Rabu, 25 April 2012

Hukuman Mati Jeanne d’Arc

Cerita ini terjadi pada permulaan abad yang ke-15.

Jacobus d’Arc dengan isterinya Isabella Romme tinggal dalam sebuah kota kecil bernama “Domremy”. Domremy letaknya di Perancis, di perbatasan propinsi Champagne – Bourgondie dan Lotharingen.
Jacobus d’Arc dan Isabella hidup saleh, berdamai dengan tetangganya, serta sopan santun dalam segala perbuatannya dan dalam segala percakapannya. Mereka tidak kaya, sebaliknya Jacobus d’Arc dan Isabella terpaksa membanting tulang, dari pagi hingga petang mereka bekerja dengan rajin dan teliti untuk mencari nafkah. Meskipun demikian, kedua suami-isteri itu berhati tentram. Lagipula dengan senang hati masih menolong sesama manusia yang miskin.

Keadaan disekeliling kota Domremy sunyi, indah dan subur, nyata benar daerah yang elok itu diberkati oleh Tuhan. Padang rumput yang menghijau seluas-luas mata memandang banyak terdapat disitu. Bidang gandum yang menyerupai gelombang emas yang tertiup angin, kebun buah-buahan serta bukit-bukit anggur yang menghampar. Dan diantaranya sungai Meuse yang kecil itu mengalir berliku-liku tidak teratur. Begitulah keadaan tanah air Jeanne, pemudi kota Orleans.

Jacobus d’Arc memiliki 3 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Anak-anak itu dididiknya secara Katolik sejati dan secara sederhana. Dari kecil anak-anak itu sudah menolong ibu-bapanya dikebun dan dirumah. Demikian pula anaknya yang bungsu, yaitu Jeanne. Gadis itu amat menyenangkan ibu-bapanya. Mujurlah, rupanya pada Jeanne tertanam berupa-rupa benih kebajikan.

Jeanne itu pengiba, lemah-lembut, rendah hati dan rajin bekerja. Lagipula rupanya Jeanne taat berbakti kepada Tuhan dan Bunda Maria. Tetapi Jeanne yang pandai bekerja dikebun dan dirumah, Jeanne yang cekatan mangantih dengan penyering itu tidak pandai belajar. Membaca dan menulis ia tidak bisa, bila berdoa tidak pernah ia memakai buku. Dalam cerita ini membuktikan bahwa Tuhan tidak membutuhkan kepandaian semata. Kepandaian itu berfaedah, tetapi hanya kebajikanlah yang berjasa.

Jeanne bertabiat riang, tetapi meskipun demikian kadang-kadang mukanya yang jernih itu berubah menjadi muram, cahaya matanya berganti pudar. Apakah yang terpikirkan oleh gadis itu?
Domremy letaknya terpencil, jauh di pegunungan. Meskipun demikian, sekali-kali juga berika berita yang mengkhawatirkan sampai di kota Domremy. Sri Baginda Raja Charles ke-6 ditimpa penyakit gila. Putranya, Pangeran Charles ke-7 belum tentu akan dinobatkan menjadi raja Perancis.

Negri Perancis sedang kacau! Bangsawan yang bergelar “Le Duc de Bourgondie” bermusuhan dengan “Le Duc d’Orleans”. Ya, kedua bangsawan itu berusaha sekuat-kuatnya untuk mengembangkan kekuatannya. Dengan cerdik dicarinya tipu muslihat, supaya Pangeran Charles ke-7 tidak bertakhta di Perancis. Mereka tahu betul mempergunakan pepatah : “Tahanlah jerat di tempat yang genting”. Tetapi, bila gajah berjuang bersama gajah, pelanduk mati ditengah-tengah. Begitulah juga di Perancis , rakyat terdesak dan menderita. Laskar perancis teradu, bagian yang satu melawan yang lainnya.

Dan Pangeran Charles ke-7 tidak berdaya, tidak mempunyai kepastian. Kadang-kadang murka, mengamuk amat dahsyat dan adakalanya ia termangu-mangu berputus asa.
Biduk satu, nahkoda tiga! Mana boleh! Musuh Perancis mengintai dengan senang! Menunggu saat yang terbaik untuk menyerang! Itulah yang menyebabkan pikiran Jeanne menjadi muram. Ia cinta kepada tanah airnya! Oo, Jeanne sudi mengorbankan dirinya, asal saja tanah Perancis menjadi tentram. Tentu, waktu sembayang juga ia berdoa dan memohon rahmat dan pertolongan Tuhan untuk kerjaan Perancis yang malang ini.

Dekat rumah Jacobus d’Arc adalah bukit dan dipuncak bukit itu, tepatnya di bawah tebing batu yang curam tampak air membual-bual. Air kolam itu bening laksana kaca dan begitu juga kata orang, air itu baik untuk dipakai sebagai obat. Di pinggir kiri ada sebuah batang pohon yang umurnya sudah tua, daunnya yang rimbun membayang di didalam air. Di tengah dan di tepi sebelah sana tumbuh sejenis rumput yang panjang tempat burung-burung bersembunyi. Dekat disitu berdiri sebuah patung Bunda Maria yang selalu terhias bunga.
Jeanne suka sekali duduk beristirahat dibawah pohon itu. Pada suatu hari Jeanne sedang duduk diatas akar pohon itu sambil menjaga kambing bapanya yang mencari rumput muda, Jeanne terkejut. Tiba-tiba terperanjatlah ia! Cahaya terang mengelilinginya! Jeanne berdiri hendak mengumpulkan kambingnya. Pada sangkanya itu adalah halilintar yang biasanya mendahului hujan, Tetapi apakah itu?

Dalam cahaya Jeanne melihat seorang manusia, seorang manusia yang bersayap! Dengan tenangnya manusia itu memandang pada Jeanne. Karena dilihatnya gadis itu ketakutan, ia memperkenalkan dirinya : “Jangan takut Jeanne! Aku adalah Malaikat! Namaku Michael. Bersiaplah Jeanne! Berdoalah yang sungguh-sungguh, pergilah ke misa Kudus setiap mungkin. Tuhan akan menolong Perancis! Dan ….. Tuhan akan memakai tenagamu! Sekian Jeanne sampai berjumpa lagi.” Sekonyong-konyong hilanglah cahaya itu, Jeanne menggosok-gosok matanya. Bermimpikah ia?! Terang kelihatan, nyata terdengar. Jeanne duduk kembali, bertopang dagu, termenung sejenak, kemudian gadis itu pulang.

Rahasianya akan disimpannya baik-baik. Pada bibirnya yang terkatub itu bermain senyum simpul. Pada matanya yang memandang jauh kedepan itu terbayang harapan yang besar. Jeanne mulai menyiapkan dirinya sesuai kehendak Tuhan. Betulkah, Malaikat Michael akan datang lagi???.....
Ya betul, Malaikat Michael datang lagi, didampingi oleh Santa Katarina dan Santa Margareta. Berulang-ulang mereka mengunjungi Jeanne, supaya berani dalam menghadapi beban berat yang akan diembannya. Pada suatu ketika bertitahlah Malaikat Michael : “Jeanne, sekarang saat yang dinantikan telah tiba. Engkau harus berangkat! Pergilah kepada tuan Gubernur dikota Vaucouleurs. Mintalah kepadanya, kiranya sudi mengantarkan enkau kepada Raja Charles.”

Jeanne terkejut! Berangkat dan menghadap Raja?! “Saya tidak pandai berbahasa Perancis yang sopan. Masakan akan diterima! Dan apakah yang harus kukatakan?”. Tetapi Malaikat Michael tetap mendesak : “Jangan khawatir,Jeanne! Pikiranmu akan diterangi Roh Kudus!”
Maka pada suatu hari Jeanne meminta izin kepada ibu-bapanya. Mereka tentu saja heran mendengar permintaan Jeanne yang aneh itu. Mula-mulanya bapanya tertawa : “Apa Jeanne? Engkau seorang gadis hendak mau berperang, hendak membebaskan Perancis!? Mustahil, jangan engkau gila begitu! Bermimpikah kamu Jeanne!?”

Kemudian karena Jeanne terus memaksa, Jacobus d”Arc amat marah kepada anaknya itu. Hanya pamannya yang percaya atas keseriusan gadis itu. Paman itu juga yang mengantarkan Jeanne ke kota Vaucouleurs.
Gubernur Robert de Baudricourt memandang kepada Jeanne dengan takjub … dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak percaya. Bahwa peristiwa itu tidak mungkin terjadi dan Jeanne disuruhnya pergi. Tetapi Jeanne tidak berkecil hati dan berputus asa. Berulang-ulang ia kembali dan memohon dengan sangat, supaya dapat menghadap Raja Charles. Akhirnya, karena kesal, Jeanne dibawanya juga di istana tempat kediaman Raja Charles.

Ketika Jeanne tiba, banyak yang sudah hadir disitu. Raja Charles berpakaian sederhana saja dan tidak seorangpun yang menunjukkan padanya akan Raja Charles. Walaupun begitu, oleh suatu penerangan batin, Jeanne dapat mengenalinya. Dengan tidak ragu-ragu, ia member hormat secara adat Perancis. Suaranya jelas dan nyaring terdengar sampai tiap sudut : “Hamba, ialah pemudi yang akan membebaskan tanah Perancis. Bukan karena kekuatan hamba sendiri, bukan karena kecerdikan akal hamba, bukan karena kebijaksanaan pikiran hamba, melainkan karena kekuatan Yang Maha Tinggi, yang telah memerintah hamba. Hanya karena inilah tugas dalam kehidupan hamba.”
Raja Charles ke-7 beserta hadirin yang hadir terdiam dan termenung. Mereka mengamat-amati badannya yang kecil, pinggangnya yang ramping serta tangannya yang kecil. Betulkah gadis itu akan kuat berperang???
Raja Charles menimbang : “Apa salahnya dicoba. Jika benar gadis itu terdorong oleh suatu Kuasa!? Bukankah patut diterimanya karunia semacam itu! Musuh tanah Perancis telah mendarat dan bertambah hari bertambah banyak”

Maka terjadilah, Jeanne mengepalai sepasukan serdadu. Sejak itu ia bertukar pakaian. Ia memakai pakaian perang dari besi. Ia berpanjikan sehelai bendera putih berhias Salib. Suara Wahyu selalu terdengar olehnya. Dan Jeanne selalu menuruti kata-kata tersebut. Malam hari, bila pasukan tertidur nyenyak, Jeanne berlutut dalam kemahnya. Berdoa, agar tanah Perancis terpelihara, agar para pasukan terlepas dari bahaya maut. Keselamatan serdadu musuh juga tidak dilupakannya
Oo, tabiat gadis itu, tidak berubah. Selahirnya Jeanne adalah seorang pengiba, menjadi sedih bila memikirkan kematian yang akan menimpa serdadu-serdadu itu. Sebelum pergi menyerang, Jeanne biasanya berdoa dahulu, memohon rahmat dan pertolongan Tuhan untuk mereka yang akan menjadi korban. Dan bila diterimanya kabar beberapa serdadu telah terbunuh atau luka. Jeanne acap-kali menangis, seolah-olah seorang ibu yang menangisi anaknya.

Sekalipun ada yang bertanya : “Jeanne, apakah Tuhan hanya mengasihi tanah Perancis? Bukankah serdadu musuh itu juga MakhlukNya?!” Jeanne tersenyum dan menjawab : “Tentu demikian, tuanku. Tetapi, kehendak Tuhan ialah semua bangsa tinggal dengan tentram dalam negerinya masing-masing. Jadi berperang hanya untuk meluaskan kekuasaan duniawi, itulah tidak berkenan pada Tuhan.”
Berkat pertolongan Yang Maha Tinggi itulah, Jeanne menang! Keberanian dan kepercayaan serdadu-serdadu Perancis makin meluap. Laskar Perancis dengan sukarela mengikuti panji Jeanne. Perjuangan antara kedua bangsawan segeralah selesai. Kini semua orang tertarik kepada Jeanne yang rupanya ahli dalam strategi perang yang selalu membawa pasukannya kepada kemenangan

“Kemenangan”… bukankah perkataan itu harum, masyur dan cemerlang?! Dan suasana Laskar Jeanne adalah persaudaraan. Caci-maki tiada terdengar. Malakukan hal yang tidak senonoh, tiada yang berani. Prajurit-prajurit itu yakin bahwa Jeanne itu hidup bertapa dan berpantang. Sebelum menyerang, Jeanne mengirimkan kabar supaya musuh untuk menyerah dan menyelamatkan diri mereka. Tetapi biasamya kabar itu dianggap sebagai penghinaan, dan musuh akan semakin marah. Dan bila serdadu Perancis letih, bila mereka takut karena tentara musuh jauh lebih besar, jauh lebih sempurna senjatanya, Jeanne berkuda menuju ke depan medan pertempuran sambil mengayunkan benderanya. Melihat hal itu bangkitlah semangat juang mereka.

Berkat pertolongan Jeanne maka terbebaslah kota Orleans dari gempuran musuh. Inilah pertempuran yang dasyat. Kemenangan yang sungguh-sungguh penting. Sekarang musuh terpaksa meninggalkan Perancis. Sekarang terbuka jalan menuju kota Rheims. Sekarang dapatlah Jeanne memenuhi perjanjiannya : mengantarkan Raja Charles ke-7 ke Rheims, supaya ia dinobatkan secara adat Perancis. Pada hari kemujuran dan penuh semangat itu kegembiraan bangsa Perancis memuncak. Dan mereka memuja-muja Jeanne d’Arc. Tetapi tidak demikian dengan beberapa orang yang memusuhi Jeanne karena keberhasilannya. Mereka menyebar fitnah bahwa Jeanne itu seorang penipu, pembohong. Mungkin juga Jeanne itu adalah penjelmaan setan, karena itu kudanya bisa berlari secepat angin. Bagaimanapun juga Jeanne itu harus ditangkap dan dihukum mati.

Dan akhirnya Jeanne mengetahui juga hal itu. Suara wahyu mengatakan : “Jeanne, pekerjaanmu telah selesai! Sejak ini karuniamu akan meninggi. Engkau selalu berdoa untuk tanah Perancis, untuk keselamatan laskarmu, untuk musuhmu. Badanmu sendiri kau lupakan, itu adalah hal sangat mulia. Sekarang terimalah karunia Tuhan. Terimalah lambang kemenangan yang tidak akan terlupakan!” Dengan hati yang berdebar-debar, dengan suara yang sayup-sayup bertanyalah Jeanne “Apakah karunia itu?” Dan suara menjawab : “Engkau akan tertawan, akan dihukum mati, akan dibakar hidup-hidup.”

Jeanne mengeluh dan merintih : “O, aduh masakan saya akan kuat menghadapinya!” jawabnya : “Ya Jeanne, kau akan kuat karena kekuatanmu ada pada Penebus yang terpaku pada Kayu Salib!” Sejak saat itu pergaulan suci terhenti, Jeanne tidak lagi mendengar suara Malaikat Michael. Demikian yang terjadi, Jeanne hendak pulang kerumah orang tuanya tetapi tidak diizinkan. Pada suatu hari Jeanne akhirnya ditangkap dan dibawa kepengadilan. Tetapi hakim-hakim yang mengadilinya tidak jujur. Bila Jeanne berkata benar maka tidak ditulis, bila Jeanne mengatakan yang dianggap salah segera dicatat. Akhirnya Jeanne dijatuhi hukuman mati.

Didalam pasar dikota Rouan di muara sungai Seine telah tersedia onggokan kayu besar dan tinggi. Sementara itu Jeanne mengalami kegelapan jiwa. Suara yang menghibur, yang menjadi pelita pikirannya tidak lagi terdengar. Kekacauan dan ketakutan hatinya pada waktu itu tiada terlukiskan…

Setibanya diatas onggok kayu, tiba-tiba teringat nasihat : “Kekuatanmu pada Penebus terpaku di Kayu salib!” Jeanne pun berseru meminta sebuah Salib. Seorang serdadu yang menaruh belas kasihan mematahkan sebuah tongkat. Diikatnya menyerupai Salib dan diberikannya kepada Jeanne. Sejenak kemudia Jeanne meminta sebuah salib dengan sebuah patung Penebus tergantung padanya. Ketika itu api berkobar semakin besar. Karena keinginan seorang yang dihukum mati, mereka mengambil sebuah Salib dari Gereja. Pada saat itu juga kepastian Jeanne telah kembali.

Nyaring terdengar sampai ke segenap penjuru Jeanne berseru : “Aku tidak berdusta. Suara Malaikat sungguh-sungguh terdengar padaku. Tugas hidupku ini berasal dari Sorga!”
Asap membumbung tinggi ke atas menyelimuti badan yang ramping lampai itu. Apa yang terjadi tidak tampak. Sejam sesudahnya abulah yang tertinggal. Angin berhembus sepoi-sepoi. Mengangkat abu yang ringan lagi murni. Kemudian disebarkannya kemana-mana, seakan hendak menandatangani warisan kasih Jeanne terhadap bangsa Perancis.

Jeanne d’Arc berumur 19 tahun. Lahir pada tanggal 5 Januari 1412. Meninggal pada tanggal 30 Mei 1431. Setelah meninggal perkaranya diselidiki lagi dan terbukti bahwa Jeanne d’Arc tidak bersalah. Hingga kini Bangsa Perancis terus membanggakan Jeanne dan menganugrahkannya dengan gelar pahlawan Perancis. 




Sumber : http://kisahsanto-martir.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar