Minggu, 09 September 2012

Tanpa Disengaja, 8 Obat Ini Punya Efek Samping yang Bermanfaat

ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Obat bisanya dibuat untuk mengatasi gangguan penyakit tertentu. Namun selain memiliki khasiat, obat juga memiliki beberapa efek samping yang mengganggu dan tidak nyaman. Uniknya, ada beberapa obat yang tanpa disengaja justru memiliki efek samping yang bermanfaat.

Dibutuhkan biaya yang sangat besar dalam penemuan sebuah obat baru. Untuk menekan anggaran, perusahaan farmasi biasanya lebih tertarik mengembangkan obat yang telah ada. Akhirnya obat yang telah dijual untuk mengatasi kondisi tertentu lantas dikemas dengan bentuk dan nama yang berbeda.

Penamaan berbeda tersebut disebabkan perusahaan baru menyadari ternyata obatnya memiliki efek samping yang berguna dan dapat digunakan untuk tujuan lain. Seperti dilansir Foxnews, Minggu (9/9/2012), obat-obatan yang memiliki manfaat ganda ini antara lain adalah:


1. Prozac
Prozac adalah nama dagang dari obat fluoxetine yang dipatenkan pada tahun 2001. Obat ini digunakan sebagai antidepresan atau obat untuk mengatasi depresi. Ketika versi generiknya mulai muncul, penjualan Prozac anjlok.

Perusahan pun mulai mengemasnya dengan nama lain, yaitu Sarafem. Sarafem dipasarkan bukan sebagai antidepresan, melainkan untuk mengatasi gangguan dysphoric premenstrual, sebuah bentuk Pre Menstruation Syndrom (PMS) yang parah. Padahal, bahan aktifnya sama.


2. Viagra
Awalnya peneliti sedang mencari obat untuk mengatasi nyeri dada akibat sakit jantung pada tahun 1990-an. Namun Pfizer menemukan bahwa pria yang meminum obat tersebut mengalami efek samping yang mengejutkan, yaitu ereksi. Obat tersebut tidak terbukti efektif untuk nyeri dada, namun dengan cara inilah peneliti menemukan Viagra.

Pfizer kemudian meneliti lebih jauh kegunaan lain dari obat ini, yaitu melebarkan pembuluh darah. Pada tahun 2005, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui obat yang sejatinya adalah Viagra untuk mengobati hipertensi paru-paru dengan merek Revatio.


3. Thalidomide
Pada tahun 1950, dokter meresepkan Thalidomide kepada wanita hamil untuk mengobati insomnia dan mual. Obat ini lantas ditarik dari pasar pada tahun 1961 setelah terbukti dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi.

Sepuluh tahun kemudian, dokter memberikan thalidomide kepada pasien kusta sebagai obat penenang dan menyadari bahwa obat ini dapat membantu membersihkan borok kulitnya. Pada tahun 1998, FDA menyetujui Thalidomide sebagai pengobatan untuk kusta, tetapi dengan syarat bukan untuk wanit
a hamil.

4. Propecia
Kebotakan dan pembesaran prostat adalah 2 tanda penuaan pada pria. Kedua gangguan ini dipicu oleh tingginya suatu jenis testosteron yang disebut dihidrotestosteron (DHT). Dokter sering meresepkan sebuah obat bernama Finasteride.

Anehnya, Finasteride memiliki 2 nama dagang dengan 2 tujuan berbeda. Yang pertama adalah Proscar untuk mengatasi pembesaran prostat. Yang kedua adalah Propecia untuk mengatasi rambut rontok. Entah yang mana dari kedua efektifitas obat ini yang menjadi efek samping obatnya.


5. Tofranil
Pada tahun 1950-an, Tofranil merupakan antidepresan pertama yang dijual di pasar. Obat ini termasuk dalam kelompok obat yang disebut tricyclics, yaitu obat yang digunakan untuk menghalangi norepinephrine dan bahan kimia otak lain yang mempengaruhi suasana hati.

Tak lama setelah itu, seorang psikolog menyadari bahwa obat ini bisa mengurangi mengompol pada anak-anak. Bisa jadi disebabkan karena obat ini memiliki efek samping melemaskan kandung kemih. Pada tahun 1973, FDA menyetujui Tofranil untuk mengatasi gangguan mengompol pada anak berusia 6 tahun dan lebih tua. Namun sekarang jarang ada dokter yang meresepkan karena efe
k sampingnya.

6. Wellbutrin
Pada tahun 1997, FDA menyetujui Zyban sebagai obat untuk membantu perokok menghentikan kebiasaannya. Zyban berisi bahan aktif yang sama persis seperti Wellbutrin, antidepresan yang telah disetujui 12 tahun sebelumnya.

Hingga kini para ahli masih belum yakin mengapa obat anti depresi dapat membantu menghentikan kebiasaan merokok. Bisa jadi obat ini dapat meningkatkan suasana hati dengan cara mengubah zat kimia di otak yang m
eniru efek dari merokok.

7. Amfetamin
Amfetamin paling sering diresepkan untuk mengobati attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1929, amfetamin digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi seperti asma, depresi, kelelahan dan penurunan berat badan.

Adanya kasus penyalahgunaan dan kekhawatiran dapat menyebabkan kecanduan membuat obat ini dibatasi penggunaannya pada tahun 1970. Tapi sampai sekarang, amfetamin masih diresepkan untuk mengobati ADHD serta menurunkan berat badan pada orang gemuk.

8. Cymbalta
Cymbalta meningkatkan kadar 2 jenis neurotransmitter, yaitu serotonin dan norepinefrin yang berfungsi mengatur suasana hati dan rasa sakit. Obat ini menguasai pasar pada tahun 2004. Tapi seperti halnya banyak antidepresan lain, penggunaannya tidak berhenti sampai di situ.
FDA telah menyetujui obat ini untuk mengatasi kegelisahan, fibromyalgia, nyeri punggung bagian bawah dan osteoarthritis. Obat ini disebut-sebut memiliki banyak fungsi mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh nyeri dan gangguan suasana hati.


Sumber : http://health.detik.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar