Jumat, 08 Juni 2012

Biografi Sultan Agung


Sultan Agung adalah raja terbesar Kerajaan Mataram Islam yang terkenal kegigihannya melawan pendudukan VOC di Pulau Jawa. Sultan Agung Hanyokrokusumo lahir di Yogyakarta tahun 1591 dan wafat di Yogyakarta tahun 1645, dimakamkan di pemakaman raja Mataram di Imogiri Jawa Tengah.

Sultan Agung di angkat menjadi raja Mataram menggantikan ayahnya Raden Mas Jolang pada tahun 1613. Di bawah pemerintahannya, Mataram mencapai puncak kejayaan dan kemakmuran. Struktur perekonomian rakyat lebih dititikberatkan pada sektor pertanian. Pada masa pemerintahannya, VOC sudah melebarkan sayap melakukan monopoli perdagangan hasil bumi di Pulau Jawa. Beliau tidak mau berkompromi dengan VOC bahkan dua kali melakukan penyerangan besar-besaran ke markas VOC di Batavia (sekarang Jakarta).

Penyerangan pertama pada tahun 1628 di pimpin tumenggung Bahurekso dan beberapa panglima perang lainnya. Namun Penyerangan ini gagal karena jauhnya jarak antara Mataram-Batavia, serangan wabah penyakit, kekurangan logistik dan pasokan air.

Pada tahun 1629, Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram menyerang Batavia untuk kedua kalinya. Penyerangan dipimpin Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Untuk mempersiapan logistik, Kerajaan mataram membangun lumbung-lumbung padi di sepanjang rute perjalanan ke Batavia. Namun rencana penyerangan ini bocor karena pengkhianatan sehingga lumbung-lumbung padi tersebut di bakar pihak Belanda.

Penyerangan kedua ini juga mengalami kegagalan karena serangan endemi kolera sehingga memperlemah kondisi prajurit Mataram. Namun dalam penyerangan, pasukan Mataram sempat menguasai dan menghancurkan benteng Benteng Holandia. Gubernur Jan Pieterzoon Coen juga tewas karena serangan wabah penyakit kolera.

Dari kedua penyerangan tersebut, Sultan Agung tetap berupaya menyerang ketiga kalinya. Kali ini beliau mengirimkan orang-orang Mataram untuk membuka persawahan di daerah Purwakarta, dan Sumedang. Namun rencana penyerangan yang ketiga gagal karena beliau wafat tahun 1645. Penggantinya Sultan Amangkurat I (1645-1677) bersikap lemah bahkan mau bekerjasama dengan Belanda. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Agung, pemerintah RI memberikan gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden No 106/TK/1975.





Sumber : http://www.biografitokohdunia.com/ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar