6c0f5321faa3cd8d165e854fd8a4cb0c_20120430prof-andrew-weintraub
SURABAYA — Peneliti musik dangdut dari University of Pittsburg, Amerika Serikat, Prof Andrew Weintraub BA MA PhD, menegaskan bahwa dangdut merupakan musik asli dari Indonesia, bukan dari Malaysia atau India.
“Ada yang bilang dangdut itu dari Malaysia karena ada unsur Melayu, atau ada juga yang bilang dari India karena ada unsur India-nya, tapi saya sudah meneliti sejak 1984 dan ternyata sifat dangdut itu khas Indonesia,” katanya di Surabaya, Senin.
Ia mengemukakan hal itu dalam peluncuran bukunya bertajuk “Dangdut; Musik, Identitas dan Budaya Indonesia” di Aula Fisip Unair Surabaya yang juga menampilkan Rachmah Ida M Comms PhD (pakar komunikasi Unair) dan Sholehuddin SH MH (PAMMI).
Profesor yang beristrikan orang India itu mengaku lagu dangdut berjudul “Termenung” memiliki kesamaan dengan musik dari sebuah film India yang diproduksi pada tahun 1957, tapi lirik lagunya sangat khas Indonesia, meski ada unsur India-nya.
“Jadi, dangdut itu memang asli Indonesia, karena ada sifat khas Indonesia yang tidak ditemukan dari musik Melayu dan India, di antaranya tema lagu yang dekat dengan kehidupan orang Indonesia,” paparnya.
Selain itu, kata profesor yang suka angklung, gamelan, dan wayang itu, dangdut itu tidak sama dengan Melayu, karena Melayu di Indonesia ada di dataran Sumatera, tapi dangdut justru bermula dari Jawa.
“Karena itu, penelitian saya menyimpulkan dangdut itu musik asli Indonesia yang dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia, bukan musik India, Malaysia, Amerika, atau yang lain,” ucapnya, menegaskan.
Bahkan, katanya, dangdut yang bermula dari Jawa itu sekarang sudah menasional, sehingga ada Dangdut Minang, Danggut Banjar, Dangdut Koplo, Dangdut Remix, dan sebagainya hingga ke Maluku dan Papua. “Di Papua ada orkes dangdut,” tukasnya.
Sejak menasional pada tahun 1990-an, katanya, dangdut bukan lagi menjadi musik rakyat yang marginal, tapi juga sudah disukai di kalangan elit. “Sekarang ada kafe dangdut, seperti Rasa Sayang, King, Planet,” tuturnya.
Senada dengan itu, pakar komunikasi Unair Rachmah Ida M Comms PhD menyatakan berawal dari kata “dang” dan “dut” yang merupakan bunyi dari gendang sebagai alat musik khas dalam irama dangdut.
“Awalnya, dangdut nggak diramaikan, tapi ketika dangdut sekarang sudah ’besar’ mulai ada yang mengakui, seperti Malaysia dan India. Mungkin ada kemiripan, tapi dangdut itu bukan Melayu, melainkan dari Jawa,” katanya.
Selain itu, dangdut sempat dipolemikkan dalam dikhotomi “kampungan” dan “gedongan”, tapi dangdut sekarang sudah disukai semua kalangan. “Tahun 2004 ada Salam Dangdut MTV,” tukasnya.



Sumber : http://oase.kompas.com