Jumat, 15 Juni 2012

Tentang Tino Sidin


Tino Sidin (lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925 – meninggal di Jakarta, 29 Desember 1995 pada umur 70 tahun) adalah seorang pelukis dan guru gambar yang terkenal dengan acaranya di stasiun TVRI era 80-an, yaitu Gemar Menggambar. Dalam acara ini "pak Tino" mengajar anak-anak bahwa menggambar itu mudah, dan merupakan perpaduan dari garis-garis lurus dan garis-garis lengkung. Pada akhir setiap acara beliau menunjukkan gambar-gambar yang dikirim oleh pemirsanya dan kemudian menambahkan komentar yang sangat dikenal, "Bagus!"
BERBEDA dengan seniman lainnya, seorang pelukis justru akan semakin terkenal setelah almarhum. Paling tidak karya lukisnya akan semakin dicari-cari dan karakternya justru semakin menonjol ketika para kurator mulai mendetailkan analisis ciptaan yang mungkin selama ini kurang menjadi perhatian. Tentu saja hal ini juga akan melipatgandakan nilai lukisan itu, paling tidak karena jumlahnya yang semakin terbatas.
Mengingat almarhum pelukis Tino Sidin sudah tentu banyak yang tertarik untuk mengetahui karyanya. Karena selama ini almarhum lebih dikenal sebagai penyayang anak-anak, sehingga ketika mengasuh Program Gemar Menggambar di TVRI pada masanya tidak pernah ada lukisan anak-anak yang dinilai jelek, semuanya bagus.
Di balik kemurahan hatinya, ternyata pelukis pemurah ini juga masih meninggalkan karyanya, paling tidak seperti yang dipamerkan dalam sebuah pameran seni rupa di Kota Malang. Sejumlah 14 karya Tino Sidin memberi semangat baru dalam dunia seni rupa di Malang yang belakangan ini berkembang lebih baik dengan ditandai banyak berdirinya galeri-galeri seni rupa.
Pameran itu diselenggarakan Yayasan Bani Malik Fadjar (BMF) di Sanggar Seni Rupa BMF Malang, 19 hingga 24 Agustus nanti. Dosen Fakultas Sastra Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) Mistaram sebagai kurator lukisan dalam pameran tersebut, mengatakan, Tino Sidin memiliki kekuatan dalam menggoreskan lukisan sketsa.
"Gaya lukisan sketsa memiliki daya tarik tersendiri dan sekarang pun banyak penikmat karya seni lukis yang berpaling pada lukisan dengan gaya tersebut," kata Mistaram kepada Kompas, Selasa (20/8), sambil menikmati 10 karya lukisan sketsa Tino Sidin yang dibuat pada era 1990-an.
Sejumlah 10 karya lukisan sketsa tersebut hanya dengan satu warna, yaitu hitam dengan alat lukis berupa pensil dan spidol. Selain itu, ditambah lagi empat karya lukisan Tino Sidin yang dibuat dengan berwarna. Bahan yang dipakai berupa spidol berwarna, cat air, maupun cat minyak.
Gaya pelukisan sketsa Tino Sidin itu hanya memegang hal-hal esensi dan estetis, sehingga kepenuhan unsur-unsur pandang tidak memenuhi ruang gambar dia. Tetapi, ada kalanya kepenuhan ruang gambar ia kejar, demi menyampaikan pesan secara maksimal. Itulah keunikan Tino Sidin yang secara tegas mengartikulasikan pesan lukisan.
Lukisan sketsa hitam-putih berjudul Ngantuk (kertas manila 25 x 30 cm, spidol, 1990) dituangkan secara tidak memenuhi ruang gambar, tetapi tegas. Artikulasi pesannya secara penuh mampu tersampaikan dan mantap.
Ini berbeda dengan karya lukisan sketsa lainnya pula, yaitu lukisan berwarna yang berjudul Kukup Wonosari (kertas manila 38,5 x 53,5 cm, spidol, 1988). Kepenuhan ruang gambar diraih Tino Sidin, tetapi pesan yang ingin diartikulasikan terdukung secara penuh dengan cara begitu.
Itulah kehebatan Tino Sidin untuk meletupkan ekspresinya di dalam dunia melukis atau menggambar dengan mengejar artikulasi bermakna. Ia tidak menyertakan obyek lukis yang tidak esensial, apalagi tidak estetis untuk mengungkapkan pesan atau kesan dari suatu peristiwa atau keadaan. Tetapi, ia mau "membabi-buta" dengan menggoreskan spidol warna-warninya untuk mencapai kepenuhan ruang gambar, seandainya itu memang tuntutan dalam keinginannya memberikan pesan dan kesan yang optimal.

SOSOK Tino Sidin dengan ketegasan goresan lukisan sketsa itu, sebenarnya lebih diagungkan karena komitmennya terhadap upaya menumbuhkan kegemaran melukis pada anak-anak. Ia telah dikenal publik melalui Program Gemar Menggambar di Stasiun TVRI Yogyakarta pada mulanya (1976-1978), dan dilanjutkan di TVRI Jakarta untuk program serupa hingga beberapa tahun.
Entah sampai berapa ribu kali Tino Sidin selalu berkata "Bagus", setiap kali memuji sebuah lukisan anak-anak yang dikirimkan kepadanya dalam membawakan Program Gemar menggambar di TVRI. Seolah baginya di dunia ini tak ada lukisan anak-anak yang buruk. Dunia pujian untuk sebuah keindahan polos dari karya anak-anak telah ia kumandangkan.
Itulah yang sulit didapat sekarang. Belum terlihat ada orang yang ambil peduli dengan anak-anak seperti Tino Sidin ini melalui media dunia lukis.
Tino Sidin yang tumbuh dalam wahana seni rupa di Yogyakarta, lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925. Ia tutup usia tepat pada usia sekitar 70 tahun, yaitu 29 Desember 1995 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Namun, ia memilih untuk dimakamkan di Pemakaman Kwaron, Desa Ngestiharjo, Bantul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Sebab, pemakaman itu terletak tak jauh dari keluarganya yang menetap di Kampung Kadipiro yang berada di Yogyakarta bagian barat.
Kecintaan dan kelembutan dalam dunia pujian dengan anak-anak yang diwujudkan dalam wahana mengumandangkan kegemaran melukis itu, ternyata didasari oleh latar belakang yang bertolak belakang. Latar belakang pada masa-masa revolusi kemerdekaan telah membuat Tino Sidin ikut berjuang dalam situasi kekerasan yang jauh berbeda dengan masa-masa kedekatannya dengan anak-anak melalui seni lukis.
Tino Sidin pernah ikut bertempur dalam perang revolusi kemerdekaan dengan menjadi anggota Polisi Tentara Divisi Gajah Dua Tebingtinggi (1945). Dan, sebelumnya (1944-1945) ia memegang jabatan Kepala Bagian Poster Kantor Penerangan Jepang di Tebingtinggi.
Selanjutnya, masa-masa pergerakan revolusi setelah kemerdekaan, Tino Sidin tidak hanya bertahan di tanah kelahirannya saja. Pada tahun 1946 hingga 1949 ia bergabung menjadi anggota Tentara Pelajar Brigade 17 Yogyakarta mempertahankan kemerdekaan RI. Hingga pada akhirnya, ia hidup dalam romantika yang berjauhan dengan dunia kekerasan, yaitu dunia seni lukis.
Apalagi ia bersentuhan erat dengan dunia anak-anak yang ia dorong agar gemar melukis. Kini, sangat dibutuhkan Tino Sidin-Tino Sidin dari generasi yang ada untuk mengikuti jejaknya, agar dunia pujian anak-anak melalui dunia seni lukis mampu membentuk karakter yang bermoral untuk memberi nuansa keindahan di segala bidang. (NAWA TUNGGAL)


Sumber : http://id.wikipedia.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar