Tampilkan postingan dengan label Kisah Tao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tao. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

Sai Weng Shi Ma : Bersukacita dan Berdukacita apa adanya.

Diambil dari buku berjudul “101 Kisah Bermakna dari Negeri China”.

Ini adalah cerita rakyat China yang cukup kesohor. Seseorang pernah menceritakan kepada saya dan saya sudah mencari data mengenai kisah ini. Hasilnya, tidak ditemukan pengarangnya dan banyak sekali versinya, tetapi dengan inti yang sama. Kisahnya sebagai berikut :
Ada seorang lelaki tua yang hidup bersama seorang anak laki-lakinya dan seekor kuda jantan. Lelaki tua itu bernama Zhou (umumnya cerita tidak menyebutkan nama kakek itu). Suatu hari anaknya pergi menunggang kuda, seperti yang biasa dilakukannya. Namun kali ini ketika siang hari anaknya istirahat sebentar, kuda itu hilang. Pulanglah anaknya ke rumah dengan raut muka muram karena sedih kehilangan kuda kesayangannya. Kuda itu sudah seperti sahabatnya karena setiap hari mereka pergi bersama.
Orang-orang di desa itu ingin menghibur kakek Zhou. “Tuan Zhou, kami ikut bersedih karena anda kehilangan kuda kesayangan dan satu-satunya harta berharga kalian,” demikianlah salah satu ungkapan seorang tetangga mereka yang senada dengan orang-orang lain yang juga datang menghibur kakek Zhou.
Kakek Zhou pun menjawab, “Saya belum tahu sekarang apakah kehilangan kuda merupakan suatu kerugian besar atau malah sebaliknya. Saya berterima kasih atas simpati kalian, tetapi saya tidak bisa memutuskan apakah ini peristiwa yang mendatangkan dukacita bagi kami atau malah sebaliknya.”
Jawaban kakek Zhou terdengar aneh bagi sebagian besar warga desa. Namun mereka menyimpan perkataan itu dalam hati sambil menunggu apa sebenarnya maksud kakek Zhou mengucapkan perkataan seperti itu.
Beberapa bulan kemudian kuda yang hilang itu kembali dan membawa kuda-kuda lain yang bagus-bagus. Terdengar suara gemuruh segerombolan kuda melintas jalan utama di desa itu, membuat semua orang di desa segera mengetahui bahwa kuda yang dulu hilang kini telah kembali, bahkan membawa kuda-kuda lain yang bagus- bagus. Kejadian ini membuat warga desa segera memperbincangkan jawaban kakek Zhou beberapa waktu lalu. Mereka pun berpendapat bahwa kakek Zhou sungguh bijaksana. Mereka lalu berbondong-bondong ingin mengucapkan selamat atas kembalinya kuda yang hilang itu, selamat atas kuda-kuda yang baru dan selamat bahwa jawaban kakek Zhou yang dulu mengatakan bahwa kuda yang hilang belum tentu merupakan kesialan terbukti benar adanya.
Kakek Zhou pun tersenyum atas ketulusan hati mereka. Ia tersenyum karena warga desanya rukun. “Wah, kakek Zhou sungguh benar dan juga beruntung !” demikian salah seorang mengucapkan selamat kepada kakek Zhou. Kakek Zhou pun menjawab, “Saya tidak tahu sekarang, apakah kuda kami kembali serta membawa kuda-kuda lain ke rumah kami merupakan suatu keuntungan dan sukacita atau sebaliknya. Terima kasih buat simpati kalian, tetapi sungguh peristiwa ini belum bisa dikatakan sebagai keuntungan atau sebaliknya. Sungguh saya belum tahu sekarang.”
Sekali lagi warga desa terkejut atas ungkapan kakek Zhou yang terkesan tidak bisa dimengerti. Namun, karena kerukunan yang baik diantara mereka, mereka pun hanya menyimpannya dalam hati.
Anak laki-laki kakek Zhou sangat bersuka cita atas kembalinya kuda kesayangannya, apalagi kini ia memiliki banyak kuda yang bagus-bagus. Situasi ini membuat ia ingin sekali mengendarai semua kuda yang dimilikinya. Maka ia pun memiliki hobi baru, yakni menunggang kuda. Kali ini ia menunggang dengan berganti-ganti kuda. Suatu hari ada seekor kuda yang tidak bersahabat, kuda itu pun meronta-ronta saat ditunggangi dan akhirnya melemparkan anak laki-laki kakek Zhou itu ke tanah. Ketika jatuh, ia menjerit kesakitan. Ternyata tulang kakinya patah. Kini ia harus memakai tongkat saat berjalan. Sungguh menyedihkan untuk seorang pemuda.
Orang-orang di desa pun berbondong-bondong datang untuk menyatakan empati mereka. Apalagi, sekali lagi, ucapak kakek Zhou sungguh terbukti. Kuda yang kembali beserta dengan kuda-kuda lain yang datang belum tentu merupakan keuntungan. Itulah yang ada dipikiran mereka. “Kakek Zhou, kami ikut sedih karena anak kakek sekarang patah kaki. Ia pasti sedih dan terpukul sekali,” demikian ungkapan salah seorang warga desa.
Kakek Zhou sejenak ikut sedih, tetapi segera ia menguasai diri dan dengan tenang berkata, “Terima kasih, kalian semua sungguh baik terhadap kami, tetapi saya ingin katakan bahwa patahnya kaki anak saya apakah merupakan suatu malapetaka dan membawa kesedihan bagi kami atau malah sebaliknya, sungguh saya tidak tahu.”
Lagi-lagi jawaban kakek Zhou terdengar anah, tetapi kali ini mereka tidak terlalu terkejut. Karena itu, mereka pun menantikan apa sebenarnya yang akan terjadi kelak pada kakek Zhou dan anaknya.
Kini di desa itu anak kakek Zhou adalah satu-satunya anak laki-laki yang pincang dan harus menggunakan tongkat saat berjalan. Mungkin sekali, kendati bisa sembuh, ia akan pincang selamanya. Tak lama setelah itu, keadaan negara sangat genting dan utusan kerajaan datang ke desa dan memerintahkan kepada semua pemuda di desa itu untuk bertugas membela negara. Mereka harus pergi berlatih dan terjun ke medan perang. Para pemuda desa pun pergi dengan bangga bahwa mereka termasuk orang-orang pilihan.
Mengetahui hal ini, anak laki-laki kakek Zhou sangat sedih. Warga desa pun datang dan memberikan penghiburan buat kakek Zhou dan anaknya. Kakek Zhou pun berpendapat bahwa tidak perginya anak laki-lakinya belum tentu merupakan hal yang menyedihkan. Tak lama setelah para pemuda itu pergi ke medan perang, datang utusan kerajaan ke desa tersebut. Para warga desa pun berkumpul sambil menantikan pengumuman yang akan disampaikan. Akhirnya sang utusan menyampaikan bahwa semua pemuda desa tersebut gugur di medan perang. Dan kini di desa tersebut hanya tersisa satu pemuda, yaitu anak laki-laki kakek Zhou yang pincang.

Mutiara Hikmat :
Cerita ini mengajarkan untuk tidak terlalu berdukacita saat kemalangan terjadi dan tidak terlalu bersukacita ketika keuntungan datang. Semua tidak bisa dinilai pada saat kemalangan atau keuntungan itu terjadi. Karena barangkali akan datang kemalangan seusai menerima keuntungan atau sebaliknya barangkali ada hal baik yang bisa diterima saat kemalangan itu datang. Sikap kakek Zhou menggambarkan sikap yang ideal untuk menghadapi keberuntungan atau kemalangan hidup.
 

Sumber : http://www.xuezhengdao.com/

Gao Shan Liu Shui : Mengerti orang lain terlebih dahulu

Diambil dari Buku berjudul “101  Kisah Bermakna dari Negeri China”.

Propinsi Hubei pernah melahirkan seorang ahli musik yang cukup terkenal bernama Yu Bo Ya. Setiap kali ia memainkan kecapi, burung-burung akan berkumpul di sekitarnya untuk menikmati musik yang dimainkannya. Ia juga sangat terkenal karena setiap kali ia memainkan musik, tidak sedikit orang menjadi tidak enak perasaannya dan anehnya mereka tidak bisa menikmati musik tersebut. Jika Yu Bo Ya bukan pemusik yang pandai, mengapa setiap kali ia bermain kecapi burung-burung yang sangat banyak jumlahnya selalu berkumpul di sekitarnya. Karena itu, mereka sering menyebutnya sebagai pemusik yang alunannya hanya bisa dinikmati oleh burung-burung dan tidak seorangpun yang bisa menikmatinya. Namun, ia tetap dipuji sebagai pemusik yang andal.
Yu Bo Ya tidak begitu gembira karena hanya sedikit yang mengerti musik yang dimainkannya. Karena itu, ia sering berada di kaki gunung atai di tepi pantai atau di alam terbuka untuk memainkan musik. Ia sangat menikmati musik yang dimainkannya, hewanpun seakan mengerti akan musik yang dimainkannya.
Satu hari Yu Bo Ya yang sedang berada di atas perahu, di tengah-tengah sungai ia memetik kecapinya. Di kejauhan tampak sebuah gunung yang penuh dengan pepohonan. Pemandangan di sekitar itu sungguh indah. Lalu Tu Bo Ya menepi. Sambil menikmati pemandangan gunung dan diiringi aliran sungai, ia memainkan kecapinya.
Pada saat ia sedang asyik memetik kecapinya, ada seorang yang tertarik mendengarnya. Ia pun mendekati Yu Bo Ya dengan cara mengendap-endap dengan maksud tak ingin mengganggu keasyikan dan konsentrasi Yu Bo Ya.
Yu Bo Ya tidak menyadari kehadiran orang itu. Setelah Yu Bo Ya selesai memainkan kecapi, orang itu berkata, “Wah, sungguh alunan kecapi yang sangat indah. Ketika saya mendengarkannya, seakan-akan alunan tersebut hendak menceritakan keindahan pemandangan gunung dan merdunya aliran air sungai. Apakah benar bahwa ketika Tuan memainkan musik, sungguh hendak mengagumi pemandangan alam sekitar dan juga merdunya aliran sungai ?”
Yu Bo Ya terkejut karena ternyata tebakan tamu tak diundang itu sungguh benar. Lebih kaget lagi karena ternyata ada juga orang yang bisa mengerti alunan musik yang dimainkannya. Dan orang itu adalah orang pertama yang bisa mengerti permainan musiknya. Yu Bo Ya pun menjawab, “Tebakanmu benar, saya memetik kecapi untuk menceritakan keindahan gunung di hadapan saya dan juga merdunya aliran sungai !”
Setelah itu mereka berkenalan dan Yu Bo Ya mengetahui bahwa orang itu bernama Zhong Zi Qi, tinggal di daerah itu. Yu Bo Ya pun berkata kepada Zhong Zi Qi, “Tuan Zhong Zi Qi, jika tidak keberatan saya ingin menjadi sahabat anda.”
Zhong Zi Qi dengan sopan menjawab, “Tuan adalah orang yang terkenal, sedang saya hanyalah orang biasa yang tidak terkenal !”
Yu Bo Ya segera menyanggah, “Jangan begitu, saya mengenal banyak sekali orang, tetapi yang dekat di hati bisa dihitung dengan jari. Saya sendiri merasa beruntung bisa bertemu dengan Tuan, Tuan-lah satu-satunya orang yang bisa mengerti musik saya, Tuanlah yang bisa menebak dengan tepat seratus persen. Padahal semua yang saya mainkan keluar dari hati saya. Itu berarti Tuan sungguh bisa mengerti saya dengan baik. Karena itu sayalah yang memohon untuk menjadi sahabat Tuan.”
Tidak lama kemudian mereka saling bercakap-cakap dan bertukar pikiran. Yu Bo Ya pun memainkan kecapinya seperti yang pernah dimainkan sebelumnya yang tidak ada seorangpun bisa mengerti. Ia sungguh kagum karena ternyata Zhong Zi Qi bisa menebak dengan benar semua permainan kecapinya. Artinya, Zhong Zi Qi mengerti dan menikmati permainan kecapi Yu Bo Ya. Setelah itu, Yu Bo Ya sering datang kembali untuk memainkan kecapinya dan untuk dipersembahkan kepada Zhong Zi Qi, satu-satunya orang yang bisa mengerti dengan baik permainan musiknya.
Suatu ketika, Yu Bo Ya sudah lama sekali tidak datang ke tempat tersebut. Pada waktu Hari Raya Zhong Jiu Jie (middle autum festifal), Yu Bo Ya pergi mengunjungi tempat itu untuk mencari sahabatnya, Zhong Zi Qi. Y Bo Ya memainkan musiknya dan mengharapkan jika Zhong Zi Qi mendengar maka ia kana segera datang. Tetapi, setelah beberapa jam sahabatnya belum juga datang. Ia pun berkata dalam hati, “Biarlah aku memainkan musik satu kali lagi dan pasti ia akan datang karena hari ini sudah larut dan mungkin ia sudah pulang ke rumah sehingga bisa mendengarkan suara kecapiku.”
Suara kecapi itu terdengar sampai jarak yang jauh karena sepinya tempat itu, namun sahabat yang dinantinya belum juga datang. Lalu ia pun berjalan menyusuri sungai dan bertemu dengan satu kuburan yang belum ada namanya. Kuburan itu menghadap sungai. Dan tak lama kemudian ada seorang tua lewat di depannya, Yu Bo Ya pun bertanya kepada orang tua itu tentang Zhong Zi Qi.
Begitu mendengar pertanyaan Yu Bo Ya, orang tua itu meneteskan air mata dan berkata, “Kamu pasti bernama Yu Bo Ya !”
Yu Bo Ya menganggukkan kepala dan menjawab, “Benar sekali, tetapi mengapa kamu sedih mendengar pertanyaanku dan mengapa kamu bisa tahu nama saya ?”
Orang tua itu pun menjawab, “Zhong Zi Qi adalah putra saya. Tahun ini dia sakit keras dan nyawanya tidak tertolong lagi. Sebelum meninggal dunia ia berpesan untuk menguburkannya di pinggir sungan dan dengan posisi menghadap sungai. Ia berkata kepasa saya bahwa Yu Bo Ya adalah sahabatnya dan pasti akan datang mengunjunginya untuk bermain kecapi baginya. Kuburan tersebut adalah kuburannya !”
Yu Bo Ya menangis tersedu-sedu dan setelah beberapa saat ia meletakkan kecapinya di depan kuburan itu. Lalu ia mulai memetik kecapinya untuk dipersembahkan kepada sahabatnya tersebut. Ia memainkan lagu yang pertama kali ia mainkan dan berhasil ditebak oleh Zhong Zi Qi. Setelah itu ia membanting kecapinya hingga rusak. Sambil menghadap langit ia berteriak, “Sahabat satu-satunya yang mampu mengerti hatiku dan permainan kecapiku adalah Zhong Zi Qi. Sekarang ia telah pergi, tidak ada gunanya akau bermain kecapi lagi.” Selesai berteriak ia membuang kecapinya yang sudah rusak ke dalam sungai.
Sejak saat itu Yu Bo Ya tidak pernah bermain kecapi lagi. Tempat ia bermain kecapi dan bertemu dengan Zhong Zi Qi itu terletak di daerah Han Yang, Provinsi Hu Bei. Di situ ada satu bangunan yang menjadi objek wisata sampai sekarang. Namanya Gu Qin Tai, bangunan bersejarah yang khusus dibangun untuk mengenang persahabatan Yu Bo Ya dan Zhong Zi Qi.

Mutiara Hikmat :
Semua orang senang jika ada orang yang bisa mengerti dirinya. Tetapi untuk bisa dimengerti oleh orang lain, itu tidak mudah. Karena itu, jika ada orang yang bisa mengerti diri kita, sebaiknya kita menghormatinya karena dia juga punya andil dalam membuat diri kita merasa berharga. Orang bijak tidak hanya ingin dimengerti, tetapi juga mau berusaha mengerti orang lain. Hidup pasti terasa lebih indah jika orang mau saling mengerti.



 



Sumber : http://www.xuezhengdao.com/