Kamis, 19 April 2012

SMCH - Vegetarian - Refleksi Terhadap Flu Burung

 
Potensi penyebaran influenza avian (juga dikenal sebagai flu avian atau flu burung) adalah salah satu ancaman kesehatan yang paling serius dalam sejarah umat manusia. Penyakit ini menyerang manusia melalui penyembelihan atau memakan hewan yang terinfeksi seperti ayam atau bebek.
 
Konsumsi daging dapat menyebabkan potensi penyebaran flu burung
Influenza telah lama diasosiasikan dengan industri daging. Virus flu pada manusia pertama kali muncul di kota-kota di mana hewan-hewan dijejalkan dalam satu kandang dan disembelih. Sejak tahun 1959, dua puluh empat ledakan penyakit Flu Avian Patogenik Tinggi yang mematikan telah terjadi, semua berasal dari peternakan babi dan unggas, dan pada tahun 1997, epidemi flu dunia nyaris tak terhindarkan sehingga Hong Kong memusnahkan seluruh populasi ayamnya. Mengingat perkembangan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendirikan Jaringan Pengawasan Flu Dunia yang melacak jenis flu baru di peternakan babi dan burung.
Para ilmuwan mengatakan bahwa virus flu avian masa kini harus menjalani sepuluh mutasi khusus untuk bisa menyebabkan epidemi dunia; dan lingkungan yang terbaik untuk mutasi seperti itu adalah di peternakan-peternakan yang memelihara babi, ayam, dan bebek. Babi lebih mudah terkena infeksi baik virus flu manusia maupun burung. Sebenarnya, pada epidemi flu yang lalu, babi berfungsi sebagai “tangki pencampur” untuk mutasi baru yang secara terus-menerus berpindah antara mereka dan manusia. Pada bulan Juli 2005, sebagai contoh, suatu jenis virus yang berasal dari babi muncul di Provinsi Sichuan, China, yang menginfeksi ratusan orang dan membunuh empat puluh orang.
Para ilmuwan telah melacak virus flu burung yang sedang beredar ini sampai ke wilayah Delta Sungai Mutiara di China, suatu daerah dengan sejumlah besar babi, ayam, bebek, dan hewan lainnya yang digunakan sebagai makanan. Dengan sekali hitungan, 134 spesies hewan tersedia untuk dijual di pasar daerah tersebut yang digenangi darah yang mengandung virus serta kotoran. Hewan hidup dijejalkan ke dalam kandang sempit, tanpa makanan dan air dan sering disembelih atau dikuliti hidup-hidup. Lingkungan yang penuh tekanan tinggi ini telah melemahkan sistem kekebalan hewan-hewan lain, dan kombinasi hewan sakit dari berbagai jenis telah memberi peluang kepada virus untuk melintasi spesies secara berulang sampai kepada titik di mana sekarang ini telah menginfeksi 75 spesies.
Menurut Laurie Garret, Anggota Senior untuk Kesehatan Dunia di Dewan Hubungan Luar Negeri dan pengarang yang memenangi Penghargaan Pulitzer atas buku Wabah yang Akan Datang (The Coming Plague), selama manusia tetap berada di bagian akhir rantai makanan hewan yang panjang, virus flu avian akan bermutasi dalam pola rantai makanan ini hingga “skala besar yang semakin sulit untuk dihadapi”.
Sebuah sejarah bencana besar
Para arkeolog yang mempelajari tulang-tulang hewan telah menemukan banyak penyakit berasal dari pengurungan hewan sejak 10.000 tahun yang lalu. Bentuk tulang kaki dari hewan ternak yang hidup pada periode itu banyak yang cacat seperti hewan-hewan yang dikurung, sedangkan manusia yang memelihara mereka mati karena penyakit yang dibawa oleh hewan tersebut seperti TBC, cacar, dan flu. Penyakit yang tidak menjangkiti manusia, seperti penyakit mulut dan kuku muncul pada saat yang sama; penyakit ini telah memusnahkan hewan ternak. Manusia telah tergantung terhadap hewan ternak sebagai makanan mereka, hal ini telah menyebabkan mereka kekurangan gizi, mati akibat kelaparan, dan kerentanan terhadap penyakit. Jadi, secara langsung atau tidak langsung, keterikatan manusia terhadap daging selama berabad-abad telah membawa bencana besar yang lebih buruk daripada perang atau bencana alam yang pernah terjadi.
Sampai dengan hari ini, satu dari tiga orang akan meninggal karena penyakit menular yang kebanyakan berasal dari hewan, dan tiga perempat dari seluruh penyakit yang menyerang manusia berasal dari hewan. Secara kontras, penduduk asli Amerika yang secara tradisional tidak mengurung hewan seperti halnya ras lain, sebenarnya bebas dari penyakit menular sebelum kedatangan bangsa Eropa. Sesudah itu, rangkaian penyakit yang berasal dari hewan yang dibawa dari Eropa dengan cepat telah memusnahkan 90% populasi penduduk asli di benua Amerika.
Secara keseluruhan, di antara sepuluh besar penyebab kematian di negara-negara berkembang adalah penyakit yang berasal dari hewan, dan yang paling utama adalah AIDS. Virus HIV pertama kali muncul dari perdagangan daging monyet dan simpanse. Saat ini, virus HIV telah menginfeksi 65 juta orang dan membunuh 25 juta orang. Para ilmuwan telah memutuskan bahwa virus monyet yang disebut SIV telah berpindah-pindah antara pemburu dan hewan primata setidaknya tujuh kali sebelum menjadi HIV. Hal ini menunjukkan bahwa sejumlah besar perpindahan virus terjadi sebagai akibat dari perburuan. 
Siklus Kekerasan
Metode umum untuk mencegah flu burung adalah dengan membunuh ayam yang membawa penyakit tersebut; karenanya, sekitar 150 juta unggas telah dimusnahkan selama epidemik akhir-akhir ini. Suatu survei yang dikeluarkan PBB menemukan bahwa pembantaian burung biasanya dapat berupa: memukul mereka dengan tongkat dan pipa besi, memasukkan mereka ke dalam kantong plastik kemudian mengubur mereka hidup-hidup di dalam lubang. Dalam sejumlah kasus, bensin dituangkan ke dalam lubang dan membakar hewan tersebut hidup-hidup sebelum mereka dikuburkan. Gas karbon dioksida yang menyebabkan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk atau ditikam serta kematian perlahan juga sering digunakan.
Permainan yang mematikan
Selain peternakan ayam, cara lain agar flu burung bisa menyebar ke manusia adalah lewat perburuan bebek. Bebek adalah pembawa utama flu burung di daerah liar. Ketika para pemburu menembak bebek, maka para pemburu itu menyebarkan virus ke segala hal yang berhubungan dengan bangkai hewan. Sepanjang sejarah, manusia telah menyebarkan penyakit yang berasal dari hewan ke hewan ternak dan manusia lainnya lewat perburuan.
Karena epidemik flu burung, maka beberapa tahun belakangan ini ada banyak negara yang melarang perburuan burung, akan tetapi sebagian besar dari pemburu tetap mengabaikan larangan ini. Sebagaimana seorang pegawai negeri perburuan Lebanon menerangkan, “Para pemburu mungkin tidak mempercayai pemerintah sehingga tidak menganggap serius larangan ini. Mereka tidak menyadari bahwa flu burung telah menjadi masalah kesehatan nasional dan bukan merupakan kegiatan sosial atau ekonomi belaka.”
Flu burung juga telah menyebar lewat perdagangan burung eksotik; beberapa di antaranya telah disita oleh pihak berwenang. Pihak berwenang juga telah menemukan bahwa ayam jantan aduan yang terinfeksi diselundupkan ke luar dari China, dan menurut David Morgan, kepala ilmuwan untuk Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Berbahaya (CITES), “Anda hanya perlu satu spesimen untuk menerobos jaringannya untuk menyebarkan penyakit.”
Masa depan yang lebih cerah adalah mungkin
 
Saat pengurus kesehatan berjuang untuk mengontrol ledakan flu avian yang menguras miliaran dolar ekonomi dunia dan nyawa dari ratusan juta burung maupun manusia; maka kita dapat menyimpulkan bahwa solusi yang lebih cocok selain pembantaian besar-besaran adalah melalui pola makan vegetarian. Saat orang membeli daging di toko dan supermarket, mereka seharusnya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah layak mengambil risiko terkena wabah global demi sepotong daging ini?” Dan jika orang tidak menyimpulkan bahwa kunci hukum alam adalah “membunuh atau dibunuh”, maka mereka hanya perlu mengingat anjing, model penjinakan itu. Hanya dengan berbagi makanan dan tempat berteduh dengan anjing, manusia telah mengubah yang tadinya musuh menjadi seorang penuntun, pelindung, dan “teman terbaik”. Betapa akan lebih mudah jadinya berteman dengan hewan-hewan yang jinak seperti sapi, babi, dan ayam! Membunuh hewan-hewan ini untuk makanan merupakan praktik yang primitif dan tidak beradab yang membahayakan kesehatan semua orang di Bumi. Jadi, mari kita berharap bahwa pendekatan yang lebih manusiawi untuk mengatasi masalah flu avian ini akan segera diterima.
Flu Burung:
Panggilan Alam untuk Membangunkan Umat Manusia
Sesuai namanya, flu burung adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditemukan pada burung, tetapi bisa juga menjangkiti beberapa jenis mamalia lainnya. Manusia yang dijangkiti virus flu ini mempunyai gejala penyakit yang sama seperti flu pada umumnya, tetapi flu burung bisa menimbulkan demam hingga mencapai 41 °C (105,8 °F). Selain itu, organ hati juga akan terpengaruh, sel limfa akan menurun, pernapasan menjadi sulit, dan kegagalan organ bisa terjadi. Oleh karena itu, flu burung dapat menyebabkan kematian. Pandangan mengenai masalah flu burung ini sangat berbeda-beda; ada yang menganggap bahwa masalah ini merupakan sebuah ancaman, yang lain menganggap situasinya terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan obat dengan tujuan untuk meraup keuntungan yang besar; ada juga pihak yang mengatakan bahwa fenomena ini merupakan semacam panggilan untuk menjadi vegetarian. Mungkin setiap kelompok mempunyai sisi kebenarannya, akan tetapi isunya perlu ditelaah lebih lanjut.
Pertama-tama, sangat penting untuk dimengerti bahwa virus yang tidak kelihatan ini adalah sesuatu yang sangat kecil di luar imajinasi kita. Jika seseorang menulis sebuah titik dengan sebuah pena, titik itu dapat mengakomodasi ratusan juta virus! Dan juga, virus sudah ada jauh sebelum manusia ada dan sudah berkembang seperti manusia untuk bertahan hidup terhadap segala perubahan kondisi dan berjuang untuk keberadaannya. Ilmuwan menyebut proses ini sebagai “mutasi”, seakan-akan virus itu muncul secara tiba-tiba dan otomatis. Pada kenyataannya, bagaimanapun, secara sadar organisme ini telah berevolusi. Dan selama manusia terus mengabaikan keberadaan kesadaran dalam tumbuhan, hewan, dan bahkan mikroorganisme; maka kita akan gagal menemukan solusi efektif terhadap masalah yang disebabkan oleh virus ini.
Dalam memandang isu mengenai flu burung ini, seseorang pertama-tama harus mengerti mengapa virus itu ada. Seperti bakteri dan organisme mikroskopis lainnya, mereka hidup bersama dengan manusia untuk saling bertahan hidup. Sistem pencernaan kita, dari mulut ke usus,  terisi oleh bakteri dan virus yang hidup secara diam-diam di berbagai organ, termasuk kulit dan saraf. Jadi, pada dasarnya manusia sudah dipenuhi oleh makhluk kecil yang kelihatannya seperti musuh, tetapi mereka pada dasarnya adalah teman yang bisa membantu pencernaan kita supaya dapat berfungsi dengan benar, merangsang sistem kekebalan sehingga kita bisa bertahan di berbagai lingkungan, dan ketika kita meninggal dapat berfungsi sebagai pembuangan sampah yang akan menguraikan tubuh kita, mengembalikan mereka ke bumi dan memurnikan alam. Dengan demikian, mikroorganisme memainkan peranan yang sangat penting dalam metabolisme dan kelangsungan hidup makhluk hidup dan bukanlah sebagai parasit tak berguna yang harus dibasmi.
Di bawah hukum alam, virus menemukan tempat yang cocok untuk tumbuh dan berkembang, memastikan supaya kehidupan berfungsi secara harmonis. Akan tetapi, ketika umat manusia membawa malapetaka dengan menghancurkan habitatnya, maka virus akan berusaha untuk bertahan di mana mereka dapat diibaratkan seperti pengungsi yang dipaksa untuk berimigrasi. Di dalam kehidupan manusia, sementara imigran generasi pertama berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, generasi baru yang lahir di lingkungan setempat berangsur-angsur tersesuaikan. Sama halnya, sekali virus tersesuaikan di tempat yang baru, maka eksistensinya akan menjadi lebih mudah. Sayangnya, umat manusia pada umumnya terus melakukan kesalahan dan menciptakan masalah hingga taraf di mana virus tersebut menjadi tak dapat dikendalikan.
Sindrom Pernapasan Akut (SARS) adalah contoh yang bagus untuk proses ini. Dalam enam bulan, SARS menyerang 29 negara, menginfeksi 8.400 orang, dan menyebabkan 813 orang meninggal. Asia sendiri menderita kerugian ekonomi sebesar US$  40 juta, serta kerusakan mental dan emosional yang tidak bisa diperkirakan. Sebagai contoh, pasien SARS dan keluarganya dianggap sebagai monster berbahaya yang ditakuti dan dihindari oleh masyarakat umum. Situasi ini bagaikan sebuah skenario tragis terhadap kaum lepra di abad pertengahan dulu!
Ilmuwan dewasa ini menyimpulkan bahwa sepertinya penyebab dari penyakit SARS adalah virus parasit yang dibawa oleh kelelawar, yang kemudian menular ke musang. Manusia turut terinfeksi SARS karena mengonsumsi hewan ini. Hanya sedikit jumlah manusia yang memakan musang, akan tetapi kelakuannya menyebabkan bencana yang luar biasa terhadap umat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan terhadap keseimbangan alam lambat laun dapat menimbulkan akibat yang tidak terbayangkan.
Jika manusia gagal belajar dari kejadian ini dan tidak melakukan tindakan pencegahan yang semestinya, maka akibat dari flu burung ini akan menimbulkan bencana yang jauh lebih besar. Untuk menggambarkan peristiwa ini, ada pepatah yang mengatakan “meminum racun untuk melepas dahaga”. Kata-kata ini mungkin bukanlah suatu hal yang berlebihan. Metode yang sekarang digunakan adalah dengan pembantaian ternak secara massal. Sebagai contoh, di tahun 1997, flu burung yang muncul di beberapa bagian Asia menyebabkan enam kematian  dan menginfeksi delapan belas korban lainnya. Selain  itu, ada sekitar 1,5 juta ayam dimusnahkan dalam waktu tiga hari. Dan tahun ini, setelah flu burung merebak lagi, diperkirakan sekitar 150 juta unggas dimusnahkan dengan dibakar hidup-hidup. Jika Anda pernah terbakar atau kena panas, maka Anda tentunya dapat turut merasakan sakit yang dialami olah makhluk ini. Dengan demikian, ada satu pertanyaan yang muncul: Apakah manusia tidak akan dihukum atas perilakunya sendiri saat melakukan pembunuhan keji seperti itu? Mungkin kita bisa mengabaikan kemungkinan balas dendam dari burung-burung yang mati dalam kebencian ini. Tetapi, bisakah kita mengabaikan kenyataan bahwa virus yang mereka miliki akan dikendalikan oleh insting mereka untuk bertahan hidup dan mencari tempat yang lain? Sekarang kita tahu bahwa babi telah menjadi tempat terjangkitnya virus. Akankah kita terus dengan pembunuhan semacam ini? Setelah kita membunuh semua babi, makhluk apa lagi yang akan menjadi daftar korban berikutnya? Dan jika daftar terus bertambah, akankah daftar itu nantinya akan berakhir pada manusia?
Mungkin sangat sedikit orang yang memberikan pertimbangan mendalam mengapa ada begitu banyak ternak tidak berdosa yang harus dibunuh. Untuk menurunkan harga daging, industri peternakan modern menaruh  begitu banyak hewan di dalam ruangan yang sangat sempit. Jadi, jika ada salah satu hewan yang jatuh sakit, maka penyakitnya akan menyebar dengan cepat. Dengan demikian, manusia merasa harus menyelamatkan diri mereka sendiri dengan mengorbankan banyak ternak yang tidak berdosa.
Penyakit Sapi Gila, penyakit kaki-dan-mulut pada babi, SARS dari musang, dan flu burung;  semuanya berasal dari penyimpangan manusia terhadap hukum alam, dan sebagai akibat dari banyaknya hewan yang kehilangan nyawa. Manusia adalah penyebab utamanya. Kita membunuh hanya karena ingin memuaskan nafsu kita. Apa yang kita lakukan terhadap makhluk lain, maka akan dilakukan terhadap kita juga. Bahkan seekor virus yang kecil pun mempunyai keinginan untuk bertahan hidup, apalagi seekor hewan! Manusia  mempunyai keinginan untuk hidup sehingga hak asasi manusia dihormati. Hanya saja kita harus meneruskan semangat yang sama untuk segala sesuatu di alam ini, menghormati sang Pencipta dan menghormati segala bentuk kehidupan. Marilah kita memperlakukan hewan sebagai  teman kita dengan menyayangi dan merawat mereka. Sebagai balasannya, mereka akan membayar kita dengan berkah tanpa batas dan kejutan yang menyenangkan. Marilah kita berdoa semoga hari tersebut akan segera datang.



 Sumber : http://www.godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar