Kamis, 19 April 2012

SMCH - Vegetarian - Bolehkah Mengonsumsi Susu?


Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, New York, Amerika Serikat, 4 Agustus 1999
(Asal bahasa Inggris)
Saya tidak mengatakan, “Tanpa susu,” hanya tanpa daging, tanpa telur, dan tanpa apa pun yang berasal dari pembunuhan hewan. Tapi, dengan susu dan produk-produk susu, Anda tidak harus membunuh untuk mendapatkannya. Hanya saja saya sendiri jarang menggunakannya.  Jadi, bila orang bertanya kepada saya, haruskah mereka menggunakannya karena mereka merasa tidak nyaman, maka saya berkata, “Itu terserah Anda.” Saya sendiri tidak begitu suka susu karena cara susu itu diambil. Tetapi, di beberapa tempat seperti India, mereka mengambil susu dari sapi dengan cara yang sangat manusiawi dan sangat normal.
Juga, kalau Anda tidak minum susu sapi, kadang-kadang terlalu banyak susu membuat sapi menderita, kesakitan. Tetapi, cara orang mengambilnya dengan mesin, dan mereka memberi makan dan kemudian mengurungnya: Saya tidak suka itu.  Di kebanyakan negara industri, mereka mengurung sapi dan memaksanya untuk makan berbagai bahan kimia agar menghasilkan lebih banyak susu. Atau mereka memaksa dan memberi obat-obatan supaya sapi itu menghasilkan lebih banyak susu. Lalu konsekuensinya adalah tulang mereka menjadi rapuh dan sapi-sapi itu nyaris tidak bisa menopang tubuhnya.  Banyak sapi di Amerika Serikat, usus mereka jatuh, perut mereka jatuh, dan sapi-sapi itu hampir tidak bisa berjalan karena tulang mereka begitu lemah karena memproduksi terlalu banyak susu. Dan hal itu yang tidak saya sukai. Saya pikir kita tidak seharusnya bertahan hidup di atas penderitaan orang lain, bahkan penderitaan sapi pun.
Saya tidak suka cara tidak manusiawi yang dilakukan orang-orang terhadap sapi. Mereka juga menaruh terlalu banyak bahan kimia ke dalam tubuh sapi untuk membuatnya tumbuh lebih besar dari seharusnya. Dosisnya terlalu berat bagi sapi tersebut, dan ia bisa jatuh sakit. Dan jika organ-organ tubuh sapi itu keluar dari badannya, mereka bahkan tidak memberi pembiusan atau apa pun saat mereka menjahitnya kembali. Mereka hanya melakukan pekerjaan kasar; koboi atau siapa pun bisa datang dan menjahitnya seakan-akan itu adalah hal yang normal. Saya tidak suka segala cara yang tak manusiawi dan tak beradab dalam memperlakukan hewan, seekor hewan yang bermanfaat bagi umat manusia, yang begitu ramah dan begitu lembut.
Itulah sebabnya saat melihat susu, saya tidak ingin meminumnya. Saya tidak suka diingatkan akan kekejaman kita, umat manusia.  Bukan saya fanatik, karena orang masih membutuhkan susu untuk bertahan hidup. Anak-anak membutuhkan susu karena terkadang ibu mereka tidak bisa menyusui. Orang sakit yang terkadang tidak bisa minum atau makan yang lainnya, mereka membutuhkan susu. Saya tidak menganjurkan fanatisme, hanya saja saya tidak suka melihat penderitaan apa pun. Tetapi, susu boleh saja.
Sapi, Ibu Kita yang Kedua
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Florida, Amerika Serikat,
25 Desember 2001 (Asal bahasa Inggris)
Dalam Alkitab, Tuhan berfirman, “Aku ciptakan semua hewan semata-mata untuk membantumu, untuk menjadi temanmu.” Mereka benar-benar membantu kita.  Sapi membantu menyuburkan tanah, dan memberi susu untuk anak-anak yang tidak mempunyai susu ibu, atau memberi susu kepada makhluk apa pun, untuk segala hewan juga, dan mereka memberi susu untuk dibuat keju. Mereka tidak keberatan melakukannya, asalkan dengan cara yang alami, tidak seperti cara sekarang yang menggunakan mesin, begitu menyakitkan. Jadi, saya jarang makan produk susu. Bukannya saya fanatik, tapi saya tidak menyukainya, bahkan sejak dahulu sebelum saya berlatih Metode Quan Yin. Saya jarang minum susu, atau produk susu apa pun. Dan sebenarnya, sapi adalah ibu kedua bagi kebanyakan bayi. Kini, kebanyakan dari kita tumbuh dengan susu sapi, jadi bagaimana bisa Anda membunuh ibu Anda sendiri?
Dahulu, di China, Au Lac, dan Asia, kita terkadang mempunyai ibu kedua seperti itu. Misalkan ada seorang wanita kaya yang  tidak ingin menyusui anaknya karena tidak terlalu nyaman, lalu dia menyewa wanita lain yang juga mempunyai bayi dan memiliki banyak susu sehingga anak-anak mereka berdua bisa minum dari susu itu. Kita menyebutnya inang. Bagaimana bisa Anda membunuh seorang inang seperti itu?  Kita bahkan menyebutnya sebagai ibu kedua, atau ibu asuh. Jadi, bagaimana bisa Anda melakukannya? Di negara kami, kami sangat berterima kasih kepada ibu semacam ini. Kami menyebutnya bukan inang atau ibu susu, tetapi ibu Tuhan, ibu angkat, atau ibu asuh. Dan kita juga menaruh hormat kepada ibu kedua ini. Jadi, sama halnya jika kita melakukan hal itu terhadap sapi-sapi, seolah-olah Anda membunuh ibu yang memberikan Anda susu. Jadi, mengherankan bagaimana orang bisa melakukan hal itu. Sungguh, terkadang saya sangat terkejut atas kegelapan batin manusia.
Kasih dari Induk Sapi
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di China Bagian Barat di daerah gurun pasir yang gersang di Provinsi Ching Hai. Petugas di daerah ini memberlakukan peraturan yang ketat atas jatah 3 kilo air untuk setiap orang setiap harinya, dan penduduk daerah tersebut bergantung pada pengangkutan air jarak jauh yang ditugaskan kepada para tentara lokal. Pada situasi semacam ini, dapat kita bayangkan betapa tragisnya keadaan demikian menimpa hewan-hewan di daerah tersebut.
Suatu hari, seekor sapi tua melepaskan diri dari ikatan tali di lehernya dan berhenti di tengah jalan di gurun pasir, di jalur truk air akan lewat. Setelah beberapa saat, sementara orang-orang mulai berpikir mengapa sapi itu berhenti di tengah jalan, truk berisikan air tiba. Sapi itu tiba-tiba mengarah ke depan truk tersebut, memaksa truk tersebut untuk berhenti. Kemudian sapi itu memandang ke arah truk, sementara supir truk tersebut berusaha untuk mengusir sapi tersebut dengan sia-sia. Situasi ini berlangsung untuk beberapa saat.
Tentara yang bertugas mengangkut air tersebut mengalami hal sama sebelumnya, tapi belum pernah sampai mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Kali ini berbeda. Para pengendara motor dan mobil tidak sabar dan menggerutu dan beberapa orang yang tidak sabar berusaha untuk mengusir sapi tersebut dengan api, tetapi sapi tersebut tetap bertahan. Kemudian pemilik sapi tiba di tempat kejadian dan mencambuk sapi tersebut sehingga kulitnya sobek, tapi sapi itu tetap bertahan dan tidak beranjak sedikit pun.
Rintihan memilukan dari sapi tua dan kurus itu sangatlah tragis sampai-sampai tentara petugas dan beberapa dari pengendara meneteskan air mata. Akhirnya, seorang tentara berkata, "Biarlah sekali ini saya melanggar peraturan! Saya siap untuk mendapat hukuman". Dia mengambil wadah air dengan separuh isi (satu setengah kilo air) dan menempatkannya di depan sapi tersebut, tapi sangat menakjubkan sebab sapi tersebut tidak menyentuh air itu.
Kemudian sapi itu memandang ke arah matahari terbenam dan melenguh. Beberapa saat kemudian seekor sapi kecil muncul dari belakang tumpukan pasir. Sapi tua yang terluka itu memandang dengan penuh kasih sayang pada sapi kecil itu sampai dia selesai minum air. Dengan air mata berlinangan, ibu sapi dan sapi kecil itu saling menjilat mata masing-masing. Tanpa suara, mereka mengekspresikan kasih mereka satu sama lain. Kemudian, sebelum seorang pun mengusir mereka, mereka meninggalkan tempat kejadian itu dengan sendirinya.



 Sumber : http://www.godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar