Minggu, 27 Mei 2012

Filsafat Buddha : Pencerahan yang Membebaskan

Filsafat Buddha : Pencerahan yang Membebaskan
Filsafat buddha berkembang dari ajaran budhisme yang dikenal dengan agama buddha. Tokoh awal budhisme merupakan pencetus pertama ajaran Sidharta Gautama, seorang pangeran dari istana keluarga kerajaan di Nepal. Ialah yang pertama kali disebut dengan buddha ( yang sudah mendapatkan pencerahan). Kisah hidup Shidarta dimulai ketika ayah sidarta Raja Suddodhana yang mendapat wansit ketika sidarta lahir yang dijabarkan oleh alih agamanya bahwa kelak sidarta setelah dewasa hidupnya akan menjadi orarng besar pada dua al yaitu ; ia akan jadi raja besar atau ahli keagamaan yang termasur. Karena ia tidak mengiginkan anaknya menjadi ahli agama maka raja melindung sidarta dari segala penderitaan duniawi. Tetap takdirnya berkata lain, sidarta mengetahu bahwa manusia hidup akan menaglami penderitaan.
Jalan Menuju Keselematan
Untuk mengetahui jalan menuju keselamatan terlebih dahulu perlu diketahui konsep tentang kebenaran menurut agama buddha. Kebenaran mulia yang menjadi ajaran buddha adala empat kebenaran mulia sebagai berikut:
1.Kebenaran mulia tentang penderitaan;
2.kebenaran mulia tentang sebab penderitaan;
3.kebenaran mulia tentang menleyapkan penderitaan:
4.kebenaran mulia tentang jalan menuju pelenyapan penderitaan.
Bagi buddha, kelahiran adalah penderitaan, umur tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, dipisahkan dari yang dikasihi adalah penderitaan, dan tidak mencapai apa yang diinginkan adalah penderitaan. Dalam arti lain dukha lebih cocok dipadankan dengan pengertian’dislokasi’ yang berarti perselisihan yang menyakitkan.
Penyebab dari penderitaan adalah keinginan. Memang tidak semua keinginan. Ada keinginan yang baik seperti keinginan untuk mencapai nirwana. Dan keinginan untuk mencapai kesejahteraan besama. Keinginan untuk mencapai penderitaan disebut tanha. Istilah ini terunjuk pada pengertian keinginan demi pemenuhan diri sendiri. Terikat pada diri sendiri dan terpiah dari yang lain. Bila suatu hal itu akan menghancurkan yanglain da menimbulakan dislokasi.
Apa yang harus dilakukan agar dapat menghilangkan keinginanya. Ada delapan langkah untuk menghilangkan keinginan.

1.Penglihatan yang benar.
2.Keinginan yang benar.
3.Perkataan yang benar.
4.Perbuatan yang benar.
5.Hidup yang benar.
6.Usaha yang benar.
7.Pikiran yang benar.
8.Semedi yang benar.
 
Tetapi kedelapan hal tersebut dapat dibagi menjadi tiga pokok yaitu: kebijaksanaan, kelurusan, dan semedi. Sumber tertulis yang diangap sebagai sumber ajaran metafisika Budhisme adalah Dhammapada. Didalamnya terkandung pandangan dasar dan rumusan utama yang didasari ajaran buddha yang disampaikan selama hidupnya. Dalam teks ini pula terdapat dasar penjelasan tentang tiga ciri pokok benda menurut budhisme.
1.Segala sesutu bersifat fana
2.Segala sesuatu mengandung penderitaan
3.segala sesuatu adalah tanpa ego
kita hidup kemudia mati akanm menagalami reinkarnasi, reinkarnasi adalah penderitaan karena kita mengalami kehidupan yang berbeda-beda yang dengan bentuk yang berbeda dan sifat yang berbeda. Dan diperparah oleh hilangnya ingatan kita. Kesadaran akan kesamaan manusia dengan segala isi alamnya dan kebersatuan dengan alam semesta alam dan realita yang satu merupakan pembebasan kita. Dengan kita akan mecapai nirwana sehingga bebas dari lingkaran reinkarnasi.
Pengertian tentang pemebebasan manusia tersebut, manusia diajurkan untuk berbuat baik bagi sesama maklhuk, baik maklhuk mati maupun makluhk hidup. Pemeliharaan alam merupakan kewajiban manusia. Manusia tidak boleh menyakiti makhluk lain apalagi mebunuhnya. Hal yang terpenting adalah pemeliharaan harmoni. 


Sumber : http://bagusprasetyo.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar