Rabu, 20 Juni 2012

Ke-”murtad”-an Al-Hallaj dan Socrates yang Tak Dendam


Meski jauh berjarak rentang kehidupan, Al-Hallaj dan Socrates, tetapi citra negatif tentang tragedi keillahian mereka berdua terlanjur mempurba tak lekang tergilas oleh waktu.

Al-Hallaj, karena ia mengucapkan “Akulah Kebenaran” (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase, akhirnya dihukum di tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong, kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar, kemudian debunya dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai.

Sedangkan, Socrates diadili di depan 500 juri di pengadilan Athena supaya meminum racun atas tiga dakwaan yang telah diperbuatnya: meracuni pikiran kaum muda, tidak mempercayai dewa-dewa, dan membuat agama baru.

1296087339271297769
Pengadilan Socrates (picture of born-today.com)
Sikap teguh atas keyakinan yang telah mendarah daging hingga berujung kematian, adalah sebuah konsekuensi keberpihakan rukhaniah yang begitu lemah tak berdaya manakala berhadapan dengan penguasa. Artinya, hukuman mati bagi mereka, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar. Melalui kematiannya, Al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Sebuah sikap atheist yang dicitrakan Socrates, sebenarnya masih menyimpan kontroversi apakah ia benar-benar seorang Atheist tulen, alias tidak mempercayai secara total adanya Tuhan? Bila kita mau mengkaji Apologia karangan Plato, yakni rekaman dari sesi pembelaan Socrates di pengadilan sebelum ia dihukum mati. Sebuah argumentasi sangat genius yang tidak banyak dikaji dalam literature filsafati selama ini, sedikit banyak akan membuka ketidak-mengertian terhadap Socrates secara utuh.

“When I say that I am given to you by God, the proof of my mission is this:—if I had been like other men, I should not have neglected all my own concerns or patiently seen the neglect of them during all these years, and have been doing yours, coming to you individually like a father or elder brother, exhorting you to regard virtue; such conduct, I say, would be unlike human nature. If I had gained anything, or if my exhortations had been paid, there would have been some sense in my doing so; but now, as you will perceive, not even the impudence of my accusers dares to say that I have ever exacted or sought pay of any one; of that they have no witness. And I have a sufficient witness to the truth of what I say—my poverty. “

“Ketika kukatakan bahwa aku dianugrahkan Tuhan kepadamu, bukti dari misi dan tugasku adalah sebagai berikut: — jika aku seperti kebanyakan orang, aku pastilah tak akan menolak kepentinganku sendiri… demi kepentinganmu, aku datang kepadamu sebagai bapak atau saudara tua, mengajakmu kepada kebajikan yang mulia. Jika aku memperoleh sesuatu dari situ, atau jika aku dibayar karena ajakanku ini, tentu hal itu akan menjadi alasan yang masuk akal atas tindakanku ini. Namun, seperti yang kalian lihat, tak satu pun penuntutku mampu menunjukkan bahwa aku mengutip bayaran apapun, mereka tak punya bukti. Dan aku memiliki bukti yang cukup atas kebenaran dari apa yang kukatakan — yakni: kemiskinanku.”

Berbeda dengan Al-Hallaj, ketika agama (Islam) sudah membumi di saat itu, spiritualitas akan keberadaan Sang Khalik disublimasikannya melampaui nalar pemikiran penguasa, para sufi, para fuqaha’ dan para ulama. Ada baiknya kita ingat kembali sebuah kalimat penyejuk dari sekadar memvonis Al-Hallaj, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dari praktek sufistik, “orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Nah, ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar itulah, baru ia bisa bicara kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam.”

1296087809917122646
picture of kerajaancinta19.blogspot.com
Socrates dan Al-Hallaj tidak dendam menerima takdir kematian di tangan manusia. Justifikasi keduanya sebagai orang-orang yang “Murtad” di hadapan manusia menjadi tidak begitu berarti dibanding Pengadilan Tuhan di alam sana. Sebagaimana ucapan Socrates dalam pembelaan terakhirnya,“The hour of departure has arrived, and we go our ways—I to die, and you to live. Which is better God only knows.” Atau ketika Sang Algojo akan memotong lidah Al-Hallaj, ia meminta waktu sejenak hanya untuk berucap, “Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu.”


Sumber : http://filsafat.kompasiana.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar