Kamis, 19 April 2012

SMCH - Vegetarian - SOS: Mengambil Tindakan untuk Menghentikan Pencairan Es di Kutub

“Kita telah melewati titik puncak, tetapi kita belum melewati titik tanpa harapan. Kita masih dapat berputar balik, tetapi dibutuhkan putaran yang cepat.” Dr. James Hansen - ahli iklim terkemuka NASA
Banyak orang yang sadar bahwa pemanasan global memiliki implikasi yang serius terhadap seluruh kehidupan di planet kita. Peternakan hewan, penggunaan bahan bakar fosil oleh pabrik dan pembangkit listrik, mobil serta jenis transportasi lainnya terus melepaskan gas karbon dioksida dan metana dalam jumlah yang sangat besar. Gas-gas ini dapat menciptakan efek “rumah kaca” karena dapat menahan  panas matahari sehingga memanaskan atmosfer di planet kita. Namun, hanya sedikit orang yang mengetahui efek samping yang akan terjadi terhadap planet kita. Apakah Anda tahu bahwa sejak tanggal 3 September 2007 (hanya dalam 6 hari), 69.000 mil persegi Kutub Utara telah mencair dan menghilang? Potongan es itu seperti luas Negara Bagian Florida, AS. Badan ruang angkasa Amerika, NASA, baru-baru ini mengungkapkan fakta tentang foto satelit yang menunjukkan bahwa di musim panas ini saja, 552 miliar ton es telah mencair dari lapisan es Greenland. Ahli iklim NASA Jay Zwally mengatakan, “Dengan kecepatan mencair seperti ini, maka Laut Kutub Utara akan kehilangan lapisan esnya pada akhir musim panas 2012, lebih cepat daripada ramalan sebelumnya.”
Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change -IPCC) yang mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian bersama dengan mantan Wakil Presiden AS Al Gore, sangat peduli terhadap situasi kritis ini. Pada hari Selasa tanggal 15 Januari, Ketua IPCC - Dr. Rajendra Pachauri, berbicara dalam konferensi pers tentang masalah yang sangat mendesak ini dan menyatakan bahwa “perubahan gaya hidup” adalah salah satu hal yang dapat menghentikan perubahan iklim. Pesannya begitu tegas dan jelas: Jangan makan daging, bersepeda, dan jadilah konsumen yang hemat, – itulah cara Anda membantu mengerem pemanasan global. 
Permukaan laut meninggi dan hilangnya habitat
Para ilmuwan benar-benar kuatir karena pencairan es telah menyebabkan semakin cepatnya pemanasan global serta perubahan drastis dalam pola iklim dan cuaca dunia. Alasannya adalah karena lapisan es bertindak sebagai cermin yang memantulkan sekitar 80% panas matahari ke angkasa. Jika kita menghilangkan cermin ini, maka panas matahari akan diserap langsung ke dalam lautan, meningkatkan temperatur air, dan pada gilirannya akan mencairkan lebih banyak es, serta menyebabkan semakin panasnya Bumi dan lautan.
Robert Correll, seorang ilmuwan yang mengepalai Penaksiran Pengaruh Iklim Kutub Utara (Arctic Climate Impact Assessment ), mengatakan, “Jika tidak ada es, maka lautan akan terus memanas, dan itu akan mempercepat proses pemanasan global.” Kenyataannya, menurut penelitian dari Universitas Washington, Michael Steele, temperatur permukaan lautan di Kutub Utara pada saat musim panas mencapai suhu tertinggi dalam sejarah dan ada beberapa tempat yang bersuhu 8 derajat Fahrenheit di atas normal.
Pencairan permukaan es di kutub serta semakin memanasnya suhu lautan di Bumi dapat mengakibatkan bencana yang sangat serius, menurut John Atcheson, seorang ahli geologi yang telah mengepalai berbagai perwakilan pemerintah. Menurut penelitiannya, 400.000 ton gas metana terperangkap dalam struktur es di dasar lautan, dan mungkin akan dilepaskan ke atas atmosfer jika temperatur air memanas beberapa derajat. Hal ini dapat menimbulkan bencana, karena gas metana itu 20 kali lebih kuat daripada gas karbon dioksida yang dihasilkan gas rumah kaca. Jadi, jika gas metana yang terperangkap itu dilepaskan ke atmosfer, maka akan mengakibatkan semakin cepatnya pemanasan global dan dapat menghancurkan kehidupan di planet kita.
Gas lautan yang beracun
Pengaruh pemanasan global terhadap temperatur air laut telah menyebabkan terjadinya “Zona Mati” di lautan. Area air yang sangat luas ini tidak memiliki kehidupan karena hilangnya oksigen dan dilepaskannya gas hidrogen sulfida (H2S). Menurut laporan PBB, saat ini sudah ada lebih dari 200 zona mati. Satu zona muncul di Lautan Pasifik  lepas pantai Oregon, AS pada tahun lalu dan ukurannya telah bertambah 4 kali lipat. Jane Lubchenco, dosen biologi laut di Universitas Oregon mengatakan bahwa hampir tidak ada oksigen di area ini. Jika oksigen lenyap, maka bakteri yang baru akan mengambil alih dan memproduksi gas hidrogen sulfida yang sangat mematikan bagi kehidupan di laut dan Bumi. Dua hal utama penyebab turunnya tingkat oksigen dalam air berkaitan dengan pemanasan global: (1) Sejalan dengan memanasnya air, kemampuan air untuk menyerap oksigen menjadi berkurang; (2) Gangguan dari arus air dan cuaca menghalangi oksigen untuk disalurkan ke area tersebut. Beberapa ilmuwan berkata bahwa hal ini dapat menjadi pertanda buruk akan masa depan laut di Bumi.
Kita dapat memutar arah!
Berita yang baik adalah bahwa kita belum terlalu terlambat untuk memutar arah. Salah seorang ahli pemanasan global dan pimpinan dari penelitian iklim NASA, Dr. James Hansen, baru-baru ini menulis sebuah surat: “Kita belum melewati titik di mana kita tak bisa berbalik. Kita masih bisa berputar balik tepat pada waktunya, namun dibutuhkan tindakan yang cepat ke arah itu.” Berbagai pemerintah serta organisasi telah mengambil tindakan dan berusaha untuk mencari pemecahan yang lebih lanjut. Usaha yang terbaru dilakukan oleh Bali, Indonesia, yang mengadakan sebuah konferensi internasional untuk mempertemukan para diplomat yang mewakili bangsa-bangsa di seluruh dunia untuk berusaha bersama dalam mencari cara untuk menyelamatkan planet ini.
Namun, menurut apa yang sering diperingatkan oleh Dr. Hansen terhadap orang-orang, jawabannya adalah setiap orang harus mengambil tanggung jawab pribadi atas tindakan mereka. Karena itu, perubahan gaya hidup kita sangatlah penting. Itu berarti kita harus lebih sering menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, menggunakan sepeda, menggunakan bahan bakar bio sebagai pengganti bahan bakar fosil, menggunakan peralatan yang hemat energi, mencabut colokan listrik saat tidak memakainya, dan hanya membeli barang yang benar-benar diperlukan. Ini adalah langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan oleh setiap individu untuk menyelamatkan planet yang indah ini. Perubahan yang paling penting, sebagaimana yang ditekankan oleh Ketua IPCC - Dr. Pachauri adalah untuk berhenti makan daging!
Jadi, untuk menjadi bagian dari solusi tersebut, anjurkanlah setiap orang untuk beralih ke pola makan vegetarian dan vegan yang lebih ‘ramah-lingkungan’! Jadikanlah tahun 2008 ini sebagai tahun untuk melestarikan Bumi dan kehidupan seluruh penghuninya.



 Sumber : http://www.godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar