Jumat, 20 April 2012

Kisah Sumanadevi (Dhammapada 1 : 18)

Kisah Sumanadevi (Dhammapada 1 : 18)

(18) Di dunia ini ia bahagia. Di dunia sana ia berbahagia.
Pelaku kebajikan, berbahagia di kedua dunia itu.
Ia akan berbahagia ketika berpikir, "Aku telah berbuat bajik",
dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dekat Savatthi, di rumah Anathapindika dan di rumah Visakha, dua ribu bhikkhu memperoleh pelayanan makanan setiap hari.

Di rumah Visakha, dana makanan diatur pemberiannya oleh cucu perempuannya. Di rumah Anathapindika, pengaturan dana makanan dilakukan, pertama oleh puterinya yang pertama, kemudian oleh puterinya yang kedua, dan akhirnya oleh Sumanadevi, puteri bungsunya. Kedua saudara perempuannya yang lebih tua mencapai tingkat kesucian sotapati dengan mendengarkan Dhamma, setelah melayani dana makan para bhikkhu. Sumanadevi melakukan lebih baik dan mencapai tingkat kesucian sakadagami**.

Suatu ketika Sumanadevi jatuh sakit, dan di tempat tidurnya ia memohon kehadiran ayahnya. Ayahnya datang, ia memanggil langsung ayahnya sebagai "Adik laki-laki" (kanitha bhatika), kemudian ia meninggal dunia.

Istilah panggilan itu membuat ayahnya khawatir, gelisah, dan berduka cita, memikirkan bahwa putrinya telah mengigau, dan tidak dalam waktu kesadaran yang tepat pada saat kematiannya. Ia menghampiri Sang Buddha, dan menceritakan perihal putrinya, Sumanadevi.

Sang Buddha berkata kepada orang kaya yang berbudi luhur itu, bahwa putrinya telah dalam kesadaran dan sepenuhnya tenang pada saat ia meninggal dunia. Sang Buddha juga menjelaskan bahwa Sumanadevi telah menyebut ayahnya dengan sebutan "adik laki-laki" karena ia mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi daripada tingkat kesucian ayahnya. Ia adalah seorang sakadagami, sedangkan ayahnya hanya seorang sotapanna. Anathapindika juga diberitahu bahwa Sumanadevi telah dilahirkan kembali di surga Tusita.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Idha nandati pecca nandati
katapuñño ubhayattha nandati
“puññaṃ me katan” ti nandati
bhiyyo nandati suggatiṃ gato."

Di dunia ini ia bahagia.
Di dunia sana ia berbahagia.
Pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu.
Ia akan berbahagia ketika berpikir "Aku telah berbuat bajik",
dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia.
------------------

Notes :

Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapatti (pemasuk arus - hanya akan ada 7 kelahiran lagi baginya, orangnya disebut sotapanna, seorang sotapanna tidak akan jatuh ke alam rendah),
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa dimana ia akan mencapai arahat), dan
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga)



Sumber : http://www.ceritadhammapada.blogspot.com/ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar