Senin, 04 Juni 2012

Jenderal Sudirman | Kisah dan Biografi Panglima Besar Jenderal Sudirman


kisah-dan-biografi-panglima-besar-jenderal-sudirmanJenderal Sudirman atau Panglima Besar Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh pahlawan besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun, ia sudah menjadi seorang Jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia sudah masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalion di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia, (Panglima TNI). Panglima Sudirman merupakan pahlawan pembela kemerdekaan yang tidak peduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.


Jenderal Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan. Selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadi. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini bisa dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit, tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya ia disebut merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.


Sudirman yang dilahirkan di Bondas, Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari sekolah Taman Siswa. Sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian, ia melanjutkan ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo, tetapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik, dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.


Sementara pendidikan militer ia awali dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi komandan batalion di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.


Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan, melalui Konferensi TKR, tanggal 2 November 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi, ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.


Beberapa waktu kemudian, pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan melucuti tentara Jepang. Namun, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Pada tanggal 12 Desember di tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.


Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan agresi Militer II Belanda, Ibu Kota Negara RI berada di Yogyakarta. Sebab, Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit, keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya hanya tinggal satu yang berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkan Sudirman untuk tetap tinggal dalam kota guna melakukan perawatan, namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya akibat dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggung jawabnya sebagai pimpinan tentara.


Maka, dengan ditandu, Sudirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan, ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali, sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Kepada pasukannya, ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Akhirnya, ia pulang dari medan gerilya. Ia tidak bisa lagi memimpin angkatan perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.


Pria yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Karesidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi ini, akhirnya meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.


Pada tanggal 29 Januari 1950, Panglima Sudirman meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.




Sumber : http://tretan.net/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar