Kamis, 12 April 2012

Meditasi Memberikan Energi pada Otak

Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis 'Washington Post'
Senin, 3 Januari 3, 2005; Halaman A05

Penelitian bidang otak mulai menghasilkan bukti nyata atas meditasi. Bukti ini yang dipertahankan oleh para praktisi meditasi Buddhis selama berabad-abad bahwa latihan mental dan praktek meditasi dapat mengubah kerja otak dan membuat orang mencapai tingkat-tingkat kesadaran yang berbeda.

Kondisi-kondisi yang berubah tersebut secara tradisi telah dimengerti dalam istilah-istilah luar biasa, seperti sesuatu di luar pengukuran dunia materi dan penilaian objektif. Tetapi selama beberapa tahun ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah dapat menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut menjadi bahasa ilmiah berupa gelombang-gelombang gamma tinggi dan sinkroni atau koordinasi otak. Selanjutnya mereka telah menemukan sasaran tepat di bagian otak depan kiri, daerah tepat di belakang dahi kiri, sebagai daerah dimana aktivitas otak yang terutama berhubungan erat dengan meditasi

“Apa yang kita temukan adalah para praktisi yang telah lama berlatih menunjukkan pergerakan otak dalam skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya.” Kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu pengetahuan syaraf di laboratorium untuk pencitraan fungsi serta perilaku otak. Laboratorium baru senilai $ 10 juta milik univeresitas ini dinamakan W.M Nick. “Praktek mental mereka mempunyai pengaruh terhadap otak sama seperti praktisi golf atau tennis yang akan membantu kemampuan bertanding / bermain.” Ia berkata, hal ini juga menunjukkan bahwa otak mampu dilatih dan secara fisik dapat dirubah dengan cara-cara yang dapat dibayangkan oleh sedikit orang.

Para ilmuwan terbiasa percaya pada hal sebaliknya – bahwa sambungan-sambungan di antara sel-sel syaraf otak sudah ditetapkan di awal kehidupan dan tidak dapat diubah saat dewasa. Tetapi asumsi tersebut berhasil ditolak selama puluhan tahun ini dengan bantuan pencitraan otak dan teknik-teknik maju lainnya. Dan sesuai dengan kemajuan tersebut, para ilmuwan telah merangkul konsep tentang perkembangan otak yang tiada henti serta“syaraf yang mudah dibentuk”

Davidson mengatakan hasil-hasil terbarunya dari penelitian meditasi yang diterbitkan di Notulen rapat the National Academy of Sciences pada bulan Nopember membawa konsep “syaraf yang mudah dibentuk” selangkah lebih maju lagi dengan menunjukkan bahwa pelatihan mental melalui meditasi ( dan kemungkinan praktek-praktek lainnya) dengan sendirinya dapat mengubah kerja dalam otak dan aliran-aliran otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kerjasama yang lama antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, Praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke kota kediamannya di Dharamsala, India di 1992 setelah beliau mengetahui tentang penelitian pembaharuan Davidson dalam ilmu pengetahuan syaraf tentang emosi-emosi. Rakyat Tibet mempunyai sebuah tradisi kuno berabad-abad untuk melakukan meditasi intensif dan sejak awal Dalai Lama mempunyai minat agar Davidson dapat melakukan penyelidikan secara ilmiah tentang cara kerja pikiran-pikiran para bhikkhu yang sedang bermeditasi. Tiga tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari mengunjungi laboratorium Davidson.

Dalai Lama akhirnya mengutus delapan praktisi meditasi yang paling terampil ke laboratorium Davidson agar mereka dipasangkan / dihubungkan dengan pengujian electroencephalograph (EEG) dan pencitraan otak. Para praktisi meditasi Buddhis dalam percobaan telah melakukan latihan meditasi dengan tradisi Tibet Nyingmapa dan Kagyuga kira-kira selama 10,000 sampai 50,000 jam, selama 15 sampai 40 tahun. Sebagai pengontrol, 10 orang murid sukarelawan yang tidak pernah melakukan meditasi juga diuji setelah satu minggu pelatihan.

Para bhikkhu dan sukarelawan dipasangkan dengan sebuah jaring dengan 256 sensor elektrik dan diminta bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas-aktivitas mental lainnya diketahui menghasilkan sedikit (tetapi dapat ditemukan) ledakan-ledakan aktivitas elektrik saat sekelompok besar neuron saling mengirim pesan-pesan, dan itulah apa yang dibaca oleh sensor-sensor. Davidson terutama berminat mengukur gelombang-gelombang gamma, gelombang-gelombang elektrik otak yang paling sering dan paling penting.

Kedua grup diminta bermeditasi, terutama meditasi cinta kasih tanpa batas. Ajaran Buddhis menjelaskan kondisi tersebut sebagai “kesiapan tak terbatas dan kesediaan untuk menolong para makhluk hidup” dimana kondisi tersebut adalah inti dari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih fokus tersebut karena hal itu tidak memerlukan konsentrasi pada objek-objek, ingatan-ingatan atau gambar-gambar tertentu dan memelihara kondisi pikiran tanpa harus mengubahnya.

Davidson mengatakan hasil-hasil menunjukkan dengan jelas bahwa meditasi menggerakkan pikiran-pikiran terlatih para bhikkhu dengan cara yang jelas-jelas berbeda daripada mereka para relawan. Yang paling penting, elektroda-elektroda membaca pergerakan cepat yang jauh lebih besar dan gelombang-gelombang gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu dan menemukan bahwa pergerakan gelombang-gelombang melalui otak jauh lebih terorganisir dan terkoordinir daripada yang terjadi pada para murid. Murid yang tidak berpengalaman hanya menunjukkan sedikit kenaikan aktivitas gelombang gamma saat bermeditasi, tetapi beberapa bhikkhu menghasilkan aktivitas gelombang lebih kuat daripada orang-orang sehat yang pernah dilaporkan sebelumnya, kata Davidson.

Bhikkhu-bhikkhu yang telah berlatih meditasi paling lama mempunyai tingkat gelombang gamma paling tinggi. Ia menambahkan. “reaksi dosis” ini – dimana tingkat-tingkat suatu obat atau aktivitas lebih tinggi mempunyai pengaruh lebih besar daripada tingkat-tingkat lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk menilai sebab dan akibat.

Pada penelitian-penelitian sebelumnya, aktivitas-aktivitas mental seperti memusatkan pikiran, ingatan, belajar dan kesadaran dihubungkan dengan agak bertambahnya koordinasi syaraf yang ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang-gelombang gamma kuat yang ditemukan pada para bhikkhu juga telah dihubungkan dengan saling bersambungnya aliran-aliran otak yang berbeda, selanjutnya juga berhubungan dengan aktivitas mental lebih tinggi dan juga kesadaran lebih tinggi.

Penelitian Davidson sesuai dengan penelitian awalnya yang berfokus pada daerah otak depan kiri sebagai daerah otak yang berhubungan dengan kebahagiaan dan pikiran-pikiran serta emosi-emosi positif. Pemakaian pencitraan functional magnetic resonance (fMRI) pada para bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – seperti yang diukur dengan EEG – terutama tinggi di daerah ini.

Davidson menyimpulkan dari penelitian bahwa meditasi tidak hanya mengubah kerja otak dalam waktu pendek, tetapi juga cukup berkemungkinan menghasilkan perubahan-perubahan permanen. Ia berkata penemuan itu berdasarkan fakta bahwa para bhikkhu mempunyai aktivitas gelombang gamma jauh lebih banyak daripada grup yang dikontrol bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussetts, Jon Kabat-Zinn, mendapatkan kesimpulan yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Saat ini para peneliti di Harvard dan Princeton sedang menguji beberapa orang bhikkhu yang sama tadi dalam segi-segi berbeda pada praktek meditasi mengenai kemampuan mereka untuk membayangkan gambaran-gambaran serta mengendalikan pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

Ia berkata, “Apa yang kita temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih secara fisik berbeda daripada yang tidak terlatih.”. Pada waktunya,“Kita akan dapat mengerti lebih baik kemungkinan pentingnya pelatihan mental demikian serta meningkatkan kemungkinan bahwa latihan ini akan dipelajari dengan serius.”

Terjemahan: Jenny H, Sby
Editor : Bhikkhu Uttamo

Sumber:http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=989&multi=T&hal=0

English: http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A43006-2005Jan2.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar