Selasa, 24 April 2012

Manjusri, Sang Arsitek Dunia

Dalam legenda bangsa Nepal, Manjusri Bodhisattva dikenal sebagai seorang Arsitek Dunia. Istana-istana di alam surga (devaloka) dan neraka (naraka) dirancang oleh Manjusri sang arsitek. Bahkan daratan bumi beserta samudranya yang luas semunya dikonstruksi oleh Manjusri. Untuk membantu pekerjaannya, Manjusri beremanasi menjadi deva Visvakarman (dewata arsitek Hindu). Bersama dengan Visvakarman, Manjusri membangun dunia ini. Kota Kathmandu adalah salah satu maha karya Beliau. Manjusri adalah Bodhisattva agung yang membawa kebudayaan dari Pancha Sirsha Parvata di Cina (Wutai Shan di Tiongkok) ke Nepal.

Berdasarkan atas amanat Adi Buddha (Dharmakaya), Manjusri membangun dunia ini dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya yang seluas samudra. Manjusri juga mengirimkan emanasinya berupa kura-kura besar berwarna emas sebelum terbentuknya dunia, di mana kura-kura tersebut adalah pondasi dari dunia ini.

Dikisahkan setelah kedatangan Visvabhu (Vessabhu) Buddha di Nagavasa, Manjusri bermeditasi pada perubahan dunia ini dan dengan pengetahuan agungnya menemukan Svayambhu-jyotirupa, yang dengan sendirinya ada, dalam wujud api muncul keluar dari bunga teratai di danau Nagavasa. Kemudian Manjusri berfleksi pada dirinya sendiri; “Biarkanlah aku berdiam di tempat suci tersebut dan namaku akan diagungkan di seluruh dunia.” Dan pada saat itu juga, dengan mengumpulkan para pengikutnya yang terdiri dari para petani dan seorang raja bernama Dharmakar yang mengambil wujud sebagai deva Visvakarman, bersama dengan dua istrinya (Devi). Orang-orang tersebut berangkat meninggalkan Sirsha Parvata menuju Naga Vasa. Setelah tiba dan mengadakan puja pada “Yang Ada dengan Sendirinya” (Svayambhu), ia mulai bernamaskara mengitari danau dan berdoa memohon pertolongan Svayambhu. Ketika sampai pada lingkaran kedua, ketika ia mencapai pusat batas pegunungan di sebelah selatan, ia menjadi puas karena telah menemukan tempat yang terbaik untuk mengeringkan air di danau tersebut. Dengan pedangnya, Manjusri membelah gunung tersebut dan air mengalir keluar melalui belahan gunung tersebut. Akhirnya dasar dari danau tersebut menjadi kering. Ia kemudian turun dari pegunungan dan mulai berjalan mengelilingi lembah (Kathmandu).

Manjusri adalah arsitek dunia, sedangkan Padmapani (Avalokitesvara) adalah pembentuk semua mahluk hidup yang ada di bumi ini. Dalam Manjusri Namasamgiti, Manjusri dipanggil sebagai Adi Buddha, sang Dharmakaya (nama lain dari Nirvana atau Ke-Tuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha).

Adanya Adi Buddha, Manjusri dan Avalokitesvara berusaha memberitahu kita bahwa kita ada bukan karena kebetulan saja. Dalam dunia samsara ini, tidak semata-mata hanya ada penderitaan saja. Namun di baliknya ada suatu kebijaksanaan dan cinta kasih, yang membuat dunia ini menjadi indah. Kebijaksanaan (Manjusri) dan cinta kasih (Avalokitesvara) itu membawa kita pada Pencerahan Sejati (Adi Buddha). Oleh karena itu legenda Manjusri sebagai arsitek ini janganlah dipahami sebagai suatu kisah yang theistik, tetapi pahamilah bahwa legenda tersebut mencoba untuk mengatakan pada kita bahwa sebenarnya kebijaksanaan itu dapat ditemukan dalam semua hal, sebagaimana halnya “Buddha ada di mana-mana”. Bahwa cinta kasih yang merupakan sifat dari Tathagatagarbha itu ada dalam diri semua makhluk. Menyadari bahwa Nirvana dan Samsara tidaklah berbeda, seseorang alhirnya mencapai Pencerahan Sejati.

Di Timur Jauh, Manjusri juga beremanasi sebagai seorang Bhiksu Jepang bernama Gyoki (668-749 M). Mahabhiksu Gyoki sangat aktif dalam kegiatan sosial, bahkan turut membangun jalan-jalan, jembatan, irigasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan bangunan dan arsitektur vihara-vihara Buddhis.

Apa itu Vastu dan Silpa Shastra?

Pada masa sekarang ini telah banyak buku-buku tentang ilmu dan desain arsitektur yang muncul. Pengetahuan tentang arsitektur berkembang seiring dengan zaman. Tak jarang pula, Feng Shui yang merupakan ilmu arsitektur Tiongkok kuno, pun sangat sering dipakai di masa sekarang ini dalam merancang desain arsitektural yang modern. Tidak hanya di Tiongkok, di India sendiri, sejak zaman dahulu kala telah terbentuk ilmu arsitektural dan bangunan bernama Vastu.

Vastu Shastra adalah ilmu arsitektur kuno dari India. Kata ‘Vastu’ artinya tempat tinggal (shelter), sedangkan ‘Shastra’ adalah pengetahuan. Tujuannya adalah menyelaraskan bentuk dan tata letak suatu bangunan dengan unsur alam (api, air, tanah, udara, ether) dan medan magnet bumi agar tercapai kesejahteraan, kebahagiaan, kemakmuran dan kesehatan. Dengan kata lain Vastu adalah ‘Feng Shui’nya bangsa India.

Ada 4 kategori dari Vastu: bhumi (bumi tempat bangunan dibangun), prasada (struktur), yana (barang yang berpindah) dan sayana (furnitur). Teks-teks Vastu Shastra ada banyak mulai dari : Manasara Silpa Shastra (oleh Manasara), Mayamatam (oleh Maya), Viswakarma Vaastushastra (oleh Viswakarma), Samarangana Sutradara (oleh Raja Bhoja), Aparajita Priccha (dialog antara Viswakarma dan anaknya Aparajita, ditulis oleh Bhuvanadevacharya) dan Silparatna.

Vastu Shastra juga mencakup perencanaan tapak, orientasi, zoning, ruang dan hubungan yang proporsional antara bagian-bagian dari sebuah bangunan.

 _/\_
The Siddha Wanderer




Sumber : http://dhammacitta.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar