Senin, 18 Juni 2012

"Berkunjung Ke Rumah Kuno Tjong A Fie"



Berkunjung ke rumah bangsawan --Tjong A Fie--, yang terkenal dengan kegigihan dan kederwanannya sungguh mengasyikkan. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, rumah kono nan megah ini memiliki arti penting dalam proses asimilasi etnis Tionghoa dengan masyarakat lokal di Medan. Sisa kemegahannya pun masih terasa, seperti saat pertama kali didirikan, walau rayap telah menggerogoti beberapa sisinya.



Siang itu, tak terbayangkan, kami bisa di terima di rumah kuno yang berada di Jl. Jenderal A. Yani No.105, Medan. Rumah ini sangat melegenda, karena kekayaan arsitektur dan sejarahnya. Rumah yang di bangun di atas tanah seluas 2200 m², menghabiskan 40.000 gulden (baca; mata uang pada jaman itu) dengan waktu pengerjaan 5 tahun. Pembangunannya sendiri selesai pada tahun 1900. Rumah itu menjadi terkenal karena dihuni oleh seorang taipan asal China yang sangat melegenda --Tjong A Fie--, seorang miliuner baru kala itu.
Kabarnya, rumah ini di bangun untuk mengimbangi kemegahan Istana Maimun yang dibangun oleh Sultan Deli, Tengku Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsjah. Istana itu pun masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Saat berkunjung kesana, kami sempat tertahan di luar pagar selama lebih kurang 10 menit, sebelum akhirnya dihampiri seorang wanita tua --masih kerabat dari keluarga besar Tjong A Fie--, yang menanyakan maksud kedatangan kami. Awalnya, kami pesimis diperbolehkan masuk untuk melihat-lihat sisa kemegahan rumah seorang Luitenant etnis china yang wibawanya begitu ke sohor. Karena tak sembarang orang boleh berkunjung, selain tamu dan utusan lembaga tertentu. Belakangan asumsi itu pupus, takkala kami disambut seorang pria paruh baya, yang mengaku bernama ‘Fon Prawira’.
Dia adalah cucu Tjong A Fie dari anak keempat pernikahannya dengan Liem Koei Yap, yang bernama Tjong Kwet Liong alias “Munchong”. Saat ini Fon dan keluarganya mendiami rumah besar ini bersama keluarga lain yang masih terbilang famili. Saat ku tanya, ada berapa keluarga yang menempati tempat ini?  “...ada beberapa keluarga yang masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, sehingga kita jarang berkumpul”, jawab pria yang sehari-harinya selalu ber-kaca mata hitam.
Dari semua keturunan Tjong A Fie, ternyata tak banyak yang peduli dengan warisan sejarah keluarga mereka. Buktinya, rumah tua yang dijuluki termegah se-asia tenggara saat itu, tampak kurang terawat. Beberapa lubang akibat sengatan rayap terlihat menggerogoti beberapa sisinya.
Mungkin karena kesibukan atau ketiadaan biaya, rumah besar itu sempat terlantar beberapa waktu. Bahkan, pintu pagar berupa gapura yang berhiaskan dua ekor singa lengkap ornamen etnis China tampak kusam, padahal bagian ini merupakan simbol penting pertanda kemegahan bagian depan rumah, kala itu.





Untungnya, setelah melalui diskusi keluarga, Fon Prawira di daulat sebagai penanggungjawab pengelolaan keseluruhan rumah yang akhirnya di tetapkan pemerintah sebagai cagar budaya sejak tahun 1999. Campur tangan UNESCO disebut-sebut berpengaruh dalam penetapannya sebagai bagian dari sejarah yang harus dilestarikan.
Dengan gaya bersahaja, pria yang sempat bersekolah di Jawa ini menyambut kami sembari memperkenalkan bagian-bagian penting dari rumah yang memiliki perpaduan unik antara arsitektur China dan barat. Melihat keindahan yang terpancar dari dinding rumah lengkap dengan perabotan plus foto-foto tuanya, aku hanya bisa berdecak kagum. Pasalnya, keindahan bagian dalam rumah begitu terjaga, berbeda dengan bagian luar yang tampak lusuh.

Eksotisme Ruangan
Begitu memasuki pekarangan yang bagian tengahnya ditumbuhi bunga berbentuk melingkar, kita akan tiba di teras depan dengan langit-langit yang sangat tinggi. Disini kita akan bertemu dengan pintu besar yang bagian atasnya berbentuk bundar. Pintu ini berasal dari kayu jati yang di pesan langsung dari daratan China, terdiri dari dua bagian yang sekelilingnya diberi ukiran bertuliskan huruf China. Sesuai dengan Fengshui, pintu ini berfungsi untuk menghimpun semua energi positif untuk masuk ke dalamnya. Pintu ini juga dibuat lebar, untuk memudahkan pengangkutan barang-barang berskala besar.
Begitu masuk ke dalam ruangan, mata kita akan dimanjakan dengan ornamen dan foto-foto tua. Serta tak ketinggalan aneka jenis perabotan tua yang masih asli dan dipertahankan seperti sediakala. Semua perabotan tadi merupakah barang lama yang sengaja dipertahankan untuk menjaga suasana tempo doeloe tetap terasa. Perabotan-perabotan tersebut pun telah di data sebagai cagar budaya yang harus di lestarikan.
Bagian depan rumah ini terdiri dari 3 bagian, yakni bagian kiri, tengah dan kanan ruangan. Di bagian kiri kita bisa menemukan seperangkat kursi lengkap dengan meja kecil berbahan metal. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah lemari tua yang berisi aneka jenis foto tua. Kebanyakan foto itu berisi aktivitas Tjong A Fie dengan keluarganya. Sedang di dindingnya terdapat beberapa foto dalam ukuran besar berlapis kaca. Di salah satu bagian, terpampang jelas foto Tjong A Fie yang terlihat gagah bersanding dengan foto istri ketiganya Liem Koei Yap.
“baru kali ini aku bisa melihat dengan jelas, seperti apa sosok seorang Tjong A Fie. Pasalnya sejak kecil aku hanya mendengar kebesaran namanya saja. Lagian, tak sembarang orang bisa berkunjung ke rumah ini” gumanku lirih.





Sedangkan di bagian kanan rumah, terdapat seperangkat perabotan tua dengan latar belakang sebuah jendela besar yang jarang di buka. Berbeda dengan sisi kiri, bagian kanan ini lebih terkesan gelap, karena jarang di tempati.
Dari semua sisi ruangan, bagian tengah merupakan bagian yang paling mewah. Sebuah sofa berwarna merah lengkap dengan pembatas ruangan ber-ornamen etnis China yang juga berwarna merah tampak begitu mendominasi. Biasanya, di tempat ini para tamu akan dijamu oleh tuan rumah.
Dan, jika kita melangkah lebih jauh melewati pembatas ruangan bagian tengah tadi, kita akan menemukan sepetak ruang kosong beratapkan langit, yang di pinggirnya dipenuhi bunga aneka warna. Bangunan ini menjadi khas, karena terdapat 4 buah kayu jati berdiameter 0,5 m, berfungsi sebagai penopang bangunan yang bagian belakangnya terdiri dari 2 lantai. Kemiripan 4 tiang penopang tersebut dibuatkan pada sebuah mesjid di daerah kesawan, Medan, yang terkenal dengan sebutan “Mesjid Bengkok”. Kabarnya, sebagian dana pembuatan masjid berasal dari sumbangan pribadi seorang Tjong A Fie.
Pada kesempatan itu, kami hanya berkeliling di beberapa bagian ruangan saja. Untuk lantai satu, misalnya, kami hanya berkesempatan mengunjungi ruangan yang peruntukannya sebagai penyimpanan benda seni ataupun ruangan khusus yang boleh di lihat pengunjung. Pasalnya beberapa ruangan di lantai satu digunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga besar.
Lewat dari lantai dasar kita akan dituntun melewati tangga kayu ber-arsitektur mewah yang masih terjaga keasliannya menuju lantai dua. Di tempat ini, kebanyakan ruangan di dominasi warna hijau, yang bermakna kesuburan. Di salah satu sisinya kita bisa menemukan sebuah ruang makan besar. Ruangan ini dilengkapi meja panjang lengkap dengan perdupaan yang sering digunakan untuk ritual.





Ruangan di lantai dua ini ada beberapa buah, kebanyakan di biarkan kosong. Alasannya sederhana, sebagian besar penghuni lebih memilih tinggal di lantai dasar, karena lebih dekat dengan dapur dan sumber air. Selain itu, aura mistik di lantai dua terasa kuat. Ini dibuktikan oleh anggota keluarga yang sering melihat ‘penampakan’. “Maklumlah, ini kan, rumah tua” ujar Rico, putra Fon Prawira yang kebetulan ikut menemani berkeliling.
Ikhwal sang Jongos
Syahdan, laki-laki berkulit saga itu mendarat di Labuhan, pelabuhan terbesar di Sumatera kala itu. Di suatu pagi pada tahun 1880, ia datang menumpang perahu jung, meninggalkan istri pertama dan toko kelontong ayahnya di  Sungkow, propinsi Fukian, Tiongkok, menyeberangi Laut Cina selatan yang terkenal ganas. Ia masih berusia 18 tahun kala itu.
Tak banyak bekal yang ia bawa. Konon, hanya sekerat pikulan, pakaian seadanya dan 10 dolar uang Mancu yang dijahitkan ke ikat pinggang. Selebihnya, sebungkah harapan di Bumi Soemantrah.
Saat itu, nama Soemantrah memang sedang harum. Negeri itu terkenal di dunia sebagai ‘negeri dollar’ sejak Jacobus Nieunhuys memelopori pembukaan perkebunan besar-besaran di sana, pada tahun 1863. Gema itu merambat ke Tiongkok, karena sebagian besar koeli perkebunan-perkebunan berasal dari sana. Gaung itulah yang membiluri dada si Tjong muda untuk bertualang.





Mula-mula, Tjong A Fie alias Tjong Fung Nam, --nama pemuda itu--, menumpang di rumah abangnya yang sudah lebih dahulu tiba di Labuhan. Tjong Yong Hian, abangnya ini dipercaya Belanda dan diangkat sebagai pemuka masyarakat Tionghoa. Baginya tak terlalu sulit untuk mencarikan pekerjaan buat si adik. Lantas, sang adik pun dimasukkan kerja di toko kelontong Tjong Sui-fo, sebagai leveransir bahan makanan untuk penjara setempat.
Di situ, Tjong muda bekerja serabutan, ya.., melayani pembeli, memegang pembukuan, mengantar barang ke penjara, menagih rekening dan sebagainya. Pemilik toko pun mulai senang padanya, karena ia rajin dan terbilang jujur serta pintar bergaul.
Kepandaian bergaul inilah yang mengantarkan Tjong A Fie ke puncak kejayaan. Berkat keuletan dan keluwesannya bergaul ia mulai di hormati oleh berbagai lapisan masyarakat. Bukan hanya masyarakat Tionghoa, tetapi juga masyarakat lain, seperti; Melayu,  Belanda, Arab dan India di sana. Tak heran, kalau pemerintah Hindia Belanda mengabulkan permintaan etnis China di Labuhan untuk menganggatnya sebagai Wijkmeester (baca: kepala distrik)
Jalan menuju kesuksesan mulai terbuka. Tjong A Fie akhirnya berhenti bekerja dari Tjong Sui-fo dengan membuka usaha leveransir sendiri. Ia mulai menunjukkan kehebatan bakat dagangnya. Ia pun mulai melirik perkebunan yang ternyata cukup lebar di sekitar Medan, seperti Asahan, Langkat hingga Simalungun. Disini ia pun memainkan kepiawaiannya bergaul untuk menembus pasar. Hingga akhirnya, Ia pun berhasil.

Perkawinan dan Puncak Kejayaan
Setelah menikah dengan anak keluarga Chew, keturunan China terkemuka dari Penang, ia harus bersedih karena di tinggal mati sang istri, akibat sakit di usia 32. Dari istrinya ini ia mendapatkan  tiga orang anak. Sebelumnya, ia juga telah menikah dengan seorang wanita bernama Lee di kampungnya, Sung-Kow, akibat permintaan orangtuanya
Kemudian ia pun menikah lagi dengan Lim Koei-Yap, seorang gadis belia berusia 16 tahun, putri seorang jagoan silat yang bekerja sebagai tandil atau mandor besar di Perkebunan Deli Maatschappij di Sei Mencirim, Langkat.





Konon, Tjong A Fie sangat mencintai istri ketiganya ini. Ia mengangapnya sebagai hoki, pembawa keberuntungan. Sebab, tak lama setelah ia menikahi wanita cantik itu, kekayaannya berlipat ganda. Pemerintah Belanda pun menaikkan pangkat Tjong A Fie menjadi Luitenant der Chinezen. Pemberian pangkat ini bertujuan untuk menyelesaikan setiap pertikaian yang timbul antara etnis Tionghoa dengan Belanda.
Tercatat, ia mengubah padang ilalang dan sawah di kawasan Kesawan, medan menjadi pusat bisnis baru. Di situ pula ia membangun mansion (baca: istana)nya yang megah, seperti yang dilukiskan di atas. Sementara bekas rumahnya di Pulo Brayan dijadikan tempat peristirahatan. Rumah peristirahatan ini konon sangat luas dan indah, yang dilengkapi dengan kebun binatang.
Singkat kata, kota Medan kala itu menjadi seakan-akan milik Tjong A Fie. Hal itu dimungkinkan karena ia dekat dengan setiap strata, mulai dari bangsawan hingga rakyat jelata. Sultan yang saat itu sangat di hormati, pun, akrab menjadi temannya. Ini terbukti dalam sebuah buku biografi berjudul “Memories of A Nonya”, karya putri pertamanya, Tjong Fuk–Yin (Queeny Chang) dari Lim Koei-Yap, yang berisi tentang hubungan kekerabatan Sultan dengan Tjong A Fie.
Demikianlah, berkat kepiawaian Tjong A Fie, ia berhasil membeli sebuah perkebunan karet, teh dan kelapa, setelah pemerintah Belanda memberi kesempatan padanya sebagai satu-satunya pengimpor candu ke Sumatera. Khusus mengenai perkebunan Tjong A Fie, seorang watawaan senior di Medan, melukiskan “hampir imbang” dengan luas perkebunan milik Belanda terbesar di Sumatera Timur, Deli Maatschappij. Sebagai gambaran, perusahaan Belanda yang dibuka pada tahun 1867 mengusahakan 7.000 Ha dan pada tahun 1941 memiliki luas tak kurang dari 180.000 Ha. Perkebunan Tjong A Fie kala itu luasnya hampir sebanding dengan luas Deli Maatschappij.





Selain itu, Tjong A Fie juga terjun ke bidang perbankan. Deli Bank, namanya. Konon, banknya itu tak kalah bonafid dengan bank milik Belanda. Ia juga bersama kolega-koleganya dari Batavia mendirikan sebuah bank yang terkenal dengan sebutan “Batavia Bank”. Ia memegang 200 saham dari total saham keseluruhan (baca; berjumlah 600).
Akan tetapi yang paling mencengangkan adalah usahanya di negara leluhur, Tiongkok. Bersama sang kakak, ia mendirikan perusahaan kereta api yang menghubungkan kota Chow-Chow dan Swatow. Hal, yang kemudian membuat Yong Hian (si kakak) mendapat gelar kehormatan Menteri Perkeretaapian dari pemerintahan Mancu dan diterima beraudiensi oleh kaisar Tse Hsi. Kalau  sang kakak naik joli ke desa mereka, konon di depan joli ada penabuh gong yang memberitahu kedatangannya. Dan, penduduk pun akan berlutut di sepanjang jalan yang dilaluinya.





Selain itu, kederwanannya pun di catat banyak orang. Tanpa membedakan suku, ras dan agama ia sempat mengumpulkan masyarakat sekitar ketika hari ulang tahunnya tiba. Ia juga banyak membangun kuil-kuil Budha dan kuburan untuk masyarakat Tionghoa di Pulo Brayan. Ia juga memberi sumbangan untuk pembangunan Gereja Katholik di Jl. Pemuda. Kemudian, di tanah wakaf milik Datuk Haji M. Ali, ia membangun mesjid pertama di Medan yang dikenal dengan sebutan “Mesjid Lama atau Mesjid Bengkok” di daerah Kesawan, Medan. Sebagai penghormatan kepada Sultan Deli dan penduduk asli ia ikut menyumbang pembangunan Mesjid Raya pada tahun 1906. Pada tahun 1913, ia juga ikut mendirikan Mesjid di Sipirok – Tap. Selatan. Selanjutnya, pada tahun 1913 ia menyumbang jam menara berdendang untuk Balai Kota Medan, yang berasal dari Belanda

Akhir Perjalanan
Suatu sore di awal 1921, dalam pertemuan keluarga, di rumah megahnya, Tjong A Fie bercerita kepada istri dan anak-anaknya, bahwa ia sedang memesan kapal baru berbobot mati 6.000 ton dari Jepang. Kapal itu merupakan kapal terbesar yang dibuat pada awal abad XX, memuat barang maupun penumpang.
Tour ke Eropa dengan kapal pribadi tersebut, merupakan impian perihal kemegahan harta Tjong A Fie. Namun, apa hendak di kata, sehari setelah membeli kapal tersebut, tepatnya pada tanggal 8 Februari 1921, ia terserang gangguan pembuluh otak, dan akhirnya meninggal dunia.






Saat itu, berakhirlah sudah perjalanan anak rantau asal Kanton, Tiongkok, yang terkenal dengan keberanian dan kedermawanannya. Kini, tinggallah semua harta dan rumah megah yang ditempatinya selama 21 tahun. Warga Medan pun ikut berkabung atas kepergiannya.
Tjong A Fie kemudian dikuburkan di pemakaman khusus dekat rumah peristirahatannya di Pulo Brayan, Medan. Kabarnya, peti matinya diberi lapisan minyak tung dari China sebanyak tujuh lapis dengan liang kuburnya yang dilapisi timah hitam, sehingga akan tahan terhadap kelembaban dan rayap selama 100 tahun.
Ada secuil teka-teki mengenai pemakaman ini. Menurut keluarga Sultan Deli, Tjong A Fie dikubur di pekuburan kerabat sultan di halaman Masjid Al-Mansoon (kini Mesjid Raya), karena secara diam-diam ia telah memeluk Islam. Akan tetapi, Queeny Chang (putri pertama dari Liem Koei-Yap) dalam buku biografinya menulis, bahwa sampai meninggal, ayahnya masih menganut Budha. Ia sendiri sempat memasangkan kaos kaki ke jenazah ayahnya. Menurutnya, yang benar, masyarakat Islam sempat meminta jenazah Tjong A Fie untuk di sembhayangkan di masjid, tetapi kemudian hal itu bisa diselesaikan dengan damai. Dan, katanya, orang-orang dari jauh pun banyak yang datang, seperti dari Jawa, Penang bahkan China untuk menunjukkan rasa hormat pada seorang Tjong A FIe. Hingga akhir hayatnya, ia memegang falsafat kuno yang berbunyi; dimana bumi ku pijak, di situ langit ku junjung.




Sumber : http://jackoagun.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar