Kamis, 19 April 2012

SMCH - Vegetarian - Hukum Cinta Kasih dan Tanpa Kekerasan




Hukum Cinta Kasih dan Tanpa Kekerasan
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai,  Colorado, AS,  14 Mei 1991 (Asal bahasa Inggris) Kaset Video No. 170a
Jika Anda mencari uang dengan darah, itu akan menurunkan kehormatan Anda. Bukannya saya melarang Anda; saya hanya memberitahukan rahasia di balik semua ini. Profesi apa pun yang berhubungan dengan pembunuhan, langsung atau tidak langsung, akan melukai Anda. Hal itu akan melukai jiwa Anda karena prinsip Anda sendiri yang Anda langgar atau lukai, bukan perintah orang lain.
Anda sendiri tidak ingin dicincang dan dimakan orang atau hewan. Jika kita mencabut nyawa apa pun, kita mencabut sebagian dari hidup kita. Dan kita harus membayar untuk itu dengan cara apa pun untuk menutup lubang yang kita gali atau bagian kehidupan yang telah kita hilangkan. Kita harus mengisi peran yang telah kita hilangkan dengan kekerasan itu. Karena peran itu seharusnya dimainkan oleh hewan itu sampai tahun tertentu dan Anda telah menghilangkannya, secara langsung atau tidak langsung, Anda mengambil bagian dalam tindakan kriminal. Maka, kita harus mengisi peran itu sebagian dengan cara apa pun, untuk menutup lubang atau mengganti bagian yang hilang.
Contohnya, dalam pertunjukan teater ada banyak peran. Dan jika Anda menyingkirkan seorang aktris atau si sutradara memecat seorang aktris, maka dia harus mencari orang lain untuk mengisi peran itu. Jika tidak, dia akan mendapat masalah. Dia akan kehilangan pekerjaan, pendapatan, dan uang, dan seluruh pertunjukan akan berantakan. Dan dialah yang akan mendapat masalah. Jadi, jika Anda membantu sang sutradara atau jika Anda yang menyingkirkan aktris tersebut, Anda juga terlibat masalah. Anda harus menebusnya dengan cara apa pun, entah itu uang atau lewat pengadilan atau masuk penjara atau juga Anda memainkan peran itu.
Begitu juga mengapa kita tidak boleh mengonsumsi telur, karena telur melambangkan lingkaran reinkarnasi; memberikan kesan mampu untuk lahir kembali. Selain itu, telur menarik unsur negatif. Orang-orang yang berlatih voodoo tahu tentang hal ini. Mereka menggunakan telur untuk memikat suatu wujud yang ada dalam seseorang ketika mereka ingin mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan. Mereka memecahkan telur untuk memikat roh jahat itu untuk pergi. Karena bila roh yang telah mati atau yang tak berwujud melihat telur, maka mereka akan tertarik; mereka berpikir dapat lahir kembali dalam sebuah tubuh. Jadi, mereka masuk ke dalam telur. Lalu telur yang rusak itu dibuang. Selain itu, bau telur sangat tidak enak, apakah dibuahi ataupun tidak dibuahi.
Pemahaman ini adalah aturan rahasia untuk mencapai kehidupan abadi, bukannya sebuah perintah yang saya keluarkan untuk Anda dengan paksaan atau kekuasaan. Hanya sebuah rahasia untuk memasuki Kerajaan Allah.

Makna dari Tanpa Kekerasan
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, New York, AS,
20  Juni 1994 (Asal bahasa Inggris) Kaset Video No. 436
Sila tanpa-kekerasan mengingatkan kita untuk selalu berusaha agar sedapat mungkin tidak menyakiti makhluk hidup lain; agar kita tidak menyakiti atau berniat untuk berlaku kejam.
Ingin membunuh dan tidak sengaja membunuh adalah dua hal yang berbeda. Yang buruk bukan membunuhnya, melainkan kesadaran kita yang ingin melakukan pembunuhan, itulah yang buruk. Hal itu buruk untuk kita, bukan untuk yang dibunuh. Karena itu, menghindari kekejaman sangat baik untuk Anda, bukan untuk makhluk hidup yang lain. Karena bila kita kehilangan tubuh fisik kita, kita bisa mendapatkan kembali; jadi, yang mengalami kerusakan adalah yang membunuh, bukan yang dibunuh.
Sila tanpa-kekerasan sebenarnya dimaksudkan untuk mengingatkan kita untuk memiliki hati  penuh cinta dan belas kasih. Kita tidak ingin melukai yang lain dengan sengaja, karena keinginan itulah yang membunuh. Membunuh mereka dan juga membunuh kita, makanya sangat buruk.
Jika kita mengikuti cara makan vegetarian dan mengikuti cara hidup budiman maka kita tidak akan merasa takut terhadap penyakit apa pun
~Maha Guru Ching Hai
Vegetarisme dan Cinta Kasih
Ketika saya masih muda, saya tinggal di dekat rumah jagal. Setiap hari pada jam istirahat, saya mendengarkan jeritan babi saat mereka disiksa dan disembelih hingga mati secara mengerikan, dan saya tidak tahan mendengarkan jeritan yang memilukan dari mereka. Meskipun saya menutup telinga, gambaran para penjagal yang sadis itu masih tetap muncul di benak pikiran saya.
Sungguh pengalaman demikian membuat saya untuk memakan daging amatlah mengerikan. Meskipun banyak orang di dunia menyukai daging karena mereka merasakan enaknya daging itu setelah dimasak dan dibumbui, mereka tidak mengetahui bagaimana tersiksanya babi tersebut ketika secara sadis mereka disembelih. Saya amat berharap bahwa saya dapat senantiasa sadar dan tidak akan memakan daging selama hajat hidup saya!
Saya juga pernah dengar dari seorang penjagal bahwa sapi yang mengetahui akan disembelih biasanya mengeluarkan air mata dari mata mereka. Mereka kelihatan sungguh menyedihkan! Dan apa yang terjadi apabila burung merpati dibunuh untuk makanan? Pembunuhnya mencekik leher merpati hingga mati kehabisan napas di dalam air. Hewan tersebut mati sembari mengalami ketakutan, kebencian, dan penderitaan. Sebenarnya hewan juga seperti kita.  Mereka juga takut mati seperti kita. Jika kita melihat kenyataan yang ada bahwa seluruh makhluk hidup di dunia ini memiliki keinginan yang sama untuk hidup, jika kita melihat apa yang mereka lakukan, maka kita tidak akan menyakiti mereka.
Ketika saya menyadari bahwa orang secara kejam memperlakukan hewan, saya mulai berhenti memakan daging hewan dan sekarang mengikuti pola makan vegetarian. Saya mencoba mengembangkan sifat cinta-kasih di dalam hati saya dan mengangkat diri saya secara rohani. Sungguh mudah menemukan rumah makan vegetarian sekarang daripada sebelumnya.  Jika Anda ingin makan di luar, Anda dapat dengan mudah menemukan berbagai rumah makan siap saji di banyak daerah. Selain itu, rasa masakannya juga sedap, mengandung nutrisi tinggi, dan amat baik untuk kesehatan.
Sebagai hasil dari pola makan vegetarian tersebut saya menjadi lebih sabar dan pemaaf, tanpa sifat kebencian dan keinginan untuk membalas dendam dalam hati saya. Kemungkinan makanan yang saya makan juga amat mempengaruhi penampilan mental saya. Saya juga berterima kasih kepada Guru atas berkahnya.
Anak perempuan saya dengan penuh keingintahuan bertanya pada saya, "Kenapakah sebagian besar Buddhis vegetarian? Kenapakah sebagian di antara mereka memakan telur, dan Ibu tidak memakannya? Apa perbedaannya? Sekte Buddhis mana yang Ibu ikuti?" Saya memberitahukannya bahwa saya tidak memakan daging karena cinta-kasih saya terhadap makhluk hidup dan bahwa telur juga mengandung kehidupan, sehingga saya tidak memakannya.
Saya berharap bahwa suatu hari seluruh umat manusia akan melepaskan makanan hewani dan telur dan menjadi vegetarian. Marilah kita mengembangkan cinta-kasih kita dan memperlakukan setiap makhluk hidup dengan kasih-sayang.
Makanan Vegetarian Membuat Anda Lebih Kuat
Sering sekali  terjadi salah pengertian bahwa pemakan daging lebih kuat daripada vegetarian, tapi suatu percobaan yang dilakukan oleh Profesor Irving Fisher dari Universitas Yale terhadap 32 vegetarian dan 15 pemakan daging menunjukkan bahwa vegetarian memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemakan daging. Dia meminta mereka meregangkan lengannya selama mungkin. Hasil tes tersebut jelas sekali. Di antara 15 pemakan daging, hanya dua orang yang dapat menahan lengan mereka selama lima belas menit hingga tiga puluh menit. Sebaliknya, di antara 32 orang yang vegetarian terdapat 22 orang yang mampu menahan lengan mereka selama 15 hingga 30 menit, 15 orang lainnya dapat menahan hingga lebih dari 30 menit, sembilan orang lebih dari satu jam, dan empat lainnya lebih dari dua jam, sebagai tambahan, satu orang vegetarian dapat menahan lengannya lebih dari tiga jam. (Ringkasan dari buku contoh ‘Kunci Pencerahan Seketika’).
Saya seorang pengajar dan telah mengikuti pola makan murni vegetarian selama enam tahun. Selama jangka waktu tersebut, saya merasakan kebebasan dari segala penyakit, kecuali flu yang biasa saja. Pada musim panas tahun 2000, sekolah tempat saya mengajar menyelenggarakan tur bagi para pengajar ke Zhangjiajie, Provinsi Hunan dan Chengdu, Provinsi Sichuan. Lebih dari lima puluh orang mengikuti tur tersebut, di mana kami memanjat beberapa gunung di Zhangjiajie. Pemanjatan di gunung yang pertama, beberapa anggota dari kelompok kami kehabisan tenaga hanya setengah jalan dan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan alat  transportasi, seperti kereta gantung dan kereta tarik, sementara itu saya merupakan orang pertama yang mencapai puncak dengan berjalan kaki.
Pada hari ketiga, kami berangkat ke Gunung Tianzi untuk melihat matahari terbit. Pertama-tama , kami naik bus hingga pertengahan jalan menuju puncak gunung, lalu turun untuk memanjat. Lagi-lagi, saya merupakan orang pertama yang sampai di puncak. Pada waktu turun, hanya tiga pengajar dan saya yang berhasil turun berjalan kaki, dan yang lainnya turun menggunakan kereta gantung. Ketika saya sampai di parkiran mobil, saya dapat mendengar tepuk tangan riuh dari bus. Pengajar yang lain amat memuji energi dan semangat saya!
Dari Zhangjiajie, kami melanjutkan perjalanan ke Chengdu, di mana kami memanjat lagi beberapa gunung yang  terkenal.  Bagi saya, semuanya itu seperti berjalan kaki di jalanan yang normal, dan beberapa rekan bercanda tentang “kaki terbang” saya. Seluruh anggota peserta dari kelompok saya melihat saya berjalan naik dan turun gunung tanpa tergantung pada alat transportasi sebagaimana yang mereka lakukan.
Selama perjalanan, saya memakan semangkok milet kongge dengan roti tim kecil untuk sarapan pagi, dan dua tomat, satu atau dua mentimun, dan semangkok nasi untuk makan siang atau makan malam. Ini merupakan makanan saya setiap harinya selama perjalanan tersebut, yang berakhir selama sepuluh hari. Anggota peserta lainnya dari kelompok kami paling tidak menghabiskan delapan dan adakalanya hampir dua puluh masakan daging setiap harinya.  Namun, tiada satu pun yang mampu mengejar langkah saya selama perjalanan. Pembicaraan mengenai kekuatan fisik saya beredar di antara sesama rekan setelah kami kembali ke sekolah, sehingga mereka tidak berpikir lagi bahwa vegetarian kurang sehat dibandingkan pemakan daging; sebaliknya, mereka mulai mempercayai bahwa vegetarian memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Pada kesempatan sebelumnya, di hari libur tanggal 1 Mei 2001, lebih dari sepuluh pengajar melakukan perjalanan ke  Puncak Gunung Es 71 di Jiayuguan, Provinsi Gansu. Ikut juga dalam perjalanan tersebut anak perempuan saya, yang baru sekolah di SMU, dan seperti saya adalah vegetarian penuh. Puncak Gunung Es 71 berada 4.600 meter di atas ketinggian laut dan orang pada umumnya mengalami gejala penyakit  tempat tinggi apabila memanjat ke atas karena kurangnya oksigen di ketinggian tempat tersebut. Saya juga mengalami tanda-tanda gejala penyakit tersebut, tapi tidak begitu parah dibandingkan dengan yang dialami oleh peserta lainnya di kelompok saya. Anak perempuan saya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda gejala tersebut, dan selalu berada di depan kelompok pemanjat kami. Dia mencapai puncak yang lebih tinggi dibandingkan dengan sesama rekan kami, dan sekali lagi membuktikan bahwa vegetarian memiliki lebih banyak energi dan daya tahan yang lebih tinggi dibandingkan non-vegetarian.
Di luar itu semua, sungguh tidak perlu diragukan lagi bahwa pola makan vegetarian sangat bermanfaat bagi kesehatan, dan bahwa vegetarian juga meningkatkan daya tahan dan kekuatan fisik. Sebagaimana yang dikatakan Albert Einstein, “Ini merupakan pendapat saya bahwa cara hidup vegetarian, dengan pengaruh efek fisiknya yang murni terhadap temperamen manusia, akan sangat menguntungkan pengaruhnya bagi seluruh umat manusia.” (Surat kepada “Vegetarian Watch Tower”, 27 Desember 1930). Abad ke-21 merupakan permulaan era vegetarisme, jadi marilah kita saling berbagi manfaat dari vegetarian yang luar biasa ini!
Pola Hidup Vegetarian
Dan Jalur Cinta Kasih
Saat jalan-jalan ke Amerika Serikat baru-baru ini, saya mendapat satu jilid buku "Diet for Transcendence: Vegetarianism and the World Religions (Pola Makan Transendental: Pola Hidup Vegetarian dan Agama-Agama Dunia)" karangan Steven Rosen. Ketika saya membaca buku itu, saya mulai berpikir tentang jawaban yang biasa saya berikan atas pertanyaan yang sering diajukan "Mengapa Anda vegetarian?" Dengan mudah saya membuat daftar manfaat kesehatan seperti menurunkan kolesterol, mencegah kanker, meringankan penyakit jantung dan lain-lain, semua itu adalah alasan-alasan yang baik untuk tidak makan daging. Tetapi, saya tiba-tiba sadar bahwa saya telah lalai menyebutkan alasan yang terpenting: welas asih kepada semua makhluk.
Dalam bukunya, Rosen menunjukkan bahwa Perintah Allah Keenam dalam Alkitab Kristen-Yahudi dan Sila Pertama Agama Buddha adalah "Jangan engkau membunuh" atau "Jangan membunuh". Kata-katanya jelas dan tidak ditujukan khusus hanya kepada manusia. Pengarang tersebut juga menyebutkan bahwa "Aturan Emas" - "Lakukanlah terhadap yang lain sebagaimana engkau ingin yang lain lakukan terhadapmu" - ditemukan dalam hampir semua kitab suci di dunia, menimbulkan pertanyaan "Bukankah hewan juga termasuk 'yang lain'?” Karena mereka hidup, bernapas, berpikir seperti yang dilakukan manusia, dan juga menunjukkan rasa kasih, takut, dan marah.
Baik orang Kristen maupun orang Yahudi berpegang pada ke-empat-puluh-enam kitab Perjanjian yang pertama, yang secara kolektif dinamakan Perjanjian Lama dalam agama Kristen, dan Kitab Taurat dalam agama Yahudi. Kitab pertamanya, Kejadian, memperkenalkan rencana semula Tuhan atas bumi ini, menerangkan bahwa "pada mulanya" umat manusia seharusnya mengikuti pola makan vegetarian. Buah-buahan yang mengandung biji dan sayur-sayuran dimaksudkan untuk menjadi makanan kita, dan manusia berkuasa atas atau mendominasi ikan, burung-burung, dan hewan lainnya. Jadi, "uraian pekerjaan" duniawi umat manusia ditetapkan - kita mendapat makanan vegetarian secara gratis untuk menjadi penguasa atau pengurus Taman Tuhan - sebuah jabatan bagus dengan imbalan istimewa dan Atasan yang terbaik. Dan sepatutnya penguasa yang baik dari kerajaan hewan tentu saja akan mengurus warganya dengan welas asih demi kesejahteraan mereka, dan tidak mengurung, menyiksa, membunuh, dan memakan mereka.  Namun, selama berabad-abad, konsep kekuasaan atau dominasi atas hewan telah disalah-tafsirkan menjadi: umat manusia dapat memanfaatkan makhluk-makhluk ini dengan cara apa saja yang disenanginya, termasuk menyembelih dan memakan mereka.
Sebuah contoh yang menunjukkan bagaimana hubungan dengan hewan yang penuh welas asih mendapat rahmat Tuhan, dapat dilihat dari Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama, di mana karakter utamanya, nabi Yahudi, Daniel, ditangkap dan dibawa dari Israel ke Babylon dan ditawan oleh Raja Nebuchadnezzar. Namun setelah kecerdasannya diakui, Daniel diberikan pendidikan Babylon yang terbaik. Ada satu cerita dalam kitab itu, ketika pengadilan Nebuchadnezzar memberikan daging dan anggur Babylon yang terbaik kepada Daniel dan tiga kawan Yahudinya, mereka menolak makanan tersebut dan sebagai gantinya minta diberi sayur-mayur dan air saja selama sepuluh hari, dan mengatakan bahwa penangkap mereka dapat menilai hasilnya pada akhir periode itu.  Setelah percobaan ini, Daniel dan yang lainnya tampak lebih sehat daripada kelompok siswa lainnya yang telah menyantap makanan Raja; maka tawanan-tawanan itu diperkenankan melanjutkan pola makan vegetarian mereka.
Daniel kemudian menjadi ahli nujum dan ahli tafsir mimpi raja. Dia juga melayani dua raja berikutnya, dan dijatuhi hukuman oleh raja yang ketiga, Darius, dikunci di dalam gua singa karena memuja Tuhannya sendiri. Ketika Darius datang ke gua tersebut keesokan harinya, Daniel mengatakan kepadanya bahwa malaikat Tuhan datang dan menutup mulut singa itu. Mengenai kejadian ini, Rosen menerangkan bahwa "mungkin karena hewan itu merasakan welas asih yang luar biasa dan tiada kehendak buruk dari Orang Suci vegetarian itu", Daniel selamat tanpa terluka.
Di sebuah bab yang bertalian dalam Kitab Perjanjian Lama, Yesaya (11:7) sang Nabi meramalkan bahwa akan datang suatu waktu di mana seekor singa akan makan jerami seperti seekor lembu jantan dan berbaring bersama seekor anak sapi. Untuk memperkuat ramalan ini, sebuah cerita nyata tentang seekor singa vegetarian dapat ditemukan di Internet di http://www.vegetarismus.ch/vegepet/tyke.htm. Cerita itu membicarakan tentang singa betina bernama Little Tyke, yang tinggal di Peternakan Hidden Valley di California, di mana dia diasuh oleh Georges dan Margaret Westbeau.
Singa betina itu bersikeras makan makanan vegetarian, tetapi pasangan Westbeau tetap mencoba memberi daging kepada Little Tyke selama empat tahun, karena bukti ilmiah menunjukkan bahwa singa akan mati bila mereka tidak makan daging. Namun singa betina itu tumbuh besar dengan diet vegetariannya. Kenyataannya dia sesehat seekor singa yang pernah dilihat oleh siapa pun.
Pasangan Westbeau akhirnya menerima pola hidup vegetarian Little Tyke ketika seorang pengunjung mengingatkan Georges akan Kejadian 1:30, di mana Tuhan mengatakan bahwa setiap hewan harus makan semua tumbuh-tumbuhan hijau untuk makanannya. Singa betina itu menjadi demikian jinak sehingga semua jenis makhluk dapat berbaring bersamanya, termasuk "jenis yang paling berbahaya dari semuanya: Homo sapiens (manusia)".
Sebuah cerita yang mirip tentang seekor singa betina yang diberi nama Kamuniak ('Yang Terberkahi') oleh penjaga hutan Kenya, dapat pula ditemukan di Internet*. Singa betina itu menghabiskan hari-harinya dengan melindungi seekor anak sapi oryx, menghalau hyena, serigala, dan pemangsa lainnya, dan memperlakukan anak sapi itu bagaikan seekor anak singa dengan berbaring di sampingnya di atas rumput. Sungguh menakjubkan melihat singa betina mengadopsi seekor oryx di hutan Kenya, dan keduanya berjalan berdampingan dengan damai, memenuhi ramalan dalam Alkitab "Anak domba dan singa akan berbaring bersama-sama".
Kedua cerita ini menghapuskan mitos bahwa hewan buas harus makan daging untuk hidup, dan juga dengan menakjubkan menunjukkan bahwa pola makan yang dianjurkan untuk manusia dalam Kitab Kejadian pun cocok untuk singa!
Rosen juga menyatakan secara tidak langsung bahwa Nabi Muhammad adalah seorang vegetarian, dan Dia memberikan kelonggaran pada para pengikutnya yang makan daging "yang belum siap untuk tingkat pemahaman spiritual itu". Selain itu, dalam ajaran tasawuf (Sufisme), aliran mistik Islam, banyak cerita yang menyoroti manfaat dari berwelas asih kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Dalam satu cerita seperti itu, seorang wanita suci Sufi yang dikelilingi oleh hewan-hewan, dikejutkan oleh Sufi lainnya. Ketika hewan-hewan itu lari saat dia mendekat, dia bertanya kepada orang suci itu, mengapa mereka kabur. Maka, orang suci itu balik bertanya kepadanya, apa yang dia makan baru-baru ini; ketika dia katakan bawang yang dimasak dalam lemak, orang suci itu menjawab, "engkau makan lemak mereka! Bagaimana mereka tidak kabur darimu?”( Cat.: Diet For Transcendence, p. 63)
Selain itu, banyak kitab suci Hindu menganjurkan pola makan vegetarian, tetapi kutipan dari Mahabharata (salah satu cerita mitologi kepahlawanan yang terkenal dari India) kelihatannya paling jelas menggambarkan proses makan daging itu: "Pembeli daging melakukan himsa (kekerasan) dengan kekayaannya; dia yang makan daging melakukan hal tersebut dengan menikmati rasanya; sang pembunuh melakukan himsa dengan benar-benar mengikat dan menyembelih hewan. Jadi, ada tiga bentuk pembunuhan."
Sebuah cerita lain dari Internet melibatkan pekerja rumah jagal yang sedang istirahat makan siang. Salah satu anak domba yang dipersiapkan untuk dibunuh di tempat itu, melarikan diri dari kandangnya dan berjalan mendekat untuk bergabung dengan para pekerja itu. Anak domba itu mulai menggigit selada dari sandwich mereka, dan para pekerja yang kejam itu mulai menimang hewan itu, dan segera merasa tidak sanggup untuk menyembelihnya. Jadi, mereka melepaskan anak domba tersebut, yang menunjukkan bahwa ketika seseorang punya hubungan pribadi dengan hewan, akan sangat sulit untuk membunuhnya. Sekalipun seseorang telah menyembelih ratusan kali, interaksi pribadi dengan makhluk yang penuh kasih dapat menimbulkan welas asih.
Cerita-cerita tersebut di atas menunjukkan bahwa akan sulit menjalani jalur welas asih sebelum kita menjadi vegetarian. Jika seseorang makan daging hewan, emosi ketakutan dan kemarahan yang dialami makhluk itu pada saat kematian, ikut termakan dan menjadi bagian dari tubuh pemakan daging itu. Namun, begitu seseorang berhenti memakan daging, tubuhnya memulai proses pemurnian dan memperkenankan welas asih tumbuh di dalamnya. Karena itu, singa-singa yang bervegetarian pun dapat menjadi makhluk yang welas asih. Tetapi, tentu saja berlatih Metode Quan Yin juga penting untuk proses ini. Sebagaimana Maha Guru Ching Hai berkata, "Jika semua orang berlatih meditasi dan pola makan sehat tanpa melibatkan pembunuhan, dunia ini sudah sejak lama berada dalam keadaan damai. Tidak perlu mengorbankan harta milik kalian; cukup hentikan pola makan yang berpangkal pada makan daging. Itu akan cukup untuk menyelamatkan dunia.”



 Sumber : http://www.godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar