Kamis, 19 April 2012

SMCH - Vegetarian - Kesadaran dan Kecerdasan Satwa


Dari tanggal 17 hingga 18 Maret 2005, konferensi terkenal “From Darwin to Dawkins: The Science and Implications of Animal Sentience” (Dari Darwin sampai Dawkins: Ilmu Pengetahuan dan Hubungannya dengan Kesadaran Hewan) yang diselenggarakan di Pusat Konferensi Ratu Elizabeth II di London telah menarik lebih dari 600 peserta dari kira-kira 50 negara. Acara itu merupakan suatu simposium pertama yang membahas kesadaran dan kecerdasan satwa yang diselenggarakan secara besar-besaran.
Pembicara pertama, yang terkenal sebagai ahli perilaku hewan dari Universitas Oxford, Jurusan Zoologi (ilmu tentang hewan), Profesor Marion Dawkins, menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan yang tidak hanya dari segi perlakuan manusia terhadap hewan, tapi juga dari segi kebutuhan hewan.
Pembicaraan Profesor Dawkins dilanjutkan dengan pembahasan topik utama yang sangat menarik oleh Dr. Jane Goodall, salah satu pakar primata terkemuka di dunia. Berdasarkan pada bukti yang berhubungan dengan tingkah laku dari hasil kerjanya selama 45 tahun dengan simpanse, Dr. Goodall memperlihatkan bukti yang meyakinkan bahwa simpanse berpikir sangat mendalam tentang hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya dan tahu cara membina hubungannya dengan yang lain. Melanjutkan penemuannya terhadap makhluk-makhluk yang lain, ia ingin membangkitkan kesadaran dalam diri kita tentang bagaimana memperlakukan hewan-hewan pertanian. Ia mengatakan bahwa pembedahan hidup-hidup merupakan tindakan yang “amoral”. Ia menambahkan bahwa sangatlah penting bagi masa depan planet ini agar anak-anak belajar memilih makanan yang tepat.
Selain itu, Profesor Irene Pepperberg dari Institut Teknologi Massachutsetts meringkas hasil kerjanya dengan Alex, si burung beo abu-abu yang mampu menguasai dasar-dasar percakapan dan konsep kognitif yang kompleks. Di samping itu, Profesor Marc Bekoff dari Universitas Colorado berbicara tentang keberadaan yang sangat jelas dari emosi hewan, dan Profesor Tom Regan dari Universitas Negara Bagian North Carolina membahas tentang hak-hak moral dari hewan. Pertanyaannya adalah “siapa” hewan itu, bukan “apa” hewan itu.
Pembicaraan sepanjang konferensi telah memperlihatkan banyak bukti tentang kepekaan hewan. Konferensi itu telah membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan hewan, dan juga pengetahuan tentang kecerdasan dari teman-teman satwa kita yang jauh lebih pintar daripada anggapan banyak orang.
Hewan-hewan peternakan, sebagai contoh, sudah lama dipandang memiliki kecerdasan rendah dan tidak berperasaan, namun studi menunjukkan bahwa mereka mempunyai emosi dan kecerdasan yang tajam.
Domba, sejak lama diolok-olok karena mentalitas yang suka bergerombol, ternyata memiliki rasa individualitas yang tinggi dan jauh lebih kompleks daripada yang kita sadari sebelumnya, mereka mampu mengenali paling sedikit sepuluh wajah manusia dan lima puluh domba lainnya, walau sudah berlalu selama dua tahun. Keith Kendrick, profesor neurobiologi pada Institut Babraham di Cambridge, Inggris, menemukan bahwa domba bereaksi terhadap ekspresi wajah, seperti manusia. Mereka lebih suka wajah tersenyum daripada meringis. (Neurobiologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang struktur dan fungsi sel dan sistem saraf). Profesor Kendrick juga menjelaskan tentang bagaimana domba dapat membentuk kasih sayang yang kuat terhadap orang-orang tertentu, mereka dapat menjadi depresi karena lama berpisah dan menyambut mereka dengan antusias setelah mereka kembali, bahkan setelah tiga tahun.
Hal sama ditemukan pada babi yang memiliki kapasitas otak yang melampaui konsep umum dari hewan yang diternakkan. Dr. Michael Mendl, dari Universitas Brisbol, Inggris, sudah mempelajari babi selama enam belas tahun dan bersama dengan koleganya telah menemukan bahwa babi adalah ahli dalam penipuan, mereka dapat dengan sengaja menyesatkan babi lainnya jika dengan menggunakan cara itu nantinya ia akan mendapatkan lebih banyak makanan.
Dan dari universitas yang sama, Christine Nicol, profesor kesejahteraan hewan telah menemukan bahwa ayam juga harus diperlakukan secara individu berdasarkan kebutuhan dan masalahnya: “Kemampuan belajar yang luar biasa dan inovasi kebudayaan sudah terungkap,” sebutnya.
Penelitian juga memperlihatkan bahwa ayam memiliki suatu tingkatan luar biasa dalam mengendalikan dirinya terhadap makanan, dan ada keinginan untuk menunda kepuasan jika mereka berpikir bahwa porsi yang lebih besar pasti akan diberikan kemudian. Ayam juga dapat memperlihatkan perilaku sosial yang cerdas, mampu mengenali dan mengingat lebih dari seratus ayam lainnya, serta dapat mengekspresikan lebih dari tiga puluh macam vokal.
Sekalipun begitu, hasil penelitian itu yang paling mencemaskan kelompok-kelompok kesejahteraan hewan adalah bahwa ayam bisa merasakan sakit. Uji coba telah menunjukkan bahwa saat mereka mengalami ketidaknyamanan atau kepincangan, mereka lebih memilih makanan yang dicampur dengan morfin. Sebaliknya, ayam yang dalam keadaan sehat total memilih makanan yang tidak dicampur dengan obat pemati rasa.
Hasil dari penemuan Profesor Webster dan koleganya telah menunjukkan kemampuan sapi dalam mengekspresikan perasaan. Mereka dapat saling mengenal satu dengan lainnya. (Silakan lihat News #157, "Hewan Juga Mempunyai Perasaan," kata Ilmuwan)
Konferensi itu juga membahas tentang penyajian makanan yang beretika. Kemajuan dari gerakan membela kesejahteraan hewan internasional dan adanya perundang-undangan telah mempengaruhi kesejahteraan hewan di Amerika dan China. Sebagai kesimpulan, para peserta dengan antusias mendukung penemuan tersebut sebagai suatu misi untuk membela hewan.
“Konferensi ini telah menggugah PBB, WTO, World Organization for Animal Health (OIE) dan anggota-anggota pemerintahan untuk bergabung menyadarkan masyarakat bahwa hewan sangatlah peka dan dapat merasakan penderitaan. Oleh sebab itu, kita semua mempunyai kewajiban untuk melestarikan habitat hewan liar dan mengakhiri sistem pertanian yang kejam serta praktik yang dapat mengakibatkan penderitaan terhadap hewan.”
Oleh karena itu, ”From Darwin to Dawkins: The Science and Implications of Animal Sentience" (Dari Darwin sampai Dawkins: Ilmu Pengetahuan dan Hubungannya dengan Kesadaran Hewan) merupakan suatu dorongan bagi ilmu pengetahuan untuk mengungkap Kebenaran yang sudah lama dimengerti oleh para praktisi rohani — hewan itu mempunyai kesadaran dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh manusia. Dalam dekade mendatang, pengetahuan ini pasti akan memiliki pengaruh yang amat besar terhadap perlakuan manusia terhadap hewan dan nantinya akan menyebarkan paham vegetarian secara luas. Selain itu, peristiwa-peristiwa penting telah terungkap dengan cepat. Guru telah mengangkat kesadaran umat manusia dan dunia hewan melalui upaya-Nya yang terus-menerus; penuh kasih, anugerah, dan berkah.
Untuk mendapatkan informasi lebih detail tentang konferensi ini, silakan berkunjung ke:
http://www.ciwf.org.uk/Cn/index.html (dalam bahasa China Sederhana)
Hewan adalah Makhluk yang Pintar
Sudah menjadi kepercayaan umum di dalam masyarakat kita bahwa ikan adalah makhluk yang bodoh. Teori ini berubah dengan cepat sejak penemuan terbaru memperlihatkan bahwa sebenarnya ikan adalah makhluk pintar yang tidak pantas dipandang sebagai “si bodoh” dalam kerajaan hewan, sebaliknya mereka adalah makhluk yang cerdik dan bahkan berbudaya.
Peneliti dari Universitas Edinburgh, St. Andrews, dan Leeds di Inggris sudah mengumpulkan bukti kuat untuk menghentikan pandangan bahwa ikan adalah makhluk "berotak kacang" dengan daya ingat "tiga detik".
Ilmuwan mengamati bahwa ikan mengenali kawanannya dan berenang bersama-sama. Mereka juga menghormati martabat sosial ikan yang lain. Sudah ditemukan juga bahwa mereka menggunakan peralatan untuk membangun sarang yang kompleks dan memperlihatkan daya ingat yang panjang.
Dalam hal kognisi, hewan laut sebanding dengan kera dan monyet. Contoh yang paling luar biasa adalah ikan lumba-lumba. Penampilan akrobatik oleh sekolah ikan lumba-lumba secara luas dikenal sebagai hasil latihan yang berulang-ulang. Tentunya ikan lumba-lumba mengikuti instruksi, tetapi mereka juga mampu melakukan perincian dari tiap-tiap aksi secara spontan oleh mereka sendiri. Mereka mencipta tarian mereka sendiri. Hal itu berarti ikan lumba-lumba harus berkomunikasi dengan sesama terlebih dahulu untuk memeragakan pertunjukan yang serasi. Tingkat kepintaran hewan dapat diukur dengan membagi berat otak dengan berat badan. Hasilnya menempatkan ikan lumba-lumba pada tingkatan yang lebih rendah satu tingkat di bawah manusia dan jauh lebih tinggi daripada hewan primata dalam skala ini.
Sebuah penelitian baru-baru ini oleh ilmuwan Inggris menunjukkan banyak hewan jauh lebih pintar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dalam sebuah pengujian pengenalan wajah, seekor anak domba mampu membedakan wajah-wajah yang ditayangkan berulang kali dalam layar televisi. Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagaimana simpanse, babi juga mampu mengendalikan joystick (tongkat pengontrol) di depan layar komputer. Mereka dapat dilatih untuk menguasai kemampuan beraksi dalam waktu yang lebih cepat daripada anjing. Beberapa babi dapat berperan sebagai anjing penjaga, dan bahkan ada yang mampu mendeteksi ranjau dengan hidungnya karena mereka memiliki alat pencium yang sudah sangat berkembang. Di beberapa tempat di Prancis, petani mengandalkan babi untuk memanen truffle, sejenis jamur yang sangat mahal yang tumbuh di bawah tanah.
Ilmuwan Inggris juga mengamati ayam yang belajar menyetel pengatur suhu di gudang. Seorang ilmuwan Amerika mempelajari tingkah laku sosial ayam dan menemukan bahwa ayam jantan berkotek untuk memberitahu ayam betina bahwa dirinya sudah menemukan makanan, dan mengekspresikan pendapatnya dengan mengeluarkan suara dalam berbagai nada. Ketika dia melihat makanan yang dia sukai, dia segera mengeluarkan serentetan bunyi kotek yang cepat dan ayam-ayam betina dengan cepat berkumpul untuk menikmatinya. Akan tetapi, jika hanya makanan biasa yang diberikan, ayam jantan berkotek dengan pelan untuk memperlihatkan kekecewaannya dan menarik minat hanya separuh dari jumlah ayam. Para ilmuwan yang mempelajari burung juga menemukan banyak di antara mereka ternyata sangat pintar. Sebagai contoh, burung gagak sangat pintar memanfaatkan kekuatan manusia. Contohnya, mereka menaruh kacang yang tidak bisa mereka buka di jalan raya yang sibuk sehingga lalu lintas akan melindas dan membukanya untuk mereka.
Para ilmuwan melihat seekor sapi tampak sangat gembira setelah mempelajari hal-hal baru. Peternak sapi berpengalaman juga menemukan bahwa sapi memiliki warna kesukaan. Hewan ini sangat menyerupai manusia dalam tingkah laku sosial; mereka memperhatikan satu sama lain, dan bahkan membesarkan anaknya seperti manusia. Anak sapi menyerupai bayi, berlaku kekanak-kanakan untuk menarik perhatian ibunya.
Menurut Dr. Jane Goodall yang setia mempelajari simpanse, pengujian kecerdasan menunjukkan bahwa hewan ternak adalah hewan cerdas, maka seharusnya tidak dikonsumsi manusia. Sejak dia menyadari fakta ini, dia segera berhenti memakan daging dan menekankan agar manusia meminimalkan konsumsi daging.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs Internet berikut:



 Sumber : http://www.godsdirectcontact.or.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar