah air. Waspadailah kemajuan-kemajuan dari negara-negara yang dengan intensif menggunakan sistim ini, dimana salah satu negara tetangga, seperti Malaysia, telah mempunyai kurang lebih dua puluh lima ribu anggota atau ''alumni'' Silva dengan perbandingan penduduk kurang lebih� 25 juta orang sejak tahun 1978. Dengan lain kata, setiap 1.000 orang ada satu yang menjadi ''alumni'' Metode silva.

Indonesia secara efektif mengadakan pelatihan teratur sejak tahun 1985. Ini merupakan perbandingan yang tidak seimbang sama sekali dengan Malaysia, dimana kita, dari setiap 37.500 penduduk hanya satu ''alumni''. Perbandingan dengan Malaysia adalah kurang lebih, 37.5 : 1 (dengan penduduk k.l. 225 juta orang di Indonesia). Untuk itu Indonesia harus mengejar untuk dapat mencapai kurang lebih 219 ribu ''graduates'' lagi dalam waktu yang akan datang untuk mencapai tingkatan negara tetangga Malaysia. Penyebab dari hambatannya adalah tidak adanya dukungan dari kalangan pengusaha, sedangkan di Malaysia sejak 10 tahun lalu, didukung benar-benar oleh beberapa orang pengusaha. Bagaimana dengan pengusaha kita ?

Menurut DR.Jose Silva, bila Indonesia mempunyai 15.000 pemimpin dikalangan managemen pemerintahan dan swasta yang mempunyai ''a centered mind'' melalui pendidikan ''subyektif'' dari Psychorientology, maka ia menjamin adanya solusi yang sangat efektif dari kemelut yang dihadapi. Letak kelemahannya ada pada jiwa manusia Indonesia, katanya, dan bukan pada hal-hal yang teknis. Hal itu dapat terlaksana, karena pengaruhnya terhadap ''subordinates'' dan ''sub-subordinates'' akan meluas dan dapat mencapi 15 juta ''kadar pengaruh'' didalam ''pengabdian negara'' yang bersih, jujur, murni, peka, baik dan positif. Inilah ''Teknologi Berpikir Canggih'' yang telah diketemukan 58 tahun yang lalu, dan akan sangat bermanfaat bagi manusia, mulai dari inti berupa keluarga, lingkungan bertetangga dan akhirnya akan merembet ke masyarakat luas, mulai negara dan keseluruh dunia.

Apakah ini dapat terlaksana? Pasti, tapi harus difahami dan dilaksanakan oleh setiap insan yang termasuk tingkatan intelektual dan inteligen.


H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method,
Laredo - Texas - United States of America.


Sumber : http://www.indosiar.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar