Minggu, 27 Mei 2012

Tuhan dalam Filsafat Agama Buddha

Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi Kompasiana. Ketika saya kembali online, ternyata tulisan tentang agama Buddha maupun ajarannya sudah banyak, bahkan sudah cukup banyak tulisan mengenai konsep Ketuhanan dalam agama Buddha. Saya ingat dulu pernah menjanjikan tulisan tentang konsep Ketuhanan dalam ajaran Buddha pada salah seorang Kompasianer di sini.
Karena sudah ada tulisan tentang Tuhan dalam agama Buddha, bahkan dengan googling kata “Ketuhanan dalam agama Buddha” saja akan muncul banyak artikel Buddhis yang relevan, saya berpikir bagaimana menuliskan konsep Ketuhanan dalam ajaran Buddha yang agak berbeda. Maka muncullah ide untuk membuat tulisan tentang Ketuhanan ini dari sisi Abhidhamma, ajaran yang “lebih tinggi” dalam agama Buddha. Sedikit banyak tulisan ini diinspirasi dari Dikira Tidak Ber-Tuhan oleh Bhante Saddhaviro Mahathera.

Abhidhamma, Ajaran yang Lebih Tinggi
Abhidhamma merupakan ajaran yang lebih tinggi (abhi = tinggi atau halus, dhamma = ajaran), yang berisi uraian yang bersifat analisis tentang semua fenomena baik fisik maupun mental, bahkan realitas tertinggi itu sendiri. Beberapa penulis menyebut Abhidhamma sebagai ilmu filsafat dan kejiwaan agama Buddha. Diyakini bahwa Abhidhamma pertama kali diajarkan oleh Sang Buddha ketika berdiam di surga Tavatimsa kepada para dewa yang hadir di sana. Kemudian Sang Buddha mengajarkannya kepada Bhikkhu Sariputta, salah seorang siswa utama, yang kemudian mengajarkannya kepada para siswanya.
Ajaran Abhidhamma terhimpun dalam kelompok sendiri dalam kitab suci agama Buddha yang disebut Abhidhamma Pitaka. Terdapat 7 kitab Abhidhamma Pitaka yang dimasukkan dalam kanon Pali, yaitu:
  1. Dhammasangani, yang berisi tentang penggolongan fenomena (dhamma).

  2. Vibhanga, yang menguraikan tentang pemilahan dhamma yang terdapat dalam Dhammasangani.

  3. Dhatukatha, yang menguraikan tentang pemaparan unsur-unsur (dhatu).

  4. Puggalapannatti, yang menguraikan tentang penjelasan berbagai jenis orang atau personalitas (puggala).

  5. Kathavatthu, yang menguraikan tentang pokok-pokok diskusi dalam bentuk tanya jawab.

  6. Yamaka, yang menguraikan pemaparan dhamma secara berpasangan.

  7. Pathana, yang menguraikan tentang duapuluh empat kondisi yang saling bergantungan (paccaya).

Dalam Abhidhamma, baik pikiran maupun fisik yang membentuk sistem kompleks makhluk hidup dianalisis secara mikroskopis. Hal-hal yang berhubungan dengan proses berpikir, proses kelahiran dan kematian dijelaskan secara rinci. Dengan demikian, ilmu psikologi modern juga menjadi kajian Abhidhamma, namun Abhidhamma mengajarkan ilmu kejiwaan tanpa jiwa sama sekali. Melalui Abhidhamma, kita dapat memahami bahwa semua fenomena baik fisik maupun mental adalah tanpa aku, roh, atau jiwa (anatta).
Abhidhamma memungkinkan seseorang untuk mencapai pembebasan mutlak dari semua bentuk penderitaan (dukkha), karena Abhidhamma berguna untuk mengembangkan pandangan terang (vipassana bhavana). Namun tidak pula dikatakan bahwa Abhidhamma mutlak atau sangat perlu untuk mencapai pembebasan karena pengertian dan pencapaian kebebasan semata-mata tergantung pada diri sendiri. Dikatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia (cattari-ariya-sacca) yang merupakan landasan ajaran Sang Buddha terdapat dalam diri masing-masing pribadi. Dhamma tidak terlepas dari diri sendiri; kita hanya perlu mencari ke dalam diri kita sendiri dan kebenaran akan tampak (lihat Rohitassa Sutta).

Realitas menurut Abhidhamma
Menurut Abhidhamma, segala sesuatu yang terdapat di dunia ini, apakah tampak atau tidak, bersifat fisik atau tidak, dapat dianalisa menjadi faktor penyusun yang disebut fenomena (dhamma). Terdapat 4 jenis fenomena yang membentuk realitas atau kenyataan yang kita alami sehari-hari, yaitu:
  1. Fenomena fisik (rupa), yang membentuk semua materi dan hal-hal yang bersifat fisik yang kita rasakan. Secara umum, fenomena fisik tersusun atas 4 unsur utama (mahabhuta), yaitu unsur padat atau tanah (pathavi), unsur cair atau air (apo), unsur panas atau api (tejo), unsur gerak atau angin (vayo).

  2. Fenomena mental atau pikiran (citta), yang disebut juga kesadaran (vinnana).

  3. Faktor-faktor mental (cetasika), yang timbul dan lenyap menyertai pikiran atau kesadaran, misalnya perasaan (vedana), persepsi (sanna), dan bentuk-bentuk pikiran (sankhara). Di sini pikiran dan faktor-faktor mental sangat sulit dibedakan bagaikan buah apel dengan berbagai sifat atau atributnya, seperti warna, bentuk, dan bau dari apel tersebut.

  4. Realitas tertinggi atau Nibbana (Sanskerta: Nirvana), yang tidak berkondisi, tidak timbul oleh suatu sebab.
Hanya keempat fenomena di atas yang ada di dunia ini, tidak ada yang lain. Tiga fenomena pertama merupakan fenomena yang berkondisi (sankhata dhamma), yaitu fenomena yang timbul dan lenyap sesuai dengan sebab dan kondisi. Mereka tunduk pada hukum sebab akibat yang saling bergantungan (paticcasamuppada): dengan timbulnya ini, maka timbullah itu; dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu. Ketiganya membentuk semua fenomena duniawi, baik benda mati maupun makhluk hidup.
Ketiganya selalu timbul, bertahan sebentar, lenyap untuk kemudian dilanjutkan oleh fenomena yang serupa tetapi tidak sama. Disebut serupa karena fenomena tersebut disebabkan dan dikondisikan oleh fenomena yang sebelumnya; disebut tidak sama karena fenomena sebelumnya telah lenyap.  Oleh sebab itu, fenomena berkondisi dikatakan selalu berubah atau tidak kekal (anicca). Karena tidak kekal, mereka tidak memuaskan atau menyebabkan penderitaan (dukkha). Lebih lanjut, fenomena berkondisi dikatakan tanpa aku (anatta) karena mereka hanyalah proses yang bergerak sendiri tanpa adanya suatu pelaku atau agen penggeraknya. Dalam kaitannya dengan fenomena mental, ajaran Buddha menyatakan bahwa pikiran itu sendirilah sang pemikir.

Nibbana sebagai Realitas Tertinggi
Berbeda dengan fenomena lainnya, Nibbana merupakan realitas yang tidak berkondisi, yaitu tidak timbul oleh suatu sebab dan oleh sebab itu tidak lenyap serta tidak mengalami perubahan. Dalam Udana Sang Buddha berkata:
“O, bhikkhu, terdapat keadaan di mana tidak ada tanah,  tidak ada air, tidak ada api, dan tidak ada udara; tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak-terbatasan ruang, tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak-terbatasan kesadaran, tidak ada dasar yang terdiri dari kekosongan, tidak ada dasar yang terdiri dari bukan persepsi dan tidak bukan persepsi; tidak ada dunia ini atau dunia lain ataupun kedua dunia itu; tidak ada matahari atau rembulan. Di sini, O, bhikkhu, saya katakan tidak ada kedatangan, tidak ada kepergian, tidak ada yang tinggal, tidak ada kematian, tidak ada kemunculan. Tidak terpasang, tidak dapat digerakkan, tidak mempunyai penyangga (yaitu tidak berkondisi). Inilah akhir dari penderitaan.” (Udana bab VIII Parinibbana Sutta 1)
Di sini Nibbana dikatakan sebagai keadaan di mana tidak terdapat semua yang berhubungan dengan fenomena berkondisi. Oleh sebab itu, Nibbana digambarkan sebagai negasi dari semua kualitas yang terbatas dari fenomena berkondisi.
Dalam kanon Pali, Nibbana berlawanan dengan fenomena berkondisi atau samsara karena Nibbana bersifat kekal, yang ada tanpa berawal mula. Walaupun terdapat ajaran atau jalan menuju Nibbana, namun jalan tersebut bukanlah sebab atau kondisi yang memunculkan Nibbana itu sendiri. Dengan mempraktekkan jalan menuju Nibbana, bukan berarti menyebabkan Nibbana itu timbul, melainkan menemukan sesuatu yang telah ada dan selalu ada.
Nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi, yang tidak dapat dirasakan dengan perasaan karena perasaan adalah fenomena berkondisi yang telah dilenyapkan dengan lenyapnya nafsu keinginan (tanha). Kebahagiaan dengan terpenuhinya keinginan bukanlah kebahagiaan sejati karena kebahagiaan tersebut bergantung pada objek-objek berkondisi yang tidak kekal. Karena ketidakkekalan objek dari kebahagiaan tersebut, maka muncul ketidakbahagiaan atau penderitaan ketika kita berpisah dengan objek tersebut. Dengan demikian, di tengah-tengah kebahagiaan duniawi terdapat penderitaan yang membayanginya. Hanya dengan padamnya keinginan, pikiran menjadi tenang dan bahagia bagaimana pun kondisi eksternal di sekitar kita. Inilah kebahagiaan sejati dari Nibbana itu.
Di lain pihak, seperti juga semua hal yang berkondisi, Nibbana tidak dicirikan dengan adanya aku, jiwa, roh atau sejenisnya yang mencapainya. Nibbana merupakan fenomena yang bebas dari semua fenomena duniawi, tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya (karena semua kata-kata diciptakan untuk menggambarkan semua hal duniawi  yang kita rasakan), kecuali ia tidak berkondisi. Hal ini diibaratkan seperti menggambarkan warna bagi orang yang buta sejak lahir, tidak ada cara lain selain melihat warna itu sendiri agar orang tersebut mengerti. Demikian pula, jika semua hal yang berkondisi adalah tanpa aku, apalagi yang tidak berkondisi, yang tidak timbul dan lenyap?
Nibbana bukan pemusnahan diri (nihilisme) karena pemusnahan diri merupakan salah satu bentuk keinginan (yaitu keinginan untuk menjadi tidak ada atau vibhava tanha) yang harus dilenyapkan untuk mencapai Nibbana. Nibbana juga bukan pengekalan diri (eternalisme) karena tidak ada diri yang kekal yang mencapai Nibbana. Oleh sebab itu, lebih tepat mengatakan bahwa Nibbana merupakan akhir dari semua proses yang berkondisi yang tidak bisa digambarkan dengan keterbatasan bahasa kita. Sang Buddha pernah berkata:
“Di manakah tanah, air, api, dan angin tidak menemukan landasannya? Di manakah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, cantik dan buruk rupa – Di manakah batin dan jasmani dihancurkan seluruhnya?
Di mana kesadaran adalah tanpa gambaran, tidak terbatas, cerah-cemerlang. Di sanalah tanah, air, api, dan angin tidak menemukan landasan. Di sanalah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, cantik dan buruk rupa - Di sana batin dan jasmani dihancurkan seluruhnya. Dengan lenyapnya kesadaran, semuanya dihancurkan.”
(Digha Nikaya 11 -  Kevaddha Sutta)
Dalam bahasa positif, Sang Buddha menggambarkan Nibbana sebagai kedamaian, ketenangan, dan pembebasan. Kadang kala ia disebut sebagai pulau, yaitu sebuah pulau di mana makhluk-makhluk yang bebas dari lautan penderitaan dapat mendarat. Ia disebut juga sebagai gua yang memberikan keamanan dari bahaya kelahiran dan kematian. Ia disebut keadaan damai yang berasal dari lenyapnya keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha).

Kesimpulan
Secara umum, menurut Abhidhamma, segala sesuatu yang ada di dunia ini dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu ada karena ada yang menyebabkannya timbul dan lenyap dan ada karena tidak ada yang menimbulkannya. Jenis pertama termasuk semua hal yang kita alami dan rasakan dalam kehidupan kita, benda-benda yang timbul karena sebab dan kondisi tertentu (termasuk yang timbul karena diciptakan atau dibuat oleh seseorang). Jenis kedua adalah realitas tertinggi yang tidak terciptakan, tidak berawal dan tidak berakhir. Ia tak lain adalah Nibbana yang menjadi tujuan akhir spiritualitas agama Buddha.
Dengan demikian, Nibbana dapat disebut sebagai Tuhan dalam agama Buddha itu sendiri, namun bukan Tuhan yang memiliki sifat dan perbuatan seperti orang atau manusia karena ia tidak berkondisi. Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Nibbana, kecuali ia adalah Yang Mutlak, seperti dalam penjelasan Sang Buddha sendiri:
“O, bhikkhu, ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak. Jika seandainya saja, O, bhikkhu, tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak, maka ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.” (Udana bab VIII Parinibbana Sutta 3)
Nibbana atau Ketuhanan dalam agama Buddha ini merupakan tujuan tertinggi dari ajaran Sang Buddha. Seperti halnya semua air dari sebuah sungai bermuara ke lautan dan menyatu dengan lautan. Demikian juga, jalan spiritual yang diajarkan Sang Buddha, Jalan Mulia Berunsur Delapan (atthangika-ariya-magga) bermuara ke Nibbana dan menyatu dengan Nibbana.


Sumber : http://filsafat.kompasiana.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar